
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Malam itu adalah malam bulan purnama.
Bulan menerangi bumi. Gerbong tanpa kepala kereta sedang berjalan mundur karena mereka berada di ketinggiannya di atas lembah curam penghubung kota.
beruntung gerbong tiga tempat dimana tim Rafael, menyangkut di pohon beringin yang sangat besar sehingga gerbong kereta itu bergelantungan. Guncangan membuat semua penghuni langsung terbangun.
“Ada apa ini?” Rafael sadar ketika kepada terbentur kaca.
“Kereta kita sepenuhnya jatuh dari tebing!” Zayan dengan nafas memburu.
“Nona, kita harus menyelamatkan Nona terlebih dahulu!” Wajah Toni memucat ketika mengingat bosnya tengah hamil tua.
Dengan susah payah mereka membuka pembatas kereta paling depan, ternyata gerbong mereka adalah yang terdepan, sedangkan gerbong dua dan satu tidak ada.
Kekagetan tak hanya disitu, ketika mereka mua merayap keluar, bunyi tembakan beruntun dari atas membuat kereta itu goyang.
“Bang•sat kita di kepung! Sepertinya ini adalah jebakan musuh.” Abraham marah, dengan susah payah mereka meloloskan diri dari kereta. Mereka frustasi karena tak satupun dari mereka memegang senjata, karena kejadian ini tiba-tiba.
“Bagaimanapun kita harus selamat dari disini, istri istri kita lagi mengandung dan aku khawatir kepada Tuan muda dan Nona muda! Jika kita dalam kondisi seperti ini aku yakin gerbong tuan kita tidak dalam baik baik saja.” Mulin menyemangati tim inti.
Istri ke empat pria itu tengah hamil secara beruntun, yang pertama Yumna saat ini kandungan nya 5 bulan, lalu Zia dan Alana kandungan nya 4 bulan. Kandungan Divya 3 bulan. Dan terakhir Rana hamil 2 bulan.
Dor ...
Dor ...
Dor ... Kriyek ... Kriyek ..., Begitulah bunyi tembakan dan Kereta yang tergantung di pohon.
Semakin lama pohon itu tak mampu menahan bobot kereta yang sangat berat.
“Mulin benar, istri kita tengah menunggu, bayi ku harus memiliki kasih sayang ayah!” Colvis yang pertama kelaur, karena ia sudah terlatih dalam militer dengan lihai ia keluar, tak menghiraukan tembakan bertubi-tubi, dan diikuti, Abraham, Mulin, Dokter Dion yang sudah di sediakan sebagai penolong bencana, terakhir Rafael dan di ikuti para jenius ini yang mendapati gerbong tiga itu.
“Dor ... Bang•sat ...,” Lengan Abraham terkena timah panas.
“Jika aku keluar dari sini aku akan mencincang tubuh mereka!” Rafael juga terkena timah panas di pahanya, hampir mengenai barang berharganya.
Sedangkan yang berada di ujung kereta anak buah Qiana memilih terjun menggunakan pelampung karena di gerbong ujung terdiri dari senjata pelindung mereka jika urgent, tetapi banyak juga yang tewas kerena tembak dashyat itu.
Dor ... Kepala Mulin hampir saja tertembus timah panas untuk ia langsung mengelak sehingga melukai pipinya saja. Seperti tercium peluru begitulah Mulin saat ini.
“Sith ... Mereka membawa penembak jitu.” Zayan dan Xiever yang ahli dalam beladiri.
“Oh, bagaimana kita akan lolos jika kita tidak membawa apa apa!” ucap Colvis.
“Ambillah pistol ini, Senjata kita hanya ada empat karena aku dan Xiever hanya membawa pistol dua dua kemana pun kita pergi, dan ambillah tali untuk menjerat leher musuh” Zayan memberikan pistol itu kepada Abraham dan Colvis karena disini yang paling mahir adalah dua orang itu dibanding Rafael dan Mulin yang memang lebih jenius dalam dunia putih.
Dor ... Abraham langsung membidik musuhnya dan menewaskan seorang musuh yang menembaknya.
Dor ... Dor ... Dor ..., Pertarungan tembak semakin sengit. Mereka mengahbisi seluruh musuh yang ada disana karena empat orang itu adalah penembak jitu.
Sedangkan Rafael, Toni dan Mulin berjalan mengendap-endap agar tak di ketahui musuh. Karena seperti yang mereka rasakan jika musuh sudah tersebar di seluruh tempat itu.
Mereka dengan kompak turun dari atas pohon lalu menjerat leher musuh mengabil pistol musik lalu membantu sahabatnya yang berperang di atas.
Bunyi 3 helikopter di udara membuat empat pria itu melihat keatas cakrawala, puluhan musuh satu persatu turun.
“Sialan kita kehabisan peluru!” Teriak Abraham.
Musuh semakin banyak mereka berada dalam keadaan keritis senjata.
“Sayang jika aku tak bisa selamat dari sini tolong maafkan pria tak berguna ini” ucap Colvis mengingat Zia istrinya, tadi ia berjanji untuk melindungi adiknya sekaligus orang yang paling berharga di hidup istirnya, karena hamil muda dan mengidam parah Zia tak bisa ikut mendampingi sang Nona.
“Mungkin ini adalah terakhir kali aku bernafas, maafkan aku sayang. Aku tak menepati janjiku untuk melindungi mu selamanya.” air mata Rafael tak bisa di bendung mengingat sang istri.
“Alana maafkan aku, maafkan pria tua ini yang membuatmu menjadi janda hamil! Aku tak bedaya. Tuan Muda maaf saya tak becus menjaga anda!” Mulin begitu marah kepada dirinya, ternyata ia tak cukup kuat menjadi pelindung bosnya.
“Kenapa harus sekarang tuhan, aku ingin merasakan kebahagiaan yang sangat besar tetapi kau tak pengabulkan nya, anakku akan menjadi sepertiku yatim sedari kecil, ia bahkan belum pernah melihat wajahku, jika aku di berikan keselamatan aku menyumbangkan dua sepuluh persen saham ku untuk para anak yatim piatu” Abraham pun juga mulai pesimis.
“Maafkan aku Divya sayang, aku tak bisa mengabulkan janjiku untuk melindungi orang yang paling berharga di hidupmu” Dokter Dion yang tak pernah bertarung demi bertahan ia juga merampas pistol lalu menembak musuh musuhnya meski kadang tembakannya ngawur.
Di saat semua pria itu putus asa sebuah helikopter beserta sebuah kereta api berhati di lokasi kejadian.
Semua musuh kaget karena mereka sudah menutup akses kereta setelah kereta milik Taksa.
Dari Pesawat tempur itu para wanita berdiri tegap tanpa takut mereka membabat habis para musuh yang bersembunyi di semak semak dengan pistol mereka.
Orang orang siap tempur kelaur dari dalam kereta, dan terjadilah peperangan dahsyat tak terelakkan.
__ADS_1
Semua pria yang berada di pohon terkesima, lampu di dalam pesawat tempur menerangi wajah wajah seluruh wanita didalam pesawat itu, mereka adalah para wanita wanita hebat istri dari empat pria yang sedang putus asa.
Dan Ayah Taksa sebagai operator pengemudi pesawat tempur, sedangkan jari jemari Aruna dan rekanya melacak keberadaan sang Nona.
...----------------...
🔥Flashback On.
Ketika rombongan Qiana berangkat, komputer milik Alana berbunyi, menandakan jika ada nada bahaya.
Zora dan Zeta di kandang malam itu tak bisa tenang, Dengan cekatan Aluna mengumpulkan para wanita hamil untuk menyusul suami suami mereka.
Dengan modal nekat dan keberanian ibu Taksa yang sudah lama tidak bertarung langusung terjun karena ia khawatir dengan keadaan cucunya.
Menggunakan pesawat tempur, ayah Taksa sebagai pilot dan satu buah kereta ekslusif yang di boking langsung oleh ayah Taksa melengkapi trasnportasi penyelamatan. Mereka menyusul para rombongan yang berangkat lebih awal, mereka memimpin seribu Anggota Mafia Qiana di dalam kereta.
Ketika sudah di lokasi titik dimana gerbong berada mereka sudah menemukan gerbong tiga sampai tujuh jatuh di jembatan kayang tengah bergelantung. Dan kondisi itu sangat memprihatikan.
🔥Flashback off.
Harapan di mata para pria yang putus asa langsung kembali. Tali tambang di lemparkan kearah para pria, dengan sigap para pria itu menaiki tali tambang satu persatu hingga seluruh pria inti itu masuk kedalam pesawat..
Sedangkan para anggota didalam kereta membersihkan musuh yang bertebaran, setelah itu mereka berjalan mengikuti pesawat tempur di atas mereka, mereka menunggu para pasukan wanita yang berada di udara untuk mengetahui keberadaan sang bos.
Setelah para pira masuk kedalam kereta para istri langsung memeluk tubuh suaminya sambil meneteskan air mata, apalagi tubuh para pria sudah babak belur karena tembakan dan luka di sekujur tubuh.
Mereka di sidang oleh para istri untuk mengorek informasi keadaan yang menimpa kereta mereka.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan angka 05:00, sudah 3 jam mereka mecari lokasi titik terang gerbong kereta. Karena lokasi sudah diretas oleh pihak musuh mereka sedikit sulit mencari keberadaan Qiana.
BOM ....
Bunyi Bom membuat dada semua orang bergemuruh, ketakutan menggerogoti jiwa mereka.
“Tidak ... Nona!” Jerit Zia ingin melompat ke kobaran api.
Semua orang takut jika yang meledak adalah gerbong kereta milik Qiana karena lokasi berada di lintasan kereta di pinggiran hutan.
Satu persatu orang turun ke lokasi, dengan mata memerah, aura menyeramkan Zia langsung menembak para musuh yang ada disekitar Ledakan.
Dor ... Dor ... Dor ..., Ia tak memandang musuh atau kawan, jika berada di depannya akan mati seketika.
jika peluru habis maka ia akan menarik samurai di punggungnya. Tak hanya Zia semua orang yang menyaksikan kobaran api mengamuk menghabisi siapa saja.
2 jam kemudian Api padam, Mereka semua terduduk di tanah.
Mungkin alat peretas musuh sudah dikuasai oleh Aluna, sehingga titik sinyal Qiana terdeteksi, Zora dan Zeta yang di kerangkeng di dalam pesawat membobol kerangkeng itu lalu kelaur ke lokasi.
Mata dua binatang itu memancarkan kesedihan yang mendalam.
“Nona masih hidup, sinyalnya berada di tengah hutan ini” teriak Aluna.
“Aaauuuuunggg .... Gerrrr” Begitulah auman dari dua harimau yang sangat menakutkan.
Semua orang langsung terbangun. Dengan semangat para binatang itu langsung masuk kedalam hutan.
“Zora, Zeta ... ” teriak Aruna.
Semua orang langsung memasuki hutan.
“Sepertinya di dalam hutan habis hujan” celetuk Dion, mereka mengikuti Aluna yang mengejar Zeta dan Zora, karena titik keberadaan sang Nona kearah kemana dua binatang itu berlari sambil mengaum.
“Kau bener, tapi entah mengapa hanya di dalam hutan hanya ada hujan, dua binatang itu berperan seperti anjing pelacak saja.” Abraham salut kepada dua peliharaan adiknya
Seperti memanggil sang majikan dua binatang itu tak berhenti mengaum hingga 3 jam lamanya mereka memasuki hutan. Sampai dua binatang itu melihat Qiana.
...----------------...
Qiana terbangun dari tidurnya melihat kesamping suaminya sudah tidak ada. Ia merasakan gerah apalagi darah di goa nya yang longsor semalam tembus begitu banyak.
Akibat ia meminum obat pembersih, semua darah kotor keluar tanpa di geruk oleh dokter. “Selamat pagi Ken! ... Cup” ia mencium kening sang putra dengan penuh kasih sayang. Qiana memanggil putranya Ken.
Sang ibu mengelus sang bayi yang merah, tapi gerakan sang ibu tak membangunkan Si bayi yang tengah tertidur pulas dalam terbalutan sweater sang ibu.
Matahari yang menyinari gua itu membuat terlihat jika wajah putranya persis dengan sang ayah.
“Dasar curang, Mama caper capek mengandung tetapi tak sedikit wajahmu mirip Mama! Tetapi kau sungguh hebat boy, jika bukan dirimu membangunkan Mama mungkin kita sudah tiada ... Cup” Qiana mengecup kening sang putra sehingga bayi tanpan yang mungil itu menggeliat.
“Mari mencari udara segar dulu!” Qiana berjalan keluar goa, kaki kecilnya berjalan sambil menimang bayi Ken. Sehingga matanya melihat sungai jernih.
__ADS_1
Qiana meletakan sang bayi di atas batu lalu, ia melepaskan baju yang melekat ditubuhnya menyisakan tantop alias dalaman agar tak telanjang bulat ketika mandi di alam terbuka. Tak menunggu waktu lama ia langsung melompat ke dalam air untuk membersihkan tubuhnya.
matanya tak berpaling mengawasi sang putra yang terdiam anteng meskipun si bayi sudah terbangun.
Sedangkan Taksa yang tak melihat istrinya, seperti kesetanan mencari, ketika ia sampai di hilir sungai ia melihat seseorang berenang.
Wanita cantik keluar dari dalam air membuat hati Taksa yang ketakutan langusung lega seketika.
“Sayang!” Taksa langsung mendekat kearah sungai besar tempat sang istri berada, matanya melihat di sebuah batu besar. putranya juga tersenyum meski matanya masih tertutup.
“Sungguh aku sangat takut ketika tak melihat mu di gua sayang!” ucap Taksa jantung nya bergemuruh.
“Maaf hubby, Ketika aku terbangun darahku sudah mengotori akar bawah tubuh ku, maka aku mengajak Putra kita keluar dari sana” Qiana keluar dari dalam air.
Meski perut sang istri membuncit tetapi tubuh Qiana masih sama tetap seksi.
“Mandilah sayang, Ken biar bersamaku” Taksa mengangkat tubuh putranya.
Qiana duduk di atas batu, ia bersemedi memejamkan matanya, menyerap Qi di sungai itu karena semalam ia berada di kondisi terlemah.
“Tuhan aku tahu jika keberuntungan ku berada di gunung, air adalah kehidupan ku, sekali lagi airmu dan hutan memberikan ku kehidupan yang baru.” Qiana.
Senyum Qiana terukur Ketika membuka mata melihat suaminya tengah menimang putranya.
Auuummm ... Gerrrr ..., Bunyi binatang buas mengagetkan suami istri itu. Dengan sigap Taksa langsung siap siaga melawan musuhnya.
Sedangkan wajah Qiana langsung berbinar, “Mereka datang menjemput kita sayang!” ucap Qiana.
Dan benar yang Qiana ucapkan bahwa semua keluarganya datang menjemput yaitu mertuanya, berserta ipar ipar yang memang semua pada hamil.
Binar matanya semakin berbinar ketika dua binatang kesayangan dirinya berlari mendekatinya lalu melompat kedalam air mendekati sang tuan.
“Hey kalian tak boleh menyeruduk istri ku, lihatlah dia habis melahirkan” ucap Taksa kepada kedua binatang.
Seperti mengerti dua binatang itu memeriksa perut Qiana dan matanya melihat kearah Taksa dimana suami Nona nya tengah menggendong bayi dalam pelukan nya.
Qiana langsung bangun dari dalam air, langusung memakai kemeja suaminya sebelum orang orang sampai ke tempat mereka.
Sedangkan dua binatang itu mendekati Taksa menarik bokser impornya sang bos karena mereka ingin melihat si bayi yang berada dalam gendongannya.
“Dasar tak sabaran” ucap Taksa menyunggingkan senyum, ia seperti seorang ayah yang membawa adik untuk anak anaknya.
“Taksa!” teriak sang ibu dengan tangis haru melihat putra dan menantunya masih hidup.
Semua orang menangis, Abraham langsung memeluk sang adik, Rana juga mendekati Qiana dengan hati yang bahagia.
“Dek mana perut besar mu?” tanya Abrhaam, ia tak merasakan perut buncit adiknya.
“Sudah ku keluarkan kakak” jawab Qiana ambigu.
Oek ... Oek ... Oek ..., bayi tampan yang di dekap oleh ayahnya itu menangis kencang, mungkin ia iri karena kehadiran masih belum di sadari.
“Cucuku!” Ibu Taksa langusung melepaskan pelukannya, ia baru sadar jika putranya tengah menggendong bayi.
Tangan Ibu Taksa bergetar, semua menangis haru melihat seorang bayi mungil yang terlahir tak satupun dari Keluarga yang menunggunya.
Wajah wajah sedih itu berubah bahagia ketika melihat si pangeran WU mereka telah lahir ke dunia dengan selamat.
“Kapan dia lahir?” tanya ayah Taksa.
“ Tiga jam yang lalu ayah, bayi itu penyelamat hidup kami, dan dengan tangan ini aku menangkap tubuhnya Ketika istriku melahirkan di dalam gue itu!” tunjuk Taksa kepada Gua sempit yang hanya bisa di masuki dua orang saja .
“Selamat menjadi ayah bro” Dion memeluk tubuh sahabatnya yang lebih bersinar dari sebelumnya.
“Terimakasih!” jawab Taksa, dan satu persatu orang mengucapkan kata kepada suami istri itu.
“Mari kita pulang, setelah ini kita akan memusnahkan musuh kita hingga ke akar akar akarnya, agar di masa mendatang anak anak kita tak menjadi sasaran balas dendam!” ucap Qiana kepada semua orang.
^^^~To be continued.^^^
Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana 🙏🙏🙏
Jangan lupa
Like👍
komentar🗣️
Hadiah🎁🌹☕
Vote 🔥
__ADS_1
Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.
Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini