
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Angin malam menusuk kuli.
Rembulan menyinari gelapnya bumi, disebuah pinggiran hutan banyak sekali orang orang berpakaian hitam, menuggu sebuah kereta ekslusif yang penumpang nya adalah buruan mereka.
“Apakah gerbong 3 sampai tujuh sudah di lepas dari kepalanya?” tanya seorang wanita tua yang tengah menghisap cerutu di tangannya.
Selama 5 bulan ini Ibu Han menugaskan anak buahnya berkerja di stasiun kereta tanpa dicurigai, ketika Rafael memboking sebuah kereta, dengan sigap mereka mengotak atik gerbong sehingga di sebuah jalan yang menukik gerbong itu terlepas dari satu ke yang lainya.
Sedangkan gerbong kedua yaitu gerbong barang barang yang mereka bawa sebagai bekal perjalanan Kereta 10 jam perjalanan tanpa berhenti di stasiun manapun.
“Sudah Nyonya!” jawab anak buah yang sedang duduk di sebelah bosnya.
“Aku ingin menghabisi nyawa kedua orang itu dengan kedua tanganku!” ucap wanita itu dengan raut wajah penuh amarah.
“Apapun untuk anda Nyonya, saya akan melakukan segalanya untuk anda!” Pria itu mencium tangan keriput bosnya.
“Aku mau rencana yang kita susun 5 bulan ini sukses tanpa cacat sedikitpun, aku ingin membelah perut wanita itu dan mencincang bayi yang ada didalam.” Wanita menggenggam cerutu panas dengan tangan kosong.
Ia merasa beruntung menyembunyikan diri dari segala organisasi yang ia geluti, putranya sendiri ia jadikan tameng agar ia bisa sembunyi dari segala kejahatannya selama ini.
...----------------...
Sedangkan di dalam gerbong Qiana sedang berbaring merasakan pergerakan bayinya yang seperti resah.
“Hey bayi, kau kenapa tak bisa diam?” Taksa mengelus perut istirnya yang bergerak tak beraturan.
“Mungkin dia resah karena selama ini selalu dirumah!” Qiana mengelus perutnya, ia bisa merasakan kegundahan setelah kereta itu berangkat.
“Entah kenapa insting ku mengatakan jika akan terjadi sesuatu malam ini.” Dalam hati Qiana resah..
Qiana bangkit lalu mengambil beberapa senjata yang ia bawa kemana-mana sebagai senjata darurat.
“Sayang kau ini membuat ku bingung, kita akan ke tempat bencana alam kenapa harus membawa senjata segala?” Taksa memeluk tubuh istrinya, tangannya mengelus perut buncit itu dengan sayang.
“Aku hanya ingin membawa saja hubby! Dan mungkin ini juga kemauan si adek!” Qiana mencoba menenangkan suaminya.
“Ayo kita tidur, rafael dan yang lain tertidur mungkin mereka kelelahan! Anak buah kita di gerbong lima dan seterusnya sudah masih standby bagaimana pun kita harus tetap waspada, Ayo tidurlah dulu tujuh jam lagi kereta ini sampai mungkin bayi kita resah karena biasanya jam segini ia sudah tidur.” Taksa.
Didalam pelukan suaminya Qiana tertidur dengan pulas, sedangkan Taksa mengelus sang bayi agar tertidur pulas juga.
...----------------...
2 jam kemudian.
Gerbong Rafael dan yang lain terputus dan semua orang tertidur karena musuh sudah memencet tombol obat bius di AC Kereta.
Bayi di dalam perut Qiana tak bisa tidak menendang sang ibu, sehingga membuat Qiana yang terbius akhirnya terbangun, ia bangun dari pembaringan, lalu pergi ke gerbong dua, ternyata sudah tak ada lagi gerbong tempat anak buahnya.
“Bede•bah kalian ingin bermain main dengan ku rupanya! Kau pintar sekali sayang, insting bahaya dalam dirimu sudah terbentuk. Ini lah yang kau takuti tadi? Tenang lah ibumu ini tak akan membiarkan dirimu kenapa napa!” Qiana langsung berlari mendekati suaminya.
“Sayang, bangunlah” bisik Qiana menciptakan Air dingin di wajah suaminya.
“Banjir ... Banjir, sayang ada apa?” Taksa langsung terduduk ketika ia melihat istrinya lah yang memberikan air ke wajah tampannya.
“Ayo kita bersiap! Seperti nya kita kedatangan tamu tak di undang di dalam kereta ini!” Qiana langsung merombak baju dasternya ia menggunakan celana panjang yang anti peluru, rompi elastis pelindung tubuh atasnya. Bagaimanapun ia memiliki tugas melindungi buah hatinya.
Setelah perlindungan tubuh nya selesai ia kenakan, lalu ia mengenakan daster sebagai baju luaran. tak lupa ia mengenakan sweater agar tetap hangat.
Setelah beres ia meminum obat anti obat tidur, ia membantu suaminya merakit beberapa senjata yang ringan di tangan namun mematikan.
Yang pertama adalah pistol Smith and Wesson Model 29 Revolver, .44 Magnum yang sangat mematikan, pistol ini adalah kegemaran Taksa.
Dipakai oleh Clint Eastwood saat berperan sebagai "Dirty Harry" Callahan, pistol revolver Smith & Wesson (S&W) Model 29 diproduksi sejak 1955. Hingga sekarang, revolver tersebut tetap dianggap sebagai salah satu pistol terkuat di dunia. Dijuluki "Magnum", S&W Model 29 mengusung 6 selongsong .44 Magnum.
__ADS_1
Membeli S&W Model 29, kamu dapat memilih 7 varian panjang laras, dari 3 sampai 10 5⁄8 inci. Hingga saat ini, pistol double-action ini dipakai oleh Kepolisian Negara Bagian Washington di AS. Sejak dipakai oleh Eastwood, S&W Model 29 terus laris manis.
Yang kedua adalah senjata Glock kegemaran Qiana.
Diproduksi untuk Kepolisian Austria pada 1982 karena lulus uji kualitas, pistol semi-otomatis Glock masih tetap digunakan hingga masa kini karena keampuhannya. Bahkan, jika digunakan di bawah air, Glock pun akan tetap bisa menembak. Generasi pertama pistol Glock dan yang paling terkenal, Glock 17, dapat memuat hingga 50 peluru (tergantung jenis magasin)!
Berbahan polimer, pistol Glock dijamin tahan air dan anti macet, hanya sekali dalam uji 10.000 tembakan. Sempat diragukan kualitasnya, hingga saat ini Glock adalah salah satu pistol paling laris yang dipakai aparat penegak hukum, dari kepolisian hingga angkatan militer negara!.
Bom TNT
Bom jenis TriNitroToluena atau TNT merupakan bom yang mengandung senyawa karbon, nitrogen dan oksigen. Bom ini akan menghasilkan senyawa gas stabil apabila dibakar. Digunakan dalam kasus bom Bali 1 pada tahun 2002 silam, kasus ini menelan korban jiwa sebanyak 202 jiwa dan 209 orang lainnya luka-luka.
Pasnagan suami istri itu masing masing mengatongi bom NTN dan senjata mereka.
...----------------...
Musuh yang tengah menggunakan teropong untuk mengetahui Kereta sudah sampai dimana. Ketika kereta sampai di terowongan, satu persatu musuh meloncat memasuki gerbong kereta, tak lupa Ibu Han sudah tak sabar membunuh Qiana Susan turun memasuki gerbong dua.
Sekitar 10 orang masuk kedalam gerbong, langkah demi langkah ia mencari bilik kamar tempat Taksa dan Qiana tidur.
“Dobrak kamar itu!” perintah wanita itu.
BRAK ... Pintu rusak. Wanita itu memasuki kamar ternyata tak ada siapapun di dalam kamar itu.
“Dimana dia?” tanya Wanita itu dengan nada tinggi.
“Geledah tempat ini! Aku yakin mereka masih di tempat ini.” Wanita itu semakin marah.
“Siapa anda?” Seorang pendamping masinis tengah mengambil air minum kaget dengan keadaan di kereta yang mereka operasikan.
“Kau mencari ku, Nyonya!” sapa Qiana duduk dengan santai di kursi penumpang sebelah kamar nya.
“Ohh, kukira kau seperti pengecut sembunyi dari maut mu” ejek Wanita itu.
“Sayang perjalanan kita di ganggu oleh para hama yang tak tau diri ini!” Qiana langsung memeluk suaminya dengan erat seakan takut.
“Hahahaha ... Seperti ini macam manusia yang membunuh Han putraku” Ibu Han tertawa mengejek.
“Bunuh wanita ini, aku ingin membawa suaminya sepertinya lezat ku jadikan koleksi gigolo dirumah ku” Wanita tua Bangka itu memandang lapar kepada suami Qiana itu.
“Jauhkan matamu dari Suamiku jala•ng, jiwa posesif ibu hamil itu mendidih”
“Cup ... Jangan takut sayang, aku tak tertarik dengan wanita bau tanah, yang terowongan nya sudah keriput persis usus ayam yang sudah di kukus matang ...,” Ucap Taksa menghina kepada wanita itu setelah itu mereka melanjutkan ciuman yang memabukkan.
“Dasar iblis” Wanita itu langsung menarik pelatuk pistolnya kearah pasangan yang sedang bercumbu.
“Dor” Sebelum wanita itu menarik pelatuknya, Qiana Lebih dulu menembak tanpa melihat kearah lawan.
Kening wanita itu bolong hingga tembus kebelakang kepala. Anak buah wanita itu semua menodongkan senjata kepada Qiana dengan sigap pasangan itu meloncat lalu berpencar.
“Bos sudah tiada, serang kereta ini, 5 menit jika kami belum keluar ledakkan kereta ini” Anak buah setia wanita itu memberikan instruksi kepada anak buahnya.
Dor
Dor
Dor
Dor... Suara baku hantam dari luar kereta dan didalam kereta tak terelakkan.
Pasangan itu meski hanya berdua dalam hitungan menit langsung menumbangkan seluruh anggota inti musuh.
Kereta semakin melaju kencang karena Masinis sudah tewas akibat tembakan, Taksa dan Qiana berlari ke kepala kereta.
__ADS_1
Mereka melangkah memasuki kepala kereta api, lalu mereka langsung melempar mayat masinis dan mayat lainya di dalam gerbong depan.
Dan terjadilah saling tembak sangat sengit, “Saatnya hubby ucap Qiana” Dengan berpelukan erat sepasang suami istri itu melompat ke semak semak belukar dari pintu samping, karena kereta yang mereka tumpangi sudah di lempari bom kecil. Tak memungkinkan mereka mempertahankan kereta itu, yang ada mereka menambah bom agar ledakannya semakin dahsyat setelah mereka terlempar jauh, bom itu akan meledak.
BOM ... ledakan biasa menghanguskan kereta, dan dalam hitungan menit.
Para musuh yang berada di dekat kereta hangus tak tersisa. Hanya yang berada di jarak jauh menyaksikan pasangan suami istri itu melompat ke semak semak.
Semua pasukan mendekat ke lokasi pasangan itu melompat, tetapi naas
BOM ... Lagi lagi Ledakan,kali ini ledakan 100 kali lipat sehingga menggetarkan bumi.
Sedangkan keadaan Pasturi tersohot dalam keadaan baik baik saja. Dengan perutnya yang besar Qiana jatuh berguling guling seperti bola. Sedangkan sang suami dengan susah pasang memeluk istrinya agar sang bayi tidak kenapa-napa.
“Sayang kau tak apa apa?” tangannya gemetar memegang sang bayi didalam perut istrinya.
Seperti mengerti dengan keadaan agar orang taunya tak khawatir sang jabang bayi bergerak untuk memberi tahu jika dirinya baik baik saja.
“Cari mereka sampai dapat!” teriak sisa musuh mereka.
Sebenarnya meletusnya gunung berapi di kota yang Qiana bangun adalah rencana dari Ibunya Han yang tadi Qiana bunuh.
Ia tak terima jika putranya dan cucunya habis di tangan Qiana, sehingga dengan segala usaha ia membuat pemicu agar gunung berapi meledek, dan bom kecil untuk merusak jembatan.
Dengan kecerdikan serta kelicikan yang ia miliki terjadilah tragedi malam ini. Mereka menggunakan bencana alam agar Qiana keluar dari Vila yang tak mungkin bisa terjangkau oleh manusia.
Taksa dan Qiana saling berpelukan, melindungi anaknya di dalam perut. “Sepertinya kita harus pergi dari sini dulu hubby, masih banyak sekali musuh mengepung kita, dan aku tak sanggup lagi bertarung!” ucap Qiana tangan suaminya bercucuran darah karena melindunginya dari benturan batu tajam.
“Mari kita perlahan masuk kehutan, sepertinya hutan ini luas” Taksa menggiring istrinya.
Mereka perlahan keluar mengendap-endap dari persembunyian, dengan waspada. punggung mereka saling menempel.
Disebuah lembah ternyata ada seorang musuh mereka. Agar tak memicu perhatian, Qiana yang membawa tali tambang ketika loncat dari Kereta api.
Suami istri itu berkerja sama yang satu membekap mulut musuh, yang satunya lagi menjerat leher musuh hingga tewas.
Setelah musuhnya tak bernyawa mereka mencari pistol yang berada di saku sang musuh. Setelah itu mereka menjatuhkan mayat itu ke tebing agar tak di ketahui jejak mereka.
Semakin lama mereka semakin dalam memasuki hutan, karena luas dan sunyi sehingga suara kecil pun terdengar jelas.
“Sayang kau berdarah!” ucap Taksa, ketika tangannya memegang gaun sang Istri, karena terangnya cahaya bulan baju Qiana yang berwarna putih langsung terlihat bahwa bagian bawah Qiana sudah di penuhi darah mengalir dari bibir bawahnya.
“Sepertinya aku akan melahirkan lebih awal hubby!” Qiana sudah merasakan perutnya mulas pada saat jatuh dari kereta karena merasakan kepanikan ia tak menghiraukan keadaan dirinya.
“Bagaimana ini hon, kita tak membawa Dokter, dan kita saat ini berada di hutan” Taksa sangat panik.
“Lihat aku sayang, aku tak butuh dokter atau siapapun, aku hanya butuh kau suamiku, untuk menyambut kelahiran bayi kita yang luar biasa!” ucap Qiana semakin merasakan kontraksi.
Sepertinya alam begitu adil untuk ibu hamil itu, suara air terdengar jelas di Indra pendengaran mereka.
“Saat ini bisakah kau mencarikan sumber air yang terdengar ini hubby?” Taksa langsung menggendong tubuh sang istri mencari sumber suara, Darah Qiana yang menetes membasahi tanah.
Anjing pelacak mengejar pasangan suami istri itu semakin mendekat, Taksa sekuat tenaga berlari mencari aliran sungai. Keringat membanjiri tubuh suami Qiana itu. Taksa tak menyerah meski berapa kali ia terjatuh.
^^^~To be continued.^^^
...Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏...
...Jangan lupa...
...Like👍...
...komentar🗣️...
...Hadiah🎁🌹☕...
...Vote 🔥...
...Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini....
...Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini....
__ADS_1