
"Kamu baik-baik saja kan Diy?" Kembali Ivan bertanya kepada gadis di samping nya melihat gadis itu masih melamun dengan seribu kebingungan di hati dan pikirannya saat mereka di dalam mobil Ivan..
"Ha?" Diya sadar.
"Aku baik-baik saja" Kembali Diya menunduk. Sekian detik kemudian saat hati nya sudah mulai membaik Diya memberanikan diri bertanya.
"Hmm....kamu kenapa bisa..."
"Di kost mu?" Ivan memotong pertanyaan Diya. Diya mengangguk membenarkan tebakan lelaki itu.
__ADS_1
"Aku sengaja ke sana untuk menjemput mu dan mengajak mu ke kantor bersama" Jelas Ivan menatap dengan penuh makna terhadap Diya. Lama mereka saling tatap. Kembali Diya merasakan hal yang aneh pada dirinya..
Perasaan yang entah apa namanya itu. Yang pasti ia sudah lama tidak merasakan hal itu karena orang yang membuat perasaan aneh itu kini hilang tanpa kabar.
Diya sadar dan kembali menunduk menghindari tatapan lelaki yang ada di samping nya.
"Terima kasih telah menolong ku. Jika kamu tidak ada tadi, aku tidak tahu apa yang terjadi pada ku" Diya berkata masih dalam keadaan menunduk.
Diya tersenyum sendiri mendengar Ivan berkata seperti itu. Hati nya mulai terasa aman dan nyaman saat berada di samping sang General Manajer nya itu. Sudah sekian lama ia tidak merasakan hal itu. Hati nya sudah tertutup dengan lelaki lain demi menunggu kekasih yang telah pergi dan berharap dia akan kembali walau entah sampai kapan dia menunggu lelaki itu. Namun entah mengapa dengan Ivan hati yang tertutup mulai terbuka kembali. Perlakuan Ivan barusan yang melindungi nya dari preman itu membuat nya aman dan nyaman.
__ADS_1
Apa lagi ketika Ivan memeluk dan membelai rambutnya tadi. Sungguh tenang di hati. Seketika hati yang beku, jiwa yang sunyi kini telah cair dan kembali ceria.
Diya masih bingung akan perasaan nya saat ini. Kenapa perasaan itu bisa timbul begitu saja. Padahal ia telah bertekad untuk menutup hati dan menunggu Ferdi kembali.
Diya membiarkan jemari nya di genggam oleh Ivan. sungguh perasaan yang sangat membingungkan saat ini. Dia biarkan saja perasaan itu mengalir dengan sendirinya. Jika telah di takdir kan Ivan dan Diya bersatu, makan Ia akan menerima nya dengan lapang dada. Karena ia yakin Allah memberikan apa yang kita perlukan bukan apa yang kita ingin kan begitu lah yang Diya pikir kan saat ini.
"Diya, aku tidak ingin hal tadi terjadi kepada mu lagi. Di tempat kost mu itu sungguh sunyi dan sepi dengan penduduk. Bagaimana kamu tinggal di rumah ku, di sebuah komplek perumahan. Rumah itu sengaja aku beli untuk keluarga ku nanti" Ivan menatap penuh harap.
"Tapi jika aku pindah, jelas Yuli juga ikut pindah. Apa tidak apa-apa Yuli ikut dengan ku?" Jawab Diya meninta kepastian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Rumah itu kosong tidak ada yang tempati. Dari pada rumah itu kosong, lebih baik kamu dan Yuli tinggal di sana. Di sana aku rasa lebih aman. karena rumah nya dekat-dekat. Namanya juga komplek perumahan. Aku tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada mu" Semakin Ivan menggenggam erat jemari Diya.