Kehidupan Kedua Sang Putri

Kehidupan Kedua Sang Putri
Buka puasa


__ADS_3

...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


...~•^HAPPY READING^•~...


...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


Dalam semenit semua musuh musuh Qiana luluh lantah tak tersisa. Jantung mereka berdegup kencang ketika Dokter Dion dan Divya belum sampai juga di Vila.


Semua sudah bersiap siap menyusul ke lokasi dimana pasangan itu bertugas. Ketika supir mau memacu kendaraan mereka, mobil pasangan yang mereka khawatirkan tiba dengan selamat sampai di Vila.


Semua orang langsung turun dari mobil saling berpelukan. “Kalian membuatku sangat khawatir!” ucap Taksa dengan mata yang berkaca kaca.


“Maaf bro tadi itu kami sedikit kesusahan mau keluar dari rumah sakit itu! Karena pihak rumah sakit tak mengizinkan Divya pulang, mereka menyuruhku mengaborsi anak kami.” ucap Dokter Dion.


“Breng•sek Mereka, makannya aku ingin langsung meledakkan tempat itu!”Dokter Dion amarah jelas diwajahnya.


“Semua sudah berakhir, mari kita pulang! Kasian jaguar kita jika lama lama di luar!” Rana sudah merindukan ponakan tanpanya itu.


“Ayo kita siap siap dulu!” Yumna langsung masuk kedalam Vila itu.


Sedangkan para pria tengah duduk di ruang tamu, “Bagaimana bro, rasanya berpuasa balapan?” Tanya dokter Dion kepada sahabatnya itu.


“Sangat mengerikan, selama ini aku tak pernah berpuasa, biasanya aku berpuasa ketika istriku sedang kedatangan si bulan saja!” ucap Taksa.


“Ah, aku masih gak sanggup puasa ini!” Abraham menimpali.


“Bos bagaimana perasaan anda pada saat nona melahirkan?” tanya Mulin penasaran.


“Astaga perasaan ku sangat kacau dan ketakutan ku hampiri setengah mati” ucap Taksa, ia membayangkan bagaimana ia melihat dengan mata kepala sendiri sang istri melahirkan di dalam air.


“Makanya aku puasa 40 tari ke depan karena tanggul istri ku bocor, bayangkan bagaimana kepala bayi yang segede kelapa muda keluar dari terowongan bawah istri kalian” Taksa menceritakan pengalamannya membuat semua orang ketakutan.


“Los doll dong Sa! Aduh bisa bisa itu lubang membuat Segede gaban sehingga nantik istri ku tak merasakan tusukan si kenalpot karena lubangnya terlalu lebar! Aku mau cari emak Erot aja dah di Indonesia biar kenalpot ini bisa Segede belalai gajah” Abraham membayangkan bagaimana sang istri tak puas dengan kenalpotnya.


“Brak ... Aduh gawat ini!” Rafael menggebrak meja sehingga semua pria yang tegang kaget hampir jantungan, “Saya akan menyuruh Rana melakukan operasi sesar saja, kasian nantik mulut bawahnya, aku tak mau istri ku berjalan ngangkang.”


“Aku setuju dengan Rafael! Ngomong ngomong Taksa aku lihat istrimu baik baik saja tuh ketika habis melahirkan si Jaguar. Kasik resepnya dong!” Colvis mendekati sang ipar.


“Kalian kan tau istri aku itu orang hebat melebihi siapapun, dia punya ajian mumpung sehingga bibir bawahnya langsung keset!” ucap Taksa seadanya, ia mana tau keadaan pembukaan sang bayi karena bayinya lahir di dalam air, Taksa hanya bertugas menangkapnya saja.


“Sudah sudah lubang istri kalian akan dijahit setelah melahirkan, ayo sepertinya para istri sudah selesai beberes!” ucap Dokter Dion semakin ambigu.


Semakin setres dah tuh semua calon bapak, auto entar malam semua tak bisa tidur dan tak selera makan karena jalan kenikmatan mereka akan di jahit🤦.


“Sudah jangan galau nantik kalian tanya istriku bagaimana agar masalah kalian teratasi, aku cukup aja dah punya anak satu gak mau lagi, kasian aku sama istirku pada saat melahirkan kesakitan!” ucap Taksa mengayomi para pria itu.


...----------------...


Hari-hari keluarga itu semakin berwarna karena kehebohan para wanita hamil yang semakin membesar, dan bayi Ken di limpahi kasih sayang.


hari ini bayi Ken berusia dua bulan. Bayi itu semakin menggemaskan, bayi dua bulan sudah bisa tengkurep menandakan jika pertumbuhan bayi itu sangat maju.


~Dikamar


Saat ini Taksa sedang memeluk tubuh sang istri dari belakang, selama dua bulan ini taksa belum menyentuh istrinya.


“Sayang apa banjirnya sudah surut?” tanya Taksa, matanya memperhatikan sang bayi tengah tertidur pulas didalam box-nya.


Qiana membalikkan badannya, mereka saat ini saling menghadap.

__ADS_1


“Kenapa hubby?” tanya Qiana dengan senyum 20 wat.


“Aku merindukan terowongan Kasablanka!” bisik Taksa mengelus perut sang istri yang mulai kencang kembali, seperti tak pernah melahirkan.


“Tapi hubby, aku belum menggunakan KB!” ucap Qiana, tangannya juga tak tinggal diam meraba dada bidang sang suami yang di tumbuhi bulu kasar membuat para wanita kelepek kelepek di buatnya.


“Kan ada sarung pemberian si Dion, sayang!” rayu Taksa.


“Baiklah!” Qiana langsung melompat kedalam gendongan sang suami.


Kecupan manis Taksa berikan pada kening sang istri, “sepertinya menggunakan sarung juga nikmat, biarlah aku yang mengalah sayang, aku masih mengingat efek samping KB membuat merinding.” bisik Taksa.


Bibir mereka saling sengat dan saling kunyah, lidah saling tarik menarik menyaingi lomba tarik tambang 17 Agustus di balai desa.


Dengan hati hati Taksa menidurkan tubuh Qiana di atas tempat tidur king size itu. Tangan Taksa menarik kemeja sang istri karena tak sabaran kancing berhamburan di lantai.


Taksa mencium leher sang istri dan memberikan banyak tanda kerokan disana. Semakin lama ciuman turun ke tulang selangka.


Dengan tangannya yang lihai ia membuka Be'Ha penutup si kembar kesayangannya, dan memberi kerokan di sekitar permukaan kue Bakpao, ia tak berani menyedot kacang mete di tengah karena disana sumber makanan untuk putranya di tampung hingga banyak.


“Ohh ... Ahh sayang!” rintihan Qiana membuat sang suami menggila.


Ciuman Taksa berikan ke perut dimana baru berapa bulan yang lalu perut itu menampung putranya.


Ciuman semakin turun di depan terowongan Kasablanka bersemayam, karena sudah gak sabar tangan Deddy satu anak itu merobek Cavet sang istri ... Kriyek ... Begitulah bunyinya.


Qiana sudah biasa dengan kelakuan suaminya yang suka robek robek membiarkan saja.


Wajah Taksa saat ini berada di mulut penutup gerbang menuju terowongan. Dengan rakus ia melahap kue terang bulan itu dengan rakus sehingga si pemilik bibir bawah itu langsung menggelinjang.


“Ahhh, Beby lebih dalam ... Ia seperti itu ... Ahhhh!” Jerit Qiana nikmat karena ia sudah mendapatkan lepasan.


Tangannya langsung menarik Gasper import milik suaminya, dengan tak sabaran ia menarik resleting sehingga resleting suaminya rusak, dengan sekali tarikan semua yang berada di dalam jeruji kain di bagian bawah terbebas.


Taksa membiarkan sang istri melakukan apa yang dia inginkan, dan terpampang lah si Jeri yang sudah berdiri tegak, tingginya sejajar dengan pusar.


“Wow ... Dia semakin berotot!” Qiana memandang takjub kepada pedang sang suami.


“Kau suka, sayang?” tanya Taksa.


“Sangat sempurna!” Tangan Qiana langsung memegang benda keramat itu, tangannya langsung mengelus si Jeri.


“Tak sia sia aku ikut Colvis dan Abraham ke klinik tong seng. Terimakasih klinik Tong Seng yang awalnya Jeri memang berotot, saat ini jeri makin top markotop!” ucap Taksa bangga dengan perubahan si Jeri.


Qiana merangkak menaiki tubuh suaminya, ia langsung menyambar bibir sang suami dengan lahap, sekarang gantian Qiana memberikan sengatan nikmat.


Bibir itu makin turun dan mulut Qiana mencium bulatan kecil yang di lingkari warna merah kecoklatan sebentar uang lima ratus rupiah di dada suaminya.


Sedangkan dibawah kepala gundul si jeri sudah ngiler karena kepalanya di tabrak bibir sang Solmed yang sudah 2 bulan ia tak masuki.


Semakin kebawah semakin kebawah, Tangan lembut tangan Qiana memegang pujaan hatinya yang nomer tiga selain diri suaminya dan putranya, lalu ia memasukan si Jeri ke goa bergigi.


Sedangkan Taksa merem melek Sampek biji matanya mau keluar, mulutnya mangap mangap macem ikan mujair, “Oh, sayang aku tak tahan!” Taksa langsung membalikan keadaannya saat ini Qiana dibawah, mulutnya langsung membuka bungkus sarung yang di bungkus rapi.


Setelah memakai sarung tangan Taksa langsung menuntun sang sahabat ke arena balap liarnya.


Susah payah ia memasukan tubuh si jeri, “Astaga si Jeri sudah obesitas ini! Apa lubangnya mampet.” Taksa langsung mendorong tubuh si Jeri sehingga senjata itu masuk dengan penuh perjuangan.


“Ah sayang, sempit!” puji Taksa merasakan si Jeri kejepit pintu lembut.

__ADS_1


“Aaakhhh .... Emmz .... Uhhh ... Uhhh” Taksa merem melek merasakan si Jery masuk kedalam didorong dan ditarik dengan lembut.


Rintihan sepasang suami istri itu semakin menggema ketika jalan di terowongan Kasablanka semakin licin membuat tubuh si jeri terpeleset semakin dalam.


“Ohh ... Sayang!” jerit Qiana ketika Suaminya sudah mulai kesetanan memacu kecepatan memompa si jeri.


Sepertinya jurus kali ini jurus emak emak ngulek sambel makin menggunakan kekuatan makin halus dan haredang.


Namanya juga Pasutri lama puasa bergaya semenjak ada si dedek didalam perut saat ini mereka menggunakan gaya ngebor, gaya bola Voli, gaya kucing garong salah alamat, Sampek gaya si Otong kejepit resleting mereka terapkan.


30 menit kemudian ...


Keringat bercucuran meski AC di ruangan itu dingin, “Uhhh ... Ahhh ... Lebih cepat sudah sampai Hubby!” Qiana merintih.


“Sama-sama ya sayang ... Uh ... Uhm ... Ahhhhh.” Jerit keduanya ketika sesuatu melebur memenuhi sarung si Jeri.


“Wow ... Banyak Banget Hubby!” Ketika suaminya menarik tubuh si Jeri yang sudah mengkerut seperti terong rebus.


“ Ia, sayang empat puluh hari kita puasa, dan si Jeri selalu tak mau aku ajak olahraga jari, seperti lubang sedotannya mampet .... Cup ... Cup ...,” Taksa mencium kening sang istri berkali kali.


“Ded!” panggil Qiana.


“Ia Beby?” jawab Taksa, ia saat ini membersihkan tubuh si Jeri yang basah akibat bisanya sendiri.


“Lagi yuk, kurang kalog cuma satu ronde, tadi aku tak menggunakan gaya women Toktok!” ajak Qiana.


Emang si Deddy imannya setebal rambut di kaki si Jeri dengan semangat Taksa memulai menyerang sang Istri. Si Jeri pun sudah hidup kembali.


Berbagi pemanasan mereka terapkan, padahal keringat di tubuh mereka belum mengering main mintak tambah.


Si jeri sudah di bungkus sarung satu dengan sekali dorong jeri sudah memulai balapan, Balapan liar yang membuat Mak otor yang nulis juga merinding kali ini Qiana menjadi pemimpin.


“Ayoo beb keluarin!” begitulah rintihan Qiana.


“Tunggu dulu sayang sebentar!” Nafas Taksa terengah-engah untuk mengejar sang istri.


Oek ... Oek ... Oek ... Si bayi Ken menangis kencang membuat Qiana yang di bawah reflek menendang sang suami sehingga si Deddy jatuh terjungkal dari ranjang, si Jeri pingsan keselek racunnya sendiri yang sudah di pangkal tenggorakan nya.


Nah loh di gantung kan ded😂🤭


^^^~To be continued^^^


Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana ini🙏🙏🙏


Jangan lupa


Like👍


komentar🗣️


Hadiah🎁🌹☕


Vote 🔥


Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.


Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini.


Lope yuyu sekebon tetangga.

__ADS_1


__ADS_2