
"Ayo masuk" Kata Diya mempersilahkan Ivan masuk ke rumah kos nya saat mereka sudah sampai di sana.
Ivan tidak menjawab. Pemuda tampan itu mengikuti Diya dari belakang masuk ke kos nya.
"Baik lah, kita mulai darimana?" Ivan mulai meregang kan semua otot-otot tubuh nya seakan-akan mau memulai pertandingan di ring tinju saja dan membuka baju jas nya agar leluasa bergerak saat membereskan semua barang gadis impian nya itu.
"Mulai apa?" Tanya Dia sedikit bingung melihat Ivan membuka jas nya. Sedikit pikiran negatif mulai menghantui nya. Memeluk tubuh nya sendiri takut akan hal buruk terjadi pada nya.
"Mulai membereskan barang-barang mu Diy" Jawab Ivan mengulum senyuman.
"Oh" Diya bernapas lega. Hal yang aneh tidak terjadi pada nya.
"Terus kenapa membuka jas mu?"
__ADS_1
"Agar aku leluasa bergerak Diya. Tidak bagus kan aku membereskan semua ini dengan pakaian kantor ku"
Diya hanya nyegir mendengar perkataan Ivan barusan. Sungguh di depan lelaki itu Diya seperti orang bodoh. Seperti hilang jati diri nya yang dulu bersikap dingin dan tidak terlalu terbuka dengan lelaki mana pun.
Tetapi berbeda dengan diri nya bertemu dengan Ivan. Akhir-akhir ini ia mulai nyaman berada di samping lelaki itu.
"Kami bereskan di kamar Yuli. Biar aku membereskan barang-barang di kamar mu" Perintah Ivan.
"Oke baik lah, tapi izinkan aku membereskan pakaian pribadi ku dulu ya" Kata Diya. Ivan mengangguk mengizin kan.
"Sudah" Kata Diya beralih ke kamar Yuli untuk membereskan barang-barang milik Yuli.
"Aku sudah melipat pakaian ku tinggal di masukan ke dalam tas dan kardus saja lagi. Barang ku tidak terlalu banyak. Secara aku baru beberapa hari di sini" Kata Diya berlalu meninggal kan Ivan di kamar nya.
__ADS_1
"Oke" Sambut Ivan.
Terlihat beberapa pakaian dan juga barang-barang milik Diya tergeletak manis di atas kasur. Ivan mulai menyusun satu persatu pakaian dan barang Diya ke dalam tas dan juga kardus.
Saat tengah asyik menyusun tanpa sengaja buku kecil berwarna biru muda terjatuh di selip-selip barang yang tersusun rapi di kasur tadi.
Ivan mengkerut kening nya merasa penasaran dengan buku kecil itu. Di ambil dan melihat sekeliling apa kah Diya melihat nya atau tidak. Perlahan Ivan menutup pintu kamar dan mengunci nya agar Diya tidak melihat Ivan membaca buku Diary milik nya.
Dier Diary
Detik demi detik terus berganti. Menit, Jam dan hari terus berlalu. Hari, minggu, bulan dan bahakan tahun telah ku lalui tanpa dirinya. Dua tahun sudah semenjak kejadian itu dia pergi meninggalkan aku dalam kesendirian. Yah, aku bisa mengatakan baik-baik saja. Aku bisa mengatakan aku kuat. Namun tidak dengan hati ini. Begitu rapuh, begitu terpukul, begitu pilu. Terlebih lagi dia pergi tampa berita. Tanpa kabar apa pun. Namun ku selalu yakin dan berharap dirinya akan kembali kepada ku. Dan menjalin kasih kembali seperti dahulu.
Kak Ferdi, dimana kamu? Kemana kamu? Apa kabar mu? Seperti apa keadaan mu sekarang? Diri ini sungguh merindukan mu. Kembali lah segera. penuhi janji yang pernah terucap untuk ku.
__ADS_1
"Ferdi? Seperti aku pernah mendengar nama itu" Kata Ivan bergumam dan kembali membolak balik buku kecil di tangan nya itu. Terlihat sebuah foto kecil jatuh ke lantai.