Kau, Aku Dan Kenangan Kita

Kau, Aku Dan Kenangan Kita
Berkunjung untuk makan malam


__ADS_3

Kejadian penyerangan secara tiba-tiba oleh Mira membuat Diya syok berat.


Mira masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan kedua gadis itu begitu saja.


"Apa-apaan sih tuh orang tua, pakai menuduh orang sembarangan. Tidak sadar jika anak nya yang paling ia bangga-banggakan itu yang kegatelan mengejar mu Diy" Ucap Yuli marah melihat mobil Mira semakin jauh meninggalkan mereka.


Yuli membantu Diya berdiri.


"Ayo Diy, aku bantu kamu berdiri"


"Iya, lebih baik kita pulang saja ya Yul"


"Lo kenapa?"


"Suasana nya sudah tidak enak Yul ayo" Ajak Diya.


Yuli mengikuti keinginan sahabatnya itu. Yuli menuntun Diya untuk berjalan.


***


"Duduk Diy, aku ambilkan minuman sebentar" Ucap Yuli membantu Diya duduk di sofa dan berlari kecil menuju dapur nya.


"Minum Diy" Ucap nya lagi setelah beberapa detik menghilang dari arah dapur dan kembali dengan membawa secangkir gelas yang berisikan air.


Diya meminum air di dalam gelas itu dengan tangan yang masih gemetar. Ia benar-benar kena mental saat di pukuli seperti tadi. Yah orang nya biasa hidup di lingkungan yang penuh kasih sayang. Jadi ketika di bentak bahkan di tampar dirinya sungguh ketakutan dan Syok karena nya.


Toh orang tua nya saja tidak pernah membentak apa lagi menampar putri kesayangan nya. Baru kali ini lah Diya di perlakukan seperti ini oleh orang.


"Assalamualaikum" Salam dari seseorang yang berada di luar rumah.


"Waaliakumsalam" Jawab Yuli.


"Siapa ya Diy? Aku buka pintu nya dulu"


"Eh Ivan. Masuk" Ucap Yuli setelah mengetahui siapa yang datang berkunjung.


"Diya nya ada?" Tanya Ivan basa basi.


"Ada tuh, masuk aja lagi duduk di sofa"


Diya menatap ke depan dengan tatapan kosong Dirinya belum bisa percaya atas apa yang terjadi kepadanya. Kejadian tadi terus saja berputar berulang-ulang di benak nya.


"Diy, kamu kenapa? Mata mu sembab, kamu nangis?" Tanya Ivan mendekati gadis yang sudah menjadi pacar nya itu.


"Gak kok, aku gak apa-apa. Cuma kangen saja sama ibu" Ucap nya bohong.


"Bener?" Tanya Ivan kurang yakin. Lelaki itu tahu bahwa gadis yang ia cintai sedang ada masalah namun tidak mau menceritakan kepadanya.


"Kenapa?" Tanya Ivan kepada Yuli dengan isyarat.


"Ayo aku ceritain" Jawab Yuli dengan isyarat juga mengajak Ivan ke dapur.


"Sebentar ya Diy" Ivan meninggal kan Diya yang masih melamun.


"Ada apa sama Diya? Tidak biasanya dia seperti ini" Tanya Ivan saat mereka sudah berada di dapur.


"Tadi saat kami mau pergi ke pasar malam, tiba-tiba tante Mira mama nya Ferdi datang menghampiri kami. Dia bilang Diya telang menggoda Ferdi dan ingin membuat Ferdi meninggalkan Sonia dan anak nya. Tante Mira menampar Diya begitu saja. Padahal apa yang ia katakan sama sekali tidak benar adanya" Yuli bercerita panjang lebar.


"Maksud kamu Diya menggoda Ferdi? Emang tante Mira tahu dark mana mereka seperti itu"


"Itu lo kemaren sore sewaktu Diya berbelanja di minimarket dekat rumah tiba-tiba Ferdi datang dan memohon kepada Diya agar Diya kembali kepada nya" Jelas Yuli.


"Upps...." Ucap gadis gemuk itu menutup mulut nya.


"Aduh....pakai acara keceplosan lagi, Bisa gawat nih, bisa jadi perang dunia ketiga ni. Aduh bodoh nya, Diya bilang ini rahasia takut mereka bertengkar. Eh aku nya yang keceplosan" Maki Yuli pada dirinya.


"Maksud kamu Ferdi ingin kembali bersama Diya? Terus bagaimana dengan Sonia?" Ucap Ivan kaget mendengar berita itu.


Yuli hanya diam dan masih menutup mulut nya.


"Kurang ajar Ferdi. Dia bilang hanya ingin menjelaskan semua yang terjadi dan meminta maaf kepada Diya. Tidak untuk meminta nya kembali seperti dulu. Jika aku mengetahui semua ini, aku pasti tidak akan mau memantu nya untuk bertemu dengan Diya" Ujar Ivan menggenggam erat tangan nya.


Kemaren ia bisa bersikap tenang dan bersabar, namun tidak kali ini. Apa pun yang mengenai gadis yang bernam Diya ia akan ikut turun tangan bila ada yang mengganggu nya. Karena gadis itu kini telah menjadi kekasih nya.


"Tante Mira, perempuan itu, dia benar-benar keterlaluan. Kenapa begitu tega nya menuduh Diya yang tidak bersalah. Bahkan sampai menampar Diya mempermalukan nya di depan umum. Orang yang berpendidikan tinggi tapi tidak seperti orang terdidik karena bersikap seperti itu. Aku harus cepat bertindak. Aku akan mengumumkan dan meresmikan hubungan kami agar Diya tidak di rendahkan bahkan di permalukan oleh orang-orang yang jahat seperti mereka" Ucap Ivan dalam hati nya.


"Ya sudah ya Van aku mau ke kamar dulu. Kamu temani Diya. Tenang kan hati nya ya. Seperti nya dia sangat syok dengan kejadian tadi. Aku gak mau jadi obat nyamuk" Ucap Yuli sedikit berbisik.


Ivan mengangguk.


"Ferdi, awas aja ya jika kamu merebut Diya dari ku. Aku tidak akan membiarkan nya terjadi. Jika kamu melakukan hal itu, kamu telah membuat kedua gadis yang aku cintai tersakiti. Sonia dan Diya. Aku tidak akan membiarkan nya terjadi. Terlepas dari masa lalu mu yang dulu dan dari kejadian yang telah menimpa mu. Tetap saja aku tidak terima semua itu" Ucap Ivan merapatkan graham nya. Sungguh laki-laki itu sangat marah karena sikap Ferdi.


"Diy, gimana perasaan mu?" Tanya Ivan duduk di samping gadis itu.

__ADS_1


Diya tersenyum kecut menatap laki-laki di samping nya.


"Udah agak baikan kok"


"Jadi gak butuh pundak atau badan ku untuk di peluk agar merasakan kenyamanan?"


Diya mengkerut kan alis nya melihat sikap kekasih nya seperti itu.


"Emang di pundak dan di badan mu ada rileksasi?" Canda Diya.


"Ada, bukti nya jika kamu gundah pasti kamu bilang biar kan aku merasakan kenyamanan di sini. Tapi jasa rileksasi ku hanya untuk mu" Balas Ivan dengan candaan nya.


"Hahaha.....oh ya, berarti aku spesial dong" Diya tertawa geli mendengar pengakuan Ivan..


"Spesial dong. Sangat spesial. Kamu tahu tampa mu aku bisa mati. Kamu seperti nyawa dalam hidup ku, seperti hujan di tengah padang pasir yang gersang dapan memberikan kehidupan berbagai tumbuhan dan hewan di sana" Ucap Ivan menggoda.


"Dan mulai deh gombal nya"


"Lo kok gombal sih. Aku berbicara sebenarnya lo" Ucap Ivan membela dirinya.


"Oh ya, kamu ngapai ke sini? Udah pulang kantor? Selesai kerja nya"


"Ada sedikit pekerjaan lagi yang bisa di selesaikan besok saja. Kasihan para karyawan ku. Terlihat sangat kelelahan. Dan masalah kamu bertanya kenapa aku kesini. Emang nya aku tidak boleh ke sini? Aku kan kangen sama kamu Seharian terlalu sibuk di kantor membuat ku tidak menatap ayu nan indah paras cantik mu" Lagi-lagi Ivan menggombali.


"Mulai lagi gombal nya"


"Lo salah ngomong ya,. apa aku terdengar seperti menggombal?" Tanya Ivan.


Mungkin jika Yuli masih ada di sana, ia pasti akan muntah mendengar semua rayuan Ivan yang tengah mabuk asmara oleh pesona nya Diya.


Ivan tersenyum senang melihat Diya gadis yang ia cintai telah kembali tersenyum..


"Makasih ya Van"


"Untuk?"


"Karena kamu selalu ada di saat aku senang mau pun sedih seperti tadi. Aku benar-benar kekasih yang hebat" Ucap Diya dengan tulus.


"Apa pun akan ku lakukan untuk mu Diy. Diy, terbuka lah bersama ku. Ceritakan semua masalah mu agar aku bisa membantu mu" Ucap Ivan lagi dengan menatap sendu ke arah gadis pujaan nya.


Diya hanya tersenyum.


"Tidak ada masalah apa pun kok Van. Aku hanya kangen sama ibu" Diya berbohong.


"Oke, bisa kamu menghubungi ibu mu dengan vc (vidio call) kenapa tidak menghubungi nya saja jika kangen" Saran Ivan.


Meski Ivan tahu alasan itu adalah alasan yang di buat oleh Diya agar menutupi permasalahan yang ada saat itu. Diya tidak ingin terjadi keributan karena mengadu kepada Ivan tentang apa yang terjadi. Toh Diya bukan anak kecil lagi jika harus mengadu. Jadi dirinya memilih untuk tetap merahasiakan semua ini.


Jika pun Ivan sudah mengetahui nya sediri, itu lebih baik dari pada ia yang memberi tahu kepada Ivan tentang hal ini.


"Oh ya, kamu sudah makan?" Tanya Diya.


"Belum sih, aku boleh numpang makan di sini kan?"


"Boleh, kebetulan aku masakin ayam saos pedas manis. Mau coba masakan ku?" Tawar Diya.


"Boleh, aku lapar banget tadi pulang dari kantor aku langsung ke sini. Yah nama nya juga orang kangen berat jadi gak merasakan lapar sama sekali"


"Terus sekarang kangen nya sudah hilang maka nya merasakan lapar?"


"Di katakan hilang itu gak juga sih, tapi berkurang ada karena telah di obati dengan sesosok gadis di hadapan ku ini" Ujar Ivan menggoda.


Diya tersenyum malu.


Ivan benar-benar bisa membuat mood gadis yang ia cintai itu membaik. Tadi nya sedih sekarang sudah mulai tersenyum kembali.


"Ya sudah ayo ke dapur aku siapin makanan"


Ivan pun mengikuti Diya ke dapur. Duduk di meja makan menantikan hidangan lezat yang di buat oleh gadis itu.


"Sepertinya enak ni, Siapa yang masak?"


"Aku dong"


"Waw calon istri idaman. Sudah cantik, baik, pintar masak lagi. Jadi aku dan anak-anak ku kelak akan semakin betah di rumah" Gombal Ivan lagi.


"Bisa aja sih. Menghina atau menghibur ni?"


"Gak menghina gak juga menghibur. Ini fakta nya lo Diy. Kamu memang benar-benar calon istri dan menantu idaman mama dan papa ku"


Lagi-lagi Diya tersipu malu saat di puji seperti itu oleh Ivan.


"Hmmm.....Tuh kan, ini enak banget Diy" Komentar Ivan mulai mencicipi masakan kekasihnya.

__ADS_1


"Kamu sepertinya bisa membuka usaha restoran deh. Bagaimana ketika kita sudah menikah nanti kita buka usaha restoran untuk kamu. Dan kamu yang mengelola restoran itu. Bagaimana?" Saran Ivan.


"Boleh juga, tapi Van nanti ketika aku sudah menikah aku tidak mau bekerja lagi Van. Aku ingin menyibukkan diri hanya untuk mengurus suami dan anak-anak ku kelak" Jawab Diya.


"Owh gitu. Seperti nya itu lebih bagus lagi. Jadi perhatian mu tidak terbagi dengan bisnis yang ada. Wah,,,, Aku memang tidak salah memilih mu untuk menjadi pasangan hidup ku" Ivan berdecak kagum kepada gadis yang ia cintai itu.


"Bener deh Diy, ini benar-benar enak. Aku akan sering-sering datang ke sini untuk makan bareng kalian"


"Alhamdulillah jika enak. Berarti masakan ku sesuai dengan selera mu"


"Kamu sudah makan? Makan bareng aja sini aku suapin" Tawar Ivan.


"Aku sudah makan kok tadi Van. Saat selesai masak ya aku dan Yuli langsung makan"


"Yah baru juga mau menyuapi mu Diy. Gagal deh" Ivan berlaga sedih.


"Ya sudah aku mau di suapin tapi sekali saja ya, soal nya masih kenyang"


"Oke" Ivan semangat langsung menyodorkan sesendok nasi ke dalam mulut gadis manis berambut sepinggang itu.


"Diy, nanti ketika kita sudah menikah, dan aku masih sibuk dengan pekerjaan ku, jika di kantor antar kan aku makanan yang kamu masak ya. Dan jika di rumah kamu suapi aku makan dan aku bekerja"


"Hahahah.....iya Van seperti anak kecil saja minta di suapi"


"Apa salah nya kan kamu sudah menjadi istri ku. Orang sudah punya istri juga gak masalah kan manja-manja sama istri tercinta" Ucap Ivan.


"Aduh, harus nya aku tidak keluar dari kamar ini. Ini tenggorokan ku tidak bisa di ajak kompromi. Masa mau minum katakan. Padahal ada dua manusia yang sedang kasmaran di sini" Ucap Yuli tiba-tiba nongol di dapur karena ingin minum.


"Hahaha... Maaf ya Yul. Sahabat mu ini sungguh membuat aku menjadi bucin Yul" Ucap Ivan.


"Iya, iya aku tahu, aku tidak mau merusak kebersamaan kalian ya, aku juga tidak mau menjadi obat nyamuk. Jadi izin kan aku mengambil minuman dan pergi dari sini" Ucap Yuli menuju kulkas untuk mengambil sebotol minuman air mineral.


"Kalian lanjutin aja ya lagi. Aku permisi ke kamar dulu.. Melihat kalian seperti ini jadi kangen sama ayang mbeb ku. Udah selesai kerja belum dia ya" Tanya Yuli kepada dirinya sendiri.


"Lanjut, lanjut. aku ke kamar dulu" Tambahnya lagi.


Ivan dan Diya tersenyum melihat Yuli yang salah tingkah karena melihat mereka yang sedang kasmaran.


"Diy, jika nanti kita sudah menikah, biarkan ibu tinggal bersama kita. Kasihan ibu mu di kampung sendirian. Apa lagi ibu sekarang tidak begitu sehat. Lebih baik ibu tinggal bersama kita bukan" Saran Ivan khawatir dengan keadaan calon ibu mertua nya.


"Iya sih Van. Aku juga berpikir seperti itu. Terima kasih ya Van kamu telah mau mengajak ibu untuk tinggal bersama kita kelak" Ucap Diya tulus. Gadis itu tidak menyangka Ivan memikirkan orang tua nya di kampung juga.


"Oh ya alangkah lebih baik ketika kita berkunjung ke rumah ibu lebih baik kita bawa ibu sekalian bersama kita ke sini. Aku akan melaksanakan lamaran di sini secara resmi" Saran Ivan lagi.


"Ide yang bagus Van. Aku setuju" Ucap Diya senang mendengar saran yang di berikan oleh Ivan.


"Jadi kamu tidak perlu kepikiran tentang ibu yang tinggal sendirian di kampung lagi. Dan ketika kita sudah pulang dari kampung, kita akan mempersiapkan acara lamaran dan pernikahan kita. Lebih cepat, lebih baik" Ucap Ivan.


"Yah aku harus mempercepat acara lamaran dan beberapa minggu kemudian acara pernikahannya agar Ferdi tidak bisa mengganggu Diya lagi. Dan tante Mira tidak akan merendahkan Diya lagi. Dengan Diya sudah menjadi istri ku, akan membuat ku lebih leluasa untuk bertindak dan melindungi Diya sepenuhnya." Batin Ivan.


"Iya Van aku ikut saja mana yang baik nya untuk kita. Terus aku masih bekerja kan sebagai sekretaris mu?"


"Oh jelas dong kamu masih sebagai sekretaris ku tapi sekretaris plus-plus di rumah dan di kamar saja" Goda Van.


Sontak membuat rona warna merah muncul di pipi gadis itu. Malu yah Diya malu karena Ivan berkata seperti itu.


"Terus sekretaris mu di kantor siapa?"


"Aku cari lagi lah orang yang sesuai sebagai sekretaris ku. Tapi kamu tenang aja Diy, aku tidak akan menerima sekretaris perempuan. Yang aku cari adalah sekretaris laki-laki agar istri ku kelak tidak akan cemburu dan berpikir yang bukan-bukan kepada ku saat aku sedang ada tugas di luar kota bersama sekretaris ku" Ucap Ivan.


Diya tersenyum senang mendengar rencana Ivan yang sangat membuat nya setuju. Ivan memilih untuk mencari sekretaris laki-laki demi menjaga perasaan nya. Sungguh membuat hati gadis itu tersentuh dan kagum.


"Makasih ya Van. Kamu belum menjadi suami ku saja sudah berpikir sejauh ini tetang aku, ibu ku dan perasaan ku. Aku beruntung memilih kamu sebagai calon imam ku. Aku tidak salah pilih lagi. Dan keyakinan ku sekarang semakin besar kepada mu. Aku sangat bersyukur dengan semua ini karena takdir telah mempertemukan kita kembali" Ucap Diya dengan tulus nya.


"Iya aku juga sangat bersyukur. Aku bahagia sekali bisa bertemu dengan mu lagi Diy, dan aku sangat berterima kasih karena kamu telah menerima ku" Ucap Ivan memegang jari jemari lentik gadis itu yang berad si meja makan dimana gadis itu duduk di samping nya.


Diya membiarkan tangan nya di genggam oleh laki-laki yang kini sebagai calon suami nya. Getaran halus dan perasaan berbunga-bunga kini menghiasi hati kedua nya. Tatapan penuh cinta saling mereka pancarkan di mata mereka masing-masing.


Setelah sekian menit kemudian. Diya tersadar dan mengalihkan pandangan nya ketempat lain. Gadis itu menjadi salah tingkah karena kejadian barusan.


",Ngomong-ngomong apa aku boleh meminta sepiring nasi lagi? Hari ini aku sangat-sangat lapar. Semua tenaga ku terkuras lantaran pekerjaan yang menumpuk" Ucap Ivan mengangkat piring nya tadi.


"Boleh dong Van. Sini piring nya biar aku ambilkan nasi lagi ya" Ucap Diya bangkit mengambil nasi ke dalam piring Ivan yang memang ada di meja makan itu


"Diy, kita memang seperti suami istri ya saat ini" Ucap Ivan.


"Nih lihat kamu melayani ku penuh dengan rasa cinta. Apa lagi nanti ya ketika kita sudah menjadi suami istri. Pasti akan lebih enak lagi"


"Enak apa?" Tanya Diya.


"Yah enak dong bisa ngapa-ngapain. Makan berdua, jalan berdua, pulang malam tidak akan di omongin sama tetangga. Yah bisa ngapa-ngapain juga tidak ada yang melarang. Nama nya juga sudah halal. Emang kamu mikirin enak apa ayo?" Ucap Ivan menggoda.


"Enggak kok, enggak ada mikirin apa-apa. Jangan menuduh yang aneh-aneh deh" Diya kembali salah tingkah karena ketahuan memikirkan hal yang aneh-aneh.

__ADS_1


"Ini nasi nya, silahkan di makan" Ucap Diya menyerahkan sepiring nasi di hadapan Ivan.


"Makasih ya Diy" Ivan kembali melahap makanan yang di sajikan oleh Diya.


__ADS_2