
Ivan mengerut kan kening nya melihat siapa yang sedang duduk bersantai di taman belakang rumah.
"Lo Vir, kamu kenapa masih di sini? Bukan nya kamu harus pulang ya hari ini?" Tanya Ivan menghampiri kedua wanita yang beda generasi itu.
"Eh Van, sudah pulang?" Virda malah balik bertanya.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku Vir"
"Iya, aku harusnya memang balik hari ini. Akan tetapi aku ketinggalan pesawat jadi ya terpaksa aku masih di sini"
"Lo, kan masih bisa pesan tiket pesawat yang lain" Ucap Ivan menahan emosinya. Dimana hari ini adalah hari kebebasan nya untuk terlepas dari gadis indobel itu malam gagal semua lantaran gadis itu tidak jadi pulang.
"Emang sih aku bisa pesan tiket pesawat yang lain. Tapi aku setelah aku pikir-pikir, seperti nya takdir lebih memilih untuk aku masih tetap di sini deh. Terbukti kan aku ketinggalan pesawat" Ucap Virda seenak nya padahal ia sama sekali tidak memesan tiket sama sekali. Ia ingin tetap tinggal di sini agar terus bersama Ivan.
Dan masalah pekerjaan dia tidak memikirkan nya lagi. Jika dia tidak bisa bekerja bersama Ivan, Toh ia masih bisa mencari lowongan pekerjaan lain agar tetap berada di kota ini bersama Ivan lelaki impian nya selama ini.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu?"
"Pekerjaan ku? Ah, gampang lah" Ucap nya santai.
"Kamu bisa di pecat nanti Vir"
"Nah, jika sudah di pecat, berarti aku harus tetap di sini dan mencari pekerjaan di sini. Ada lowongan kan di kantor mu?"
"Bagaimana dengan kontrak pekerjaan mu. Kamu bisa di denda lo tiga kali lipat"
"Itu kan jika aku ingin berhenti dengan sendirinya sebelum masa kontrak ku habis. Tidak dengan jika aku di berhentikan bukan?" Virda tersenyum.
"Jadi kamu sengaja melakukan hal ini agar kamu di berhentikan?"
"Gak, aku gak sengaja. Tapi jika di berhentikan malah bagus" Ucap Virda tidak merasa bersalah sama sekali.
Ivan memijat kening nya yang terasa pusing karena menghadapi gadis yang di anggap sebagai adik angkat nya itu. Baru saja ia pusing memikirkan bagaimana nanti nya Ferdi bertemu dengan Diya. Berbagai kemungkinan yang ia takut kan bisa saja terjadi. Sekarang malah di tambah dengan masalah baru yaitu si Virda malah ingin bekerja di kantor nya.
"Terserah kamu lah Vir" Ucap nya meninggalkan gadis itu.
"Van, kamu belum jawab pertanyaan ku lo" Virda mengejar Ivan.
"Pertanyaan yang mana?"
__ADS_1
"Itu masalah lowongan kerja di perusahaan mu ada kan?"
"Saat ini belum ada" Ucap Ivan cuek.
"Sebagai sekretaris mu Van. Boleh ya"
"Aku sudah mempunyai sekretaris"
"Kamu bisa saja kan memecat nya atau memindahkan nya ke bagian lain" Ucap Virda seenak nya. Ivan memberhentikan langkah nya.
"Maksud kamu aku harus memecat Diya atau memindahkan nya ke bagian lain gitu? Harus aku lakukan itu padahal Diya tidak ada kesalahan dalam bekerja secara mendadak aku berbuat begitu kepada nya. Vir, dimana otak kamu. Dimana hati nurani mu?" Ucap Ivan dengan nada marah tertahan.
Sejujurnya Virda sedikit kaget saat Ivan berbicara dengan nada seperti itu. Selama ini Ivan selalu bertutur lemah lembut di hadapan nya.. Namun untuk saat ini Ivan telah berubah.
"Kok kamu jadi marah si Van. Oh, aku tahu kamu pasti suka kan sama Diya? Kamu mempunyai rasa ya sama Diya. Aku tahu itu Van. Gadis itu tidak mempunyai pendidikan yang tinggi kamu jadikan dia sekretaris mu. Dan sekarang kamu bela-belain Diya. Kamu suka kan sama Diya?"
Ivan tidak menjawab memilih untuk pergi meninggalkan Virda. Hari ini ia merasa sangat bad mood lantaran pertemuan nya dengan Ferdi lagi.. Pikiran nya sudah sangat kacau. Sekarang waktu di rumah ia berharap mendapatkan ketenangan, malah mendapatkan sebuah pertengkaran dari gadis berwajah oval itu.
Virda terus mengikuti Ivan. Ia menarik tangan Ivan agar berhenti dan menjawab pertanyaan nya.
"Jawab Van..Jangan diam saja kamu" Bentak Virda.
"Kalau emang aku menyukai dan mencintai Diya kenapa? Ada yang salah?"
"Salah nya di mana ha?"
"Salah karena kamu telah menyakiti hati ku. Selama ini aku mencintai kamu, aku suka sama kamu. Tapi apa yang aku dapat. Cinta ku bertepuk sebelah tangan. Dan aku yakin kamu juga tahu akan hal itu kan? Hanya saja kamu tidak mau membalas rasa ini" Virda meneteskan air mata nya. Air mata kekecewaan terhadap Ivan.
Ivan menarik napasnya dalam-dalam dan di hembusnya kuat-kuat. Hati nya merasa tidak enak saat gadis di hadapan nya menangis seperti itu.
"Maaf kan aku Vir, aku tidak mencintai kamu. Aku sayang sama kamu. Tapi rasa sayang itu hanya sebatas adik dan kakak. Aku tidak mempunyai rasa yang lebih terhadap mu. Hati ku sudah di miliki oleh gadis lain" Ucap Ivan dengan nada bicara rendah tidak meninggi seperti tadi.
"Diya maksud kamu?"
"Iya Diya. Tujuh tahun aku menunggu nya. Sebelum bertemu dengan mu, aku terlebih dahulu bertemu dengan nya saat sekolah nya berkunjung di sekolah ku sewaktu kami duduk di bangku SMA. Dan sekarang aku telah bertemu dengan nya kembali"
Degg....
Perih dan sakit terasa di hati gadis itu. Hati nya benar-benar hancur saat ini mendapati kenyataan bahwa Ivan selama ini telah menantikan kehadiran Diya selama itu. Ia benar-benar merasa bodoh, sangat bodoh karena sama sekali tidak tahu akan hal itu. Ivan tidak pernah membahas tentang hal itu kepada siapa pun kecuali bersama Ferdi.
__ADS_1
Virda terpaku tidak bisa berkata apa-apa. Badan nya kaku, lutut nya lemas seperti kehabisan tenaga tidak bisa bertumpu pada berat badan nya.
"Maafkan aku Vir, jika kamu ingin kerja di kantor ku, aku minta maaf aku tidak bisa menerima mu. Lowongan di kantor ku telah penuh. Dan aku tidak mungkin memberhentikan seseorang secara sepihak. Aku harus memikirkan bagaimana nasib karyawan ku ke depan nya nanti" Ucap Ivan.
"Jadi aku harap kamu lebih memikirkan tentang keputusan mu untuk berhenti kerja di kantor mu sekarang" Ivan meninggalkan Virda yang berdiri mematung tidak bisa berkata apa-apa.
"Tega kamu Van, tega kamu membuat ku seperti ini. Awas aja kamu Diy, aku akan membuat mu menyesal telah mendekati Ivan. Aku tidak terima Ivan membuat ku seperti ini. Jika aku tidak bisa memiliki Ivan, makan gadis mana pun tidak akan bisa termasuk kamu Diy" Ucap Virda kepada dirinya sendiri menggenggam erat tangan nya.
***
"Van" Tegur Ajeng melihat anak semata wayang nya ingin menaiki tangga menuju kamarnya. Ivan menghentikan langkahnya
"Ya ma, ada apa?"
"Van, kenapa sih? Mama dengar tadi dari kamar ada ribut-ribu" Ucap Ajeng heran mendengar ada suara orang bertengkar dari dalam kamar nya.
"Bukan apa-apa kok ma. Hanya ada masalah aja sedikit" Ucap Ivan tidak mau membahas masalah nya yang tadi bersama Virda.
"Kamu bertengkar sama Virda?" Tebak Ajeng.
"Salah paham aja ma. Semua nya baik-baik saja kok" Ucap Ivan berusaha untuk tersenyum walau senyuman itu tampak di buat-buat.
Ivan menghela napas nya.
"Aku ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih dan istirahat. Capek pikiran ku lagi mumet" Ucap nya memijit kepala nya yang terasa sedikit pusing. Ajeng mengangguk.
"Kenapa sih tuh anak? Ada masalah apa coba? Tumben dia bersikap seperti ini" Ajeng merasa heran dengan putranya yang selama Ivan sangat kalem, berwibawa, tapi hari ini ia sangat berbeda.
"Sudah lah, Ivan butuh waktu untuk menenangkan diri. Jika sudah waktunya ia pasti akan bercerita" Yakin Ajeng.
***
Ivan menghela napas nya. Menghempaskan diri di atas tempat tidur megah nya.
Ivan memejamkan mata nya dan memijit kembali kepala nya yang benar-benar terasa pusing. Dirinya tidak habis pikir dengan apa yang Virda katakan barusan. Gadis itu hanya mementingkan dirinya sendiri tampa memikirkan orang lain. Jika sekretarisnya Ivan bukan lah Diya, dan Virda meminta Ivan memecat nya begitu saja tampa alasan, hal itu juga tidak akan Ivan lakukan. Memecat karyawan tampa sebab sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya.
Dimana cita-cita terbesarnya untuk membangun lapangan pekerjaan sebesar-besar nya agar mengurangi angka kemiskinan di kota itu.
Jika kalian berpikir Ivan tega terhadap Virda karena tidak menerima Virda bekerja di kantor nya, kalian salah. Virda sendiri lah yang membuat dirinya sendiri kehilangan pekerjaan demi mendapatkan cinta nya. Cinta yang ia tahu tidak akan mungkin terpenuhi.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak habis pikir sama si Virda. Kenapa di sekarang seperti ini? Gadis itu benar-benar sangat egois sekarang" Ucap nya sendiri.
"Dia rela merugikan orang lain demi kepentingan nya sendiri" Tambah nya lagi.