Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Pergi ke kantor bersama


__ADS_3

"Selamat pagi" Sapa Ivan turun dari mobil saat dirinya datang menjemput Diya untuk pergi bersama ke kantor. Yah dari Sepuluh menit yang lalu Diya sudah menunggu kedatangan Ivan di depan teras rumah baru nya. Ivan sudah mengabari Diya kemaren bahwa ia akan pergi bersama gadis itu ke kantor.


"Pagi" Jawan Diya tersenyum manis.


"Sudah siap? Ayo kita berangkat"


Dia mengangguk mengikuti Ivan masuk ke dalam mobil nya.


"Udah sarapan Diy?" Tanya Ivan basa-basi saat mereka di dalam mobil. Mencari bahan untuk ngobrol agar suasana tidak begitu canggung seperti saat ini.


"Udah kok tadi"


Ivan mengangguk mendengar jawaban Diya. Kembali suasana di dalam mobil tenang dah sunyi.


"Hmm.....Terima kasih" Diya berkata dengan sedikit ragu.


Ivan mengerut kening nya tidak mengerti untuk apa gadis impian nya itu mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih untuk apa Diy?" Tanya Ivan heran.


"Untuk semua nya. Kamu sudah banyak membantu ku, aku sangat berterima kasih untuk itu. Dari pertama aku melamar kerja di tempat mu, dan sampai sekarang kamu masih membantu ku"


"Tidak perlu sungkan. Kan sudah ku bilang apa sih yang tidak untuk kamu"


Diya tersenyum mendengar perkataan Ivan. Dari tadi Diya hanya menunduk malu berbicara bersama Ivan. Entah mengapa perasaan aneh itu muncul lagi di perasaan gadis itu. Sehingga ia enggan untuk menatap bola mata lelaki di samping nya saat berbicara.


"Suatu saat nanti aku akan membalas semua kebaikan mu Van" Kata Diya masih menunduk.


"Hahaha.....tidak perlu Diy, aku ikhlas membantu mu"


"Gak apa-apa kok Van Jika nanti kamu butuh bantuan, kamu minta saja bantuan itu kepada ku. Sebisa ku akan membatu mu nanti" Kembali Diya berkata dan kali ini memberani kan diri untuk menatap bola mata Ivan.


"Kamu benar mau membantu ku jika aku meminta bantuan?" Tanya Ivan serius.


Diya mengangguk yakin.


"Baiklah, akan aku katakan. Kebetulan aku memang ingin meminta bantuan Dari mu" Ivan beralih melihat lurus ke depan.


Tak langsung mengatakan. Ivan malah diam dengan raut wajah yang sedikit berbeda. Diya mengerut kening nya bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya yang ingin Ivan katakan?


"Apa?" Tanya Diya lagi dengan hati-hati.


"Bantu aku, bantu aku agar aku bisa memiliki gadis impian ku, bantu aku agar gadis impian ku bisa melupakan masa lalunya. Masa lalu yang telah membuat nya putus asa dan tanpa harapan. Aku tidak ingin gadis ku bersedih lagi. Aku ingin dia bahagia bersama ku. Yah meski aku tidak tahu perasaan nya kepada ku seperti apa" Ivan sedikit melenguh.


"Tapi aku yakin, saat ini gadis ku mulai membuka hati untuk ku. Dan aku ingin dia melupakan seseorang yang tidak pasti di mana keberadaan nya. Kamu bisa membantu ku?" Tanya Ivan serius menatap kepastian kepada gadis berambut sepinggang itu yang ada di samping nya.


Tak langsung menjawab Diya tampak sedikit kaget mendengar penuturan Ivan.


"Masa lalu? Seseorang yang tidak pasti keberadaan nya? Siapa? Apa aku gadis yang di maksud? Atau Virda? Atau gadis lain yang aku tidak ketahui?" Satu per satu pertanyaan mulai bermunculan di benak nya.


"Jika benar itu aku, dari mana Ivan tahu bahwa aku sedang menunggu seseorang yang tidak tahu dia dimana? Tidak mungkin Ivan bertanya kepada Yuli. Toh selama ini mereka belum pernah bertemu. Apa lagi menghubungi Yuli" Diya tampak berpikir.


"Kenapa Diy?" Tanya Ivan melihat Diya masih melamun dan tidak merespon. Diya masih memikirkan apa dan siapa yang Ivan katakan barusan.


"Diya kamu kenapa?"


"Eh, iya?" Diya sadar.


"Kenapa melamun? Lagi mikirin apa sih?" Tanya Ivan dengan senyuman nya khas membuat jantung gadis itu kembali bereaksi.


"Gak, cuma mikirin siapa orang yang kamu maksud tadi" Jawab Diya berlaga tidak tahu. Yah, memang Diya tidak mau menebak atau kepedean bahwa orang yang Ivan maksud adalah diri nya. Meski pun itu clue yang di tunjukan oleh Ivan menuju pada dirinya.

__ADS_1


Tampak Ivan melukis sedikit senyuman di bibinya. Lelaki itu tahu bahwa Diya mengetahui siapa yang di maksud. Hanya saja ia enggan dan pura-pura tidak tahu.


Diya tampak malu-malu dan beralih memandang ke luar jendela mobil. Lagi-lagi gadis itu tidak mau menatap bola mata Ivan. Jika saling menatap jantung nya kembali bereaksi.


Kembali sepi dan sunyi di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu. Sesekali Ivan melirik gadis di samping nya dan beralih melihat jalanan.


Diya mengetahui bahwa ia selalu lirik oleh Ivan. Tentu saja hal itu membuat nya grogi dan salah tingkah.


"Gimana Diy? Bisa kamu menolong ku?" Kembali Ivan bertanya.


"Ha?" Diya kaget.


"Tolong?" Diya balik bertanya. Ivan mengangkat sebelah alis nya untuk memberi kode bahwa ia masih membahas tentang yang tadi. Malah Diya pura-pura lupa dan gak tahu.


"Oh iya, aku tidak tahu siapa yang kamu maksud Van. Bagaimana mungkin aku bisa menyampaikan pesan mu dan menolong mu" Kembali Diya berkata dengan berlaga beloon.


"Kamu Diy. Kamu yang ku maksud?" Ivan berkata dengan sungguh-sungguh menatap lekat bola mata gadis itu.


Diya membulatkan matanya Sedikit terkejut dengan kejujuran Ivan barusan. Jadi benar apa yang di pikir kan nya tadi. Bahwa gadis yang di maksud adalah Diya. Tunggu,


"Aku? Tahu dari mana Ivan?" Kembali bertanya dalam hati.


"Kamu......" Diya menggantung pertanyaan nya.


"Tahu dari mana?" Tidak penting itu. Yang terpenting aku mau kamu bahagia dan melupakan masa lalu mu. Maaf jika aku terlihat mengatur hidup mu Diy. Aku tidak ingin kamu selalu memikirkan masa lalu yang hanya membuat mu tidak bisa maju. Masa lalu hanya lah kenangan dan sebagai pelajaran buat mu Diy" Jelas Ivan.


Diya hanya diam menunduk mendengarkan perkataan Ivan yang memang ada benarnya. Selama ini ia selalu menunggu dan menanti yang tidak pasti.


"Diy, di luar sana masih banyak lelaki yang mencintai kamu dengan tulus. Contohnya aku" Kembali Ivan berkata blak-blakan.


"Untuk apa kamu menunggu nya yang tiada kabar. Bisa jadi kan selama ini ia sudah menikah. Jika benar dia masih mencintai kamu, tentu dia akan memberi kabar kepada mu. Ini sudah lama Diy, tak pernah ada kabar dari nya. Dan kamu masih berharap hal itu? Coba lah untuk membuka hati untuk lelaki lain Diy. Coba lah move on" Tambah Ivan lagi.


Diya tampak berpikir. Benar apa yang di katakan Ivan. Jika Ferdi masih mencintai nya seharusnya memberi kabar bukan malah menghilang tiada jejak. Yah, pikirin Diya mulai terbuka saat Ivan yang menasehati nya. Padahal selama ini Yuli juga selalu mengatakan hal yang sama. Namun, entah mengapa hati dan pikiran nya lebih bisa menerima penjelasan panjang dari Ivan ketimbang Yuli.


"Diy, aku memang bukan lelaki yang terbaik untuk kamu. Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu. Kamu tahu dari dulu sampai sekarang perasaan ini tidak pernah berubah. Meski aku di kelilingi sama gadis cantik mana pun, hati ini masih untuk mu. Sudah lama Diy aku menunggu. Aku tidak tahu apa kita memang ditakdirkan bersama? Tapi yang ku tahu pasti takdir telah membawa mu kepada ku saat ini" Kata manis menyentuh hati cantik tersusun di utarakan oleh Ivan dengan mata yang syahdu.


"Diya, izin kan aku untuk menjagamu. Izin kan aku mencintai mu, dan izinkan aku membuat mu untuk melupakan masa lalu mu" Kembali Ivan berkata. Yah secara tidak langsung itu mengungkap kan cinta alias nembak.


Diya masih diam tampa kata. Gadis itu masih berpikir dan bimbang dengan perasaan nya. Sebelah hati bahagia atas ungkapan Ivan. Namun di hati sebelah nya lagi masih tersimpan nama Ferdi di sana. Maklum lagi sayang-sayang nya di tinggal gitu saja. Jelas saja sulit untuk di lupakan Ibarat kata pacar terindah. Iya lah terindah toh Ferdi cinta pertamanya.


"Jika kamu tidak bisa menjawab sekarang, aku tidak masalah. Aku tidak memaksa mu. Aku akan memberikan mu waktu" Ivan tidak mau mendesak gadis di samping nya itu.


"Cinta tidak bisa di paksa kan Diy, aku akan bersabar menunggu kamu kok. Dan tolong jangan menghindar dari ku meski kamu sudah tahu perasaan ku sesungguh nya. Selama ini hati ku sudah cukup tersiksa Diy mencari mu dan menunggu mu. Jadi ku mohon jangan menghindar. Aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kali nya"


Diya masih menunduk. Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipi mulus nya. Diya menangis terharu atas kejujuran Ivan selama ini. Pemuda itu sungguh tersiksa karena menunggu nya. Dan Diya tahu akan hal itu dimana Diya pun saat ini sedang menunggu Ferdi yang entah kemana.


"Bantu aku melupakan dia Van" Akhirnya Diya berkata. Diya memberanikan diri menatap manik Ivan meminta dukungan dan harapan agar bisa melupakan Ferdi.


Ivan tampak tersenyum senang mendengar apa yang di katakan Diya.


"Jadi kamu menerima aku?" Tanya nya.


"Untuk itu aku tidak tahu Van. Aku masih belum yakin akan perasaan ku. Tapi yang aku yakin, aku hanya ingin melupakan seseorang di masa lalu ku. Kamu benar, aku harus move on. Mungkin aku dan dia tidak berjodoh. Aku harus ikhlas melepaskan dia" Kata Diya menatap penuh dengan putus asa


"Baik lah Diy, aku akan membantu kamu. Asalkan kamu jangan lari lagi seperti dulu" Ivan menggoda mengingat kembali saat dimana diri nya mengungkapkan perasaan bukan di jawab oleh Diya, malah kabur entah kemana.


Diya ikut tersenyum malu mengingat kejadian itu. Dari dulu Ivan memang tidak pernah berubah. Selalu berusaha untuk mendekatinya dan mengambil hati nya.


Dan sekarang, hati Diya pun sudah mulai luluh.


"Aku gak bakal lari kok Van. Kan aku yang meminta kamu untuk melupakan masa lalu ku" Diya tersenyum manis.

__ADS_1


"Bagus lah jika begitu. Senang hati ku mendengarnya"


Kembali sepi di dalam mobil itu. Kembali kedua nya mengalihkan pandangan ke luar jendela di samping mereka masing-masing untuk menenangkan hati yang tengah gundah gulana.


"Diy"


"Ya"


"Kamu bisa gak masakin aku Papeda? Entah mengapa aku ingin merasakan Papeda makanan khas Papua itu. Apa sih mama nya di daerah kamu?" Ivan tampak berpikir.


" Kepurun" Jawab Diya singkat..


"Gak di papua aja kok Van. Di desa ku Sungai Pakning tepatnya desa Sejangat terkenal makanan itu. Hanya saja, nama nya beda. Kalau daerah kami menyebutnya Kepurun" Jelas Diya.


"Makan nya pakai gulai lemak ikan. Terserah ikan apa yang penting gulai lemak. Bisa juga makan nya pakai gulai asam pedas" Jelas Diya lagi.


"Iya aku tahu itu" Jawab Ivan.


"Kamu kok tiba-tiba mau makan itu sih?"


"Beberapa bulan yang lalu aku pernah berkunjung ke kota Bengkalis. Untuk mengadakan pertemuan dengan beberapa klien. Yah membahas tentang proyek membangun salah satu Universitas di sana. Jadi aku pernah makan makanan itu. Sekarang jadi pengen lagi lantaran melihat salah satu story teman ku di Instagram. Kamu berasal dari sana juga kan. Aku yakin kamu pasti tahu membuat makanan itu" Jelas Ivan. Yah Diya berasa dari kota Sungai Pakning desa Sejangat dan Bengkalis itu adalah kabupaten nya. Ivan tahu, ya tahu lah. Tidak mungkin atasan tidak mengetahui identitas dan asal karyawan nya. Terlebih Diya bukan hanya karyawan melaikan seseorang yang sepesial dalam hidup nya. Tentu saja dia mencari tahu tentang gadis itu.


"Tentu saja aku bisa. Di kampung aku selalu bantuin ibu untuk memasak nya. Gimana besok aku masakin kamu makanan itu. Berhubung besok libur" Kata Diya penuh semangat.


Seketika suasana yang tadinya syahdu dan sedih kembali ceria. Yah Ivan memang pandai mengubah suasana hati gadis itu.


"Terima kasih ya Diy. Gak sabar menunggu besok" Iva menggosok kedua telapak tangan nya seakan benar-benar menginginkan Papeda atau Kepurun saat ini juga. ibarat kata sudah ngiler.


Diya tersenyum melihat tingkah Ivan barusan.


"Oke, hari ini jadwal nya apa saja Diy?" Tanya Ivan kembali pada pembahasan kerjanya.


"Pagi ini jadwal pertemuan nya kosong, cuma nanti sore sekitar jam 14.30 Wib ada janji dengan klie dari Jakarta" Jawan Diya membolak balik buku catatan jadwal pertemuan Ivan.


"Oke" Ivan mengangguk mendengar penjelasan itu.


"Yuli kapan pulang?" Kembali Ivan bertanya.


"Lusa katanya pulang"


"Baguslah kamu jadinya ada teman nya di rumah itu. Jujur aku agak cemas memikirkan kamu yang tinggal sendiri. Jika Yuli sudah pulang, jadi tenang hati ku sudah ada yang jagain kamu" Ivan berceloteh.


"Cemas?" Tanya Diya dalam hati. Memang sebegitu besar kah rasa Ivan kepadanya? Pikir Diya. Diya hanya tersenyum menanggapi.


Mobil yang di tumpangi Diya kini sampai di gedung megah perusahaan Ivan.


Diya siap-siap mau turun


"Diy?" Ivan menarik tangan Diya menunda Diya untuk membuka pintu mobil.


Diya menoleh dengan heran.


"Ada apa lagi?" Pikirnya dalam hati.


"Gak, hanya memastikan kamu baik-baik saja"


Diya menautkan alisnya.


"Gak apa-apa? Maksudnya?" Diya heran.


"Bukan apa-apa. Ayo keluar" Ajak Ivan mengalih pembicaraan.

__ADS_1


Ia hanya memastikan gadis itu baik-baik saja. Meski tadi ia berhasil mengubah raut wajah gadis itu menjadi ceria, namun ia yakin hati gadis itu masih sedih.


Diya mengangguk dan langsung membuka pintu mobil dan keluar. Dan di ikuti oleh Ivan.


__ADS_2