
...Sesungguhnya kehidupan manusia sama dengan pohon dan daunnya....
...kita hanya perlu berkaca pada sebuah pohon....
...Bagaimana seuntai daun itu tumbuh dan gugur....
...Maka begitulah manusia terlahir dan menjemput ajalnya....
...Yang membedakan dari dua objek itu hanya lama bertahannya sebuah daun di sebuah ranting dengan usia manusia....
...Jika kalian tak percaya, sekarang kalian keluar rumah,...
...Amati sebuah pohon yang tumbuh sebuah daun kecil semakin lama daun itu akan semakin tubuh besar...
...Jika sudah sampai batasannya daun itu akan menguning dan kering, setelah itu daun pun mati berguguran....
...Ada pula daun masih hijau sudah berguguran seperti manusia ada banyak yang sudah gugur sebelum usianya menua....
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Saat ini Qiana sedang duduk di atas batu besar di pinggir danau.
Matanya menerawang memandang jauh ke dasar danau yang tak terlihat dasarnya.
Airnya biru menandakan dalamnya sebuah danau..
Pikiran nya sekarang memandang jauh menerawang.
punggungnya ia sandarkan di punggung kokoh Taksa yang siap mendengar keluh kesah seorang Qiana .
Setelah ia pingsan beberapa menit yang lalu, ia meminta suaminya membawanya ke tempat ini.
Maka disinilah sekarang ia terdiam beberapa menit dalam kebisuan.
~Qiana POV
Waktu disini begitu singkat.
aku rasa baru kemarin aku hidup kembali di tubuh Qiana,
merangkak perlahan untuk menaiki tangga keberhasilan.
Belajar seperti anak yang baru terlahir keduania dibawah bimbingan Qiana asli membuat hatiku sedikit egois mempertahankan nya untuk selama lamanya di sisiku.
Dada ini serasa sesak ...
separuh raga rasanya ikut tercabut dengan kembalinya Qiana ke sisi mu Tuhan.
Memang dasar sifat manusia yang serakah.
Aku sampai melupakan jika ada pertemuan maka ada sebuah perpisahan..
Tuhan aku mohon berikan jalan yang indah untuk sahabat singkat ku itu..
Berilah dia kemudahan menuju kepangkuan Mu, karena jalannya di dunia ini sudah pedih, berikan dia reinkarnasi yang indah disini mu kelak.
Jika boleh aku meminta,,,, Qiana berinteraksi menjadi putriku biarkan aku yang memberikan ia kebahagiaan apakah aku tak serakah??...
Tuhan..
Terimakasih sudah mengirim ku ke dunia baru ini...
memberiku anugerah melihat kakakku kembali....
Memberiku anugrah suami yang luar biasa, yang melengkapi sifat ku yang penuh kekerasan....
__ADS_1
Anugerah yang engkau berikan ini..
sungguh luar biasa untuk ku yang penuh dosa dan lumpur darah.
Jalan hidup seseorang memang engkau yang memberikan.
Keajaiban ini adalah bentuk kekuasaan mu yang mutlak engkau perlihatkan kepadaku.
Tuhan bolehkan aku egois lagi kali ini, aku ingin hidup bahagia dengan pemilik punggung sandaran yang kokoh yang semakin hari semakin mengikis dendam dan benci di hidupku?...
...____________________________________...
~Taksa POV
Kali ini aku hanya bisa diam untuk menjadi punggung kokoh yang menjadi penyangga punggung rapuh mu.
Aku hanya bisa menahan gejolak di dada merasakan cemburu, kau memeluk laki-laki lain.
Tapi aku sadar, bukan ranah aku ikut mencampuri semua yang kau lakukan.
kau memanglah istriku....
Tapi kebebasan mu adalah mutlak untuk ku, selama ragamu milikku aku akan menahan rasa cemburu itu sendiri.
mungkin itu adalah pelukan terakhir mu dengan si dia.
Jika itu yang terakhir bolehkah aku egois tak ingin membagi milikku dengan yang lain...
menangis lah sayang....
jadikan aku tameng penutup kesedikan mu.
disini aku sabar menunggu kau berbicara kepadaku, meluapkan apa yang kau rasakan karena aku sabar selama kau hidup bersamaku.
Masih ada sedikit jarak tak kasat mata di antara kita.
jika bukan sekarang, aku tunggu hari esok, jika hari esok masih belum maka aku akan menanti hari esok, esoknya lagi Bahkan selamanya.
...____________________________________...
"Sayang" setelah sekian lama mereka terdiam dalam kebisuan akhirnya Qiana memulai bicara.
"Ia honey" Jawab Taksa.
"Bolehkan aku bercerita?" Tanya Qiana.
"Diriku selalu ada untuk mendengarkan cerita mu sampai kapanpun, tapi bolehkah posisi kita di rubah dulu?"
"Kurang rasanya jika kita bicara tanpa melihat, dan aku tak merasakan apa apa di punggung itu" Taksa mencairkan suasana.
sekarang Taksa membawa tubuh Qiana ke hadapan nya.
Ia sekarang memangku Qiana dengan membawa wajah Qiana ke pelukannya.
"Kalo seperti ini aku tak bisa menikmati pemandangan hubby" Ucap Qiana tangannya menusuk nusuk dada sang suami.
"Tapi aku yang terasa honey" Ucap Taksa.
"Apanya yang terasa?" Tanya Qiana.
"Bakpau kembar mu yang empuk empuk enak itu membuatku serasa Greng."
"Hus dasar Suami mesum" Tangan Qiana mencubit roti sobek sang suami.
"Aw... Ampun sayang" jerit Taksa.
"Aku mau di pangkuan mu, tapi aku menghadap ke depan sana.
Kau boleh memeluk ku dari belakang seperti film Titanic, Kalo aku menghadap ke depan yang ada si jeri minta makan akibat bakpau ku yang memancing si jeri bangun."
__ADS_1
"Aku tidak mau memelukmu seperti film Titanic, Karana aku ingin cintaku dan dirimu berakhir bahagia bukan tragis mirip film Titanic, dan tidak ada samudra si sini yang ada danau cinta yang menyaksikan betapa aku sangat mencintaimu."
"Jika karakter di sebuah novel itu memberikan rumah yang mewah dan memboyong bidadari surga dirumahnya, maka tidak untuk diriku. aku akan ikut kemana Istriku merasakan sebuah kenyamanan, sebaliknya akan kuberikan semau aset diriku untuk istriku, akan ku turuti kemana dunia yang istriku inginkan.
Maka cerita lah sayang, apa pun yang ingin kau ucapkan meskipun pahit akan ku terima, asal satu yang ku pinta kepadamu, Jagan pernah kau tinggalkan diriku, bawalah aku dimana pun kau ingin melangkah" Ucap Taksa.
~Cerita Qiana.
"Dahulu kala ada seorang putri raja yang memiliki seorang kakak laki-laki dan adik perempuan."
"Karena sang ayah tewas, sang kakak mengantikan tahta milik sang ayah, adiknya yang terlahir kuat memiliki kehebatan dalam berkelahi, turun ke Medan perang, sedangkan si bungsu mendampingi sang kakak menjalankan kepemerintahan"
"Awal masalah dimulai dari si bungsu yang berbudi luhur memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri"
"Kematian sang adik membawa duka lama kepada kakak kakak nya, si kakak tertua kerja siang dan malam untuk memimpin kerajaan, kakak ke dua tak kenal lelah siang dan malam selalu bertarung."
"Pada hari kematian kedua keluaga yang ia sayangi hari itu juga sang putri gugur di tangan seorang penghianat yang bertopeng menjadi tangan kanan si putri, dan terbongkar lah kematian keluarga dari sang putri karena ulah orang itu."
"Karena dendam yang sangat besar si putri bersumpah untuk membunuh semua keturunan orang yang membunuhnya di manapun ia berada."
"Tuhan mengabulkan sumpah sang puti, ia hidup kembali di sebuah tubuh gadis yang telah mati di aniaya oleh suaminya, maka disinilah putri itu berpijak menggantikan seorang yang mati dan hidup kembali membawa misi balas dendam, dan tak lupa membalas perbuatan orang orang yang menyakiti pemilik tubuh asli Qiana" Ucap Qiana di akhir kata ia mengatakan rahasia terbesar di hidupnya, ia yakin jika suaminya ini akan menerimanya, jika tak menerima tinggal ia membiarkan obat pelupa agar melupakan ucapan dirinya.
"Siapakah namamu sesungguhnya sayang" Tanya Taksa.
"Kau mempercayai cerita ku?" Tanya Qiana.
"Aku selalu mempercayaimu sayang" ucap Taksa mantap, ia juga berfikir dari dulu jika apa yang ia dapatkan tentang Qiana asli dengan Qiana istrinya tak memiliki kesamaan sedikitpun.
"Kau tak menganggap ku membual kan?" Tanya Qiana memastikan.
"Tidak sayang, tatap mataku adakah keraguan di mataku, dengarkan isi hatiku apakah aku mengucapkan lelucon?" tanya Taksa.
"Aku tak tau kuasa Tuhan itu seperti apa, yang jelas aku merasa Tuhan membawa jiwamu kehadapan ku sebagai hadiah yang tiada Tara, jodohku adalah sebuah jiwa yang berasal dari berabad abad yang lalu, dan sebuah kejadian adalah sebuah takdir yang tuhan berikan untuk kita, di kehidupan ini kau di pertemukan denganku karena aku adalah jodohmu yang sesungguhnya sayang" ucap Taksa.
Qiana langsung memutarkan kepalanya lalu "Cup" ia mengecup bibir sang suami.
Mendapat serangan benda lunak tak menyia nyiakan kesempatan nya Taksa langsung mengunyah gua berbatu yang selembut spon kasur dirumahnya.
Acara kunyah mengunyah itu berlangsung lama bahkan si Mulin yang berdiri di belakang mereka Sampek kesemutan berdiri menunggu adegan tarik tambang itu selesai.
"Uhuk" Batuk mulin.
mendengar seseorang batuk lomba tarik tambang itu terlepas, bahkan wajah Qiana langsung memerah karena malu.
Meski dia adalah mafia yang kejam, tapi urusan percintaan baginya masih tabu.
"Kau menelan biji kedondong Mulin?" tanya Taksa yang geram terhadap asistennya, karena adegan tarik tambang itu harus di jeda, biasanya jika sudah adegan tarik tambang usai akan di tutup dengan si Jeri yang balapan.
"Huh padahal aku berharap mencoba balon karakter pemberian si Dion, akibat ulah si asisten lucnut ini habis kesempatan si jeri makan siang." Rutuk Taksa dalam hati.
"Jangan nakal" tangan Qiana langsung mencubit pinggang Taksa.
"Aw sayang kenapa kau suka mencubit ku hari ini?" Tanya Taksa.
"Katakan.." ucap Taksa
"Nona pohon herbal yang anda inginkan sudah ada disini, sesuai permintaan anda" Ucap Mulin.
"Baik lah serahkan kepada Yumna, ia sudah mendapat perintah mengolah ramuan itu dariku, dan kalian ku tugaskan mengobati keluaga lu sampai sembuh setelah itu kirim mereka keluar negeri dan tak perbolehkan mereka kembali kesini lagi, awasi mereka dengan ketat Jangan sampai berbuat ulah jika berbuat ulah lenyap kan saja" ucap Qiana.
"Baik nona" Mulin pergi dari hadapan bosnya yang sedang memandang nya dengan aura permusuhan.
Qiana tau jika suaminya lagi bad mood ia langsung mengalungkan tangannya.
"Sayang namaku Xia Xin Qian, maukah kau berlayar di atas kapal itu denganku?" Tanya Qiana menunjuk kapal pesiar mewah pemberian sang suami yang sedang bersandar.
"Baiklah Qian ku sayang" ucap Taksa, ia masih ingat binar kebahagiaan sang istri pada saat ia memanggil nama itu, ia sekarang tau jika ia tanpa sengaja memanggil nama aslinya. Taksa langsung mengangkat tubuh sang istri lalu membawanya turun dari bukit, melangkah ke danau dimana tempat hadiah pertama Taksa untuk Qiana.
^^^~To be continued^^^
__ADS_1