
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Bayi Ken langsung terdiam ketika tangan Kakek Buyut nya menyentuhnya anggota tubuh, tangis rewel bayi itu langusung terdiam, malah saat ini bayi itu di gendong mendapat ke depan dengan anteng.
Setelah melakukan serah terima sang bayi, Qiana langusung masuk kedalam kamar dimana dokter tengah memeriksa sang suami.
BRAK ... BUK ... Pingsannya dokter Dion bersamaan dengan Qiana membuka pintu.
“Sayang! ada apa ini?” tanya Qiana semakin khawatir.
“Sayang ... Sepertinya sakit ku parah! Si kampret itu setelah membaca hasil pemeriksaan ku langusung pingsan!” Taksa semakin dag dig dug der melihat dokter pribadinya pingsan.
Wajah Taksa pucat pasi seperti aliran darahnya tersumbat, matanya berkaca-kaca. Ia tak sanggup menerima kenyataan.
Qiana yang bisa membaca pikiran orang tak sanggup mencuri start untuk mencari tau keadaan suaminya dari pikiran orang, ia tak sanggup mendengar penyakit yang di derita suaminya.
“Kalian bawalah Dokter Dion ke kamarnya, setelah sadar suruh dia kemari!” ucap Qiana kepada semua dokter.
Setelah para Dokter keluar.
Qiana langsung memeluk suaminya yang melow itu, pelukan mereka sangat erat, “Sayang janganlah khawatir. Lihatlah aku!” Qiana menarik wajah suaminya dengan penuh kasih sayang, “Kau, mempercayai kehebatan ku kan?” tanya Qiana.
Taksa menganggukkan kepalanya, “Bisakah kau menyembuhkan diriku sayang?” tanya Taksa penuh harap.
“Dengar baik baik! Aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkan mu! Meski aku harus membunuh orang sekalipun untuk ku ambil organnya demi kesembuhan mu akan aku lakukan.” bisik Qiana berusaha kuat.
“Jika aku tak bisa diselamatkan apakah kau bisa berjanji kepadaku sesuatu sayang? tanya Taksa.
“Apa itu?” tanya Qiana mengerutkan keningnya tak suka dengan ucapan sang suami.
“Jika aku meninggal bisakah kau menyisakan ruang hatimu untuk ku? Meski suatu saat ini kau sudah memiliki tambatan hati yang lain dan ....,” Ucapan Taksa langsung terputus karena Qiana menarik bibir suaminya lalu memungutnya tipis tipis makin lama makin rakus.
“Hubby” panggil Qiana Setelah melepas tautan bibirnya.
“Kenapa sayang?” tanya Taksa memandang wajah cantik sang istri.
“Tidak hubby, aku menginginkan mu?” ucap Qiana.
“Kau menginginkannya sayang?” ucap Taksa memandang wajah sang istri penuh kasih sayang.
“Ia hubby, aku akan memimpin. Kan kau akan lagi lemas!” ucap Qiana, tangannya ia kalung kan di leher sang suami.
Lagi lagi Qiana yang memulai ritual penyatuan bibirnya dengan milik sang suami dengan penuh perasaan, mereka saling mencumbu dan saling memuaskan, seakan itu adalah ritual terakhir mereka.
“Aku akan menikmatinya siapa tau besok aku mati, bisalah aku buat bekal agar didalam kubur gak pengen ritual lagi!” ucap Taksa dalam hati ia menghibur dirinya sendiri.
Qiana mendengar isi hati suaminya yang somplak ingin sekali menonjok sang suami tapi hatinya sedih takut terjadi apa apa terhadap suaminya.
Qiana langusung menerjang sang suami dengan gaya women toktok yang makin lama makin kencang, wajahnya ia melihat ke langit langit kamar, dalam rintihannya ia menangis.
Qiana menggoyang si anakonda naek turun dengan teratur, tak ada hentakan yang berlebihan karena mereka menikmati percintaan yang menghayati, tidak ada yang namanya ugal ugalan. Selama penyatuan itu mata mereka saling memandang.
“Oh sayang, I love you” ucap Taksa menusuk dari bawah dengan pelan membantu sang istri melayang, mereka selalu kompak jika di atas ranjang.
“Sayang aku akan lebih cepat, ya?” Qiana merintih.
“Siap sayang!” ucap Taksa ia semakin kencang memompa dari bawak, ketika ia mendorong si jeri tangannya mengelus perut sang istri seakan sang istri mengandung, mungkin masih gagal move on dari kehamilan sang istri.
“Sayang, akh ... Menancap sangat dalam... Akh ....” Qiana merintih ketika sang jeri menyundul di titik terdalam.
Taksa membungkam mulut sang istri dengan ciuman tangan nya memegang dapur bulat yang semakin padat.
Setelah 30 menit kemudian kembang api di perut Jery mau meledak cepat cepat Taksa memacu si jeri sedikit cepat.
“Akh ...” dua orang itu tengah berada di tahap lepasan, magma si jeri terbungkus sarung dengan rapi seperti biasa.
“Cup ... Terimakasih sayang!” bisik Taksa.
Saat ini Pasutri habis bercinta itu saling berpelukan, tubuh mereka sama-sama polos, mereka saling menyalurkan suhu tubuh satu salam lain.
__ADS_1
Layaknya anak yang sedang butuh pelukan begitulah Taksa saat ini berada di dekapan sang istri, kepalanya menelusup mencari kehangatan di antara dua buah Bakpau tak terbungkus milik sang istri yang saat ini membesar seukuran semangka kembar.
Tangan Qiana mengelus rambut sang Suami dengan kasih sayang, Qiana tau kekhawatiran Suaminya makanya ia menghibur sang suami dengan cara balapan di terowongan Kasablanka.
Tak butuh waktu lama Taksa sudah terlelap di dalam pelukan sang istri. Dalam tidurnya air mata Taksa mengalir, membuat hati Qiana teriris.
Sayang kau tak akan kenapa napa.
Itulah janjiku kepadamu!.
Akan ku arungi benua untuk mengobati penyakit yang menggerogoti dirimu.
Jika dirimu tiada! Bagaimana diriku bisa hidup tanpa mu.
Bagaimana putra kita tumbuh tanpa sosok seorang ayah.
Jika kau tiada, separuh nafasku juga terenggut.
Bagaimana aku mencari suami selain dirimu sedangkan cintaku hanya terpatri untuk mu seorang.
Jika aku haru melawan maut untuk bisa bersama mu kebali maka akan ku lawan semua rintangan yang ada.
Sedangkan diluar kamar semua keluarga sedari tadi menunggu kabar Taksa didalam kamar. Mereka semua khawatir takut terjadi kenapa napa kepada Taksa.
Karena yang di tunggu melakukan ritual dan bobok siang, yang di luar kecapekan sehingga tertidur didepan kamar sang ayah satu anak itu.
...----------------...
Tiga jam kemudian, Dokter Dion yang pingsan merangkap bobok siang tak juga terbangun.
Karena Para dokter dan Divya khawatir sebab segala macam cara dan upaya mereka lakukan tapi dokter Dion tak kunjung sadar, wajahnya sudah dibaluri mimgak kayu putih satu botol Full tetapi si calon ayah itu belum juga terbangun.
Di siram satu gayung air juga tidak sadar, karena sudah jengkel, Divya langsung mengabil kaus kaki milik salah satu dokter yang belum di cuci satu bulan, ia langsung menyumpal hidung sang suami.
“Astaga, bau sampah!” ucap Dokter Dion langsung terbangun, ia berlari kekamar mandi lalu memuntahkan apa yang ada di dalam perut.
Setelah isi yang di perut kosong melompong ia langsung mencuci wajahnya yang berminyak karena kelimanya minya kayu putih.
Dokter memandang wajah tampannya, “Astaga, Taksa!” jerit Dokter Dion frustasi. Dengan langkah seribu ia langsung berlari meninggalkan para dokter dan istrinya yang bengong melihat keajaiban si Dokter Dion.
Sedangkan di kamar Suami Istri itu kaget, Taksa langsung membangunkan sang istri. Karena mereka bum berpakaian, mereka panik. Qiana langsung mengambil kaus over size suaminya, tak lupa ia langsung memakai Bokser sang suami yang berada di depan mata.
“Tok ... Tok .... Taksa ... Taksa ...,” Ketukan makin membuat Pasturi itu kaget, mungkin jiwa mereka masih belum kumpul Qiana tanpa sadar mengenakan baju sang suami. Sedangkan Taksa menggunakan Daster ibu menyusui sang Istri.
Tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu kamar nya, “Astaga Taksa, dari tadi kami khawatir ternyata kalian main tukar peran didalam kamar”omel ibu Taksa.
“Aduhh pinggang Nenek tua ini menunggu lama, kalian malah melakukan ritual di siang bolong! Mana itu gerandong di bawah pusar tau tak mengenakan sangkar. Jika habis melakukan ritual agar tak diketahui tetangga sembunyikan dong barang bukti!.” Nenek QI langusung mengabil Kutang sang Qiana dan Cavet si Taksa yang menyangkut di lampu tidur.
Wajah pasangan itu langsung menunduk malu, apalagi mereka baru sadar jika baju mereka tertukar.
Taksa langsung menarik tangan sang istri, kedalam kamar mandi, “Hey jangan kekamar mandi, nantik ada ronde baru!” timpal kakek WU, dengan si kecil Ken tersenyum dan bertepuk tangan kepada Deddy dan Mommy nya.
...----------------...
~5 menit kemudian
Pasutri itu sudah duduk dengan pakaian yang benar tak ada yang namanya tertukar baju lagi, rasa canggung sangat terasa dikamar itu. Kecanggungan itu hilang ketika si kecil Ken menjulurkan tangannya kepada sang Deddy.
Taksa langsung mengambil putranya, “Bagaimana keadaan anda Tuan Muda?” tanya dokter Dion.
“Jujur setelah si Jeri balapan di terowongan Kasablanka energi ku bertambah, saat ini aku tak merasakan mual sedikitpun!” ucap Taksa sejujur jujurnya.
“Saya mau bertanya serius Nona Qiana! Apa setelah kelahiran Beby Ken anda pernah datang bulan?” tanya Dokter Dion.
“Aku pernah datang bulan satu bulan yang lalu, bulan ini masih belum!” ucap Qiana, ia tak berfikir jika hamil karena selama mereka melakukan ritual sang suami tak pernah melupakan pengamanan.
“Bisa meminta sampel air seni anda?” tanya Dokter Dion, rekan dokternya langsung memberikan cawan kecil kepada Qiana, lalu Qiana menerima nya.
Jantung Taksa dan Qiana sekarang seakan mau meledak, mereka curiga penyakit jenis baru yang tertular dari barang berharga mereka.
Qiana saat ini tak berani mengaktifkan kemapuan nya karena masih tak sanggup menerima kenyataan. Saat ini kemapuan Qiana semakin meningkat dulu ia tak bisa mengatur kemampuannya sehingga telinganya selalu mendengar suara hati orang, tetapi sekarang kemapuan itu bisa di matikan dan di aktifkan.
~ 3 menit kemudian, Qiana membawa secawan kecil air seni. Semua orang tegang lalu Dokter Dion membuka 20 biji testpack dari dalam saku celana, membuat seroang Qiana langsung terbelalak.
__ADS_1
Tangannya meraba perutnya yang rata. Sedangkan Taksa yang belum pernah melihat alat tes kehamilan diam serius memperhatikan benda asing. Karena pada saat istrinya hamil bayi Ken Taksa malah pingsan.
Seluruh keluarga sudah bisa menebak hasilnya tapi mereka penasaran, dan kelegaan yang mereka rasakan bawah Taksa tak menderita sakit yang membahayakan.
Tak lama kemudian semua benda itu langsung menunjukkan reaksinya dan seluruh alat tes kehamilan itu muncul garis dua, sehingga membuat semua tetua saling berpelukan.
Kakek WU dah Nenek QI yang tak pernah akur langsung berpelukan, “Anda pasti sudah tau arti dari garis dua ini Nona, selamat anda mengandung kembali!”
“Apa yang kamu bilang Dion?” tanya Taksa dengan nada dingin sehingga aura menakutkan Taksa menembus tulang belulang.
“Se ... Selamat, kau akan memiliki bayi lagi Tuan Muda!” kaki Dokter Dion gemetaran, inilah yang membuatnya takut tadi hingga pingsan.
“Katakan padaku! Demit mana yang berani menghamili istri ku? karena selama ini kami selalu menggunakan pengaman!” ucap Taksa dengan mata memerah, kali ini kemarahan si raja hutan itu tak terbendung.
“Cicit ku sayang! Ayo ikut Kakek Buyut. Tidak baik pria kecil mendengarkan pembicaraan orang tua!” ucap Kakek WU, ia sebagai biang keladi ingin kabur.
Dalam hati ia berkata, “Saham satu persen ku tak rugi, karena dapet satu cicit geratis satu cicit baru lagi!” Kata hati Kakek langsung di dengar oleh Qiana yang sudah mengaktifkan kemampuannya ketika dokter Dion mengeluarkan Tespack.
“Kakek! kakek meninggalkan Anna ketika mendengar kehamilan ku kembali!” ucap Qiana, sang suami yang mengerti ucapan sang istri mengandung makna bahwa kakeknya terlibat.
“Anu ... Anu!” Dokter Dion bingung mau bicara apa.
“Kenapa kau gagap seperti itu! Sekali lagi, sekarang katakan ke padaku! Demit mana yang berani menghamili istri ku? karena selama ini kami selalu menggunakan pengaman, Dion!” Saat ini Tangan Taksa langsung menggoyang tubuh Dokter Dion kencang hingga Dokter pribadi nya itu pusing.
Beby Ken tertawa tepuk tangan melihat sang Deddy mau mengamuk, “Nenek bisakah nenek membawa Ken keluar, dia belum boleh melihat hal kekerasan!” pinta Qiana, seperti tidak rela bayi Ken mau menangis ketika dibawa keluar dari dalam kamar.
“Lepaskan dia sayang! Jika kau semakin mengguncang tubuhnya yang ada Dion pingsan lagi, gak bagus kan jika kita menunggu orang pingsan lagi!” Qiana menasehati sang suami.
Mendengar ucapan istrinya, ia berhenti menguncang tubuh sahabatnya, “Jelaskan kepadaku, bagaimana bisa hamil katamu dulu jika aku membuang didalam istriku akan hamil, ini aku membuang didalam sarung istriku juga bunting.
“Nona bisakah saya meminta sarung si Jeri satu saja?” pinta Dokter Dion, wajahnya yang selalu menghadap tegak sekarang menghadap kebawah seperti ada Mas di kakinya.
“Sayang, bisa aku mintak tolong bilang kepada paman Desmon! Aku meminta mangkuk dan segelas air.” ucap Dokter Dion kepada istirnya.
5 menit kemudian, Sebuah sarung yang masih dibungkus dengan bersegel sudah ditangan Dokter Dion.
Tangan Dokter Dion langsung membuka pembungkus Sarung Si jeri, lalu mengisi alat kontrasepsi itu dengan air. Semua orang melihat ujung pembungkus kepala si Jeri ada bolongan kecil sekitar enam buah bolongan.
“Astaga! Bocor.” ucap Ayah Taksa.
“Dion! Dokter Dion!” Suami istri itu serempak memanggil nama dokter Dion.
Dokter Dion yang tak bisa mengelak lagi, langusung terduduk dilantai layaknya penghianat yang ketahuan aksinya.
“Jelaskan semua ini Dokter Dion!” ucap Qiana memandang intimidasi kepada dokter pribadinya.
Kalian tau disini yang paling menakutkan adalah si ratu Mafia, “Aku salah Tuan Muda Taksa dan Nona Qiana! Aku yang memberikan sarung tak layak pakai kepada Taksa.” Dokter Dion mengakui perbuatannya.
“Aku yakin ada dalang di balik semua ini!” ucap Taksa matanya melihat sang kakek yang sedang melihat ke langit kamar seperti mencari cicak dirumah mewah mereka.
“Divya ambilkan Samurai istriku!” perintah Taksa.
“Ampuni aku Taksa! sebentar lagi aku juga akan menjadi ayah. Jangan bunuh aku!” Tanpa sadar Dokter Dion ngompol karena ketakutan.
Ia takut jika mengatakan dalangnya adalah si Kakek, ia takut si kakek mendapatkan raja hutan yang lagi ngidam.
Divya membawa pedang kedapatan sang Nona...!
Kira kira apa yang akan terjadi ya selanjutnya 😂🤔
^^^~To be continued^^^
Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏
Jangan lupa
Like👍
komentar🗣️
Hadiah🎁🌹☕
Vote 🔥
__ADS_1
Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.
Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini.