
"Pasti kamu berfikir aku cuma main-main dan tidak serius. Tapi....Benar Diy, aku sangat mencintaimu" Kata Ivan lagi meyakinkan Diya yang mulai gelisah. Gadis itu tidak menjawab. Hatinya gundah dan fikirannya berkecamuk tidak tahu harus berkata apa. Diya bingung, Ivan sadar akan hal itu.
"Aku tahu pasti sulit untuk mu menerimanya kan?" Kata Ivan melihat keraguan diwajah gadis itu.
"Aku tidak memaksamu menjawabnya sekarang. Tapi...." Ivan tidak dapat meneruskan perkataannya tiba-tiba si Neni temanya datang menghampiri mereka.
"Van, foto bareng yuk" Ajak gadis itu langsung menarik lengan Ivan.
"Lo duluan aja, ntar gue nyusul" Jawab Ivan menolak.
"Tapi Van...Teman-teman udah pada nungguin elo. Ntar mereka kecewa lagi" Neni tetap ngotot.
"Iya...Iya....Tapi gue ada urusan penting" Tolak Ivan lagi.
"Urusan penting apa?" Neni cemberut lalu memandang sinis ke Diya.
"Sama gadis ini? Gak ah.....Ayo lah Van....Please" Neni tetap ngotot sembari menarik Ivan menjauh dari gadis itu. Ivan tidak bisa menolak lagi, dengan terpaksa ia pun mengikuti langkah Neni yang cemburu melihat dirinya dekat dengan Diya.
"Diy....Nanti kita sambung lagi ya" Teriak Ivan dengan langkah menjauh. Diya menghembuskan nafas lega melihat Ivan menjauhi darinya.
__ADS_1
"Hampir saja" Gumam nya pelan.
"Lagi ngapain kamu Diya?" Tegur seseorang membuyarkan lamunan gadis itu.
"Eh...Gak...Gak lagi ngapa-ngapain kok kak" Jawab gadis itu tergagap.
"Dari tadi aku mencari kamu. Kamu kemana aja sih" Ferdi mulai curiga.
"Gqk kemana-mana kok kak. Cuma disini aja"
"Sendiri?"
"I.....Iya..."
"Tahu, lagi ke wc kali" Jawab Diya dengan senyum tawarnya.
"Ya udah....Sekarang kamu istirahat saja. Besok pagi-pagi kita udah harus berangkat. Jangan telat lagi ya" Kata Ferdi lagi. Diya mengangguk. Gadis itu pun berlalu dari hadapan pemuda itu. Tidak lupa ia mengucapkan puji syukur kepada yang Maha Kuasa karena tanpa Dia lah kejadian tadi tidak mungkin akan terjadi. kalau gak, wah...Pasti akan terjadi perang dunia ke tiga.
*****
__ADS_1
Ivan tampak kecewa bila melihat Diya tidak ada di tempatnya lagi. Pemuda itu benar-benar menyesal karena telah meninggalkan Diya sendirian disitu. Dan mengikuti kemauan Neni.
"Aku benar-benar bodoh" Kata nya menyalahkan dirinya.
"Kenapa aku tidak menolak saja ajakan Neni tadi. Bukan kah waktu ku sedikit lagi untuk mendengar jawaban darinya. Ivan mengucek-ngucek rambutnya. Pemuda itu sangat menyesali karena telah meninggalkan Diya disini sendirian. Menyesal karena telah membuang sisa waktu yang hanya tinggal besok pagi saja lagi. Yah....Itu pun kalau Diya tidak keberatan untuk ngobrol dengannya.
Ivan menarik nafas panjang untuk membuang penyesalan di hatinya.
"Tapi...Yah....Aku harus berusaha untuk menemuinya sebelum ia berangkat ke pakning" Kata Ivan bertekad dalam hati.
"Ya...Harus..." Katanya lagi beranjak dari situ.
*****
Jam menunjukan pukul 06.00 wib pagi. Ivan sudah mondar-mandir di depan pintu penginapan putri. Semua mata heran memandangnya.
"Kamu mau cari siapa?" Tanya seseorang gadis kepada Ivan yang tampak gelisah.
"Diya....Diya ada?" Tanya nya bersemangat.
__ADS_1
"Ada...Sebentar lagi keluar. Kamu tunggu aja ya" Jawab gadis itu lagi meninggalkan Ivan yang telah mengucapkan terima kasih kepadanya.
Emang benar, belum beberapa menit Diya pun keluar bersama Yuli yang membawa tas nya masing-masing.