
"Assalamuakaikum buk" Ujar Diya ketika mereka sudah tiba di rumah. Yah hari ini adalah jadwal mereka pulang dari kapal pesiar.
"Waalaikumsalam ya sudah pulang. Ayo masuk" Ujar Mirna menyambut hangat kedua anak menantu nya.
Diya mencium punggung tangan ibu nya dan memeluk ibu nya yang sudah tiga hari mereka tidak bertemu.
"Ibu apa kabar? Aku kangen banget loh sama ibu" Ujar Diya.
"Alhamdulillah Ibu baik-baik aja nak. Ibu juga kangen sama kalian" Ujar Mirna mencium kening anak nya.
"Gimana? Selama peninggalan kami gak ada kambuh kan sakit nya ibu?" Ujar Diya mengamati ibu nya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Gak kok sayang. Alhamdulillah semua baik-baik saja" Balas Mirna tersenyum.
"Alhamdulillah aku senang mendengar nya buk"
***
"Selamat pagi Virda" Ujar Bram menyambut pagi ini dengan senyuman yang merekah di bibir nya. Bram menghampiri Virda yang masih terbaring di ranjang nya.
"Pagi juga" Jawab Virda dengan wajah bantal nya. Virda duduk di tempat tidur nya.
Meski gadis indobel itu baru bangun tidur, tetap saja terlihat cantik di mata Bram. Laki-laki yang mencintai nya.
"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Apa merasa lebih baik kan?"
"Sudah merasa baikan kok. Makasih ya karena kamu sudah menjagaku tadi malam"
"Iya sama-sama, Apa sekarang kamu mau mandi? Apa mau aku bantu?"
"Gak perlu kok aku bisa kok mandi sendiri"
"Tapi kakimu itu masih bengkak dan pasti akan terasa sakit jika dipaksakan untuk berjalan. Biar ku bantu agar kakimu tidak terasa begitu sakit"
"Gak perlu Bram. Kamu sudah banyak membantuku jadi aku nggak mau merepotkan kamu lagi"
"Aku nggak merasa direpotkan dan aku tidak merasa repot untuk membantu kamu"
"Tapi.... "
"Sudah jangan banyak protes. Sini aku bantu kamu pergi ke kamar mandi" Ujar Bram membantu Virda untuk berdiri dan menuntun nya ke kamar mandi.
"Terima kasih" Ujar Virda setelah diri nya sampai di kamar mandi.
Entah mengapa hati nya luluh dengan kebaikan Bram yang memperlakukan nya semanis ini. Mungkin karena bawaan sang bayi juga yang ingin bersama sang ayah.
"Nanti jika sudah selesai kamu panggil saja aku. Aku mau menyiapkan sarapan untuk kita" Teriak Bram dari luar kamar mandi.
***
"Ya ampun Virda, sudah ku katakan bahwa jika sudah selesai kamu panggil aku aja. Kamu kan masih sakit nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kita bagaimana?" Ujar Bram menyambut Virda yang kelihatan susah untuk berjalan. saat itu Virda menghampirinya di dapur yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Gak apa-apa" Ujar Virda duduk di meja makan nya.
"Ini sarapan spaghettinya sudah jadi. Silakan dicicipi semoga sesuai dengan selera kamu ya" Ujar Bram menyerahkan sepiring spaghetti kepada Virda.
"Terima kasih" Jawab Virda.
Virda langsung menyantap spaghetti buatan Bram yang baru saja selesai dibuatnya.
"Enak" Virda berkomentar.
"Ternyata kamu pintar masak juga ya" Puji Virda. Lelaki yang selalu ia panggil dengan sebutan tua bangka itu ternyata pinter memasak. Sungguh dia tidak mengetahui sisi lain dari lelaki itu.
Yang selama ini dia tahu hanya lah lelaki itu memanfaatkan nya saja demi untuk memuasi nafsunya dengan cara mengancamnya untuk mendapatkan apa yang ia mau.
"Selama istriku sakit, Aku belajar masak agar aku bisa memasak untukku dan juga untuk anak-anakku di rumah. Aku hanya ingin menunjukkan kepada anak-anakku bahwa aku sangat mencintai dan menyayangi mereka. Ya mungkin dengan aku memasak untuk mereka, mereka menyadari bahwa rasa sayangku kepada mereka tidaklah berkurang. akibat kesibukan ku bekerja. Mereka selalu berpikir bahwa aku tidak peduli terhadap mereka dan mamanya. Oleh karena itu aku selalu meluangkan waktu memasak makanan kesukaan mereka agar kebersamaan yang kami jalin akan terasa indah" Cerita Bram.
Virda merasa simpati dengan cerita nya Bram.
__ADS_1
"Kamu di sini, terus bagaimana keadaan istri mu yang sedang sakit itu?"
Bram menarik napas berat nya.
"Saat ini dia sudang koma. Kangker nya semakin menyebar. Sudah tiga bulan keadaan nya seperti ini" Bram tampak sedih.
"Kamu yang sabar ya semoga saja istri mu baik-baik saja" Ujar Virda menyemangati.
"Entah lah Vir, kesembuhan yang akan ia peroleh itu kecil. Aku tidak yakin bahwa dia akan sembuh. Tapi aku akan berusaha memberikan pengobatan yang terbaik untuknya agar aku tidak menyesal di kemudian hari nantinya"
"Oh ya, aku telah memutuskan bahwa aku akan menikahi kamu besok"
Deg....
Virda tampak kaget mendengar keputusan dari Bram yang terdengar mendadak.
"Besok? Apakah secepat itu?"
"Iya karena waktuku di sini tidaklah lama lagi. Aku akan kembali ke Singapura untuk melihat keadaan istriku. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menikahi kamu besok karena menunggu pun tak ada gunanya. Semakin hari kandungan kamu akan semakin membesar dan kamu tentunya akan menjadi bahan omongan orang nantinya. Oleh karena itu Alangkah baiknya kita menikah secepat ini"
Virda hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun keputusan dari Bram. Sejujurnya dia juga setuju dengan pendapat Bram karena saat ini kandungannya semakin hari akan semakin membesar.
"Baik lah aku akan menghubungi orang tua ku tentang masalah ini. Dan jika secepat ini aku yakin mereka pasti tidak akan bisa datang"
"Aku minta maaf jika ini akan mengecewakan mu. Aku benar-benar tidak ada pilihan lain saat ini" Jelas Bram.
"Iya gak apa-apa aku bisa paham dengan keputusan mu" Ujar Virda.
***
Virda melamun di dekat jendela kamar nya. Hati nya saat ini merasa sedikit gelisah mendapati besok harus menikah degan Bram lelaki yang telah menghamili nya. Namun, ia tidak. ada pilihan lain saat ini. Menanti Ivan pun tak kan mungkin mau menikahi nya.
"Mungkin aku harus mencoba untuk menerima Bram sebagai suami ku. Bagaimana pun dia adalah ayah dari anak yang aku kandung" Batin Virda.
"Ivan, aku tidak akan memaafkan kalian. Tunggu saja aku akan membalas semua nya. Kamu telah membuat aku malu di depan orang tua mu. Kamu akan menyesal karena berbuat seperti ini kepada ku" Tambah nya lagi menggenggam erat tangan nya.
***
"Gimana? Sukses?" Tanya nya lagi.
"Sukses dong" Jawab Diya seadanya.
"Yul, kamu tahu siapa yang aku temui saat liburan di kapal pesiar kemarin?"
"Siapa?"
"Kak Ferdi dan keluarga nya"
"Apa? Mama dan papa nya Ferdi juga liburan di sana?"
"Bukan juga maksudku Ferdi, istrinya juga anaknya bukan sama mama dan papanya"
"Terus kenapa jika ketemu mereka? Jangan bilang kamu cemburu dengan mereka"
Diya menatap kesal kepada Yuli.
"Bukan begitu Yul. Aku lihat mereka sudah harmonis. Sepertinya kak Ferdi sudah bisa menerima Sonia sebagai istrinya dan sudah bisa menerima takdir bahwa aku dan dia tidak berjodoh" Jelas Diya.
"Kemarin sewaktu di rumah sakit. Aku juga bertemu dengan Ferdi dan Sonia saat mereka mau periksa kandungan. Waktu itu aku sedang membawa ibu untuk Periksa ke dokter karena tekanan darah Ibu kambuh" Tambah nya lagi.
"Bagus dong kalau begitu. Jadi nya kamu dan Ivan tidak ada yang pengganggu lagi deh"
"Iya Yul, aku jadi senang melihat mereka seperti itu. Intinya aku dan kak Ferdi sekarang sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Dan Kami tidak akan mungkin untuk bersatu lagi. Ya memang kak Ferdi pernah menjadi bagian dalam hidupku dan mengisi hari-hariku yang sepi menjadi sangat indah waktu itu. Namun itu semua hanyalah tinggal kenangan dan kenangan itu akan selalu aku ingat tidak untuk bersatu kembali" Jelas Diya.
Yuli ikut tersenyum dan mengangguk mendengar penjelasan dari sahabat nya itu.
***
"Pa, ngapain sih duduk di luar sini" Tanya Ajeng melihat suami nya duduk melamun di teras rumah nya.
__ADS_1
Herman menghembus napas berat nya.
"Papa hanya gak habis pikir dengan si Virda ma. Kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu. Padahal dia anak berpendidikan tinggi tapi kenapa dia bisa melakukan hal sebodoh itu dan Bahkan dia menuduh Ivan sebagai pelakunya." Ujar Herman merasa kecewa dengan Virda.
"Padahal selama ini kita sangat menyayanginya selayaknya dia itu anak kita sendiri dan Ivan juga sangat mencintainya seperti mencintai adiknya sendiri. kita telah lama mengenal Virda dan kita tidak habis pikir mengapa dia bisa melakukan hal seperti itu"
"Iya pa, Mama pun nggak mengerti dengan cara pikirnya Virda. Dan yang buat mama semakin kecewa kepadanya dia menuduh anak kita itu loh pa. padahal Ivan tidak melakukan apapun kepada dia. Tapi dia terus-terusan membuat kebohongan demi kebohongan untuk memisahkan Ivan Dan Diya"
"Hingga sampai sekarang mama pun tidak tahu ya pa siapa sebenarnya ayah dari anak dia kandung. Terkadang mama juga memikirkan dia bagaimana keadaannya di sana dan bagaimana dia menghadapi semua ini sendirian. Ya walau bagaimanapun juga Virda merupakan anak sahabat mama dan mama sayang sama dia pa selayaknya anak mama sendiri. Karena kita hanya mempunyai satu anak yaitu Ivan dan kehadiran Virda itu melengkapi kehidupan kita di mana kita memiliki sepasang anak yang selama ini telah menghiasi hari-hari kita dan tentu saja kenangan-kenangan bersama mereka itu sangat sulit untuk kita lupakan saat ini" Jelas Ajeng.
"Itu lah ma yang papa pikirkan. Meski kemaren kita sudah sangat kecewa kepada nya, tapi tetap saja kita tidak bisa melepaskan dia begitu saja. Kedua orang tua nya sudah menitip nya kepada kita. Dan kita pun sangat menyayangi nya seperti anak kita sendiri" Tambah Herman.
***
"Papa, papa kapan-kapan kita pergi liburan ke kapal pesiar lagi ya seperti kemaren. Ajak juga tante Ivan dan om Ivan biar kita bisa liburan sama-sama seperti kemaren. Pasti akan seru" Ujar Junior saat Ferdi dan Sonia sedang asyik menemani Junior bermain.
"Boleh kan ma?" Tanya Junior dengan polos nya.
Sonia tersenyum sambil mengangguk.
"Nah, pa Mama aja setuju untuk kita pergi liburan lagi bersama tante Ivan dan Om Ivan"
"Iya nak. Kapan-kapan kita akan liburan laginya seperti kemaren" Jawab Ferdi.
"Asyik... Liburan di kapal pesiar lagi" Sorak Junior kegirangan.
Sonia dan Ferdi tersenyum melihat tingkah jagoan nya itu.
***
Pagi telah tiba, matahari memancarkan cakrawala nya yang indah dari ufuk timur. Virda telah didandani secantik mungkin memakai kebaya berwarna putih dilengkapi dengan aksesoris di kepalanya menambah keanggunan dan kecantikannya saat itu. Begitupun dengan Bram yang tampak gagah menggunakan jas berwarna hitam dipadupadankan dengan celana kain dan sepatu mengkilat yang menghiasi kakinya.
Pagi ini adalah pagi istimewa untuk keduanya karena hari ini merupakan hari di mana mereka akan mengikat janji pernikahan yang disaksikan oleh para saksi dan yang maha kuasa untuk hidup bersama hingga hayat memisahkan mereka.
Mereka hanya melakukan ijab qobul saja karena tidak sempat untuk melakukan resepsi pernikahan mereka hal itu disebabkan pernikahan mereka yang mendadak tanpa direncanakan lebih jauh hari.
Bram melafazkan Ijab Kabul hanya dengan satu tarikan apa saja dengan lancar dan mantap. Maklum dia sudah berpengalaman dalam melepaskan Ijab kabul saat ia menikah dengan istrinya yang sedang, saat ini.
"Sah" Kata para saksi.
"Alhamdulillah" Ujar penghulu itu dan dilanjutkan dengan membaca doa untuk mendoakan kedua mempelai agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah.
Virda mencium punggung tangan suaminya dan Bram menancapkan sekecup ciuman hangat di kening istrinya.
Sah lah mereka saat ini karena sudah menjadi suami istri dan halal lah mereka untuk melakukan apapun juga.
***
"Alhamdulillah kita sekarang sudah menjadi suami istri yang sah. Dan sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi dengan kandungan kamu karena kamu sekarang sudah memiliki suami dan aku jamin kamu tidak akan menjadi bahan omongan orang-orang di luar sana" Jelas Bram. Saat mereka sudah tiba di apartemen nya Virda.
"Iya, Terima kasih Bram kamu sudah mau bertanggung jawab atas anak yang aku kandung saat ini. Aku tidak menyangka kita bisa menikah seperti ini dan aku juga tidak menyangka selama ini aku telah salah menilaimu. Aku selalu menilai kamu dengan penilaian buruk ternyata dibalik itu semua ada sikap yang membuat aku sedikit tersentuh sikap manismu kepadaku"
"Iya sama-sama sudah menjadi kewajibanku untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada kamu karena ini semua adalah ulahku dan aku tidak mungkin melepaskan kamu begitu saja dengan menanggung beban ini sendirian"
"Oh ya Besok aku akan pulang ke Singapura dan aku mau mencari pembantu untukmu agar bisa membantumu dan menemani kamu di sini selama aku pergi. Aku tidak mau kamu terlalu capek. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu dan juga anak kita nantinya. Jadi aku akan memutuskan untuk mencari pembantu buat kamu di sini sehingga aku bisa pergi dengan tenang. Dan aku juga mau bilang sama kamu mulai dari sekarang kamu berhenti saja bekerja semua kebutuhan kamu dan kebutuhan anak kita aku yang akan menanggungnya kamu hanya duduk manis di rumah menyambut ku pulang nantinya" Jelas Bram.
"Baiklah jika itu yang terbaik menurut kamu, aku turuti saja. aku juga belum bisa bergerak terlalu leluasa saat ini karena kakiku masih terasa sakit. Jadi ya benar aku memang membutuhkan pembantu untuk membantuku di sini. Terima kasih kamu sudah memikirkan keadaanku di sini" Ujar Virda.
"Iya sama-sama. sebagai suami yang baik aku harus memikirkan kebutuhan-kebutuhan istriku yang sedang mengandung anakku saat ini. Dan tidak mungkin aku membiarkan kamu mengerjakan semua sendirian tanpa ada yang membantu mu di sini. Aku takut kamu akan kecapean dan akan mengganggu perkembangan janin kita nantinya"
"Aku janji aku akan cepat pulang dan kembali menemani kamu di sini. Dan aku juga akan membuka perusahaan ku di sini untuk anak kita nantinya. Agar dia juga mempunyai tabungan untuk masa depannya karena sahamku yang ada di Singapura itu semua akan kuserahkan kepada anak-anakku dari istri pertamaku. Dan oleh sebab itu aku akan membeli sebagian perusahaan di sini untuk kamu dan anak kita. sehingga jika terjadi sesuatu sama aku kalian berdua sudah ada tabungan untuk masa depan kalian.
Deg....
Kembali hati Virda merasa tersentuh dengan pemikiran Bram. Di mana ia memikirkan masa depan Virda bersama anaknya. Padahal Ia baru saja menikah dengan gadis itu tapi ia sudah memikirkan sejauh ini untuk masa depan Virda dan juga anaknya yang masih berada di dalam kandungannya itu.
"Terima kasih Bram. Aku sangat senang karena kamu memikirkan masa depan ku dan anak kita. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi sama kamu. Jujur aku sangat tersentuh dengan kebaikan kamu kepada ku saat ini" Ujar Virda memeluk suami nya itu.
"Dengan aku sudah mendapatkan segalanya, aku akan jamin hidup Ivan akan menderita. Saham Bram sebagian akan menjadi milik ku. Pasti akan mudah bagi ku untuk membalas rasa sakit ini dengan aku mempunyai banyak uang" Ujar Virda penuh dengan dendam di hati.
__ADS_1
Hati nya memang sudah di selimuti rasa sakit atas perlakuan Ivan yang mencampakan nya begitu saja.