Kehidupan Kedua Sang Putri

Kehidupan Kedua Sang Putri
Alana dan Mulin


__ADS_3

...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


...~•^HAPPY READING^•~...


...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


Keesokan paginya seorang suster ingin mengecek rutinitas pagi tetapi ia dikagetkan dengan gaya tidur yang sensual yang mana Alana seorang peluk layaknya guling besar, dengan Kaki berada di atas anunya Abang Mulin.


Kelontong ... Suster Tua tak sengaja menyenggol Sesuatu di atas meja pasien sehingga Menimbulkan suara.


Suara itu langsung membangunkan sepasang orang asing yang tertidur mesra melebihi pasangan suami itu keduanya langsung kaget.


Aaaaaaahhhhhhh Teriak Alana. Tanpa sadar langsung menendang Mulin sehingga Mulin jatuh menimpa suster yang lagi menunduk mencari benda yang ia jatuhkan.


“Pria mesum! Kenapa kau berada di kamar ku?” tanya Alana.


“Hey wanita mesum yang memelukku tidur semalam siapa? dan tadi posisi siapa yang paling menantang!” ucap Mulin datar.


“Nyonya panggil Dokter kesini!” ucap Mulin datar.


Sedangkan Alana langsung mengecek tubuh nya Ternyata tidak apa apa, “Astaga aku suster itu melihat jika diriku yang galak!” ucap Alana dalam hati ia begitu malu sehingga ingin karam bersama kapal Titanic.


Dokter semalam menjelaskan kenapa Mulin membawa Alana kerumah sakit, Dan semakin malu kepada pria yang ia tuduh mesum padahal pria itulah yang membawa Alana kerumah sakit. Dan menolongnya.


Seperti orang yang tak tau balas Budi saja, “Maafkan saya tuan, atas kesalahpahaman yang tadi terjadi.” ucap Alana dengan tutur kata bak bangsawan.


“Hem!” jawaban bang Mulin hanya simpel.


“Ih tampan tampan tapi datar! Sayang sekali.” umpat Alana dalam hati.


“Saya permisi dulu tuan! Saya akan memeriksa para pasien saya.” ucap Si dokter.


“Hem!” lagi lagi jawaban bang Mulin hanya simpel.


“Istirahatlah! Aku ada kerja sebentar. jika kau pergi dari ruangan ini maka aku akan menuntut mu karena sudah menuduhku yang tidak tidak.


“Cup” Abang Mulin tiba-tiba mencuri kecupan di bibir Alana.


“Hey pria kaku! Kau mencuri ciuman pertamaku.” teriak Alana melempar bantal. Jantung Alana langsung berdetak tak karuan.


Dalam hati ia berkata, “Kenapa tidak di perdalam sekalian ciumannya kan nanggung.”


Nah loh Abang Mulin Nakal.


...----------------...


Mulin tergesa-gesa keluar dari tempat sang bos, stelan menceritakan tentang kisah pertemuan manis nya dengan sang istri. ia masih ingat betapa ia sangatlah kehilangan di hari ketiga Alana di rawat di rumah sakit.


Alana seakan Lenyap dari hidup Mulin tak berjejak, Padahal mereka sudah saling dekat dan tak canggung satu sama lain hanya tersisa saling mengungkapkan perasaan satu sama lain.


Berpuluh puluh orang dekrit untuk mencari Alana dengan bekal Foto pada saat Alana tertidur. Sungguh cinta yang manis tetapi kalah pada takdri yang merenggut kebahagiaan Mulin dan Alana.


Sedangkan di sebuah balkon hotel seorang wanita hamil tengah memejamkan matanya, dengan senyum merekah dari bibirnya.


“Ku kira kita tak akan berjumpa lagi! Ternyata takdir kita meski rumit tuhan menyatukan kita kembali. Ku kira pada saat aku mengikuti organisasi di grup H tak akan melihat dirimu lagi.” ucap Alana, ia sudah menceritakan kepada suaminya kenapa ia tiba tiba menghilang.


Sore itu Alana tengah menunggu Mulin yang katanya mau menjemput nya karena ia sudah sehat, Pintu di buka dari luar.


Membuat wajah seorang Alana berseri seri karena kedatangan pria kaku yang hangat di dalamnya. Yang merawatnya dengan tulus selama lima hari ini.


“Mu.” belum sempat melanjutkan ucapannya ia sudah dikagetkan oleh kemunculan 3 pria dari Grup H, tengah menyamar menjadi dokter dan suster.


“Mau apa kalian?” tanya Alana ketakutan.


“Kami ditugaskan untuk menjemput anda Nona!” ucap salah satu orang pria.

__ADS_1


“Kami sudah memberikan liburan untuk anda dengan menikmati hari anda dengan pria itu!” ucap satunya lagi.


“Aku mohon jangan apa apakan dia! Dia tidak tau apa apa tentang diriku.” ucap Alana penuh ketakutan.


“Itu tergantung anda Nona! Jika anda keluar dari rumah sakit ini baik-baik mengikuti kami maka kami tidak akan mengapa-apakan kekasih Anda. Tetapi sebaliknya Nona, anda tau organisasi H seperti apa? Maka katakan selamat jalan untuk kekasih anda.”


Demi Mulin selamat, Alana kembali ke Grup H, menginformasikan kepada para saudaranya melalui Cips yang setiap anggota dalam sekelompok itu memegang benda untuk menginformasikan bahwa dirinya baik baik saja atau tertangkap. Jika Cips itu dirusak maka tandanya anggota itu sudah tertangkap.


Greppp


Tangan Mulin sedang memeluk tubuh sang istri dari belakang, Tangannya mengelus perut istirnya yang sudah 8 bulan.


“Sayang apa jagoan kita rewel di dalam sana?” tanya Mulin, matanya memperhatikan memandang pemandangan bumi Indonesia.


Alana membalikkan badannya, mereka saat ini saling menghadap.


“Dia baik baik saja! Sepertinya bayi ini akan mirip denganmu suka berdiam diri.” Ucap Alana dengan senyum semanis mungkin sehingga membuat Abang Mulin kelepak kelepek.


“Aku merindukan merindukan mu. Tadi aku mencari mu di kamar kau tak ada! Aku takut kau meninggalkanku seperti waktu itu!” bisik Mulin mengelus besar sang istri yang mulai ada pergerakan aktif di dalam sana.


“Aku tak akan pergi kemanapun. Kau rumahku, tempat aku berteduh dan menyadarkan nasib! Terimakasih sudah datang menolongku waktu itu ... Cup” Bisik Alana lalu melabuhkan ciuman penuh kasih, tangannya juga tak tinggal diam meraba dada bidang sang suami yang di tumbuhi bulu kasar membuat para wanita kelepek kelepek di buatnya.


“Bolehkah aku meminta jatah atas kunjungan ku kepada buah hati kita?!” Abang Mulin pandai merayu.


“Baiklah!” Alana dengan parah di angkat oleh tangan kokoh sang suami.


Kecupan manis Mulin berikan pada kening sang istri, “Bibir ini adalah candu ku ... Selama berpisah hasrat mencintai ku hilang di bawa olehmu ... Pria kaku ini hanya mencari mu kemana dan dengan siapa ... Apa kah baik-baik saja!.” bisik Mulin.


Bibir mereka saling sengat dan saling kunyah, lidah saling tarik menarik penuh perasaan dan cinta, hasrat saling memiliki semakin menggelora.


Dengan hati hati Mulin menidurkan tubuh Alana di atas tempat tidur king size Hotel itu. Tangan Mulin menarik Daster ibu hamil sang istri dengan hati hati.


Mulin mencium leher sang istri dan memberikan banyak tanda kerokan disana. Semakin lama ciuman turun ke tulang selangka.


Dengan tangannya yang lihai ia membuka Be'Ha penutup si kembar kesayangannya, dan memberi kerokan di sekitar permukaan pepaya gantung, ia tak berani menyedot kacang mete di tengah karena ia takut sumber makanan untuk bayinya yang pertama kali meminum dirinya.


Ciuman Mulin berikan untuk perut sebagai tanda sayang kepada sang bayi didalam perut istri tercintanya.


Ciuman semakin turun di depan Panci untuk merebus Singkong miliki Mulin itu, karena sudah tak sabar tangan calon Deddy itu merobek Cavet sang istri ... Kriyek ... Begitulah bunyinya.


Alana sudah mulai terbiasa dengan kelakuan suaminya yang tak sabaran, ia harus sabar ketika barang nya di robek robek oleh sang suami.


Wajah Mulin saat ini berada di mulut penutup gerbang menuju lubang panci rebusan singkong yang akan menghasilkan bubur tepung tapioka yang membuat Alana perut melendung. Dengan rakus ia melahap serabi lipat itu dengan rakus sehingga si pemilik bibir bawah itu langsung menggelinjang.


“Ahhh, Sayang lebih dalam ... Ia seperti itu ... Ahhhh!” Jerit Alana pasrah di bawah sana dan merasakan nikmat yang luar biasa.


Ia menarik tubuh sang suami, lalu membantu membuka baju Mulin. Bibir mereka saling menyengat seakan bibir itu ada lemnya.


Tangannya langsung menarik Gasper import milik suaminya, dengan tak sabaran ia menarik resleting sehingga resleting suaminya lalu celana pria itu terjatuh, dengan sekali tarikan semua yang berada di dalam jeruji kain di bagian bawah terbebas.


Mulin membiarkan sang istri melakukan apa yang dia inginkan, dan terpampang lah si Singkong yang sudah berdiri tegak, tingginya sejajar dengan pusar.


“Aku selalu membayangkan besarnya si singkong pada saat kita berpisah dulu!” Alana memandang takjub kepada pedang sang suami.


“Kau suka, sayang?” tanya Mulin.


“Sangat suka malah banget!” Tangan Alana langsung memegang benda keramat itu, tangannya langsung mengelus si singkong.


Karena Alana tengah hamil besar ia saat ini miring kesamping sedangkan dari belakang suaminya ia membiarkan sang suami menusuknya dari belakang.


“Ah sayang, sempit!” puji Mulin merasakan si Singkong kejepit pintu lembut.


“Aaakhhh .... Emmz .... Uhhh ... Uhhh” Mulin merem melek merasakan si singkong masuk kedalam didorong dan ditarik dengan lembut.


Setiap kali ia mendorong tak lupa mengisap perut istrinya yang buncit.

__ADS_1


Pujian demi pujian di ucapkan kepada sang istri, ia memberikan percintaan yang membuat baper semua orang, “Oh, sayang aku tak tahan!”Ucap Aluna, ia mencabut si singkong langsung membalikan keadaannya saat ini diatas, ia mengabil alih kendali sehingga membuat suaminya merem melek tak karuan.


.


.


“Ah sayang, sempit dan dalam!” puji Mulin merasakan si Singkong di pompa dari atas dengan lembut.


“Aaakhhh .... Emmz .... Uhhh ... Uhhh” Mulin semakin merem melek merasakan sang istri memberikan goyangan maut ala ibu ham yang selalu hot melebihi balsem galigatot.


Rintihan sepasang suami istri itu semakin menggema ketika air mendidih didalam panci meluap semakin licin membuat tubuh singkong terpeleset semakin dalam.


“Ohh ... Sayang!” jerit Alana ketika Suaminya sudah mulai kesetanan memacu kecepatan memompa si Singkong.


Sepertinya jurus kali ini jurus emak emak ngulek sambel makin menggunakan kekuatan makin halus dan haredang.


percintaan ala Pasturi yang lagi bentar memiliki buah hati itu sungguh panas dan unyu unyu tentunya.


30 menit kemudian ...


Keringat bercucuran meski AC di ruangan itu dingin, “Uhhh ... Ahhh ... Lebih cepat sudah sampai Sayang!” Alana merintih.


“Sama-sama ya sayang ... Uh ... Uhm ... Ahhhhh.” Jerit keduanya ketika sesuatu melebur memenuhi sarung si singkong. Maklum istri hamil tak boleh terkena bubur Tapioka.


“Ahhh ... kental sekali sayang!” Ketika suaminya menarik tubuh si singkong yang sudah mengkerut seperti dasar gulung.


“Ia sayang, akhir akhir ini aku ikut ke klinik Tong Seng untuk merasakan perawatan ekstra untuk si singkong.” Mulin mencium kening sang istri berkali kali.


“Yank!” panggil Alana.


“Ia sayang?” jawab Mulin, ia saat ini membersihkan tubuh si Singkong yang basah akibat lelehan tepung tapioka nya sendiri.


“Lagi yuk, kurang kalau cuma satu ronde katanya dokter kita harus sering berhubungan agar mudah membuka jalan lahir, kali ini menggunakan gaya miring aja lah biar enak!” ajak Alana.


Emang si calon Deddy imannya setebal saringan tahu dengan semangat Mulin memulai menyerang sang Istri. Si Singkong pun sudah hidup kembali.


Berbagi pemanasan mereka terapkan, padahal keringat di tubuh mereka belum mengering main mintak tambah.


Si singkong sudah di bungkus sarung satu dengan sekali dorong singkong itu sudah memulai menggiling, Balapan liar yang membuat Mak otor yang nulis juga merinding kali ini mereka mencari posisi yang terbaik.


“Ayoo beb keluarin!” begitulah rintihan Alana.


“Tunggu dulu sayang sebentar!” Nafas Mulin terengah-engah untuk mengejar sang istri.


“Ahhh .... Sesuatu meledak dari dalam sana.


Saat ini mereka saling peluk dan saling menyatukan peluh di tubuh mereka, karena dua ronde untuk mencapai kenikmatan sungguh puas.


“Aw ...” Alana Menjerit tiba-tiba.


^^^~To be continued^^^


Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏


Jangan lupa


Like👍


komentar🗣️


Hadiah🎁🌹☕


Vote 🔥


Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.

__ADS_1


Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini


__ADS_2