
Ferdi dan Sonia berbaring berhadapan dengan tubuh polos nya masing-masing.
Napas mereka terhengah-hengah lelah karena telah upgrade kembali di malam ini.
Ferdi tersenyum hangat membelai rambut istrinya dan mencium kening nya.
"Terima kasih sayang, kamu telah memberikan surga dunia yang telah aku lupakan, dan pasti nya aku akan ketagihan dengan rasa ini" Ujar Ferdi menggoda.
Sonia mencubit lengan suami nya. Merasa sedikit kesal karena telah di goda namun hati nya berbunga-bunga karena telah merasa di puaskan.
Sonia tersenyum senang dan membenamkan dirinya kedalam pelukan suami nya.
Ferdi memeluk tubuh istrinya dengan sangat hangat nya, sesekali ia mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Aku harus bisa melupakan Diya. Karena saat ini aku telah memiliki keluarga yang begitu membuat aku bahagia. Meski sulit, tapi aku pasti bisa melalui ini semua" Batin nya.
Mereka terlelap lelah bertukang malam ini dengan tubuh yang masih bolos nya.
***
Sonia membuka mata nya karena hari sudah menunjukkan pukul 06.30 wib.
Sonia melihat sesosok insan yang tidur dengan lelap nya di samping nya dan tentu saja dengan tubuh yang masih polos seperti tadi malam.
Sonia tersenyum melihat lelaki itu yang tak lain adalah Ferdi suami nya.
Sonia memberanikan diri membelai lembut rambut suami nya dan mencium kening lelaki itu dengan penuh cinta.
"Selamat pagi sayang" Ucap nya pelan.
Sonia memungut piyama yang tergeletak kesana kemari kejadian malam tadi. Dan kembali memakainya kemudian ia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Sonia tersenyum sendiri menatap dirinya di cermin. Tanpa di sadari tangan nya memegang bibir nya yang hangat terun ke leher hingga berhenti di dada nya yang terasa berdebar kencang. Yah wanita hamil itu sedang membayang kan peristiwa yang mendebarkan tadi malam bersama Ferdi.
Permainan yang sangat memuaskan dan sangat istimewa sungguh membuatnya teringat selalu kejadian itu. Dan tentu saja ia menginginkan lagi, lagi dan lagi hal itu terjadi. Seperti candu bagi nya.
Dan pasti nya setiap orang yang pernah merasakan kenikmatan itu, pasti juga pengen kan terjadi lagi dan terjadi lagi.
***
Ivan begitu kaget melihat notifikasi dari ponsel nya dari Virda.
Yah gadis indobel itu mengirimkan sebuah foto kepadanya. Dengan caption "Malam yang indah"
Yah di sana terlihat foto dirinya bersama Ivan di mana foto itu pernah ia tunjukan kepada Diya agar Diya percaya bahwa sudah terjadi sesuatu antara mereka berdua.
"Apaan sih ni cewek. Apa maksud nya dengan mengirim kan aku foto begini. Apa dia ingin membuat aku ingat tentang kejadian malam itu. Yah, kejadian yang sama sekali yang tidak ku lakukan" Ujar Ivan kesal.
"Ada apa Van?" Tanya Diya yang datang dari arah dapur membawa secangkir teh hangat untuk suami nya yang sedang bersantai di kursi yang ada di teras rumah nya.
"Gak ada apa-apa. Hanya ada masalah saja sedikit" Ujar Ivan.
"Masalah apa? Virda lagi?" tebak Diya.
"Yah begitu lah Diy, aku juga tidak paham dengan apa yang terjadi kepada nya saat ini. Dia benar-benar telah berubah. Harus bagaimana lagi aku mengatakan kepadanya bahwa cinta tidak bisa di paksa" Ujar Ivan tampak semakin kesal dengan ulang nya Virda yang memaksa kehendak nya.
"Kamu yang sabar ya Van. Aku gak tahu harus bilang apa sama kamu yang jelas dia melakukan semua ini karena dia cinta sama kamu"
"Iya aku tahu, tapi gak seperti ini juga kan? Cinta tidak harus saling memiliki. Jika dia mencintai ku pasti dia bisa melepaskan aku dengan orang yang aku cintai agar aku bahagia bersama orang itu. Tidak seperti ini bukan?" Ujar Ivan.
"Iya, kamu jangan emosi seperti itu. Udah jangan di pikirkan masalah Virda. Semoga saja nanti nya dia akan sadar bahwa tindakan nya selama ini adalah salah" Ucap Diya.
"Iya, semoga saja begitu"
__ADS_1
"Ya sudah aku mau siap-siap ke kantor dulu ya sayang. Hari ini ada beberapa pertemuan dengan klien. Dan mulai hari ini kamu cukup di rumah saja. Tugas mu di rumah hanya menyambut ku pulang dengan senyuman dan kehangatan mu. Aku gak mau kamu capek bekerja dan yah terlebih lagi tentang Virda yang semakin ke sini semakin berani" Ujar Ivan.
"Lagian kemaren aku sudah menghubungi Edo bahwa mulai hari ini dia akan menggantikan mu untuk menjadi sekretaris ku" Tambah nya lagi.
"Iya aku akan menuruti semua keinginan suami ku ini" Ujar Diya mencolek lembut dagu suami nya.
Ivan tersenyum senang mendapati perlakuan seperti itu dari Diya. Seketika rasa kesal yang tadi menggebu-gebu atas ulah nya Virda hilang seketika.
***
"Kurang ajar kamu Van, lagi-lagi kamu mengabaikan ancaman ku. Kamu pikir aku hanya menggertak mu?" Ujar Virda geram melihat ponsel nya tak kunjung berbunyi berharap notifikasi itu dari Ivan.
"Pesan ku hanya di baca lagi. Kamu lihat saja Van. Kamu pasti malu dengan apa yang aku lakukan. Aku akan mengatakan ini semua kepada mama dan papa mu. Mereka pasti akan marah besar sama kamu dan meminta mu untuk menikahi ku. Dan gadis kampung itu akan mu singkirkan untuk selamanya dari kota ini. Atau bahkan dari dunia ini mungkin" Ucap Virda tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Ah ya, testpack. Kenapa aku bisa lupa dengan itu ya? Mungkin jika aku mengirimkan hasil testpack itu Ivan akan membalas pesan ku dan dia pasti percaya jika malam itu sudah terjadi sesuatu kepada kami" Tambah nya lagi baru berpikir bahwa testpack yang baru ia gunakan beberapa hari yang lalu itu.
Virda langsung membongkar laci nakas nya yang berada di tepi kasur kamar nya.
"Ini dia, ini akan menjadi bukti kuat untuk hubungan aku dan Ivan. Ivan pasti akan percaya dengan ini" Ucap nya lagi langsung memotret dan mengirimkan nya kepada Ivan.
***
Kling....
Kembali notifikasi ponsel Ivan berbunyi.
Ivan memberhentikan langkah nya saat dirinya baru saja melangkah keluar dari teras rumah hendak masuk ke mobil nya.
Lelaki yang sudah menjadi suami nya Diya itu mengambil ponsel nya yang berada di dalam tas kerja nya.
"Virda lagi, ngapain lagi ini anak? Foto apa lagi yang ia kirim kepada ku" Ujar nya dalam hati.
Ivan membulatkan mata nya. Diya tampak kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Testpack? Garis dua? Apa benar ini hasil dari Virda? Virda hamil?" Ucap Ivan kaget.
"Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus tanya langsung kepada Virda. Dia pasti menjebak ku agar aku mengakui bahwa anak yang ia kandung adalah anak ku" Ucap nya lagi.
"Aku tidak boleh hanya diam. Aku harus bisa melawan Virda. Semakin aku diam, dia semakin melunjak"
[Jangan membuat cerita yang tidak aku lakukan. Aku bisa saja menuntut mu atas pencemaran nama baik. Kamu tahu bukan meski pun anak itu masih ada di dalam perut mu, kita bisa melakukan tes DNA. Jadi sebelum kamu malu, lebih baik kamu hentikan semua ini] Pesan Ivan.
Kling.....
Notifikasi ponsel Virda berbunyi.
"Akhirnya kami respon juga pesan ku" Ucap Virda tersenyum sinis.
"Kurang ajar, bisa-bisa nya dia kembali mengancam ku" Ujar Virda.
"Tapi benar juga apa yang di katakan Ivan. Sekarang alat sudah semakin canggih Ivan pasti akan meminta ku untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa anak ini apa benar anak nya atau bukan" Batin nya.
"Walau bagaimana pun, aku gak boleh goyang sama ancaman nya. Aku harus tetap bisa meyakini Ivan bahwa aku mengandung anak nya" Ucap nya lagi.
"Dan jika nanti dia meminta ku untuk melakukan tes DNA, aku akan melakukan nya. Untuk hasil nya ya itu urusan belakangan. Yang jelas aku harus bisa mendapatkan Ivan untuk kembali kedalam pelukan ku" Tambah nya lagi.
[Aku tidak takut dengan ancaman mu. Ini adalah hasil dari perbuatan kita pada malam itu. Jadi, aku harap kamu bisa menerima nya. Dia tidak bersalah, dia tidak berdosa. Jadi kamu harus bisa membuka mata dan hati mu untuk aku dan calon anak ini] Pesan dari Virda.
Ivan masuk kedalam mobil nya. Dan seperti biasa, pak Udin selalu setia menemani nya saat berangkat ke kantor sebagai supirnya.
Pak Herman menancapkan gas menuju ke kantor bos nya.
Ivan mengambil kembali ponsel nya yang berdering karena pesan dari Virda.
"Gak mungkin itu anak ku. Aku tidak melakukan itu. Virda pasti berbohong. Lebih baik aku abaikan saja pesan dari nya. Aku tidak mau pusing memikirkan tentang gadis gila seperti dia" Ivan memasukan kembali ponsel nya di dalam tas kantor nya.
__ADS_1
***
Lama Virda menunggu balasan pesan dari Ivan. Semenit, dua menit, tiga menit, tak kunjung di balas pesan dari nya.
"Kurang ajar Ivan. Lagi-lagi dia mengabaikan pesan dari ku. Awas aja dia. Aku akan datang ke rumah nya. Aku akan bertemu dengan tante dan om dan menceritakan semua nya. Aku akan menunjukan foto ini sebagai bukti. Pasti mereka akan membela ku. Mereka pasti menyuruh Ivan untuk menikahi ku dan meninggalkan gadis yang antah berantah itu. Toh selama ini mereka sangat menyukai ku. Jadi tidak sulit untuk ku mengambil hati mereka" Ujar nya
"Ivan pasti tidak akan bisa menolak keinginan kedua orang tua nya. Terbukti bahwa selama ini dia selalu menuruti kemauan kedua orang tua nya. Dan untuk hal ini juga begitu. Aku pasti menang, aku pasti bisa merebut Ivan kembali dari genggaman 7gadis itu" Ujar Virda tersenyum puas.
"Dan seharusnya aku juga harus bertemu dengan Diya, aku harus menceritakan bahwa aku sedang hamil anak nya Ivan. Diya pasti akan marah sama Ivan. Mereka akan bertengkar hebat, dan pada akhirnya berpisah" Tambah nya lagi sambil bertepuk tangan memberi apresiasi atas rencana licik nya.
"Kamu harus menjadi milik ku Van. Aku seperti ini karena kamu. Dan kamu dengan gampang nya menikah dengan gadis lain tanpa memikirkan pengorbanan ku selama ini. Enak sekali kamu. Aku tidak terima Van. Kamu harus membayar semua nya. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi" Ujar Virda dengan tatapan penuh kemarahan.
***
"Selamat siang tante" Sapa Virda yang datang ke rumah orang tua nya Ivan.
"Eh Virda, selamat siang. Ayo masuk" Balas Ajeng mempersilahkan Virda masuk. Yah seperti rutinitas nya setelah siang saat sudah selesai beres-beres rumah dan memasak, Ajeng selalu menyempatkan diri duduk bersantai di ruang tamu sambil membaca majalah. Tak lupa minuman jus jeruk menemaninya.
"Terima kasih tante" Ujar Virda duduk di samping wanita paruh baya itu.
"Ada apa Vir, tumben kamu mampir. Udah lama banget ya kita gak ketemu" Ujar Ajeng.
"Iya tante, kebetulan lewat juga di sini jadi kepikiran deh mau mampir lagian sudah lama juga aku gak berkunjung di sini" Virda memberi alasan.
"Oh ya tante, ini kebetulan aku bawain tante kue kesukaan tante" Virda menyerahkan sekotak kue brownis kepada Ajeng. Yang menang Ajeng sangat menyukai kue brownis sedari dulu.
"Wah, baik sekali kamu. Terima kasih ya Vir" Ujar Ajeng menyambut kue pemberian Virda dengan senang hati.
"Oh ya, kamu mau minum apa?"
"Apa aja deh tante. Terserah tante" Jawab nya.
"Ya sudah jus jeruk saja ya"
.
"Iya itu juga boleh"
"Bik....bibik..." Teriak Ajeng kepada pembantunya.
"Ya buk" Jawab pembantu itu datang menghadap.
"Tolong buatin jus jeruk ya untuk Virda. Oh ya, sekalian kue ini di potong ya terus bawa lagi ke sini" Titah Ajeng
"Baik bu" Pembantu itu pun pergi dan melaksanakan tugas yang di perintahkan oleh majikan nya.
Sepeninggalan pembantunya, mereka hanya ngobrol hal yang ringan saja. Seperti bertanya kabar, pekerjaan, dan lain-lain sebagai nya.
"Ini buk kue dan minuman nya" Ujar pembantu nya menyerahkan sepiring kue brownis yang di bawa oleh Virda tadi dan secangkir jus jeruk.
"Iya terima kasih ya bik" Ucap Virda.
"Aduh Vir, kamu tahu aja deh kalau tante sedang pingin ngemil. Kepikiran sih tadi mau order kue brownis, eh sudah di bawakan sama kamu" Ujar Ajeng langsung menyantap kue pemberian Virda tadi.
"Iya tante, berarti kita sehati dong" Canda Virda.
Tiba-tiba Virda merasa mual.
"Aduh, kenapa perut ku terasa mual ya? mmmm......week....wek...."Virda menutup mulut nya.
"Maaf tante" Ujar Virda bangkit dan berlari menuju kamar mandi.
Ajeng melihat tingkah Virda masih bingung dan heran. Sedetik, dua detik ia mencerna kenapa Virda tiba-tiba merasa mual seperti itu. Seperti orang sedang hamil saja. Pikirnya.
"Tidak mungkin Virda hamil. Hamil anak siapa? Bersama siapa? Virda tidak mungkin melakukan hal itu. Toh dia gadis yang pintar dan berpendidikan tinggi. Tidak mungkin dia bisa melakukan hal sebodoh itu" Pikir Ajeng.
__ADS_1
"Lebih baik aku tanya kan langsung sama dia. Apa yang sebenarnya terjadi" Pikirnya lagi