
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Dua orang itu yang lagi memberikan pertolongan pertama kepada Qiana berbeda ekspresi, yang satu cuek bebek karena selalu ada di sisi Qiana jadinya adegan ini sudah hal biasa, beda dengan Yumna yang orang nya suka penasaran, matanya bengong melihat adegan tarik tambang ala Bos mereka.
Sampai sampai tangan Yumna yang sedang memegang kapas untuk membersihkan luka di punggung nonanya berpindah ke pipi Zia yang sedang memegang alat alat yang di perlukan oleh Yumna.
Darah dari punggung Qiana saat ini belepotan di pipi Zia, karena Yumna tak memperhatikan tangannya ia cuma menekan nekan saja.
"Aw" ringis Yumna, karena pinggang nya di cubit oleh Zia.
Mendengar rintihan Yumna, Qiana sadar bahwa ada orang lain selain dirinya, karena malu ia langsung menyembunyikan kepalanya di dada Taksa.
"Mungkin anda perlu di jahit lagi nona, saya sudah mengirimkan obat penghambat pendarahan" ucap Yumna senormal mungkin.
Suasana canggung itu sangat terasa, akhirnya perjalan mereka yang penuh Lika liku seperti cerita emak yang nyebrang sana nyebrang sini, tanjak sana tanjak sini, asal kagak nyungsep ma bebas kalog sama emak.
Taksa turun dari mobil tanpa menghiraukan semua orang, tim medis yang sudah menunggu kedatangan nona mereka langsung sigap melakukan tugasnya, bahkan dokter Dion Sekarang lagi standby.
Satu jam kemudian, Tiga orang yang menantikan kabar kesembuhan Qiana itu langsung bernafas lega melihat Dion sudah keluar.
Buru buru Taksa masuk ke dalam kamar mereka di dalam markas.
Abraham yang kala itu ingin ikut masuk kedalam tiba-tiba punggungnya langsung di tepuk oleh Zia.
"Kita harus berbicara tuan" ucap Zia.
"Wow kau mengajak aku bicara dimana nona, dikamar apa di hotel, aku jamin kau tak akan kecewa, tapi biarkan aku menengoknya dulu" ucap Abraham yang masih bisa menggoda wanita dimana pun dan kapan pun.
"Mau gue tembak Luh kak" ucap Colvis.
"Cihh.... sudah keliatan" ucap Abraham.
"Siapa yang melukai nona kami" ucap Zia dingin tanpa menghiraukan Colvis di tempat itu.
"Anak buah ku, dan mereka bekerja bukan dibawah perintah ku, dan Qiana sudah membunuh mereka,". ucap Abraham ia merasa di intimidasi oleh orang orang yang ada di tempat itu.
"Jika terjadi apa-apa terhadap nona kami, anda selamanya tidak akan keluar dari tempat ini". Yumna menimpali sahabat untuk mengintimidasi orang yang mereka curigai menyakiti Qiana.
"Wahhh aku mau dibuat rebutan, sini sini datanglah ke pelukan Abang Abraham" ucap Abraham PD, yang namanya buaya darat tetep buaya darat, meski hati sudah milik Qiana, Kalog dah ada terowongan ngagur ***** bang Abraham maunya tancap gas.
"Barak" Tanpa aba-aba Yumna langsung menendang pusaka keramat milik Abraham.
"Awwww .... Buk" langsung pingsan dah tu Adam.
"Beres, gotong nie orang ke kamar tamu" ucap Yumna tanpa bersalah, sedangkan Colvis langsung memegang benda keramat nya.
"Kau juga mau seperti dia, bahkan aku sering memotong dadar gulung milik laki-laki." ucap Zia, ia sedikit menyunggingkan senyuman nya sangat samar.
"Jangan lah beb, nanti apa yang aku suguhkan padamu di malam pertama kita" ucap Colvis.
"Dasar semua laki-laki hidung belang, aku tak berminat laki-laki model kayak kamu" ucap Zia sarkas.
"Wah..... pesona seorang Colvis tak mempan menaklukkan hati seorang wanita, pulang Vis, nangis di ketiak ibumu" ledek Dion yang melihat drama menarik di depan mata.
__ADS_1
"Gue doakan ellu jatuh cinta dengan orang yang paling nyebelin" ucap Colvis.
"Ayok sayang kita pergi dari sini, biarkan bujang lapuk itu meratapi nasibnya yang selalu sendiri" ejek Colvis balik, langsung menarik lengan Zia menjauh dari sana.
"Mana Taksa Nih, gue tunggu untuk melaporkan informasi penting kagak keluar keluar, saking lamanya menunggu sampai sampai dokter Dion tertidur di kursi empuk itu.
......* * * * * * * ^•^* * * * * * *......
Sedangkan di dalam kamar Taksa bergabung dengan sang istri yang sedang terlelap.
Hatinya sungguh bahagia menemukan sang istri dalam keadaan selamat tak kurang satupun, meski dalam keadaan tak baik baik saja.
Taksa memandang wajah lelap sang istri dari arah samping ia takut menyentuh sang istri karena takut membangunkan belahan jiwanya.
Dalam 5 menit Taksa pun ikut terlelap selama 1 jam.
"Ahhhh... lebih cepat sayang" Taksa meracau.
"Tunggu dulu kenapa mimpi ini seperti nyata ya" gumam Taksa.
Ia langsung mengumpulkan nyawanya agar bisa sadar dari tidurnya.
"sayang kenapa kau keluarin si jeri dari popoknya ?" tanya Taksa melihat si Jery sudah siap tempur sedang di spa oleh tangan Qiana yang sehalus sutra.
"Si Jery menusuk nusuk ku, dia bangun dari tadi, mungkin dia kangen dengan ku by" ucap Qiana sangat menggoda.
Tenggorokan Taksa terasa kering, ia bingung dengan sang istri yang bertingkah agresif "Tidak tidak Taksa istrimu lagi sakit, si Jery tidak boleh masuk terowongan dulu." ucap Taksa mengsugesti dirinya sendiri.
"Sayang kemari lah, kau harus banyak istirahat, mungkin si Jery bangun karena dia rindu dirimu" ucap Taksa mempertahankan kesadarannya yang setipis kulit bawang.
bahkan setan di dalam dirinya langsung berkata "gas pol lah, gas pol lah, gas pol lah"
"Tidak tidak istri gue lagi sakit" ucap Taksa dalam hati.
Sekarang tubuh Taksa seperti kejang karena si Jery makin ngamuk sejadi-jadinya, pada saat sang istri memasukkan nya goa bergigi, dan belaian lidah membuat roket pertahanan sudah siap meluncur.
"Kau yakin Honey" Suara Taksa mulai berat.
"Yakin Hubby, kau tak merindukan terowongan Kasablanka milikku, apa kau sudah memiliki terowongan gumitir milik wanita lain" Ucap Qiana dengan nada merajuk.
"Sayang tak ada terowongan gumitir atau terowongan lain di antara kita, ok, Yuk tancap gas, tapi kita tidak bisa menggunakan gaya women toktok sekarang, kita pakek gaya bebek kawin saja, soalnya dirimu masih sakit."
" Cup ....." Taksa langsung mengecup kening sang istri
" Cup,,, " Taksa mencium kedua kelompok matanya.
"Terimakasih sudah kembali, mari kita memadu kasih melepas rindu".
Tanpa aba aba Qiana langsung menarik tengkuk suaminya lalu peraduan bibir mulai terjadi awalnya slow...
Lama lama tarik tambang bibir itu semakin lama semakin liar, Taksa melepas jeruji kain di tubuhnya, dan melepas kain yang menempel pada tubuh sang istri...
Mata nya melihat bakpau daging yang tertutup kain kasa sehingga ia tak dapat menikmati manisnya jambu air didalam nya.
"Tidak apa apalah, masih ada hari esok," gumam Taksa.
karena mesin nya sudah panas, ia langsung tancap gas menanam kepalanya di antara dua kaki, ia meng cleaning bukit yang ada di bawah agar siap di cangkul.
__ADS_1
Suara goib milik Qiana pun terdengar sangat merdu.
Taksa mencari posisi yang sangat aman agar sang istri tak merasakan kesakitan.
Setelah Pas, Taksa langsung membenamkan si jeri di terowongan Kasablanka dengan kecepatan sedang, tak ada main balapan kali ini.
Suara goib milik Qiana dan Taksa membuat author yang nulis merinding.
setalah 45 menit, si Jery langsung mabok dan muntah di wastafel dalam terowongan Kasablanka.
"Hoss... Hoss...." Nafas keduanya terengah-engah.
"Maaf honey aku tak bisa menggunakan jurus 3 menit seperti para pembaca yang langsung celup langsung mabok"
"Kau hebat hubby" ucap Qiana lalu ia tertidur.
Taksa langsung mengambil tisu basah lalu mengelap apa yang perlu di elap di tubuh sang istri.
"Cup... tidur lah, terimaksih sayang, aku keluar sebentar, aku baru ingat dengan si Dion" ucap Taksa.
Ketika Si Taksa keluar ia melihat Dokter Dion tidur dengan kepala mendongak ke atas. mulutnya menganga.
"PASIEN GAWAT DARURAT ION" teriak Taksa .
"Mana... Mana... Mana..." dokter Dion langsung duduk sia siaga.
Melihat temannya kebingungan Taksa malah duduk santai di sebrang sofa.
"Gak ada pasien" ucap Taksa.
"Dasar Kampret" umpat Dion.
"Siapa yang kamu panggil kampret" tanya Taksa.
"Oh... oh... tidak, aku mimpi menangkap kampret nyebelin, gue menunggumu sedari tadi, kenapa lama sekali sampai gue ketiduran"
"Maaf tadi aku tertidur didalam."
"Katakan keadaan istriku" ucap Taksa.
"Karena luka nona sekarang sangat fatal, nona harus benar benar memulihkan lukanya dengan total".
"Dan untuk penyuntikan KB nona aku minta bulan ini nona tidak menggunakan KB, agar proses penyembuhan obat itu tak terhambat, sebaiknya kau menggunakan balon udara dulu membungkus si jeri jika kalian kepepet menginginkannya.
"Bulan ini nona belum melakukan suntik KB, karena jadwal penyuntikan nona pada hari ia menghilang tuan" Dokter Dion menginginkan Tuannya.
"Be...Berarti hari ini istriku tak menggunakan KB di Dion" tanya Taksa memastikan.
"Tidak tuan, jangan bilang kau habis enak enak di dalam tadi" tanya dokter Dion memastikan, karena raut wajah sahabat langsung pucat seperti orang bangkrut."
Taksa langsung terduduk frustasi.
"Astaga istri sekarat kau tak bisa menahan si jeri minta jatah, gue adukan sama kakek abis si Jery di Jagal oleh beliau" ucap Dion.
"Tadi aku melakukan sekali, dulu waktu pertama kali kita tak menggunakan KB, tetapi istri tidak hamil, mudah mudahan yang tadi tidak jadi Tuhan" Taksa menarik rambut nya kencang.
^^^~To be continued^^^
__ADS_1