Kehidupan Kedua Sang Putri

Kehidupan Kedua Sang Putri
obat berkualitas tinggi


__ADS_3

...^HAPPY READING^...


Setelah memerintahkan asisten pribadinya untuk memanggil dokter Dion,


"Desmon aku akan mandi dulu sebentar, jika Deon datang suruh dia ketempat kerjaku" ujar Taksa sambil tersenyum kepada pria paruh baya kepala asisten rumah tangganya yang kaget melihat penampilan Tuannya itu dengan keadaan baik-baik saja.


"Tuan mulin ada apa dengan tuan dan anda kenapa kalian pulang dengan keadaan luka-luka, sedangkan eskpresi tuan tidak seperti orang kesakitan, 23 tahun yang lalu aku melihat tuan tersenyum lepas sepeti ini, apa salah satu organ tuan terluka tuan mulin, saya harus menelpon tuan besar memberi kabar apa yang menimpa tuan mu" sambil meneteskan air mata saking khawatir akan tuan mudanya.


"Kau tak usah cemas paman Desmond tuan tidak apa-apa tadi kami dijalan dihadang pereman, tapi kau jangan khawatir kami tidak luka dalam cuma memar-memar saja, tuan dalam keadaaan senang hari ini paman Desmond makanya dia tersenyum seperti itu, kau kembalilah bekrja, kerjakan tugas yang tuan pinta tadi" lalu mulin masuk ke dapur untuk mengambil segelas air putih lalu meminumnya, karena pertarungan tadi sangat melelahkan sangat menguras tenaga mulin dan hal pertama yang dilakukan ketika sampai di Mansion yaitu menegak air putih.


~15 menit kemudian...


Datanglah seorang pemuda tampan memakai jas putih khas seorang dokter, iya berlari-lari memasuki Mansion Taksa.


15 menit yang lalu iya ditelpon oleh asisten Mulin untuk datang ke Mainson Taksa, karena Taksa sedang terluka.


Iya yang akan melakukan operasi buru-buru melimpahkan kerjaanya pada rekan kerjanya, karena dia sangat khawatir dengan kondisi Taksa yang tidak pernah terluka.


"Anda sudah datang Tuan Dion, anda disuruh tuan menunggunya diruang kerja tuan, saat ini tuan lagi mandi" tutur Desmon


"Baiklah aku keatas dulu paman Desmond" ucap Dion sambil melangkah memasuki lift untuk pergi ke tempat kerja Taksa yang satu tempat dengan kamarnya.


Setelah iya masuk ke tempat kerja iya melihat mulin yang sedang babak belur dimana-mana.


"Astaga mulin mukamu kenapa sampai bonyok seperti ini??, jika keadaanmu seperti ini gimna keadaan tuan muda, Kemana bodyguard yang selalu mendampingi kalian jika kekantor atau bepergian kemanapun" memberikan pertanyaan beruntun.


"Satu-satun tuan Dion jika bertanya, yang pertama kami dikeroyok oleh perampok yang tangguh sebanyak 25 orang, yang kedua tuan muda juga terluka cuma lebam-lebam saja, yang ketiga tuan muda yang tidak menginginkan adanya bodyguard yang menemani perjalanan kita, jika anda kurang puas dengan jawaban saya tanyakan sendiri pada tuan muda" jawab singkat mulin dengan ekspresi daftarnya.


"Kau tuh terlalu datar mulin, bos dan anak buah sama-sama beku, kau tak asik aaahhh" jawab Dion yang karakternya humoris.


"Itu terserah saya diri-diri saya tuan, anda jika tidak suka jangan perhatikan saya, sekarang anda obati luka saya dulu karena ini perintah tuan tadi" balas mulin dengan tatapan tajamnya.


...* * * *...


Setelah mengobati mulin, dokter Dion dan mulin menunggu tuannya tak kunjung keluar dari kamarnya.


~Satu jam kemudian...

__ADS_1


"Mulin apa terjadi sesuatu kepada tuan muda, kita sudah menunggu tuan muda lebih dari satu jam disini". Memulai percakapan dengan mulin.


"Anda benar tuan jika dihitung dari sebelum anda datang tuan memasuki kamar sudah 2 jam lamanya", menjawab ucapan dokter Dion.


"Apa tuan muda pingsan mulin, siapa tau tubuhnya ada yang terluka tanpa sepengetahuan mu" memberikan asumsi kepada mulin.


Setelah mendengar asumsi dokter Dion mulin yang cemas akan tuannya langsung berlari mengabil seribu langkah kekamar tuannya, ternyata pintu kamar tuannya tidak ditutup, karena khawatir ia langsung masuk ke dalam mencari keadaan tuannya di seluruh ruangan, cuma satu ruangan yang belum ia lihat yaitu kamar mandi, lalu iya bergegas menghampiri kamar mandi lalu ia langsung mengetuknya.


"Tok tok tok" bunyi ketokan pintu.


"Tuan Tuan Tuan" karena tidak ada sahutan dari dalam iya memanggil nama tuannya berulang-ulang kali karena sangat cemas.


Sedangkan dokter Dion duduk di sofa kamar Taksa dengan santai sambil menikmati ekspresi cemas mulin yang hanya di tunjukkan kepada tuannya saja, kapan lagi dia mengerjai mulai, dia terkekeh dengan pelan.


"Ceklek" bunyi pintu kamar mandi dibuka "ada apa mulin kau sudah bosan hidup rupanya ya, aku tidak tuli kau ketok seperti seakan ada gempa saja" omel Taksa


"Maaf tuan saya khawatir dengan anda, karena anda masuk kekamar selama 2 jam, dan kami menunggu anda, saya takut anda terluka dan tidak sadarkan diri dikamar mandi" dengan kepala yang tunduk mulin menunduk dihadapan tuannya.


"Baiklah aku maafkan, dan aku tidak apa-apa tadi aku ketiduran dikamar mandi" elak rasa, padahal iya sedang mengerami gadisnya.


"Iya aku mendengar mu terluka langsung bergegas kesini, Aku lihat kau tidak apa-apa, padahal luka di wajah mu akan perih jika terkena air" kata Dion.


"Benar aku tidak merasakan sakit setelah mengoleskan krim obat yang seseorang berikan kepadaku tadi" jawab Taksa.


"Obat apa, aku ingin melihatnya, kau jangan sembarangan memakai obat tanpa tau asal usul obat itu Taksa". Nasehat dokter Dion.


"Enak saja dibilang tidak ada tau asal usulnya , obat itu diberikan istriku tadi tau Dion", jawab Taksa ambigu sambil senyum-senyum tak jelas


Dion berfikir sejak kapan Taksa menikah, dan iya memperhatikan eskpresi Taksa yang tersenyum bodoh didepannya, sejak kapan Taksa berubah jadi seperti ini, membuat tersenyum seorang Taksa itu bagaikan menyelami samudra Hindia yaitu mustahil, apa kepala Taksa dipukul penjahat tadi, sehingga otaknya geser, kapan Taksa menikah burungnya saja masih mati suri, jika iya menikah keluaga WU akan merayakan pernikahan Taksa besar-besaran.


"Taksa ayo kita ronsen kepalamu kerumah sakit sepertinya kepalamu terbentur saat melawan perampok itu" dengan nada sedih


"Bukkk" Taksa memukul lengan Dokter Dion "aku tidak apa-apa brengsek" marah Taksa sambil memberikan krim yang iya pegang.


"Ampun Taksa, karena kau tersenyum seperti itu tidak seperti seorang Taksa saja, apa salahnya aku khawatir padamu dan sejak kapan kau punya istri, maka dari itu aku takut otakmu kenapa-napa karena bicaramu melantur" jelas dokter Dion sambil memeriksa krim yang tadi Taksa berikan padanya.


"Taksa darimana kau mendapatkan Crema ini??" Tanya serius dokter Dion.

__ADS_1


"Emangnya kenapa dengan Crema itu Dion??" Balik tanya Taksa


"Aku bertanya padamu Tuan muda, cream ini kualitasnya sangat bagus, cream ini juga menghilangkan rasa sakit, pantesan kau berendam tidak merasakan perih" jelas dokter Dion.


"Aku mendapatkan dari gadis yang menolongku tadi dari keroyokan perampok, lalu iya menjelaskan kejadian yang menimpanya sambil menceritakan tentang burungnya yang berdiri ketika melihat gadis penolongnya tadi" Jelas Taksa


"Apa burung mu Bagun Taksa??" Tanya seakan tak percaya.


"Iya setiap aku memikirkannya burungku bangun Dion, akhirnya aku mersakan sensasi itu, aku kira di masa depan aku akan menjadi Kasim, akhirnya aku punya masa depan" dengan wajah tersenyum berseri-seri jika didepannya itu kau hawa pasti para kaum hawa pingsan oleh senyum seorang Taksa yang langka. Sampai dokter Dion mengira kepala Taksa terluka akibat perubahan yang iya lihat.


Dokter Dion yang mendengar cerita Taksa pun juga terkagum jika melihat seorang gadis yang cantik dan hebat dalam beladiri.


"Coba kau lihat botol cream itu, siapa tau ada nama perusahaannya, kau bisa membeli produk itu untuk obat dirumah sakit kita Dion" perintah Taksa.


"Q.C.L teknologi formasi" baca dokter Dion,


"sepertinya perusahaan yang memproduksi cream ini baru Taksa aku tidak pernah mendengar namanya, "tapi aku begitu kagum dengan obat ini benar-benar bagus, aku sudah menjadi dokter lama dan aku suka mempelajari obat-obatan" tutur dokter Dion.


"Kau carilah perusahaanya, nanti jika kau ketemu kau laporkan padaku, nanti aku yang akan membuat kerja sama dengan perusahaan mereka, dan untuk mu mulin kau carilah informasi calon istriku, aku mau besok sudah ada dimeja kerjaku" perintah Taksa lagi.


"Baik tuan" jawab serempak mulin dan dokter Dion.


"Selamat untuk mu Taksa atas bangunnya burung mu, masa depanmu cerah kedepannya, jangan lupa aku ingin lihat kakak ipar nanti" canda dokter Dion.


"Kau jangan menaruh hati pada istriku Dion, jika itu benar aku akan karir kau ke benua Afrika untuk menemani pinguin" kata-kata Taksa dingin seakan ada orang yang akan mengambil istrinya.


Dion yang syok dengan ke posesifan Taksa kepada pujaan hatinya, iya menoleh ke pada mulin meminta jawaban melalui isyarat mata.


"Kau jangan menanyakan apapun kepadaku dokter Dion, aku saja syok melihat perubahan sikap tuan muda yang setiap hari aku dampingi, paman Desmond saja sampai menangis menghawatirkan tuan muda karena sikap barunya setelah bertemu tuan tadi" begitulah kata hati sang asisten sambil menggelengkan kepala sedikit untuk memberikan jawaban kepada dokter Dion.


"Ahhh tidak tuan muda aku masih menyukai tempat kerjaku saat ini, mana berani aku menyukai nona muda, dan aku mohon pamit untuk kembali kerumah sakit, karena satu jam lagi aku ada oprasi". Pamit dokter Dion sambil menghindari amukan singa jantan, yang sedang cemburu.


"Bagus, pergilah kalian" kata Taksa sambil berdiri menaiki tempat tidurnya, sertinya ia mau tidur.


Buru-buru dokter Dion dan mulin meninggalkan kamar itu. Dan pergi ke tujuan masing-masing.


^^^~To be continued^^^

__ADS_1


__ADS_2