
Ferdi terkejut saat melihat mata gadis itu merah. Pipinya basah dengan linangan air mata.
"Maafkan aku jika ada kata-kata ku tadi yang menyakiti hatimu" Ucap pemuda itu merasa bersalah. Cepat-cepat Diya menutup mulut pemuda itu dengan jari-jari tangan nya yang lentik.
"Aku mohon....Jangan bilang apa-apa lagi" Katanya lirih menahan tangis.
"Kata-katamu justru membuat sejuk hatiku. Dingin rasanya kak. Aku juga sayang kamu kak, aku juga mencintaimu" Dengan penuh rasa cinta yang bergelut dijiwa, Diya membenamkan wajahnya didada bidang pemuda itu.
Ferdi menyambutnya dengan beribu perasaan bahagia. Pemuda itu terharu. Dengan erat ia memeluk tubuh gadis itu. Seakan-akan takut kehilangan gadis yang selalu diimpikanya itu.
Kedua anak manusia yang berlainan jenis itu tidak tahu kalau dari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya. Sepasang mata yang menatap penuh kebencian dan rasa dendam.
*****
Diya tersenyum-senyum sendiri dikamarnya saat mengingat kejadian tadi siang yang membuat perasaannya benar-benar bahagia. Semua impiannya selama ini menjadi kenyataan.
...Ya Allah.......
...Jangan pisahkan kami,...
...Biarkan kami tetap bersama,...
__ADS_1
...Sampai akhir hanyat nanti....
Doa gadis itu dalam hati sembari memejamkan kedua matanya hatinya benar-benar bahagia. Ya....Sangat bahagia.
Diya kaget mendengar diluar ada suara ribut-ribut. Lamunannya seketika menjadi buyar gadis itu mengerutkan keningnya.
"Kedengarannya di warung" Pikirnya dalam hati.
"Emangnya ada apa ya? Ada yang berantem?" Katanya sambari keluar dari kamarnya dan menuju ke warung bakso milik ibunya.
"Lo...Ada apa ini kak? Bu? Kenapa ramai begini?" Tanyanya heran saat melihat ada beberapa orang yang tidak dikenal dan beberapa orang kampung sekitar rumahnya itu.
"Diya...." Bu Marni memeluk anaknya sambil menangis. Begitu juga dengan Siti pembantunya. Gadis itu benar-benar dibuat bingung. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
"Tunggu pak? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa warung ibu saya di tutup?"
"Begini dik" Jelas orang itu yang bukan lain adalah seorang polisi yang bertugas didesa itu.
"Kami dapat laporan dari warga, kalau bakso ibu ini terbuat dari bangkai tikus. Dan kuahnya di campur dengan cacing"
"Apa?" Seperti di sambar petir gadis itu kaget.
__ADS_1
"Itu tidak benar pak. Itu fitnah...itu semua bohong"
"Keterangan adik ini, di kantor saja ya...Sekarang kami akan membawa ibu ini"
"Tunggu pak...Apakah bapak mempunyai bukti atas tuduhan ini? Dan siapa yang melaporkannya pak?"
"Adik boleh lihat sendiri" Kata orang tadi membuka tutup kuah bakso yang memang sudah di amankan untuk barang bukti.
Diya membesarkan matanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan semua yang terjadi.
"Apa adik mau membela lagi?"
"Tali pak...."
"Udah pak...Jangan banyak ngomong lagi. Bawa saja orang itu ke kantor. Biar dipenjara!" Kata seseorang dari kerumunan orang banyak. Diya menatap geram kepada orang itu yang bukan lain adalah Kethrine, musuh bubuyutnya.
"Mari bu..."
"Tapi pak...Tolong pak...Ibu saya tidak bersalah jangan bawa dia"
"Diya..." Bu Marni menangis memeluk anaknya.
__ADS_1
"Sudahlah nak...Sudah...Jika benar kita tidak bersalah, ALLAH pasti akan menolong kita nak" pujuk bu Marni dengan hati yang tabah.