
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
...~•^HAPPY READING^•~...
...* * * * * * * ^•^* * * * * * *...
Setelah pemberkatan dadakannya tak seperti para gadis yang bajunya mau di lepaskan oleh para Maid, Divya langsung masuk kedalam kamar pengantinnya.
Iya masih tak percaya dengan pernikahannya yang mendadak ini, untuk mendinginkan kepala ia langsung melepas semua pakaian nya, ia berendam air hangat agar tubuhnya relaks.
~10 menit kemudian
Dokter Dion memasuki kamar yang di siapakah untuk nya, ia mengedarkan pandangannya, ia mencari dimana istri kilatnya itu berada, karena ia mencari ditempat para wanita Ternyata Divya sudah naik.
Melihat gaun sang istri tergeletak di lantai ia yakin jika istrinya tengah mandi. Dokter Dion memasuki kamar mandi dengan hati-hati.
Ketika masuk ia melihat pemandangan indah dimana Divya tengah berendam di dalam baskom kamar mandi yang sedang di taburi bunga mawar di dipermukaan nya...
“Hey ngapain kamu masuk kesini”, teriak Divya langsung menutup mata, jantungnya bergetar melihat Suaminya sudah telan•jang bulat, matanya melihat si Romeo setengah hidup.
“Aku mau mandi juga Sayang! tubuhku gerah” Ucap Dokter Dion, ia langsung memasuki baskom tempat istrinya berendam.
Jantung sepasang suami istri berdetak semakin cepat, “Stop kau mandi menggunakan shower!” perintah Divya.
Tanpa Divya banyaknya Dokter Dion langsung masuk kedalam baskom itu, membuat gadis itu langsung menjauhkan tubuhnya di pojokan bak kamar mandi itu.
“Sayang, sampai kapan kau akan membuka hati untuk ku, aku mencintaimu. Kau adalah wanita pertama dan terakhir dalam hidupku, selama ini tak pernah sekalipun sedekat ini dengan wanita, aku ingin menikah sekali, mencintai sekali, mati pun sekali.”
“Jujur selama ini aku membuatmu kesal karena mencari simpati mu, agar kau melihat ke arahku ... Karena selama ini aku bingung cara mendekati wanita itu seperti apa.”
Divya memandang wajah tampan suaminya, “Baiklah mari kita coba saling membuka hati, tapi aku masih belum siap melakukan itu.” Ucap Divya...
“Terimakasih sayang” Ucap Dokter Dion, ia langsung mengecup kening, semakin turun hingga sampailah di bibir pink sang istri tanpa permisi Dokter Dion menyeruduk kan bibirnya dengan bibir sang istri yang ini bukan asal tempel saja tapi benar bibir mereka di kawinkan.
Divya kaget mendapat serangan itu, ia memukul punggung dokter Dion pelan, tetapi namanya juga pria, tangan dokter dion langsung menangkap pepaya milik sang istri, ia mere•mas manja si pepaya kembar dengan gerakan sensual seperti Video yang sering kakek WU berikan kepadanya.
“Dion, aku kan sudah bilang no hubungan suami istri!” ucap Yumna.
“Hanya pegang pepaya saja sayang, anggaplah ini DP dulu janji aku tak akan menusuk jika kau tak mau. doakan saja mudah mudahan aku tak hilaf” ucap Dokter Dion.
“Ta ... Tapi” ucapan Divya belum selesai bibirnya sudah di seruduk sama Dokter Dion. permainan sangat lembut dan membuai membuat pengantin itu terlena, Divya yang menolak tadi pun tak kuasa.
Apalagi tangan Dokter Dion lihai bgt memperlakukan bagian bagian tubuh istrinya yang sensitif.
Karena seperti pepatah, nafsu wanita 99, nafsu pria 1biji.
Perlakuan sang suami membuat Divya kesurupan, ia lupa jika tadi ia yang tidak mau ditusuk, saat ini tangannya tanpa permisi mengelus Romeo di bawah sana yang tengah berenang mencari dasar goa.
Setelah di rasa sang istri sudah terhipnotis dengan rayuan mautnya, sebelum istrinya sadar ia harus buru buru menusukkan Romeo agar mendapatkan apa yang di inginkan.
Begitulah pria jika meminta tak di berikan. Maka dengan cara harus mereka merayu, “Ahhh ....” Divya merintih mendapat pelepasan pertama karena di bawah sana di obok obok lembut...
Lagi lagi Dokter Dion memperlihatkan pesonanya, karena tangan satunya mempermainkan pepaya milik sang istri, dan mulutnya bermain dengan lihai.
Perbuatan Dokter Dion yang sangat lihai membuat Divya pasrah, “Dion!” desa•h Divya.
“Kenapa sayang?” tanya Dion sok polos.
“Masukan.” perintah sang istri.
“Kau sungguh nih sayang?” tanya Dokter Dion dengan nada bingung, sejujurnya hatinya bersorak bahagia akhirnya ia lepas juga perj•aka Ting tongnya. Dan anggukan kepala Divya membuat dibawah bertepuk tangan gembira.
Dokter Dion mengangkat tubuh sang istri ala bridal style, Divya yang malu langsung memeluk tubuh sang suami, dengan sigap tangan Dokter Dion menarik handuk.
Lalu membalut di tubuh sang istri, agar sang istri tak sakit serta air tak menetes ke lantai. yang akan membuat mereka celaka sebelum berperang.
.
“Cup ... Cup ... Cup ...,” Dokter mencium kening istrinya di setiap langkah kaki keluar dari dalam kamar mandi.
Mata mereka saling memandang, Dokter Dion langsung menyengat bibir sang istri dengan kaku, dan dibalas kaku juga oleh sang istri.
Sampailah di atas ranjang, Dokter Dion langsung merebahkan tubuh Divya. Mereka saling memandang, matanya Divya memandang turun ke dada lalu perut. “lihat aku sayang, Jagan lihat kebawah” bisik dokter , tangannya langsung mengambil tangan istinya untuk mengarahkan kepada sang Romeo yang siap bertempur.
Mata Divya terbelalak merasakan Romeo yang panas berkedut kedut itu sangat besar, “It...Itu”
“Rasakan saja, Jagan di lihat, katanya rasanya nikmat, Taksa yang bercerita kepadaku” bisik Dokter Dion, sambil mengecup telinga istirnya agar menimbulkan gelora na•fsu yang besar. lalu ke wajahnya berada di depan si kembar, ia langsung menyengat Zuzu kenal kopong milik buk Divya yang ia pegang tadi siang tak sengaja ia pegang...
__ADS_1
“Aaaahhhhhh, apakah muat?” jerit Divya. Ia merasakan satu buah pepayanya di sedot bergantian, tangan Dokter Dion membelai bibir bawah saing istri, memainkannya bibir itu dengan cara di obok obok manja.
“Ahhhhh... mau pipis” jerit Divya.
Ciuman Dokter Dion turun kebawah lalu bibirnya menyengat bibir bawah Divya...
Kepalanya Divya tak bisa diam, tangannya mencengkram sarung kasur, “Dion jangan dimakan! geli ... Akh ...,” Divya merintih.
“Panggil sayang baru aku lepaskan lepaskan, dan memberikan sesuatu yang tubuh mu mau sayang!” ucap Dokter Dion kepada sang istri....
“Ahhhh....Sayang aku mau turun, aku mau pipis”
Dion mendengar sang istri memanggil sayang ia langsung meraup bibir bawah isterinya semakin brutal...
“Lepaskanlah sayang”ucap Dokter Dion semakin menyedot bibir itu sehingga sari Patinya keluar.
“Ahhhhhhhhhhh” jerit Divya panjang.
Wajah Divya memerah karena sang suami meminum sesuatu yang keluar dari tubuh sensitif nya.
“Terimakasih sayang, rasanya gurih” ucap Dokter Dion, ia menyeka keringat yang membasahi sang istri.
“Nikmat bukan pelepasan pertama” Bisik Dokter Dion di telinga sang istri, membuat wajah Divya memerah karena dia yang tidak mau melakukan hubungan intim malah sekarang dialah yang meminta....
“Sekarang giliran ku sayang, apakah kau sudah siap memberikan hak untuk suamimu ini?” Tanya Dokter Dion yang sedang mengelus si Romeo bakar yang tak sabaran masuk ke dalam tungku hangat lembab milik Divya.
Divya hanya mengangguk karena ia masih di awan menginginkan sesuatu yang entah apa itu.
Mata Divya memperhatikan bagaimana si jagung di tuntun oleh si pemilik ke depan bibir bawahnya.
Yang pertama gagal karena salah memasukkan, yang ke dua kepala gundul nya kepentok pintu jadinya mental...
“Lama sekali” Ucap Divya.
“Sabar sayang, namanya yang perdana ibarat mata Romeo ini masih buta dan pintu mu di kunci” ucap Dokter Dion, keringat sudah mulai bercucuran.
5 menit hanya mencari pintu, karena kegigihannya akhirnya pintu ada di depan mata si Romeo, Dokter Dion tak membuat kesempatan sedikitpun...
Ia dengan lembut mendorong si jagung kedalam tungku dengan lembut, kepala si Romeo masuk, Dokter Dion sudah mengambil kuda kuda akan mendorong sang sahabat...
Satu ...
Tiga ...
Tok ... Tok ... Buk .... Karena kaget tanpa sengaja Divya menendang tubuh suaminya.
“Aw ... Sith ... Siapa sih yang menggangu” umpat Dokter Dion.
“Dion, kau tak apa-apa? tanya Divya merasakan tidak enak.
Tok ... Tok ... Tok ... Pintu kamar mereka semakin kencang di ketuk.
“Siapa sih malam malam menganggu pengantin saja” omel Dokter Dion.
“Dion” panggil Divya lirih.
“Maaf sayang, kau kaget ya! aku mau mengusir pengganggu ritual kita ini” ucap Dion mengabil handuk lalu menutupi tubuh bagian bawahnya, si Romeo yang hidup berdiri membuat handuk itu mengenang di depan seperti orang sunat yang di isikan rantang agar kain tak menempel pada yang luka, tetapi ini beda, yang menjadi penyangga ya si Romeo.
Ceklek ... pintu terbuka, dan terlihatlah biang keladi gagalnya si Romeo bobol gawang.
“Akhirnya kau buka juga, lama sekali!” omel Mulin kepada si tuan rumah.
“Apakah kau tak mendapatkan jatah sehingga kau menganggu ritual ku tuan Mulin” geram dokter Dion.
“Oh, ia ... aku baru ingat jika kau juga menikah, istirku berdarah dokter jadinya aku tak bisa berfikir jernih” ucap Mulin.
“Berdarah di bagian mananya tuan Mulin?” tanya dokter Dion, ia sebagai dokter tak bisa diam saja.
“Sayang!” panggil wanita dari lorong.
“Alana kenapa kau turun? kan sudah ku bilang jangan turun dari tempat tidur” omel Mulin.
“Maaf dokter Dion saya hanya datang bulan, suami saya ini berlebihan.” ucap Alana menarik tangan Mulin.
“Astaga Mulin kau masih tak ingat pada saat tuan muda heboh waktu dulu? itu karena datang bulan, Nona Alana silakan ajari suami anda yang kaku ini tentang siklus wanita” ucap Dokter Dion frustasi mengacak-acak rambutnya.
“Oh begitu ya, baikalah selamat menyambung ritualnya dokter dan jika mau keluar dari kamar mohon di tidurkan dulu itu si Romeo, mata saya sakit melihatnya.”
__ADS_1
“Dasar bos dan asisten sama sama pengganggu, nasib jika jadi dokter yang ngurusin orang sengklek seperti mereka ... BRAK” Dokter Dion menutup pintunya.
Ketika sudah masuk kedalam kamar lagi, nasib dokter Dion sangat apes sepertinya karena setelah sampai di ranjang ia mendapati sang istri telah tertidur.
Dalam hati dokter Dion menjerit, “Gini nih jika niatnya sudah tidak baik, mengambil kesempatan dalam kesempitan dari kelengahan istriku.”
Dan Malam ini Dion tertidur memeluk sang istri tanpa mengasah jarum suntiknya yang hampir karatan.
...----------------...
Semilir angin malam menusuk kulit. Rembulan bersinar menyinari bumi yang gelap gulita, saat ini pasangan suami istri lawas itu tengah duduk menikmati bintang bertaburan di langit.
“Hubby” panggil Qiana.
“Kenapa sayang, kau mengidam lagi?” tanya Taksa.
“Tidak hubby, apakah malam ini kita tak ada ritual panjang?” tanya Qiana.
“Kau menginginkan nya sayang?” ucap Taksa melihat wajah istrinya yang berada di pangkuan.
“Ia mau hubby tapi disini” ucap Qiana, tangannya ia kalung kan di leher sang suami.
Qiana mencium bibir suaminya penuh perasaan, mereka saling mencumbu dan saling memuaskan, di saksikan bintang dan bulan dua insan itu menyatu dengan kelembutan.
Didalam selimut bergoyang si anakonda maju mundur dengan teratur, tak ada hentakan yang berlebihan karena takut menyakiti.
“Oh sayang, I love you” ucap Taksa menusuk dari bawah dengan pelan.
“Sayang lebih cepat.” Qiana merintih.
“Aku takut kepalanya si kecebong benjol sayang, biar kita menikmati percintaan kita ini dengan aluna merdu” ucap Taksa, ketika ia mendorong si jeri tangannya mengelus perut sang istri.
Begitulah kasih sayang calon ayah itu yang takut menyakiti anaknya...
“Besok aku tak sabar ingin mengetahui anakku mirip siapa honey” ucap Taksa.
“Sayang, akh ... anak kita baru berusia 2 bulan mana bisa kau mengetahui wajahnya, dia masih sangatlah kecil, tunggu 8 bulan lagi ... Akh ....” Qiana merintih ketika sang jeri menyundul di titik terdalam.
Taksa membungkam mulut sang istri dengan ciuman tangan nya memegang dapur bulan yang semakin padat.
Setelah 30 menit kemudian kembang api di perut Jery mau meledak cepat cepat Taksa memacu si jeri sedikit cepat.
“Akh ...” dua orang itu tengah berada di tahap lepasan, magma si jeri terbungkus sarung dengan rapi, semenjak tau istrinya hamil si jeri tak pernah telan•jang ketika melakukan ritual peranjangan.
“Cup ... Terimakasih sayang!” bisik Taksa.
“Hubby anak anak kira kira bisa melakukan tugas mereka tidak?” tanya Qiana.
“Tenang sayang, sudah dua hari ini aku memberikan pelajaran tentang edukasi yang benar agar tak salah memasukkan barang keramat mereka, kau tau bukan kami tak ada yang memiliki pengalaman urusan peranjangan, hanya si kampret Abrhaam itu yang penakluk wanita.” ucap Taksa.
Memang benar yang Taksa bilang, Mulin selama hidupnya hanya memikirkan bekerja dan bekerja untuk Taksa. Colvis setiap hari hanya urusan militer dan mencari sepupunya.
Dion jangan di tanya lagi, dia adalah Dokter kalog tersibuk sehingga menjadikan Rumah sakit adalah rumah nya. Sedangkan Rafael cintanya hanya terpatri kepada Rana. Betapa beruntungnya para wanita yang di cintai oleh para pria itu.
Disini Mak otor sengaja meski cerita ini bergenre 21+ tetapi tak ada percintaan sebelum menikah. Akhirnya malam ritual 6 pasang end juga, kecuali Dokter Dion karena masih belum waktunya pecah tong tong nya.
“Aku besok mau mengadakan jumpa para istri aja ah, pengen tau pengalaman mereka di malam pertama” ucap Qiana tersenyum.
Kira kira besok apa yang menjadi rumpian para wanita....?🤭
^^^~To be continued^^^
...Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh emak Liana, nantik kisah cinta 5 serangkai emak akan jadikan Boncap all, Terimakasih sekali lagi sudah bertahan hingga di eps ini🤭🙏🙏🙏...
...Jangan lupa...
...Like👍...
...komentar🗣️...
...Hadiah🎁🌹☕...
...Vote 🔥...
...Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini....
...Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini....
__ADS_1
****Lope**** Yuyu all