
Virda nampak berpikir sejenak dengan perkataan Ivan barusan. Benar apa yang di katakan Ivan, semua ini bertentangan dengan prinsip hidupnya dimana dalam pekerjaan dia harus profesional. Tapi mengapa lelaki di hadapan nya itu mengubah prinsip hidup nya. Virda menghela nafas berat.
"Kamu benar Van, aku tidak bisa berhenti begitu saja. Aku sudah terikat kontrak selama setahun"
"Tapi setelah kontrak ku habis, aku akan melamar kerja sebagai sekretaris mu" Tambah Virda semangat.
Ivan tersenyum senang dengar keputusan Virda barusan. Setidaknya ada waktu satu tahun sebelum Virda datang untuk mendekati gadis manis bernama Diya itu. Gadis yang selalu menghantui nya setiap malam. Selama tujuh tahun mencari keberadaan dan kabar berita gadis itu. Namun tidak kunjung ketemu. Saat ini adalah saat yang paling ia tunggu-tunggu. Bagaimana tidak, gadis itu bekerja untuk nya. Dengan begitu, ia leluasa melakukan pendekatan dan memikat hati gadis itu.
"Ini pesanan anda tuan" Sapa pelayan yang datang menghantarkan makanan.
"Terima kasih, dan tolong yang satu ini kamu bungkus ya. Soal nya teman saya satu lagi ada keperluan" Jawab Ivan meminta pelayan membungkukkan makanan yang di pesan nya untuk Diya.
"Baik tuan" Pelayan yang memakai baju kemeja putih dengan celana berwarna hitam itu berlalu dari hadapan kedua insan yang berlain jenis kelamin itu.
***
__ADS_1
"Sudah makan?" Tanya Ivan melihat Diya bertumpu kepalanya di atas meja kerja. Diya kaget langsung cepat-cepat Diya berdiri. Tampa sengaja kakinya tidak seimbang membuat nya terpeleset ingin jatuh. Dengan cepat Ivan menarik pinggang ramping Diya agar tidak jatuh ke lantai. Mata saling menatap, wajah cantik nan manis di miliki Diya semakin membuat Ivan jatuh hati. Bulu mata yang lentik, alis mata bagaikan semut beriring semakin menambah ke cantikan alami gadis itu. Debaran halus kini semakin terasa.
Sungguh ini baru kali pertama ia berada di posisi sedekat ini dengan gadis impian nya itu.
"Maaf pak, saya kaget" Kata Diya sadar dan berusaha memperbaiki posisinya agar berdiri sempurna. Ivan tersenyum saat melihat Diya salah tingkah seperti itu. Ada rona warna merah yang mulai muncul di pipinya. Gadis itu malu saat berhadapan dengan bos ganteng nya itu.
"Kamu sudah makan?"
"Belum pak" Jawab Diya sungkan.
" Sudah pak"
"Ya sudah, ini makan. Tadi sudah ku pesan kan makanan untuk mu. Tapi kamu pergi untuk selesaikan urusan mu dan ku bungkus ini agar kamu bisa makan nya nanti"
"Terima kasih pak" Diya mengambil sebungkus makanan yang di pesan Ivan tadi untuk nya.
__ADS_1
"Jangan panggil pak. Jika tidak ada orang panggil Ivan saja"
"Tapi pak, tidak pantas ketika saya hanya memanggil nama bapak. Secara bapak adalah atasan saya"
"Sudah, jangan bawel. Panggil nama saja" Perintah Ivan dengan senyuman nya yang khas membuat para gadis akan jatuh hati saat melihat itu..
"Baik pak, eh Van" Kata Diya salah tingkah menggaruk-garuk kepalanya yang tidan gatal.
"Sudah, makan makanan mu. Tidak baik bila bekerja saat perut kosong. Nanti kamu tidak bisa berpikir dengan benar lagi" Diya mengangguk.
"Dan lain kali jangan ceroboh lagi. Kata Ivan seraya mengusap lembut pucuk kepala Diya selayak nya menasehati anak kecil.
"Untung ada aku, jika tidak kamu sudah terbentur ke lantai" Tambahnya lagi.
"Baik pak" Kata Diya salah tingkah.
__ADS_1