Kehidupan Kedua Sang Putri

Kehidupan Kedua Sang Putri
Kebahagiaan yang berlipat ganda.


__ADS_3

...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


...~•^HAPPY READING^•~...


...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...


Pagi pagi sekali Divya mengalami kontraksi, ia di bawa ke ruangan bersalin oleh suaminya, di kehamilan ini Divya dan dokter Dion melakukan USG yang mana hanya dokter yang mengatakan jika kandungan Divya sehat dan biak baik saja, tanpa menyebutkan jenis kelamin dan sebagainya.


Karena itu adalah menyangkut taruhan calon ibu dan calon ayah, menebak jenis kelamin anak yang mereka tunggu. Layaknya celengan yang tak tertebak apa yang akan keluar.


“Aw ..” Divya merintih, sedari jam 01:00 hingga jam 05:00. Wanita menunggu menunggu persalinan sang buah hati, sepertinya kali ini persalinan cukup lama. Ukuran perut Divya tidaklah besar besar amet seperti para wanita hamil 9 bulan di rumah itu. tetapi Divya lah yang melahirkan paling lama.


“Sayang cepatlah lahir! Ayah sudah tak sabar menunggu kedatangan mu, kau pasti tak sabar bukan meliahat ayah mu yang tampan melebihi kiripik Rosan ini. Dan agar kau menyaksikan betapa ayah mu ini sangat mencintai ibumu” bisik Dokter Dion


“Dasar Raja Gombal!” ledek Yumna.


“Aku hanya gombal ke padamu saja Sayang! Tak ada wanita lain yang aku gombalin lagi selain dirimu ini.” Dokter Dion memberikan ciuman kepada istrinya bertubi-tubi yang tengah merasakan kontraksi.


“Terimakasih sudah menerimaku, sayang!” bisik Divya.


“Kau adalah wanita yang aku impi impikan selama ini. Aku yang harus berterimakasih karena kau sudah menerimaku, menjadikan ku pria satu satunya di hidupmu. Aku mencinta mati padamu sayang.


Oh sosuet banget dah Abang Dion emak ini.


“Sayang!” panggil Divya.


“Ia sayang?” tanya Dokter Dion.


“Sepertinya sudah saatnya bayi kita akan lahir.” Bisik Divya, ia adalah ahli medis, dan tau tanda-tanda bayi mau lahir.


“Baiklah sayang! Saat ini para medis akan masuk.” Dokter Dion memanggil rekan rekannya, kali ini mereka tak di dampingi oleh Qiana karena saat ini kehamilan Qiana sudah 5 bulan dan kakinya membengkak.


Sebelum persalinan dimulai Dokter Dion memberikan ciuman di kening sang istri, ia berdoa.


Tuhan! Aku mohon selamatkan istri setara anakku. Semala ini aku selalu menyelamatkan nyawa manusia kali ini berikan nasib yang baik kepada istri dan anakku, aku bergantung kepada mu atas keselamatan mereka.


Dokter Dion menekan tombol di kamarnya, lalu berkata, “Masuk.”


Saat ini semua sudah siap, para dokter sudah standby. Qiana yang tak bisa ikut masuk kedalam persalinannya ia hanya memantau melalui CCTV, ia duduk mengawasi kelahiran ponakannya itu dari dalam kamarnya, di temani si Dedy Taksa yang kerjaannya makin lengket seakan Dedy Taksa dan Momy Qiana itu sudah di lem menggunakan lem G, mereka selalu bersama, kekamar mandi bersama, apa apa bersama.


Kali ini ia membiarkan para dokter bekerja sedangkan ia mengawasi agar tidak ada kesalahan terhadap anak buahnya itu, apalagi Dokter Dion merupakan seorang Dokter Yang hebat.


“Lakukanlah buktikan bahwa kalian layak berada disisi ku!” ucap Qiana tangannya mengelus perutnya yang sudah membesar, apalagi kakinya bengkak di kehamilan ini, ia sedikit rewel.


Alat jantung pendeteksi kehidupan sang bayi sudah terdengar, oksigen sudah di siapkan, jarum infus sudah tertancap.


“Nona dengar aba aba saya! Tarik nafas lalu buang, lalu tarik nafas perlahan!” Dokter langsung memasukan jarinya kedalam gua si Romeo.


“Lepaskan! Sudah bukaan sempurna, akhirnya penantian kita sudah sampai.” ujar dokter itu kepada rekan kerja mereka.


Semua perlengkapan persalinan sudah siap dan saudara kembar Divya mengiringi persalinannya, “Divya aku ada disini! Kau harus baik-baik saja, Karena aku takut sendiri.” bisik wanita itu.


Tangannya mengusap perut Divya, air matanya tak terbendung. Bagaimanapun mereka selalu bersama dimana pun itu. Divya yang sebagai saudara kembar wanita itu hanya bisa mematenkan air mata.


Dengan senyum lemah yang terbit dari bibir Divya untuk memberi tahu kembarannya bahwa dia baik baik saja.


“Pegang tangan aku sayang! Aku akan setia mendampingi mu disini, menunggu mu dalam keadaan baik baik saja.” Dokter Dion memberikan ciuman bertubi-tubi untuk sang istri.


“ Kalian kerjakan persalinan ini dengan cepat, karena ketuban sudah pecah, aku akan membatu di atas” ucap Divya dengan nada yang tegas.


Tangan Vona memberikan pijatan pada perut Divya agar bayi itu mau keluar, “Tarik nafas kakak lalu lepaskan, hingga ulang ulang!” Setelah perut telah mengeras, “Dorong kak ... Sekarang!” perintah Qiana mendorong perut Yumna pelan-pelan.


Heeekk ... emhhhhh ... Ohhh sakitt sekali, Oh sayang kenapa melahirkan sakit sekali .... Heeekk ... emhhhhh ...” Omel Divya menarik rambut sang suami di sela sela mengejan.


“Ia sayang memang sakit.” jawab Dokter Dion, yang merasakan rambutnya hingga terasa ada yang lepas dari kulitnya.

__ADS_1


Vona mendorong bayi itu lagi, tetapi bayi belum keluar, seakan berputar-putar di dalam sana, dahinya mengerut ia merasakan ada yang beda dalam perut saudaranya.


Vona memberikan pijatan lembut lagi untuk membuktikan kecurigaan nya, “Ayo sekali lagi buktikan kepada ku bahwa kau sanggup kak!” ucap Vona, yang merasakan dadanya hangat, ia semangat membantu saudaranya melahirkan.


Divya menarik nafas, saat ini tangannya berada di leher sang suami. Lalu mencekik leher itu, Bersamaan dengan sekuat tenaga yang ia bisa langsung mendorong bayinya, “Heeeeeeeekk ... eeeekkmmmmhhhhh ... Sumpah aku tak mau hamil lagi, sakit ... Hosh... Hosh ...Hosh ...,” Nafas Divya terputus-putus, peluh membanjiri dahi Divya.


Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..., suami Divya itu terbatuk-batuk.


Lagi kak, ayo semangat jangan kasik kendor.” ujar Divya.


“Aduh Vona sakit sekali, kenapa pas ngeluarin sakit pas masukin enak Von, Aduh sakit banget.” Rintih Divya.


“Semangat kak! Kau ingin melihat keponakan ku kan, makanya jangan menyerah ... Ok? Sekarang si dedek mengajak lagi keluar, ayo semangat!”


Heeeeeeeekk ... eeeekkmmmmhhhhh ... percobaan ke tiga juga gagal padahal sang korban sudah hampir mati mengenaskan karena bau ketek ibu mau melahirkan itu sungguh sumbriwing. Ia tak terluka seperti Abraham tapi batinnya yang terluka.


Dengan semangat empat lima Divya lagi-lagi mengejan. “Aduh yah! Jika aku disuruh hamil lagi aku tak mau. Jika kau mau anak lagi aku hamil sendiri. Jika kau berani macam macam aku potong Romeo.” omel wanita yang merasakan sakit hebat.


Dalam hati Abraham berkata, “Tuhan aku mohon selamatkan nyawaku, jangan sampai setelah aku menyandang gelar seorang ayah aku tewas karena di habisi oleh betinaku yang lagi melahirkan. Aku yakin Abraham merasakan apa yang aku rasakan hari ini.” Divya tak berteriak dan memaki lagi, ia fokus untuk melahirkan setelah mendengar suport sang adik, tetapi tangannya lah yang melampiaskan kepada sang suami.


“Lagi kak, ayo semangat jangan kasik kendor! Itu rambutnya sudah terlihat.” Vona memberikan semangat. Ia sudah yakin dengan prediksinya. Dan tadi yang mellow saat ini ia tak sabar menyambut keponakannya.


Tangan itu langsung menarik baju dokter Dion hingga koyak lalu mendorong tubuh itu hingga terjungkal, sehingga saat ini kepala Dokter Dion berkunang-kunang.


Kretttt dokter menggunting lubang goa milik Romeo agar persalinan semakin lancar. “Sayang aku janji ini kali terakhir kau mengandung! Aku tak tega kau kesakitan seperti ini!” bisik Dokter Dion yang kasian kepada sang istri. Ia juga kasian kepada dirinya karena ia hampir pingsan mendapatkan amukan.


lalu wania itu mengejan untuk yang keempat kalinya


Heeeeeeeekk ... eeeekkmmmmhhhhh ... aaaahhhhhhh, Seakan melepas dahaga wanita itu mengeluarkan bayinya. Vona mengelap keringat dari kakak iparnya.


Oek... Oek... Oek... Oek... Tangis Bayi melengking dari dalam ruangan hingga terdengar keluar kamar.


“Selamat kau sudah menjadi ibu kakak, bayi mu putra yang tampan, tubuhnya gendut dan sangat menggemaskan!” ucap Vona.


Dokter Dion menghela nafas lega, akhirnya putranya keluar dari dalam perut sang istri.


“Vona Kenapa perutku mulas lagi?” tanya Divya.


“Karna bayinya ada satu lagi kak! Dia mengikuti gen kita yang kembar.” jawab Vona dengan sumbringa.


“APA!” Pasangan itu sama sama kaget.


Gluk ... Tenggorakan kering Dokter Dion langsung semakin gersang. Ia tak habis pikir karena perut istrinya itu kecil tak seperti perut wanita hamil kembar seperti biasanya. Ketakutan menyeruak di dada dokter Dion, ia takut bayi yang kedua ini kecil dan tak bisa selamat tergencet sang kakak yang berat badannya 2000 gr.


Ia tak habis pikir, bagaimana mereka bisa bernafas jika didalam rumah yang sempit selama ini.


Dan persalinan itu berlangsung lebih cepat dan lahirlah seorang bayi perempuan yang bertubuh mungil dengan berat 1500 gram.


 


Semua orang sedang menunggu hasil, begitu bahagia mendengar tangis bayi dari dalam ruangan tetapi ketika ada tangisan bayi lainnya di ruangan itu membuat semua orang bingung dan bertanya-tanya.


Orang tua Dion sudah berada di negara ini pada usia kehamilan Divya yang ke lima bulan.


Divya saat ini memandang putra dan putrinya penuh haru, perjuangannya melahirkan ke dunia sungguh luar biasa seakan tulang belulangnya rontok. putra dan putrinya yang tarperpaduan dirinya dan sang suami membuat jantung Yumna berdetak lebih kencang. setelah itu ia tertidur karena kelelahan.


Suami? Divya kira kira Kemana ya??


2 jam kemudian.


BRAK Pintu dibuka dengan tergesa-gesa.


“Sayang!” panggil semua orang karena tadi diperbolehkan masuk oleh para tenaga medis.


“Ohhh ... Cucuku!” tangis ibu dokter Dion, melihat dua bayi mungil tengah tertidur pulas saling berpelukan, membuat semua orang terharu.

__ADS_1


Sedangkan Divya langusung terbangun ketika ada suara sedikit bising di sekitarnya, yang ia cari pertama adalah sang suami.


“Astaga Dion kenapa kau tidur di bawah brankar bayimu anak nakal!” omel ayah dokter Dion yang hampir menginjak putranya, sedangankan yang lain tak mengingat pria itu setelah melihat putra putri Dokter usil.


Dokter Dion bangun, dengan tampilan yang membuat meringis. Bukan tampil ganteng klimis ataupun wangi maskulin untuk bertemu sang putra. melainkan penampilan nya jauh lebih mengenaskan dari Abraham, karena ia merasakan siksaan dua kali lipat.


Dokter dion berjalan mendekati istrinya, lalu langsung berhabur memeluk tubuh sang istri, sambil menangis dengan diam.


“Terimakasih sayang kau sudah baik-baik saja ... Cup ... Cup ... Cup” Pria itu memberikan ciuman bertubi-tubi untuk sang Istri.


Mendengar ucapan sang suami, Divya baru ingat apa yang telah di lakukan olehnya terhadap sang suami.


“Sayang maafkan aku! Semua ini aku kan yang melakukan kepada mu? Aku tak serius dengan ucapan ku. Jika kau ingin aku mengandung lagi aku siap melahirkan kembali.” Bisik Divya bedalah, sedangkan tangan nya menyentuh luka-luka ditubuh suaminya.


“Aku berjanji sayang! Aku tak akan membuatmu hamil lagi. Kita cukup memiliki satu putra saja tidak ada namanya dua anak lebih baik. Aku tak tega kau merasakan kesakitan seperti ini.” ucap Dokter Dion.


“Selamat sayang, kalian sudah menjadi orang tua. Terimakasih atas hadiah dua cucu ku yang tampan ini sayang.” ucap ibu Dokter Dion.


Tanpa di duga, Dokter Dion langsung memeluk tubuh ibunya itu. “Terimakasih Ma! Kau telah melahirkan ku ke dunia, merawat ku hingga besar seperti ini.” ucap Dokter Dion.


Saat ini keluarga itu tengah bahagia dengan kelahiran si kembar yang menggemaskan, karena lahir kuat berat badan mereka terpaksa membiarkan sang bayi didalam inkubator.


Toh inkubator itu bisa di pindah kekamar mereka. saat ini keluarga WU QI Dan XU tak pernah keluar untuk mencari dokter karena Vila itu sudah berfasilitas lengkap, tak lupa di bawah sana ada sebuah resort mewah yang sudah mulai oprasi.


Kenapa semua diboyong ke tempat itu, karena Qiana dan Taksa mau keluarga mereka hidup sehat dengan menghirup udara sehat pula.


Tok ... Tok ... Seseorang tengah mengetuk pintu yang terbuka.


“Maaf Nona! Saya mengganggu.” ucap seorang anak buahnya.


“Katakan!” jawab Qiana, yang tengah memegang tangan keponakan barunya.


Dalam hati ia berkata, “Setelah ini, Vila yang sepi akan ada kebahagiaan dan keceriaan dari seluruh anak anak yang bermain di keluarga ini.”


“Nona Rana sudah siuman Nona.” kata si pembawa kabar.


Semua orang langsung bahagia, sungguh hari ini rejeki yang Tuhan berikan semakin berlimpah ruah, Qiana dengan kehamilan yang membesar langusung berjalan dengan tergesa-gesa mendekati kamar dimana Rana dirawat.


Air mata Qiana tak mampu ia bendung, ketika melihat adik yang dia harapkan sudah membuka matanya, Ia melihat air mata sepasang suami istri itu membuat hati Qiana semakin tersentuh.


“Terimakasih sudah kembali, Rana!” ucap Qiana, ia langsung mendekati sang adik.


“Kakak, terimakasih kau sudah memberikan ku kehidupan ke dua yang sungguh luar bisa ini.” wanita itu melepaskan pelukannya dari sang Suami lalu memeluk tubuh Qiana dengan penuh kasih, mereka menangis dengan diam.


“Kau hampir membuatku tidak percaya akan kekuatan ku menolong seorang lagi! Kau begitu lama tidur. Apakah kau tak merindukan kedua putrimu yang sudah berusia satu bulan yang lalu. Asal kau tau suamimu itu tak sekalipun melihat wajah putri kalian karena janji konyol kalian.” untuk pertama kalinya seorang Qiana cerewet.


“Hem ... Besok adalah waktunya kalian membuka peti leluhur kalian yang sudah diwariskan kepada kalian bertiga! Siap siaplah.” ucap Kakek.


Kira kira apa ya isinya sebuah kotak???


^^^~To be continued^^^


Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏


Jangan lupa


Like👍


komentar🗣️


Hadiah🎁🌹☕


Vote 🔥


Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.

__ADS_1


Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini .


__ADS_2