
...^HAPPY READING^...
Sepeninggal Taksa, dari rumah sakit, tubuh Qiana mengalami kejang, dokter Dion yang menanganinya saat ini sampai syok, dan penuh ketakutan.
"Nona aku harap anda bertahan, kami akan mati ditangan tuan muda Taksa jika anda tidak tertolong"
Setalah beberapa menit semua dokter berusaha untuk menstabilkan kondisi Qiana, tiba-tiba Qiana terbangun langsung duduk.
Semua orang yang menangani Qiana sampai kaget, sehingga para dokter yang melihat Qiana sadar langsung duduk, mereka langsung jatuh terduduk di lantai.
"Nona anda sudah sadar" tanya dokter Dion
"Berapa lama aku tertidur" kata Qiana dingin.
"Ya tuhan suami istri sama-sama gunung es" kata hati dokter Dion
"Sebulan nona, lebih 2 hari" kata dokter Dion.
"Dokter kau tetap disini, yang lain keluarlah, panggilkan Zia"
Sesuai dari perintah Qiana semua orang keluar, di bangsal itu dengan jantung berdetak karena terkejut dengan kondisi nona Qiana yang keritis tiba-tiba sadar.
"Dimana Taksa"
"Tuan muda saat ini menghadiri pesta ulang tahun perusahaan WU nona" jawab Zia.
"Kau ambilkan tas yang selalu aku bawa jika bepergian Zia"
Zia yang mendapat perintah yang mendapat perintah nonanya, ia langsung sigap mengambilkan barang-barang berharga nonanya , yang mereka GK berani membukanya, meski sang nona koma tas itu tetap berada di rumah sakit.
Qiana membuka tasnya ia mengambil jam tangannya dari Tas.
"Yury apa saja yang kamu ketahui selama aku koma"
Yury melaporkan semua kegiatan Jenita, hingga rencana penjebakan Taksa.
"Dokter Dion bagai mana kondisiku saat ini"
"Saat ini tubuh anda sudah membaik, tetapi otot-otot Anda masih dalam keadaan lemas, butuh 2-3 hari anda bisa berjalan lagi"
Hati Dion marah dengan sahabatnya akan dijebak oleh seorang wanita ******, ia ingin saat ini pergi ke perusahaan WU, biasanya setiap perayaan ulang tahun perusahaan WU, ia selalu hadir, maka khusus tahun ini ia tidak hadir karena ia bertugas memantau Qiana.
"Nona bisakah anda membawa saya, Taksa adalah Sabahat saya" pinta dokter Dion
"Baiklah, kau siapkan semua kebutuhanmu, 20 menit lagi kita berangkat, sebelum terjadi apa-apa dengan Taksa"
Ia juga takjub dengan apa yang ia lihat, saat ini nona Qiana bercakap dengan seorang peri kecil yang muncul diatas jamnya.
__ADS_1
Qiana meliahat jam, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya, semua orang mengira jika gulungan dalam kota kecil adalah alat-alat make up yang Qiana bawa, ternyata gulungan dalam kotak itu berisi puluhan jarum akupuntur.
Qiana menusukkan jarum akupuntur kebagian titik di tubuhnya, ia merebahkan tubuhnya kembali menit ke menit tubuh Qiana di penuhi oleh keringat sebesar biji jagung,
"Zia, kau telpon Xiever siapkanlah helikopter dalam 15 menit, dan kau dokter Dion, kau ikutlah denganku sebab kau aku butuhkan untuk menolong Taksa, dan jangan lupa kau bilang kepada Xiever bawalah bajuku, samurai dan pistol, sepeti nya kita akan berpesta juga"
"Suruh tim Aruna mencari identitas rekan kerjanya wanita ular itu, sepertinya aku harus sedikit bermain-main dengan orang itu" senyum iblis Qiana membuat dokter Dion yang merinding sebab aura Taksa dengan Qiana sama.
Dokter Dion yang mendengar perintah Qiana kepada anak buahnya, tambah merinding semua bulu roman nya, "aku yakin kau akan mati pelacur kecil, kau sudah mengusik pawang si gunung es" kata hati dokter Dion, dan Taksa mendengar nya menyimpulkan jika laki-laki ini adalah sahabat Taksa.
Setalah 15 menit, Qiana bangun, ia melepas jarum-jarum yang menusuk bagian-bagian tubuh nya, ia langsung turun dari tempat tidur, kondisinya langsung pulih, langsung bergegas ke kamar mandi bersih-bersih selama 5 menit, ia mempersingkat waktu sebab kekasihnya saat ini menunggu.
"Ya tuhan pengobatan akupuntur sudah jarang ada bisa dibilang sudah langka, Anda memang orang hebat nona, cuma waktu 15 menit ia sudah sehat, sungguh wanita yang paling pantas bersanding dengan Taksa "
"Anda belum mengenal nona tuan, jika anda mengenal nona, maka anda akan meminta menjadi anak buah nona kami" ucap Kanzia dingin
Penampilan Qiana saat ini sangat segar, dan penuh pesona, dokter Dion pun sampai terpesona, sudah hilang aura kerapuhan Qiana.
"Kau telpon mulin dan Rafael suruh dia menungguku di atap gedung hotel WU, dan kau Yury pantau terus keadaan papamu "
"Aku mohon kau harus bertahan Taksa"
...* * * *...
Suasana kamar hotel yang sangat mewah itu dengan penerang yang Remang remang, membuat suana amat tenang.
Taksa yang merasakan panas nya obat perangsang membuat otaknya hampir dikuasai gairah
Sedangkan di belakang tubuhnya ada sepasang bakpau yang sedang menantangnya untuk dimakan , sebab bakpao itu tidak terbungkus itu tertempel dipunggung Taksa meski masih berbungkus kemeja yang basahnya.
Sesaat Taksa terlena dengan sentuhan tangan wanita dibelakang nya yang tak ia tau identitas nya.
Tangan wanita itu dari belakang mebuka satu persatu kancing kemejanya, Taksa yang sudah dikuasai oleh obat perangsang pikiran nya sudah tak bisa memikirkan hal jernih lagi.
Disaat tangan wanita itu turun ke celana, dan berusaha membuka Gasper mahal Taksa, " tak " bunyi Gasper itu menyadarkan Taksa .
Taksa menarik tubuh yang menempel di tubuhnya ia langsung menghempas ke lantai.
"Buk ..... ****** mana yang berani mencari masalah kepada ku" kata Taksa dingin.
" Ta-ksa bagaimana kau sa-dar" Jenita syok akan kesadaran Taksa.
"Aku akan menghanckan mu jalan, berikan obat penawarnya"
"Taksa, obat penawarnya hanyalah bercinta"
Amarah Taksa mencuat, tubuhnya yang panas bercampur amarah yang amat besar,
__ADS_1
Ia menarik tubuh Jenita, dengan cara mencekal leher Jenita, ditekankan tubuh Jenita ke dinding kamar
"Kau ingin bercinta denganku ******??"
"Ia satu kali saja, setelah ini aku tak akan mengganggumu,, lepaskan Ta-ksa a-ku ti-dak bi-sa berna-fas" jawab Jenita terbata-bata, sambil meneteskan air mata sebab ia takut melihat kemarahan Taksa, karena Taksa semakin mencekam leher jenita.
" Uhuk..uhuk..." Jenita ter batuk setelah Taksa melonggarkan cengkraman di lehernya
" Hahhahahaha" tawa dingin Taksa
"Setelah malam ini kau yang akan memohon padaku untuk bercinta denganku" ketawa Jenita dalam hati, ia merasa ada kesempatan memiliki taksa.
Ia menghempaskan tubuh Jenita kelantai,
"Sayangnya aku tak pernah berminat dengan tubuh mu ini, lebih baik aku mati untuk menghentikan efek obat sialan ini" teriak Taksa...
" Prang... Taksa menarik sebuah lampu tidur untuk melindungi dirinya, ia menggores kaca lampu ke tangannya agar kesadaran nya kembali.
Darah berceceran menetes di lantai kamar, ia harus meninggalkan tempat itu, yang pertama ia harus mencari pertolongan, sebab tubuhnya sudah tak kuat.
"Maafkan aku sayang jika aku tak memenuhi janjiku kepadamu, efek obat ini benar-benar bangsat"
Ketika Taksa sudah didepan pintu, ia berusaha membuka pintu tetapi sayang pintunya terkunci dari luar.
Jenita yang sedari tadi memperhatikan kondisi Taksa , ia menunggu obat itu menguasai Taksa 100% , ia yakin Taksa pasti akan masuk kedalam pelukannya,
Rubuh Taksa terasa semakin tak terkendali, meski ia telah melukai tubuh nya , tetap saja efek obat itu semakin lama akan menguasainya.
" Buk " Taksa tumbang sebelum mendobrak pintu itu.
Yang melihat Taksa pingsang, akibat melawan efek obat, Jenita bersorak gembira dalam hati.
Ia membawa tubuh Taksa ke atas tempat tidur , Jenita membuka celana panjang Taksa, ia bersorak bahagia melihat tubuh telanjang Taksa
"Saatnya kita berpesta sayang, aku akan memaafkan mu atas perbuatan kasar mu kepada ku, tubuh mu sangat indah sayang."
Ia meraba-raba tubuh Taksa dari atas hingga bawah, ia merasa harus menyingkirkan bokser ketat milik Taksa , tangannya membuka jeruji kain si Jery yang saat ini kesurupan.
Ketika kepala si Jery hampir ke lihat sebelum kegaduhan dari arah luar terdengar,
" BRAK "
Seseorang dari arah luar menendang pintu dengan sekali tendangan .
^*J**angan lupa Vote dan like nya para reader kesayangan author, sebab like , Vote, komentar kalian adalah penyemangat author, jika author mendapatkan dukungan dari kalian author tambah satu capter lagi*, ^
^^^~To be continued^^^
__ADS_1