Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Meminta Izin


__ADS_3

"Diya... Diy.... " Yuli berteriak mencari sahabatnya itu.


"Iya, ada apa sih Yul teriak-teriak begitu" Ujar Diya muncul dari kamar nya.


"Aku ada kabar bahagia. Coba deh kamu tebak" Ujar nya.


"Apa?"


"Ayo tebak dulu" Ujar Yuli.


"Kamu naik jabatan?"


Yuli menggeleng.


"Hmm" Diya tampak berpikir.


"Gaji mu naik?"


Kembali Yuli menggeleng.


"Aduh Yul, ngomong aja deh apa kabar bahagianya aku pusing mau nggak bisa menebak aku nggak tahu apa yang membuat kamu bahagia seperti ini" Ujar Diya mengalah.


"Aku, mau di lamar sama Zaki" Ujar Yuli dengan wajah yang berseri-seri.


"Wah, bagus dong Yul. Tapi bukan nya kalian sudah tunangan ya?"


"Iya kami memang sudah tunangan. Karena itu kami mau menikah. Tadi di kantor dia melamar ku di depan karyawan yang lain" Ujar Yuli.


"Yul, kalian kan sudah melakukan lamaran dan juga sudah tunangan Jadi ngapain lagi Zaki melamar kamu di depan karyawan kantor?" Ujar Diya aneh dengan sikap nya Zaki.


"Ya aku gak tahu sih, mungkin dia mau mengatakan sama orang-orang bawa aku ini sudah menjadi miliknya dan dia juga sudah menjadi milikku seperti itu mungkin Diy" Jelas Yuli dengan bangga nya.


"Oh gitu, bisa jadi sih. Jadi kapan rencana dia dan keluarganya . membahas tentang pernikahan kalian bersama orang tua mu?" Tanya Diya.


"Nah itu dia yang masih membuat aku bingung"


"Bingung kenapa?"


"Berhubungan dia itu terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk libur pergi ke kampung kita, jadi dia meminta agar kedua orang tua ku untuk datang ke sini Diy" Jelas Yuli.


"Oleh karena itu, aku mau minta izin sama kamu, boleh nggak sekiranya kedua orang tuaku numpang di sini untuk beberapa hari?" Tanya Yuli.


"Kamu ini Yul, seperti orang lain saja. Ya bolehlah orang tuamu menginap di sini untuk beberapa hari. Nggak apa-apa kok lagian aku kan sudah menganggap kedua orang tuamu seperti orang tuaku sendiri. Kita kan sudah lama bersahabat Yul. Masa aku nggak ngizinin kedua orang tua kamu untuk di sini sementara waktu. Apalagi ini menyangkut hari kebahagiaan kamu" Ujar Diya tersenyum dengan senang.


"Tapi bagaimana dengan Ivan?"


"Nanti biar aku yang ngomong sama Ivan ya. Kamu tenang aja untuk masalah itu" Ujar Diya lagi.


"Syukur lah Diy, aku jadi lega mendengar nya"


"Rencana nya, kapan orang tua mu akan datang?"


"Rencana nya sih dua atau tiga hari lagi. Soal nya di hari itu Zaki ada waktu libur nya sehari. Jadi bisa di gunakan untuk membicarakan rencana pernikahan kami secara kekeluargaan" Jelas Yuli.


"Oke, kalau begitu, kita harus mempersiapkan menu yang enak untuk menyambut kehadiran para calon mertua mu" Ujar Diya dengan semangat


"Oh ya Diy, kata ibu kalian mau honeymoon di kapal pesiar kapan waktunya?"


"Seminggu lagi sih, tapi aku mau lihat keadaan ibu dulu. Jika keadaan ibu lebih membaik, ya aku bisa meninggalkan ibu dengan tenang. Tapi kalau masih keadaan Ibu seperti ini, aku nggak Mungkinkah meninggalkan ibu" Jelas Diya.


"Tapi kan ada aku Diy di sini, aku bisa kok jagain ibu kamu"


Diya menarik napas berat nya.


"Bukannya aku nggak percaya ya Yul sama kamu. Tapi kamu kan tahu sendiri jika pagi hari kamu sibuk kerja dan ibu akan tinggal sendirian di rumah. Jika kolesterol atau tensinya Ibu kambuh saat dia tinggal sendirian gimana?"


"Iya juga sih Diy" Yuli tampak berpikir.


"Nah oleh karena itu, aku dan Ivan memutuskan untuk melihat keadaan ibu. Dan beberapa hari lagi ibu akan pergi untuk cek ulang di Rumah Sakit kemarin. Nah di situ kan kita dapat mengetahui apakah kondisi Ibu sudah membaik atau enggaknya. Jika kata dokter memberikan keterangan bahwa ibu baik-baik aja ya baru kami akan pergi untuk honeymoon di kapal pesiar sesuai dengan impian aku selama ini" Jelas Diya.


Yuli mengangguk mengerti.


"Wah enak banget ya Diy, kamu bisa bulan madunya di kapal pesiar sesuai dengan impian kamu selama ini. Aku udah pengen nggak seperti itu" Ujar Yuli.


Diya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.


***


"Sayang" Ujar Diya menegur Ivan yang sedang duduk di kasur dan sibuk dengan ponsel nya.

__ADS_1


"Iya sayang" Ujar Ivan meletakan ponsel nya di nakas samping kasur nya.


Diya duduk di samping suami nya.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu sayang" Ujar Diya.


"Apa?"


"Yuli meminta izin sama aku, orang tua nya mau datang ke sini untuk membicarakan acara pernikahan Zaki dan Yuli. berhubungan Zaki yang gak bisa libur terlalu lama itu sebabnya Zaki meminta agar kedua orang tua nya Yuli sementara waktu di sini dulu. Gak apa-apa kan mereka nginep di rumah kita?" Tanya Diya.


"Oh begitu. Ya gak apa-apa dong sayang. Tapi masalah nya rumah kita hanya ada tiga kamar. Gak apa-apa jika mereka tidur nya di luar?" Ujar Ivan.


"Iya ya, Rumah kita hanya ada tiga kamar. Atau gini aja, ibu dan Yuli tidurnya satu kamar di kamar ibu, dan kamar Yuli digunakan untuk kedua orang tua Yuli nginep beberapa hari di sini. Bagaimana?" Saran Diya.


"Bagus juga itu saran dari kamu" Ujar Ivan.


"Iya dong, besok aku akan bilang seperti itu sama Yuli ya. Makasih ya sayang kamu emang suami yang paling baik di dunia" Ujar Diya mencium pipi suaminya.


"Jika kamu mengetahui apa yang terjadi sama Virda apa kamu akan masih menganggap sebagai suami yang terbaik di dunia ini" Batin Ivan menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Sayang, kok melamun sih" Tanya Diya.


"Gak, aku cuma mikirin masalah ibu yang pengen punya Ivan dan Diya junior itu. Aku jadi ingin deh memproduksi nya" Ujar Ivan menggoda.


"Ayo" Ujar Diya.


Ivan tersenyum senang mendapati istri nya yang mau di ajak bermain di malam ini.


***


"Ibu, ibu ngapain di sini? Lebih baik ibu di kamar saja istirahat" Ujar Diya.


"Aduh Diy, badan ibu pegel-pegel jika hanya berdiam diri di kamar. Badan ibu sudah terbiasa untuk bekerja, jadi di bawa baring terus menerus jadi gak enak" Ujar Mirna.


"Tapi buk... "


"Gak apa-apa Diy, ibu baik-baik saja kok. Lagian ibu juga sudah merasa baikan sekarang"


"Ya sudah, tapi jika ibu merasa capek, jangan di paksakan ya buk. Ibu ngomong ke Diya"


"Iya nak"


"Masih di kamar buk hari ini katanya mau pergi ke kantor agak telat lantaran capek"


"Capek? Semalaman istirahat masih capek? Atau malam tadi gak bisa istirahat lantaran ada pekerjaan tambahan bersama sang istri" Goda Mirna.


"Ibu, kok gitu sih ngomong nya" Ujar Diya tersipu malu.


"Lah kenapa?"


"Aku kan jadi malu"


"Kenapa mesti malu nak. Wajar dong suami istri begituan. Halal kok bagi kalian berdua. Malahan seperti itu bikin kita kecanduan"


"Emang ibu kecanduan?"


"Candu dong, jika tidak mana mungkin ada kamu" Ujar Mirna.


Diya tersipu malu.


"Malah pipi nya merah seperti kepiting rebus. Harus nya kamu itu bangga karena telah di sentuh sama suami kamu. Gak di jadikan debu di dinding" Canda Mirna.


"Ibu.... " Ujar Diya malu.


"Aduh Diy, ibu benar-benar gak nyangka. Anak gadis ibu sekarang tumbuh besar dan kini menjadi istri orang. Dan malahan gak lama lagi akan ada tangisan hasil cinta kalian di rumah ini. Artinya ibu akan menjadi sorang nenek" Ujar Mirna terharu dengan keadaan yang begitu cepat berlalu.


"Ibu, Ibu jangan sedih begitu dong buk" Diya memeluk tubuh rentan Mirna.


"Ibu terharu nak" Ujar Mirna.


"Selamat pagi semua" Ujar Yuli penuh dengan semangat.


"Pagi" Jawab kedua ibu dan anak itu serentak.


"Loh, buk ibu nangis? Kenapa? Diya bandel ya buk" Ujar Yuli seenak nya.


"Lo kok aku sih Yul?"


"Terus siapa? Gak mungkin kan aku? Aku kan anak yang baik, cantik, dan suka menolong. Jadi gak mungkin aku kan? Ujar Yuli lagi.

__ADS_1


"Udah, udah, ibu hanya terharu melihat anak satu-satunya ibu, telah tumbuh besar dan sudah memiliki keluarga sendiri seperti ini" Ujar Mirna.


"Oh, begitu ya buk"


"Oh ya Yul, ibu sama ayah ku akan datang besok. Kamu sudah bilang sama Ivan? Bagaimana? Apa Ivan mengizinkan?" Tanya Yuli.


"Sudah kok Yul. Dan Ivan setuju. Tidak masalah jika ibu dan ayah mu di sini. Tapi yang jadi masalah nya kamar kita kan cuma tiga di rumah ini"


"Oh iya ya, kamar kita hanya tiga di rumah ini" Yuli tampak berpikir.


"Gini aja Yil, aku sudah ngomong sama Ivan dan Ivan juga setuju. Jadi untuk sementara waktu kamu dan ibu tidur di kamarnya Ibu. sedangkan kamar kamu itu digunakan untuk ayah dan ibumu di sana untuk beristirahat. Bagaimana? Nggak mungkin kan kita membiarkan mereka untuk tidur di ruang tamu atau ruang keluarga nggak mungkin kan? Jadi alangkah baiknya mereka tidur di kamar kamu dan kamu sama ibu tidur di kamar Ibu. Bagaimana setuju kan?" Saran Diya.


"Setuju dong Diy, itu malah saran yang bagus" Ujar Yuli.


"Ibu bagaimana? Gak masalah kan tidur bersama Yuli?"


"Ibu gak masalah kok Diy. Malahan ibu senang karena ada teman nya saat tidur" Ujar Mirna.


"Oke, kalau begitu, aku berangkat kerja dulu ya, kelihatan nya Zaki sudah ada di depan" Ujar Yuli.


"Gak sarapan dulu" Teriak Mirna.


"Nanti aja buk di luar sama Zaki" Balas Yuli.


"Diy, ngapain ibu dan ayah nya Yuli ke sini? Ada acara apa?" Tanya Mirna setelah Yuli tidak kelihatan lagi di matanya.


"Oh itu, karena Zaki telah melamar Yuli"


"Lo, bukanya mereka sudah tunangan ya. Kok lamaran lagi"


"Aku juga gak tahu pasti sih buk. Tapi yang jelas kata Yuli Zak melamar nya di depan karyawan kantor. Mungkin Zaki mau menunjukkan sama teman-teman kantornya bawa Yuli itu adalah miliknya" Jelas Diya.


Mirna mengangguk mengerti.


"Jadi orang tua nya Yuli datang karena Zaki mau ketemu dengan mereka untuk membicarakan pernikahan mereka.. Karena Zaki terlalu sibuk dan hanya mempunyai waktu libur 1 hari, maka Zaki meminta untuk kedua orang tua Yuli datang ke sini saja. Dia mau pergi ke kampung nggak bisa karena ya liburannya cuma satu hari. Sekalian kedua orang tua Yuli jalan-jalan ke sini. Kan mereka kan belum pernah ke sini" Jelas Diya.


"Iya bener juga sih. Mereka kan belum pernah melihat kota ini"


***


"Selamat pagi tante" Ujar Virda menemui Ajeng lagi.


"Vir" Ujar Ajeng saat dirinya sedang sibuk menyiram tanaman di halaman belakang.


"Sudah lama sampainya?"


"Gak kok tante, aku baru aja sampai"


"Ayo duduk" Ajak Ajeng.


Virda mengangguk dan mengikuti langkah Ajeng menuju tempat kursi yang ada di halaman belakang rumah nya.


"Tante aku mau tanya, bagaimana tentang yang kemarin yang aku minta tante untuk bisa menerima aku tinggal bersama kalian di sini apa boleh?"


"Aduh Virda maafin tante ya. Tante belum sempat ngomong sama Om kamu. Tadi malam aja Om kamu pulangnya larut malam. Jadi tante belum sempet untuk ngomong sama beliau secara empat mata"


"Nanti deh tante akan ngomong sama Om kamu" Tambahnya lagi.


Virda tampak kecewa karena permintaan nya belum dapat terpenuhi.


"Aduh, jika. Si tua bangka itu bisa menemui ku, aku bisa mati. Ivan pasti akan sangat membenci ku" Batin Virda.


"Sekarang, aku harus bagaimana? Sepertinya aku tidak mungkin bisa tinggal dan bersembunyi di rumah ini. Aku harus mencari cara agar bos hidung belang itu tidak bisa mengganggu hidup ku lagi" Ujar nya lagi.


"Vir, kok melamun" Tanya Ajeng melihat gadis indobel itu melamun.


"Oh gak kok tante, gak apa-apa. Ya sudah kalau begitu tan. Aku permisi dulu ya"


"Loh kemana? Kok buru-buru?"


"Iya tante, sudah jam segini aku harus ke kantor nanti aku bisa telat lagi jika tidak berangkat sekarang"


"Oh ya udah kalau begitu, kamu hati-hati ya. Masalah kamu mau tinggal di sini, nanti tante akan coba untuk ngomong sama Om kamu ya dan tante juga akan mencoba membujuk Om kamu agar bisa membiarkan kamu tinggal di rumah ini. Hitung-hitung ya sebagai teman tante di rumah karena rumah juga sepi karena Ivan gak tinggal di sini lagi" Ujar Ajeng.


"Oh ya tante kenapa Ivan dan Diya tidak tinggal aja di sini ya? Sayang kan rumah sebesar ini tidak ada orangnya" Tanya Virda.


"Iya karena Ivan mau hidup mandiri bersama keluarganya tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya. Jadi mereka bisa menata sendiri deh rumah tangga mereka seperti apa nanti ke depannya tanpa ada campur tangan dari kami"


"Ivan memang sudah mempersiapkan segalanya. Jika dia sudah berumah tangga nanti sedari Ia masih lajang seperti rumah dan seluruh perabotannya pun sudah lengkap saat itu sebelum dia belum menikah dengan Diya. Jadi ketika dia sudah menemukan tambatan hatinya dia tinggal membawa gadis impiannya itu untuk tinggal bersamanya di rumah yang ia bangun dengan jerih payahnya sendiri" Jelas Ajeng.

__ADS_1


__ADS_2