Kehidupan Kedua Sang Putri

Kehidupan Kedua Sang Putri
Selamat Datang & Membuat Kekacauan.


__ADS_3

...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


...~•^HAPPY READING^•~...


...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


Jeritan Alana membuat Abang Mulin langsung tergabung kaget.


“Sayang! Kau kenapa?” tanya Mulin khawatir.


“Yank perutku sakit!” Alana Merintih.


“Beby cintaku! jangan membuatku takut! tanggal ketentuan hari lahir bayi kita masih 28 delapan hari lagi!” ucap Mulin langsung loncat ia mengambil Bokser yang berada di lantai lalu langsung mengangkat menyambar daster sang Istri.


“Sayang lihat ada darah!” wajah Alana makin ketakutan.


“Astaga bocor!” Mulin langsung mengangkat tubuh sang istri keluar dari dalam kamar.


Mulin POV.


Tuhan! Aku mohon engkau selamatkan istri dan anakku aku tak sanggup jika harus kehilangan mereka.


Kau tau bukan jika selama ini aku tak pernah meminta apapun kepadamu. Aku hanya mengabdi kepada mu dengan cara menyediakan kebutuhan Seribu anak yatim piatu mu. Semata mata diriku berharap engkau menjaga kedua orang tua ku dan seluruh keluarga ku.


Aku bukan orang beriman! Tapi aku mohon kali ini aku berharap engkau menolongku. Memberikan perlindungan cinta kasih untuk istriku yang menderita.


Berikanlah putra kami keselamatan agar kami bisa bahagia di akhir cerita ini. Saat ini aku hanya bisa berpasrah diri kepadamu tuah.


Kaki Mulin begitu tergesa gesa keluar dari kamar, Taksa yang ingin berbicara dengan asisten nya itu langsung kaget.


Ia langsung menghidupkan earphone di telinganya memberi tahu kepada tim medis, Semua orang langsung berkumpul.


Qiana langsung mengecek nadi Alana, “Kita harus membawa Alana kerumah sakit! Ia akan melahirkan saat ini juga.” ucap Qiana.


Helikopter hotel langsung standby siap membawa Alana kerumah sakit, Dan saat ia berada di rumah sakit terdekat.


“Maaf tuan Nyonya harus melakukan oprasi karena banyak mengalami pendarahan! Golongan darah nyonya langka.” ucap seorang dokter.


“Darahku sebanyak banyaknya! Karena dari kami semua hanya golongan darahku yang cocok” ucap Taksa.


Kenapa Taksa tak bertanya golongan darah Alana karena mereka semua tau golong darah masing masing.


Mulin langsung terduduk di lantai mendengar tuan mudanya memberikan darah untuk istrinya membuat hatinya terharu.


“Biarkan aku masuk!” ucap Qiana bicara kepada dokter itu.


“Tidak ada yang boleh masuk selain Dokter, pasien saat ini dalam keadaan gawat darurat!” ucap Dokter.


“Aku harus masuk! Jika tidak nyawa ibu dan anak itu tak tertolong.” Qiana bersiap masuk.


“Anda seorang dokter Nona?” tanya Dokter.


“Bukan!” jawab Qiana jujur.


“Jika bukan dokter! Silahkan anda duduk. Berdoa saja kepada Tuhan agar pasien sembuh. Jika ada Tuhan baru boleh masuk kedalam.” ucap seorang Dokter wanita bengis.


“Kami adalah Dokter Pasien! Biarkan kami masuk kedalam.” Dion dan Divya berbicara dengan si Dokter Itu.


“Rumah sakit ini bukan milik kalian! Yang boleh menangani Pasien hanya Dokter yang bertugas di Rumah sakit ini!” Dokter itu juga tak memperbolehkan Dokter Dion dan istrinya.


Mendengar seorang Dokter mencegah Nona nya menyelamatkan sang istri, Mulin langsung berdiri dari lantai.


Matanya merah penuh kemarahan, “Jika terjadi sesuatu kepada Istri dan anakku maka aku akan membuat karirmu hancur dan Rumah sakit ini rata tak tersisa.


“Emangnya anda siapa bisa melepas gelar saya! Saya hanya memberi tahu kepada kalian semua untuk mematuhi ketekunan rumah sakit! Rumah sakit manapun tidak akan memberikan pasiennya kepada orang yang bukan Dokter dan segala kegiatan pengobatan di rumah sakit ini hanya boleh di lakukan oleh dokter kami!” Jantung si Dokter dag Dig dug der melihat kemarahan di mata Mulin.


Qiana melihat jam di pergelangan tangan nya. Karena ia sudah tak mau baik baik saja.


“Saya bisa ...,” Mulut wanita itu langsung terkunci karena samurai besar sudah berada di lehernya.


“Kau apa yang kau lakukan! Aku tak bisa kau gertak dengan mainan ... Da ... Da ... Darah!” Wanita itu kaget ketika jempol tangannya langsung putus hanya terkena sayatan sedikit pun. Darah seperti sumber air yang muncrat mengenai baju Dokternya yang berwarna puti.


Tak lama pemilik rumah sakit datang dengan kepala ditodongkan pistol di kepalanya, “Sayang! Aku mau kau membeli rumah sakit ini untukku setelah ini ... Minumlah kapsul ini! Aku butuh darahmu banyak” ucap Qiana menyodorkan kapsul kepada sang suami.

__ADS_1


“Tangkap!” Sreettt.... Samurai itu dilempar kearah belakang asal sehingga membuat si dokter dan pemilik langsung menjerit.


Kekagetan mereka tak hanya disitu karena mereka melihat seorang wanita hamil besar di belakang dengan jarak 2 meter dari Qiana berdiri. Wanita itu langsung menangkap benda tajam itu dengan baik siapa lagi jika bukan Zia.


“Tebas saja kepalanya jika masih berbicara! Aku akan menyelamatkan Bayi berserta ibunya didalam.” ucap Qiana dengan nada dingin menakutkan.


Membuat dua orang itu langsung duduk, betisnya seakan seperti jeli lembek. Apalagi tangannya mendapatkan informasi jika Wanita yang sedang menodongkan senjata adalah seorang ilmuwan terbaik dan memiliki IQ 250 otomatis wanita itu orang terpintar pertama di dunia. wanita itu adalah presdir QCL, dan suaminya adalah orang terkaya pemilik Grup WU internasional, adik dari pangeran mahkota XU yang juga sekaligus pemilik Abraham group dan Mafia terkuat se-Asia. Ia yang hanya seorang pemilik rumah sakit besar tak bisa di bandingkan dengan orang orang itu. Apalagi wanita yang mau melahirkan adalah istri dari Asisten Mulin yang menjadi tangan kanan dari Taksa, meski tidak mendirikan kerajaan bisnis kekayaan Mulin jauh lebih besar dari orang terkaya se-Indonesia.


...----------------...


Sedangkan di dalam ruang operasi. Semua dokter sudah siap. Darah sangat banyak, sehingga Taksa harus menyumbangkan 5 kantong darah sekaligus.


“Alana! Kau mendengar ku?” panggil Qiana.


“Nona!” jawab Alana terbata-bata.


“Kau percaya kan kepadaku?” tanya Qiana. Alana menganggukkan kepalanya.


“Banyangkan, anak mu sebentar lagi akan terlahir! Kau harus kuat, bayi itu sangat membutuhkan mu” bisik Qiana.


“Apakah aku bisa Nona? tanya Alana.


“Kau harus bisa sayang! Coba kau pikirkan bagaimana nasib anakmu jika tak ada dirimu. Bagaimana dengan si kaku Mulin, ia akan kesepian lagi!” Bisik Qiana tangannya tak tinggal diam ia memberikan akupuntur untuk memberhentikan pendarahan.


Dokter Yang ada disana sungguh kagum dengan kemampuan wanita itu sehingga dalam hitungan menit. pendarahan yang di alami Alana langsung surut, Mereka langsung memulai pembedahan selama 1 lamanya.


Setelah bayi 1 jam bayi langsung diangkat, “Dok kenapa bayinya tak menangis?” tanya seorang Dokter sudah berapa kali melakukan pertolongan.


“Nona, Kenapa bayinya tak menangis?” tangisan Alana pecah. Ia takut terjadi sesuatu dengan bayinya.


“Kau jangan sedih! Serahkan semuanya kepadaku.” Bisik Qiana.


...----------------...


Sedangkan di depan ruangan Oprasi Mulin hanya hanya mengenakan Bokser ketat menutupi tubuhnya. Dengan bekas kerokan di tubuhnya itu mondar mandir seperti setrika gosok.


Taksa yang Melakukan transfusi darah besar besaran, kepalanya sakit sekali melihat asistenya sepertinya yang menyakiti mata Deddy satu anak Itu.


“Ambilkan aku baju pasien pria sekarang juga!” Perintah Taksa.


Suster yang tau jika pria di hadapannya itu adalah orang yang harus dilayani dengan baik, ia langsung mengambilkan apa yang di minta Taksa.


“Sekarang kau pakailah baju ini, mataku sakit melihat merah merah dileher mu. Apa kalian habis bercinta tadi?” tanya Taksa.


“Astaga!” kata Mulin melihat tubuhnya tak mengenakan pakaian. Ia baru dasar jika jika hatinya merasakan ada yang kurang, tapi bingung apa itu.Ternyata eh ternyata ia tak menggunakan baju.


Mengingat perkataan tuanya ia langsung ingat percintaan mereka tadi, Mulin langsung menerima baju lalu pergi kekamar mandi pasien VIP untuk menggunakan bajunya. Sepertinya ia harus membersihkan tubuhnya karena banyak darah di tubuh telanj•angnya.


Dibawah guyuran air shower Mulin menangis seperti anak kecil, “Jika terjadi sesuatu kepada Istri dan anakku! Aku tidak akan memaafkan diri ini,” ucap Mulin dalam tangisnya, ia menyesali percintaannya tadi. Kenapa ia tak menolak istrinya mengajak ronde kedua.


“Enak sih rasanya, jadinya aku tak bisa menolak!” Mulin memejamkan matanya frustasi.


Tok ... Tok ... BRAK ... BRAK ... BRAK... Mulin ... Mulin ... Panggil Taksa dari luar.


Deddy satu itu takut Mulin mengamuk di dalam kamar mandi sampai meminum deterjen hingga lewat.


“Ia Tuan!” jawab Mulin membuka pintu kamar mandi.


“Astaga! Sialan!” umpat Taksa ia kaget melihat asistennya membuka pintu dalam keadaannya tak terbungkus apapun.


Mendengar umpatan sang bos Mulin langsung melihat kearah bawah tubuhnya, Brak ... buru buru Mulin menutup pintu sehingga membuat wajah sang bos kepentok pintu dengan keras seperti adanya dendam kesumat yang terbalaskan.


“Sialan Singkong miliki ku sudah tak misterius lagi! Dulu Alana yang menjadi pencuri lihat wajah barang keramat ku. Setelah lepas perja•ka si Sumpur sialan yang melihat nya dan saat ini pada saat produk perdana si singkong akan launching, wujud si singkong dilihat Tuan Muda” ucap Mulin sambil mengomel.


Mulin keluar dari kamar mandi, melihat bosnya memijat kepalanya, “Tuan anda kenapa?” tanya Mulin.


“Uh biarin sudah! Karena kau dalam masa tegang akan ku ampuni.” ucap Taksa langsung kembali depan UGD di ikuti oleh Mulin.


“Duduklah!” ucap Taksa.


“Empat bulan yang lalu aku merasakan takut seperti dirimu. Malah ketakutan ku lebih karena apa istri mu masih ada yang menolongnya jika terjadi seperti tadi.” Taksa memandang lampu rumah sakit, pikiran nya menerawang.


“Tetapi keadaan ku dulu jauh lebih mengerikan, pada saat itu aku tak

__ADS_1


memiliki apa apa yang aku miliki hanyalah Qiana dan putra kami.”


“Putraku itu sungguh luar biasa,didalam perut ibunya ia sudah peka akan sesuatu, Ia adalah penolong kami! Restu tuhan terpatri untuknya.”


“Jika wanita hamil lainnya jatuh terguling guling dari kereta meledak bayi nya pasti tak akan tertolong! Bahkan ibunya pun tak terselamatkan.”


“Terlahir nya bayi kami itu sungguh membuatku teriris belati karena aku dalam ke putus asa an, aku kaya dan berkuasa tak sanggup memberikan Dokter terbaik membatu istriku melahirkan.”


“Aku tak mampu memberikan baju mahal untuk membungkus tubuh kecilnya yang terlahir di tempat sang dingin! Aku tak mampu memberikannya kasur empuk kepada istri ku setelah memperjuangkan melahirkan putra kami ke dunia.”


“Aku tak mampu memberikan makanan dan minuman yang layak untuk istriku sehabis memperjuangkan anak kami terlahir.”


“Hanya Roti Gepeng yang harganya seribu untuk mengganjal perut istriku. Percayalah para wanita yang berada di sekitar kita adalah wanita hebat yang tak butuh perlindungan kita.”


“Karena mereka sudah terlalu kuat untuk di terpa angin masal kehidupan. Kita yang memiliki takdir mendapatkan wanita tangguh yang harus bangga kepada pendamping hidup kita. Aku yakin saat ini Rafael kakaknya sangat khawatir karena tak bisa ikut ke tepat ini.”


Oek... Oek... Oek... Oek... Tangis Bayi melengking dari dalam ruangan hingga terdengar keluar kamar.


“Lihat putramu sudah lahir!” ucap Taksa menepuk punggung sang asisten.


Qiana membuka pintu operasi di tangannya ia menggendong bayi merah yang tampan, “Selamat tuan Mulin! Putramu baik baik saja. Masuklah!” ucap Qiana.


Qiana langsung berjalan ke sebuah inkubator yang sudah di sediakan untuk bayi di ruangan itu. Ia langsung berlari mendekati sang istri yang masih dalam keadaan lemah.


Para dokter satu persatu keluar dari uang operasi itu setelah membersihkan peralatan oprasi mereka.


Cup .... Mulin mengecup kening sang istri dengan tangis haru, “Terimakasih! Sudah baik-baik saja.” bisik Mulin.


“Duniaku hampir gelap jika tidak ada Nona menyingkirkan awan gelap kita! Putra kita tadi tak menangis ketika ia lahir keduni. Dokter sudah memaksanya untuk menangis tetapi bayi itu tidak menangis. Nona mengambil bayi kita hanya satu menit bayi itu langsung menangis kencang!” bisik Alana haru air matanya tak bisa di bendung lagi.


Mulin juga ikut menangis, ia gak bisa membayangkan putranya yang setiap hari mereka sapa dan di tunggu kelahirannya harus tiada.


Sungguh hari ini Tuannya menolong istrinya dan Nona nya menolong putra mereka.


“Tuan Nona saya sungguh tak mampu mengucapkan apapun lagi, Apapun yang ada inginkan dari saya atas jasa kalian untuk hidup kami saya akan melakukannya. Rasanya pengabdian saya tak cukup untuk membalas semua kebaikan anda!” ucap Mulin menangis haru.


“Aku hanya ingin dimasa depan putra kalian akan menjadi pendamping putraku menjalankan perusahaan kami kelak.” ucap Qiana.


Membuat sepasang suami istri itu langsung menangis haru, masa depan putra mereka diizinkan menjadi bagian saksi bisu kehidupan sang pangeran adalah anugrah yang sungguh berat.


“Aku hanya kau menua besama ku hingga akhir hayat!” ucap Taksa.


“Hidup dan mati kami adalah milik anda tuan” ucap Mulin dan Alana.


Hidup Alana dan saudaranya jika bukan Qiana yang memberi mungkin mereka saat ini masih dijajah grup H.


Dan kehidupan Alana akan hancur pada saat dimalam lelang itu. Takdir baik akan datang pada setiap manusia yang bersabar dan berusaha serta tak menyerah akan hidup.


“Sayang mari kita keluar dari kamar ini! Biarkan mereka saling haru, aku jadi merindukan bayi kecil kita yang sebentar akan menjadi kakak.” ucap Taksa mengangkat tubuh sang istri yang sudah kelelahan.


Baru mereka keluar dari dalam ruang Operasi anak buahnya langsung mendekat, “Nona Di Vila Nona Rana jatuh dari kamar mandi! Saat ini ia harus melahirkan prematur.” ucap anak buah Qiana.


Duarrrrr ... Baru beres membatu Alana melahirkan, ia sudah diberikan kabar mengejutkan lainnya.


Banyak masalah ya di karya emak🤭, Nikmati sajalah ya sayang alurnya 🙏


^^^~To be continued^^^


Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏


Jangan lupa


Like👍


komentar🗣️


Hadiah🎁🌹☕


Vote 🔥


Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.


Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini

__ADS_1


__ADS_2