
π Maaf promosi dikit emak minta dukungan nya untuk karya di atas, Lagi sangat sangat membutuhkan dukungan kalian pembaca karya emak..
Like dan komentar dsb..
sangat berharga agar karya emak tak melas melas amet berdiri di entri bersama pejuang lomba
emak kasik satu cuplikan karya baru emak.
bagi yang sudah mampir di sana emak ucapkan banyak banyak terimakasih.
yang belum mohon sudikah kalian mampir di karya receh emak yang ini...
Terimakasih semoga dukung kalian untuk emak di ganti dengan rejeki yang melimpah oleh yang maha kuasa.
Eps 10. tuntutan adil untuk Geffen
ππππ
Siri Yuki tertidur meringkuk seperti udang, ia baru tertidur selama 3 jam. semalam ia merenung memikirkan semua keajaiban yang terjadi pada dirinya.
Dari ia terjatuh ke dasar danau, lalu jawanya berpindah ke zaman modern yang semalam Nun jabarkan dengan detail.
Semua ini serasa seperti mimpi yang panjang untuk Sri Yuki.
Jalan hidup Sri Yuki seperti skenario yang sudah di atur ketika dirinya merasakan sebuah sebuah harapan untuk melangkah bersama orang yang ia cintai di zamannya dulu.
Baru berapa jam yang lalu ia berencana memulai hidup baru dengan sang pujaan hati. Dengan waktu yang singkat pula tuhan menghempaskan nya ke dasar jurang yang sangat dalam.
" Uh, Kriuk,,,,," lenguhan dan bunyi perut Sri Yuki berbunyi berbunyi bersamaan.
__ADS_1
Mata Sri Yuki terbuka tiba-tiba, sekelebat ingatannya tentang bisikan wanita jahat yang berkedok sodaranya sesuai apa yang di jabarkan oleh Nun jika dirinya dan Maya adalah putri dari keluarga yang sama.
Sri Yuki memukul dahinya yang terluka, "Plak....Aduh sakit aku lupa jenong ku (dahi) tercium meja semalam,"
"Bukanya di cium suami malah di cium meja, nasib..... nasib.....,''
"Nasibmu sungguh tragis Sri...Sri, apa dulu pas aku lahir kaki dulu keluar?, apes bener nih hidup" Rutuk Sri Yuki pada dirinya.
" Sebentar, Sebentar dulu, gara gara memukul dahi, aku hampir melupakan semut rangrang di gubuk ku ini". ucap Sri Yuki langsung bangkit turun dari ranjang.
Tangan Sri Yuki langsung memegang handle pintu, tiba-tiba ia urungkan, " Dari pengamatan ku, sepertinya semut rangrang itu ingin suamiku menyakitiku, lalu menendang ku dari posisi permaisuri akang mas Geffen," tangan Yuki ia taruk di bawah dagu, dengan kakinya yang mondar mandir seperti setrika dipakai.
"Wah, bibi itu mau macam macam dengan ku rupanya, dia tak tau jika yang di hadapinya saat ini bukan Yuki siapa tadi aku tak ingat susah amet nama orang jaman sekarang?, berbeda dengan nama orang jaman dulu, yang hanya singkat saja contohnya Srikandi, Paijo, Martono, Tukiyem, Tekono semua gampang gampang, karena nama suamiku susah, aku menghafal nama kakang mas dalam satu jam lamanya kemarin."
"Jangan panggil aku Sri jika tak bisa mendepak si semut rangrang, kagak ada sodara jika sudah berurusan sama si selir jahat. Malu dong putri dengan prestasi menaklukan 15 semut rangrang istri Ayah Handa, bahkan ke15 selir ayah Handa saja memilih menghindar jika bertemu denganku, apalah seekor semut rangrang macem Bibi Mayang itu" Setelah mengucapkan kata kata semangat pada dirinya, Sri Yuki menghirup udara lalu melepaskan selama tiga kali.
"Ceklek" Sri Yuki melihat ke kanan dan ke kiri seperti maling melihat keadaan sebelum beraksi.
Kaki Sri Yuki langsung keluar masih menggunakan baju tidur semalam.
"Sayang turunkan aku, aku tidak enak jika kakak meliahat kita seperti ini, kau harus menghargainya sebagai istrimu juga" Ucap Maya sangat manis seakan di dalam mulutnya ada pabrik tebu, ia tau kedatangan Sri Yuki, dan sengaja memperliahatkan adegan penuh kasih mereka di depan rivalnya itu.
"Sayang kau lagi sakit, ayo buka mulut mu, semalam kau pasti mendapatkan luka, aku tak ingin kau kenapa napa, Jagan membahas wanita gila itu disini" ucap Geffen penuh perhatian.
Sedangkan Sri Yuki meliahat pasangan itu sedang mengumbar kemesraan didepannya, merasa kegerahan di hatinya, mungkin jika ia punya jenggot sudah terbakar tuh.
Tiba-tiba sepasang tangan menutup matanya, lalu sebuah bisikan terucap ditelinga yuki."Jagan lihat mereka, mari kita pergi aku akan mengajakmu ke suatu tempat".
Tangan Sri Yuki langsung memegang kedua tangan orang itu yang tak lain Gionino, " Nino aku lapar, dan aku tidak apa apa, hanya seekor semut rangrang seperti Bibi pemilik moci sebesar kelapa itu, Sri tidak takut" ucap Sri Yuki pelan.
Nino membisikkan kata lagi di telinga Sri Yuki, "Siapa yang kau bilang semut rangrang Sri?".
"Itu Bibi selir suamiku, kau tak lihat rambutnya yang kuning seperti terbakar, seumur hidup tidak pernah melihat rambut manusia seperti itu, apa manusia berambut seperti itu keturunan campuran manusia dan jin ya Nino?" Tanya Sri Yuki dengan polos.
__ADS_1
" Hahahhahahahaha " Nino langsung melepaskan tangannya dari mata Sri Yuki, ketika mendengar ucapan polos si Sri.
Geffen yang sedang makan dengan Maya sudah tak tahan melihat istri pertama dan adiknya romantik romanti-san bak di film India tinggal adegan tangan si Adam belum bertengger ganteng di pinggang si cewek, "BRAK".
" Pagi pagi sekali kau sudah datang kesini, dan kemana para dokter dan suster itu?, kenapa satupun dari mereka tidak nongol batang hidungnya?" Ucap Geffen tanpa menoleh kepada sang istri.
"Meraka sudah aku kembalikan kerumah sakit." Ucap Nino, lalu ia menyambung percakapannya, "kak Kau bukan tuan muda Taksa WU yang berkuasa se-Asia, jika kau sudah setara dengan tuan muda Taksa maka aku tidak menghalangi apapun yang kau lakukan, dan aku disini mulai sekarang adalah sebagai dokter pribadi Sri maksud ku Yuki, itu permintaan mama pribadi kepadaku tadi pagi" ucap Nino. ia yang mengingatkan gelar dokter muda kepada sang kakak, usia mungkin 24 tahun, tapi ia terbilang dokter genius karena menyandang gelar dokter pada usia 20 tahun.
"Mas turunkan aku kasian kakak meliahat kita seperti ini, kau harus adil kepada kami loh mas" ucap Maya, ia ingin membuat Yuki sedih dengan penolakan Geffen setelah ini.
"Paman benar apa kata bibi, kau harus adil kepadaku, aku istrimu juga kan?, jika kau menyuapi Bibi, maka kau harus menyapi aku juga" Ucap Yuki langsung duduk di sebelah Geffen yang lagi memangku Maya.
Sikap yang di perlihatkan oleh Yuki membuat bumerang sendiri di batin Maya, "Dasar Wanita tak tau diri, kenapa sikapnya bisa berubah" ucap Maya dalam hati, tangan Maya langsung terkepal di bawah meja, dan semua tingkah Maya tak lepas dari perhatian Yuki.
"Paman aku menerima selir mu, ayah Handa ku saja adil kepada 15 istrinya, masak paman cuma punya istri dua tak adil, jika paman ingin memangku bibi, maka paman pangku lah aku juga, seperti paha mapan cukup kokoh jika memangku dua dapur, dapurku dan dapur si bibik, kan bibi juga mengusulkan paman harus berbagi dengan adil" ucap Sri Yuki, seakan menampar tepat di wajah Maya.
Sedangkan Maya langsung turun dari pangkuan Geffen, Wajahnya seakan panas seakan mau meleh karena mempertahankan senyumnya, " Ah benar kata kakak mas, terimaksih kak sudah menerimaku menjadi istri kedua mas Geffen," Maya langsung memeluk Sri Yuki.
Geffen melihat kedua istrinya berpelukan ia sedikit merasa lega, setidaknya ia saat ini jika menginap di rumah Maya, Yuki tidak mempermasalahkan, malah semakin mulus lah rumah tangganya dengan dua istri sekaligus.
Yang satu istri pilihan orang tuanya dan yang satu istri pilihan hatinya.
Maka makin gampang lah ia untuk mendekatkan keluarganya dengan Maya.
Tanpa Geffen sadari dua orang yang sedang berpelukan itu berperang halus.
" Kau mau main main dengan ku ya gadis kampung? " bisik Maya.
" Aku hanya mengikuti saran bibi " ucap Sri Yuki santai.
Yuki langsung mencubit pinggang Maya kecil lalu memelintirnya, dan itu rasanya sangat Hot," Dan ini adalah balasanku untuk mu karena luka di kening, jika kau berteriak maka sifat aslimu akan ketahuan, dan lihat semua orang tak melihat kelakuan ku".
Maya menahan sakitnya cubitan Yuki, "Awas Kau," lalu cara peluk dan memeluk sepasang madu itupun berakhir.
__ADS_1
^^^...~To be continued...^^^