
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Bunyi alarm dan ucapan Colvis membuat seisi Vila langsung Bagun, dan kalang kalang kabut.
Semua orang berkumpul di depan kamar Colvis.
Tok ... Tok ... Tok ... Pintu tak kunjung di buka.
“Kak! Bisakah kau tukar bajumu dengan Yumna?” tanya Qiana karena penampilan Abraham sama persis dengan suaminya pada saat mengenakan Daster.
“Astaga! Ketuker.” ucap Abraham sedang melihat baju daster motif bunga-bunga milik istrinya.
Abraham menarik baju istrinya ingin ia buka, “Beb kau mau apa?” tanya Yumna dengan nada intimidasi.
“Menukar baju kita.” jawab Abraham jujur.
“Disini!” nada bicara Yumna sangat dingin.
Abraham melihat ke kiri dan ke kanan semua anggota keluarganya sedang berkumpul, “Oh ... Maafkan aku sayang!” Abraham memeluk Zia.
“Dasar ceroboh!” ejek Taksa.
“Bububububu ... Hua huaaaaa” tangis dan celoteh si kecil membuat Taksa menepuk bayi yang ia gulung menggunakan selimut.
“Bububububu ... Hua huaaaaa” Tangan kecil menepuk punggung Qiana.
Qiana berbalik arah ternyata putranya sedang di gendong oleh sang kakek. Mata si baby sembab habis menangis.
“Ah putraku ...” Qiana mengambil sang anak dari dalam gendongan sang kakek. Taksa diam membeku melihat sang putra berada di gendongan kakeknya.
Dalam hati Taksa berkata, “Jika Ken disana! Lalu siapa yang aku gendong.” Taksa ingin membuka selimut bayi tetapi sebuah tongkat langsung memukul pantatnya
Buk ... Buk ... “Dasar, Cucu lucnut kau meninggalkan putramu dan apa yang kau bawa itu!” Kakek sangat meng-anak emaskan cicit yang ia dapatkan seharga 1% sahamnya di rumah sakit.
Buk ... Buk ... Buk ... Sebuah bantal guling jatuh menggelinding di kaki sang kakek.
Hahahahahaha ... “Dasar ceroboh, disini siapa yang paling ceroboh hah!” Abraham tertawa dan meledek rivalnya itu.
“Hem ... Sudah jangan ribut! Kalian minggir.” ucap Qiana kepada anak buahnya yang mengetuk pintu kamar itu.
BRAK ... Hanya sekali tendangan bukan hanya engsel pintu yang lepas tetapi pintunya hancur. Kelakuan barbar Qiana masih membuat semua orang kaget dan terkagum karena aksi Qiana yang dibilang ajaib dan kuat.
Setiap pintu di kamar itu memerlukan 5 orang pria tangguh mendobrak sebuah pintu yang sudah di buat khusus. yang ini malah satu orang wanita kecil hamil pula yang membuat jebol dan hancur sekaligus. Padahal kehebatan Qiana sering mereka lihat tetapi tetap saja membuat kagum semua orang.
Setelah merek masuk merak kaget dengan apa yang mereka lihat.
“Semua pria keluar!” Perintah Qiana.
“Ana suntik Istri an! Biar masuk lagu bayinya.” ucap Colvis menggoyang tubuhnya Qiana yang berlari keatas tempat tidur.
Buk ... “Istrimu itu mau melahirkan bocah tengil, besok setelah melahirkan aku akan mencarikan jodoh untuk cucu menantuku. Sepertinya suaminya sudah gila.” Nenek QI memukul sang cucu karena saking gemesnya.
Flashback ON
Jeritan Zia membuat Colvis langsung tergabung kaget kalang kabut, ia langsung membuka kamar mandi.
“Sayang! Kau kenapa?” tanya Colvis khawatir.
“Lihat bayi kita keluar! Aku tadi terlalu kencang duduk di kloset!” Zia Merintih.
“Beby cintaku! jangan membuatku takut! Melahirkan bayi tidak se instan seperti ini, ingat kelas yang kita ikuti selama ini.” ucap Colvis langsung terhenti kita melihat sebuah kepala keluar dari jalan lahir sang istri.
Tangannya langsung memencet tombol yang tombol yang menyambung ke seluruh kama semua anggota rumah.
“Tolong dokter suntik istirku agar bayinya masuk lagi!” jerit Colvis
“Astaga lost dol!” Colvis langsung mengangkat tubuh sang istri keluar dari dalam kamar mandi ketika ia melihat rambut bayinya di jalan lahir sang istri.”
__ADS_1
Flashback off
...----------------...
Para dokter sudah berjejer dan Qiana sudah siap membantu bayi itu keluar karena sudah ada di jalan lahir.
“Nona seperti kita harus tarik bayinya, kaki sang bayi tidak lurus ia bersila.” ucap seorang dokter yang sudah melihat dari hasil USG.
“Jika kau tarik bayi ini tidak akan selamat! Dan bisa cacat, jika lama kita membicarakan di jalan lahir akan bahaya.” Qiana membenarkan posisi kaki sang kepercayaannya.
“Ambilkan aku satu buah sapu tangan kecil!” Wanita itu memerintahkan sang Dokter kandungan.
“Zia kau percaya kan kepadaku!” ucap Qiana.
“Saya percaya karena hidup saya dan anak ini milik anda!” ucap wanita itu tegar, tidak ada kata tangis dan jeritan lagi. Mungkin tadi ia hanya kaget saja.
Tangannya mengusap perut Zia, dan tangan itu bergerak tak di mengerti oleh di dalam sana, “Gigit lah sapu tangan ini jika kau sudah merasakan kontraksi, aku akan membimbing mu agar bayi ini bisa keluar dengan Selamat!” bisik Qiana dengan nada ketegasan seakan itu perintah.
Tangan Qiana memberikan pijatan lalu, “Sekarang!” ucap Qiana mendorong perut Zia pelan-pelan.
Heeekk ... emhhhhh ... begitu Qiana mendorong bayinya, tetapi bayi belum keluar.
Qiana memberikan pijatan lembut lagi, “Ayo sekali lagi buktikan kepada ku kau pantas dikatakan pendekar perang ku!” teriak Qiana.
Zia dengan sekuat yang ia bisa langsung mendorong bayi itu, Heeeeeeeekk ... eeeekkmmmmhhhhh ...
Oek... Oek... Oek... Oek... Tangis Bayi melengking dari dalam ruangan hingga terdengar keluar kamar.
“Selamat kau sudah menjadi ibu Zia!” ucap Qiana.
“Terimakasih Nona!” Air mata Zia bercucuran ketika melihat bayinya, di tangan sang nona. Para dokter langusung membersihkan bayi itu setelah di berikan baju mereka meletakkan nya di atas pepaya gantung sang ibu.
Bayi itu menyusu untuk pertama kali. seorang Zia menangis haru, selama ini ia tak pernah menangis setelah kematian orang orang yang ia sayang.
Zia POV.
Selamat datang Putraku, Aku harap kau menadi manusia yang berbakti kepada orang orang di sekitar mu! Jadilah pelindung Nona untuk mengantikan ku kelak jika aku sudah tiada. Kau akan ku buat menjadi pria tangguh agar tak ada seseorang yang berani mencerai beraikan keluarga kita, Kau harus menjadi pondasi kokoh kami di masa depan ... Cup ” Zia memberikan ciuman sayang dan penuh kasih sayang untuk sang putra. lalu ia terbangun dari tidurnya Setelah di bawah sana dibersihkan.
“Kau tak ingin memberikan nama untuk putramu Zia.” ucap Qiana.
“Kami sepakat akan memberikan nama anak kami ketika Rana sudah sadar Nona!” jawab Zia.
“Aku harap Rana cepat sadar!” ucap Qiana, dalam hatinya sangat sedih, ia tak mau kehilangan sang adik lagi.
“Ijinkan saja membersihkan diri saya dulu Nona!” pamit Zia.
“Silahkan! Kau mandilah biar keponakan ku, dimasukan kedalam inkubator untuk menghangatkan tubuhnya.” ucap Qiana, wanita itu begitu terharu mendengar isi hati Zia yang tulus kepadanya, padahal ia dulu memperlakukan Zia sebagai senjata dan perisainya, Qiana memungut Zia hanya untuk kepentingan pribadinya.
Tetapi setiap orang yang ikut dirinya sungguh setia dan seperti robot yang menurut apa katanya.
...----------------...
Sedangkan di luar kamar mendengar tangis bayi semua langsung saling berpelukan.
Tuhan! Aku mohon engkau selamatkan istri dan anakku aku tak sanggup jika harus kehilangan mereka. mulut Colvis komat kamit berdoa.
Aku bukan orang beriman! Malah aku penuh dosa karena sering melenyapkan musuh. Tapi aku mohon kali ini aku berharap engkau menolongku. Memberikan perlindungan cinta kasih untuk istriku yang hidupnya selalu menderita.
Berikanlah putra kami keselamatan agar kami bisa bahagia di akhir cerita ini. Saat ini aku hanya bisa berpasrah diri kepadamu tuah.
“Duduklah!” ucap Taksa.
“Kau masih ingat bukan apa yang menimpa ku ketika bayi kami lahir, aku tau kamu tadi syok dan ketakutan karna aku merasakan hal sama seperti dirimu rasakan. Malah ketakutan ku lebih karena apa istri mu masih ada yang menolongnya jika terjadi seperti tadi.” Taksa memandang ipar nya dan orang yang berarti untuk sang Istri.
“Tetapi keadaan ku dulu jauh lebih mengerikan, pada saat itu aku tak
memiliki apa apa yang aku miliki hanyalah Qiana dan putra kami, dan ketakutan itu masih menghantui mimpi ku! Dan sebentar lagi aku akan menyambut bayi baru, seakan luka yang masih baru di torehkan luka baru lagi, makanya aku frustrasi istriku hamil lagi.”
“Terlahir nya bayi kami itu sungguh membuatku teriris belati karena aku dalam ke putus asa an, aku kaya dan berkuasa tak sanggup memberikan Dokter terbaik membatu istriku melahirkan, makanya aku berjanji kepada diriku untuk tidak akan membawa istirku kemana mana lagi pada saat ia hamil empat bulan keatas ini karena aku ingin memberikan sesuatu yang layak ia dapatkan. Semua harta ku itu hanya sebuah pencapaian tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya melihat belahan jiwa kita dalam keadaan baik baik saja.”
“Dulu Aku tak mampu memberikan baju mahal untuk membungkus tubuh kecilnya yang terlahir di tempat sang dingin! Maka sekarang aku berjanji memberikan persalinan yang layak dan baju yang layak untuk bayi kami setelah nya, dan aku berjanji kepada diriku ini jika ini adalah terakhir kali istriku mengandung.”
__ADS_1
“Kau jangan bersedih karena istri mu itu adalah bayangan istri ku yang tangguh, disini ia paling di takuti setelah istriku, kau percayalah dan duduk dengan sabar menunggu hasil.”
“Aku yakin istriku tak akan membiarkan anak buah kesayangannya kenapa Napa! Rana yang sudah dinyatakan meninggal ia mampu menghidupkan kembali, Kita hanya menunggu waktu wanita itu sadar karena seluruh anggota tubuhnya sudah pulih dengan cepat. Kau tau bukan jika istriku itu OCD dan hanya istrimu lah yang mengurus tubuhnya dan dulu aku sempat menganggapnya saingan terberat ku!.”
Oek... Oek... Oek... Oek... Tangis Bayi melengking dari dalam ruangan hingga terdengar keluar kamar.
“Lihat putramu sudah lahir!” ucap Taksa menepuk punggung sang sahabat serta iparnya itu.
“Kau jangan menghiburku dulu Taksa! Putraku tak akan langsung keluar begitu saja!” ucap Colvis ia memikirkan sang istri hingga tak mendengar tangis seorang bayi.
Zia keluar dari kamar seakan tak terjadi apa-apa pada dirinya, sehingga membuat semua orang bingung tadi yang menangis itu bayi siapa dan memang sih tak ada jeritan di dalam kamar karena tangisan itu setalah mereka keluar 15 menit lamanya.
Zia tersenyum kepada semua orang, matanya mencari dimana suami sambelnya berada dan pandangannya tertuju kepada pria yang tengah menunduk di samping Taksa. Sepertinya pria itu tak mendengar tangis putranya, di tangannya ia menggendong bayi merah yang tampan, membuat semua orang menangis haru, berarti wanita itu benar benar telah melahirkan, “Hem ... Sayang kau tak mau menyapa putra kita!” ucap Zia kepada suaminya itu.
“Sayang ... Kau kah ini?” tangan Colvis langsung memegang pipi tirus Zia. Zia hanya menganggukkan kepalanya.
“Dia adalah bukti cinta Kanzia ceshia untuk suamiku yang paling aku cintai.” ungkapan cinta Zia untuk suaminya itu membuat semua orang baper, sedangkan Colvis yang menunggu kata cinta dari sang istri langsung terharu.
Ia masih ingat menyuruh seorang Zia memanggilnya sayang amatlah susah dan itupun ia sampai mengancam akan mengadukan sikap sang istri kepada Qiana. Colvis mengira selama ini Zia hanya mengemban tugas dari sang Nona untuk menerima pernikahan mereka.
Hari ini bunga di hati seorang Colvis langsung bermekaran seakan musim semi berkepanjangan akan hadir selamanya.
Cup .... Mulin mengecup kening sang istri dengan tangis haru, “Kau mencintai ku sayang?” bisik Colvis, saat ini dahi mereka saling menempel. Zia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Katakan sekali lagi, kau mencintaiku dan kita akan menua bersama!” bisik Colvis.
“Aku mencintaimu suamiku dan kita akan menua bersama, Cup!” ucap Zia mengecup bibir suaminya.
Semua orang menangis haru menyaksikan cinta Hitam putih atara tentara dan Mafia yang melebur menjadi satu.
Kakek WU dan Nenek QI yang musuh bebuyutan itu saling berpelukan ikut terharu.
Karena terhanyut dalam perasaan Colvis memperdalam ciuman nya, tiba-tiba seseorang menarik kerah baju Colvis.
“Kau mau membuat cicit ku lempeng seperti peyek setelah dilahirkan!” Nenek QI mengomel.
“Ah putraku! Cup” Colvis mencium kening putranya dengan penuh kasih, air matanya penuh haru.
“Bolehkah gadis tua ini menggendong cicitnya?” tanya nenek QI.
“Cih ... Gadis konon! barang dibawah sudah keriput dan lost dol gitu masih ngaku gadis.” Kakek WU mengedumel.
“Bilang kau iri, aku dah punya cucu dua kau hanya satu!” Nenek QI membalas ledekan si kakek WU.
“Oh ... Cicit ku persis sekali dengan mu Colvis! Sepertinya kau yang mendominasi permainan di atas ranjang selama ini! Memang keturunan keluarga QI sejati.” ucap Nenek QI, mengendong cicit memperlihatkan kepada setiap orang yang ada di sana, ibu Colvis semenjak di rawat oleh Qiana sudah membaik, ia duduk di kursi roda memandang cucunya yang tak ia sangka di berikan cucu setelah sadar.
Ayah Colvis memeluk istrinya dengan sayang, ia juga tak menyangka hadirnya Qiana membawa kebahagiaan yang tak berani ia impikan.
“Terimakasih Nona, anda sudah memberikan saya yang yatim piatu ini keluarga! Berkat anda saya mendapatkan suami yang mencintai saya apa adanya.” ucap Zia tulus.
“Aku hanya ingin dimasa depan kau memanggilku adik ipar bukan lagi atasan dan bawahan, kita akan hidup bersama sebagai keluarga hingga mau memisahkan kita kelak,” ucap Qiana menepuk punggung anak buah kesayangannya nya itu.
Taksa mengambil putranya yang gendut dari sang kakek, lalu menarik tangan istrinya untuk pergi beristirahat.
...----------------...
^^^~To be continued^^^
Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏
Jangan lupa
Like👍
komentar🗣️
Hadiah🎁🌹☕
Vote 🔥
Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.
__ADS_1
Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini.