
...^HAPPY READING^...
...•...
...•...
Semua orang merasakan kesedihan yang mendalam, memandang sedih kepada jaket milik Qiana, "Tetapi tuan di jaket ini juga ada beberapa DNA orang lain, mungkin nona terlibat pertarungan sengit di tempat ini." Zayyan menambah penjelasannya.
"Tetapi dari yang saya lihat bagian darah di punggung jaket ini lah yang seluruhnya darah milik nona, dan lihat tuan , di jaket bagian punggung nya ada dua bolongan di area bahu dan punggung, jika dari penelitian kita, bolongan ini disebabkan oleh dua buah peluru" Mendengar penjelasan Zayyan semua orang langsung sedih bahkan Taksa merampas jaket itu dari tangan Zayyan, air mata Taksa berderai tak terbendung.
"AAAAAAAHHHHHHHHHH" teriak Taksa penuh frustasi. Tiba-tiba teriakan dari anak buah Qiana yang terjun "Kami menemukan seseorang yang masih hidup".
Mendapat kabar ambigu dari bawah jurang, Taksa langsung loncat ke bawah tanpa memikirkan apapun. "Dimana ?, apakah orang itu istriku Qiana ?" tanya Taksa tak sabaran.
"Tuan kami menemukan kakek kakek tua ini pingsan di bawah, dengan tembakan di kakinya" lapor anak buah Qiana.
"Naikkan dia kepermukaan, dia pasti tau apa yang terjadi kepada istri ku," ucap Taksa.
"baik tuan, disini juga terdapat 20 mayat tergeletak, saya belum memastikan kakek ini adalah musuh atau hanya pejalan kaki" imbuh anak buah Qiana.
"Naikkan merek semua keatas, kita geledah tubuh semua orang agar mendapat petunjuk tentang istri ku" ucap Taksa dengan mimik wajah yang dingin membuat bulu kuduk mereka merinding, aura gelap sangat terasa.
"Tuan kami menemukan ponsel nona yang sudah retak di sebelah batu" salah satu dari mereka menyodorkan hanpone Qiana yang sudah ringsek, sepertinya sudah rusak total.
Tangan Taksa bergetar menerima hanpone itu, "Istriku tidak akan kenapa-napa, dia adalah wanita terhebat yang aku temua didunia ini, kalian tidak tidak boleh berhenti mencari istri ku kesemua pelosok tempat ini, aku yakin istriku masih hidup, mungkin ia sedang sembunyi di temapat ini karena terluka, dan saat ini menunggu kita untuk menolong nya." perintah Taksa, sebenarnya kata kata itu yang Taksa ucapkan hanya untuk mencoba meyakinkan hatinya jika tak terjadi apa-apa Dengan istrinya, ia meremas jaket milik sang istri lalu memeluknya. Sebelah tangannya menggenggam ponsel sang istri, hatinya gundah gulana jika ia memliki kemampuan mata batin saat ini ia akan terbang mencari keberadaan istrinya.
...* * * *...
Saat ini Taksa duduk di dasar jurang dengan pandangannya yang kosong, ia melihat pohon pohon besar disekitarnya, ia berfikir jauh menerawang mengingat kejadian yang tak terduga hari ini, bahkan Taksa masih merasakan kehangatan belaian sang istri, tiba-tiba Taksa tersentak mengingat percakapan dengan sang istri tentang rencana bulan madu mereka.
"Brengsek pasti rencana bulan madu ini membawa kutukan. Buktinya setiap kami ingin bulan madu selalu ada kendala yang menimpa istriku, mulai saat ini aku tak akan pernah mengajak atau mengucapkan kata kata keramat itu lagi, sepertinya kata itu adalah kutukan untuk kita, atau Jangan jangan salah satu musuhku mengirim santet berupa kutukan ini, jika tidak kenapa sudah dua kali aku ingin berlibur dengan istriku selalu diberikan nasib sial, aku harus buru buru menyiram sekeliling Mansion ku, bahkan semua ruangan harus di pel dengan air garam. Karena dulu aku ingat si kakek menyembur Sumarti pembantuku yang kerasukan memakai air garam," pikiran Taksa yang ngawur kemana mana.
Tiba-tiba hanpone Taksa berdering, ia langsung mengakat telpon miliknya itu.
__ADS_1
"Katakan" ucap Taksa dingin.
"Tuan saya menemukan menemukan batu yang berisikan tulisan darah yang di buat oleh nona Qiana" kata Mulin di sebrang telpon.
Mendengar asistennya menyebut istrinya Taksa langsung bangun dari lamunannya.
"Dimana?" tanya Taksa.
"ada di sebrang jalan tuan.. Tut" mulin yang belum selesai bicara langsung tergantung begitu saja.
...* * * *...
Butuh waktu 5 menit Taksa sudah berada di permukaan, ia mencari keberadaan Mulin.
"Dimana istriku" ternyata yang di dengar oleh telinga Taksa adalah Qiana istri nya di temukan.
"Anda lihat batu ini tuan" mulin menyentuh batu di sebelah nya, di batu itu tertulis menggunakan darah oleh Qiana "TAKSA AKU PERGI DULU, KAU JANGAN KHAWATIR, JANGAN CARI AKU, AKU AKAN CEPAT PULANG SETELAH URUSAN KU BERAKHIR, TOLONG KAMU SELAMAT KAN KAKEK ITU, TADI TANPA SENGAJA TERKENA LUKA TEMBAKAN"
"Tuan Tuan" panggil Mulin.
"Diam,suruh orang ambil cangkul" perintah Taksa , ia tak mau masa berkabungnya di ganggu.
Entah dari mana Mulin membawa cangkul permintaan Taksa, "Ini cangkul nya tuan" Mulin menyodorkan cangkul itu kepada bosnya.
"Cangkul tempat ini sekarang, Aku ingin jasad istriku di angkat dari bawah sini" perintah Taksa.
"Tapi tuan saya" percakapan mulin dipotong oleh Taksa.
"Jika kau tak mencangkul tempat ini maka aku lah yang mencangkul tepat ini untuk kuburan mu, aku ingin istriku mendapatkan tempat yang layak dengan istana emas dan penghormatan besar untuk terakhir kalinya" Taksa bentak Taksa.
"Ada apa ini tuan?" tanya Rafael. Semua orang sudah datang setelah mendapat kan kabar dari mulin tentang penemuan batu.
"Istri ku sudah tiada Rafael" tatapan kosong Taksa membuat semua orang merasakan kesedihan Taksa.
__ADS_1
"Maaf tuan nona masih hidup, tadi kakek kakek itu bilang jika nona di kepung oleh banyak penjahat dia yang kala itu mencari rumput untuk makan ternaknya di atas kebun ini, kakek itu bilang jika dia berencana membantu nona, malah di yang tertembak, dan demi menolong kakek itu nona menjadi perisai bagi si kakek sehingga tertembak di punggung nya, karena syok kakek yang tak pernah melihat kekerasan langsung terjatuh pingsan, dari yang kita baca dari pesan ini saat ini nona baik-baik saja, dari tabiat nona jika kita sudah diperintahkan untuk tidak mencari nona, maka perintah nona adalah kewajiban yang harus kita patuhi, dan anda harus ingat tuan, nona adalah wanita yang sangat kuat." ucap Rafael mewakili semua orang.
"Kenapa kau tak bilang jika batu ini hanya pesan istriku Mulin,, dan kalian darimana kalian yakin ini pesan dari istriku" kata Taksa dingin.
"Saya sudah menjelaskan kepada anda, tetapi anda memotong ucapan saya lalu mematikan panggilan saya tuan" Mulin membela dirinya.
"Karena nona pernah berpesan jika terjadi sesuatu darurat dan kita tak bisa berkomunikasi maka kita sebagai kelompok harus meninggalkan jejak berupa pesan di atas batu, dengan tulisan menggunakan darah kita sendiri, mari kita cek apakah darah itu milik nona" ucap rafael menjawab Taksa, sebab disini Rafael dan Zia lah tangan kanan dan kiri Qiana, yang lain adalah anggota di belakang layar.
"Rafael benar tuan, nona kami yang paling hebat tak mungkin kalah begitu saja" Zia menimpali.
"Ayo kita pulang kalian bawa pulang batu ini kerumah, meski istriku menyuruh kita Jangan mencarinya kita harus melacak keberadaannya sebab kalian pasti tau jika saat ini istri ku tidak dalam keadaan tidak baik baik saja, dan selidiki semua keluarga lu dan antek antek yang patut kita curigai, jika ada yang mencurigakan tangkap bawa ke markas, aku tunggu kabar secepatnya, aku tak ingin memberi toleransi kepada mereka sekarang"
" Baik " ucap mereka serempak.
...* * * *...
Disebuah kamar mewah ada seorang gadis sedang ditangani oleh seorang dokter.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang laki-laki tanpan khas orang Eropa.
"Dia membutuhkan banyak transfusi darah, wanita ini sungguh kuat, jika aku yang tertembak pas di sebelah jantung seperti ini, jangankan berjalan 5 langkah, bahkan aku akan langsung terkapar menunggu ajal." ucap dokter pribadi.
"Ambil darahku, aku mau gadis ini hidup" ucap laki-laki itu.
"Tumben kau berbaik hati memberikan darahku kepada orang lain X, apa hatimu sudah ter cantol wanita ini X" tanya dokter itu.
"Orang yang banyak omong akan pendek umurnya" ucap laki-laki bermata elang itu kepada dokter pribadinya.
"Baik baiklah, aku akan mengerjakan semua pekerjaan ku"
"Cepatlah sadar wanita, aku tertarik padamu" ucap laki-laki itu memandang wajah wanita cantik didepannya.
^^^~To be continued^^^
__ADS_1