
...~β’^HAPPY READING^β’~...
...* * * * * * * ^β’^* * * * * * *...
Keesokkan harinya, semua anak buah Taksa dan anggota mafia milik Qiana berkumpul di ruang pertemuan, sudah dua hari mereka bekerja siang dan malam untuk mencari keberadaan tuan mereka, bahkan Taksa pun turun tangan menyusuri jalanan dan semak semak di daerah tempat kejadian yang menimpa istrinya.
"Katakan" ucap Taksa dingin.
"Maaf tuan kami sudah mencari ke seluruh tempat yang berdekatan dengan lokasi hilangnya nona, bahkan tak satupun dari kami yang berjumlah sangat besar ini menemukan satupun jejak nona, nona kali ini hilang tanpa jejak, bak ditelan bumi tuan" Xiever melaporkan kepada Taksa karena ia dan Vincent lah yang memimpin dalam misi pencarian nona mereka.
"Memangnya istriku pernah menghilang sebelum ini, kau harus menjelaskan itu pada ku" Taksa sedikit menekan kata katanya.
"Benar tuan Nona adalah wanita paling misterius yang pernah kami kenali, nona akan pergi kemana saja yang dia mau, kita sebagai bawahan tak satu pun berani menanyakan semua yang nona kerjakan.
"Nona akan pergi dan kembali dengan sendirinya, tapi bedanya nona tidak meninggalkan jejak darah akibat terluka, nona biasanya pergi mengajak Zora dan Zeta tuan" sekarang Rafael lah yang menjelaskan.
"sayang kau dimana, aku rindu padamu, pulanglah" batin Taksa menjerit.
Aura gelap Taksa semakin menyelimuti ruangan itu, bahkan udara di dalam ini sangatlah dingin sedingin gunung es, jika es nya terlihat dengan mata telanjang, mungkin semua orang akan memungut es itu lalu di keluarkan dari ruangan itu. Sungguh suasana angker melebihi pulau angker yang selalu memakan korban di film film horor.
"Tuhan kenapa temapat ini dingin sekali, apa semua demit ikut perkumpulan bersama kita sekarang" kata hati semua orang yang merasakan dingin yang amat mencekam
"Bagaimana tahanan kita" tanya Taksa lagi.
"mereka sangat menikmati hadiah anda tuan, sepertinya mereka menyukai belitan dua ular kobra itu, dan garukan Zora Zeta membuat mereka berteriak meramaikan suasana di dalam kandang ...." Xiever melapor kepada Taksa.
"Mereka tak membuat tamu tamu kita mati kan ?"
"Tidak tuan mereka sangat patuh, meski sesekali ular kobra itu ingin menyembur kepada mereka tapi mereka selalu berusaha menahannya, jika salah satu tamu berontak ketika si Suli dan Sesa berjalan-jalan di tubuh mereka, maka salah satu harimau itu akan menggaruk atau mengigit tubuh tamu kita pelan, tuan tenang saja garukan dan gigitan kedua harimau itu tak sampai memutuskan organ tubuh satu dengan yang lainnya, ketika kita menangkap semua tamu kita, kami sudah memberi 2 suntikan pada masing masing orang, yang pertama suntikan titanus, agar para tamu tak mudah tekena Titanus akibat gigitan hewan tetapi efeknya mereka akan merasakan sakit 2 kali lipat rasa sakitnya, dan yang kedua suntikan Khusus untuk menghambat pendarahan, jika mereka terluka darah mereka akan cepat berhenti mengalir keluar tuan, meski setiap hari mereka mendapatkan servis dari para hewan mereka akan bertahan" imbuh Xiever.
"Bagus.... Jagan lupa siram tubuh mereka dengan air garam ketika mereka pingsan dan jamu makan mereka dengan baik ... sekarang kau berikan kepada ku apa yang aku minta kemarin?" Taksa mengulurkan tangan kepada Rafael.
__ADS_1
Tangan Rafael gemetar menyodorkan amplop ketangan Taksa. "Tuan semua saya dapatkan dari CCTV di rumah besar Lu dan apartemen tuan Adrian.... Izinkan saya menyapa mereka tuan" tangan Rafael terkepal erat, kalian tau menyapa ala mafia seperti apa, maka itulah keinginan Rafael.
" Hem.." Jawab Taksa, ia langsung membuka amplop di tangannya. ia mengeluarkan setumpuk foto dan sebuah flashdisk. tiba-tiba mata Taksa terbelalak melihat apa yang di lihat.
" KELUAR KALIAN SEMUA... RAFAEL KAU AMBILKAN LAPTOP " Teriak Taksa.
Semua orang yang berada di tempat itu langsung lari berhamburan meninggal kan si singa jantan sedang mengeluarkan siaga satu.
"ini tuan" Rafael langsung menyodorkan laptop di punggung nya.
"Tinggalkan aku sendiri" ucap Taksa dingin.
...* * * * * * * ^β’^ * * * * * * *...
Taksa saat ini sedang duduk di ruangan luas sendiri, matanya merah dengan tangan bergetar memegang lembaran Foto Qiana semasa menjadi istri Adrian.
"Tes... Tes...Tes.." Air mata Taksa menetes.
"Aku hanya laki-laki tak berguna yang memaksakan kehendak kepada mu sayang, tanpa tau penderitaan yang kamu alami selama ini."
Sekarang jiwa Taksa merasakan penderitaan yang amat besar, penyesalan besar tak melindungi Qiana sedari dulu.
Taksa memukul dadanya " Buk ..... Buk... hik ... hik... kenapa Tuhan tak mempertemukan kita sedari dulu, bahkan sedari kau di buang oleh orang ke panti asuhan " Taksa terus memukul dadanya yang terasa sesak . Taksa mengeklik tombol ENTER di keyboard laptop itu, tiba-tiba sebuah rekaman seorang gadis yang sedang di panggil oleh suaminya.
" **Qiana sini kau" teriak Adrian
"Ia tuan ..." Qiana yang sedang memakai baju daster bolong bolong langsung mendekati suaminya itu.
Ketika mendekat tiba-tiba rambut Qiana di tarik oleh Adrian hingga kepalanya membentur ujung meja lalu setelah itu menghembuskan tubuh Qiana ke lantai.
"Ada apa ini Adrian" nyonya lu datang .
__ADS_1
"wanita ini memasak makanan sampah untuk ku ma" adu Adrian. dengan teganya ibu Adrian mengambil piring Adrian,lalu menuangkan ke kepala Qiana.
"Amupun tuan muda, nyonya" Qiana memegang kaki nyonya lu dengan air mata membasahi wajahnya.
"buka mulutmu, kau harus meminum sup ini sampai habis jika tidak,,, maka kau akan tau akibatnya" nyonya lu mengambil panci sup yang masih mengepulkan asap.
"Saya tak sanggup nona, dan itu masih panas" ucap Qiana.
"Aaaaaaahhhhhh panas" teriak Qiana.
tubuh nya di siram sup yang masih panas**.
"BRAK" Taksa tak sanggup melihat penderita istrinya dimasa lalu, lalu langsung melempar laptop itu. " Prang "
"ini sayang ini yang kau sembunyikan selama ini, kau mengunci masa lalu mu karena kau tak ingin semua orang mengetahui seberapa menderita nya diri mu "
"Takdir begitu kejam kepadamu sehingga mempermainkan nasib mu yang selalu tersakiti."
"Prang... Prang.. Prang... Prang" Taksa menghancurkan ruangan itu sehingga membuat hancur lebur..
Orang yang berjaga diluar hanya bisa mendengar kan kegaduhan yang di buat Taksa, tak satupun berani menganggu kemarahan tuannya.
"Kau sungguh hebat Taksa ... selama ini kau hidup dalam kemewahan, kenapa kau tak mencarinya, apa gunanya kekayaan yang kau dapatkan, menyelamatkan hidup orang yang kau cintai saja kau tak mampu .... brengsek" Teriak Taksa yang menyesali pertemuan nya dengan Qiana yang terlambat.
"Buk ... Buk" Taksa membentur kan kepalanya , lalu ia mengabil tongkat baseball.
"Akan aku siksa mereka yang telah menyakitimu tak akan ku buat mereka mati sebelum utangnya kepada mu di bayar lunas" Taksa keluar dari ruangan itu dengan penampilan yang mengenaskan, dengan darah bercucuran dari kepala, dan tangannya, dengan Kokok ia menggenggam tongkat baseball.
^^^~To be continued^^^
Note..
__ADS_1
sudah di penghujung bulan yaππ...
Terimakasih kepada semua pembaca setia kehidupan kedua sang putri atas like , komentar, dan Vote nya..., maaf Liana keizia tak bisa menyebut kalian satu persatu , Liana bersyukur karya receh ku ini di terima oleh kalian para pembaca, dan terimakasih lagi sebanyak banyaknya untuk teman teman yang memberikan sebuah Vote yang berharga, yang hanya kalian dapatkan satu buah dalam seminggu,,,, semoga kebaikan kalian di balas oleh TYE ππ