Kehidupan Kedua Sang Putri

Kehidupan Kedua Sang Putri
ungkap cinta Qiana menimbulkan insiden


__ADS_3

...^HAPPY READING^...


Setibanya Qiana di vila ia bergegas masuk ke ruang kerja suaminya.


"Hubby kau kenapa, astaga mulin kan baru sebuh buat apa dia keliaran di tempat kita" tanya Qiana beruntun sebab yang ia melihat suaminya sedang telentang di kursi panjang sedangkan mulin tepar di lantai, mungkin si mulin terkena vertigo dadakan, dan ruangan kerja suaminya sungguh berantakan.


Mendengar sang istri sudah dirumah Taksa terbangun dari tidurnya, ia langsung menarik tangan sang istri sehingga duduk di pangkuannya "kau sudah pulang rupanya hon... sini aku akan memeriksa mu, di bagian mana para bajingan melukaimu, ayo kita kerumah sakit"


Mendengar pertanyaan beruntun dari sang suami Qiana sedikit bingung "Buat apa kita kerumah sakit hubby, ?"


Taksa langsung menjelaskan "Ayo kita visum bagian tubuh mana yang mereka lukai, aku juga ingin memeriksa mu ke psikiater terbaik di negara ini agar hati ku tenang dan tak terjadi apapun kepada mu honey" dengan raut wajah khawatir.


Astaga Qiana sedikit syok dengan tingkat suaminya yang sedikit berlebihan jika menyangkut akan dirinya dan tingkah Taksa inilah yang membuat jantung Qiana berdetak kencang dua kali lipat untuk suaminya itu.


"Hubby aku tak apa-apa , malah mereka yang saat ini membutuhkan dokter, kau lupa istrimu ini" jawab Qiana cepat.


"Meskipun seperti itu, aku masih mengingat kondisi mu yang koma kerena kau tak mampu memendam masa-masa kekerasan fisik yang mereka berikan untuk mu, aku takut jika kau bertemu mereka pisikis mu terganggu serta membahayakan dirimu sayang, dan aku....aku..."


"Aku apa hubby???" Qiana memicingkan matanya, ia tau suaminya menyimpan kegundahan lain di hati nya.


"Aku cemburu sayang, aku takut kau kembali kepada suami bajingan mu, siapa tau dulu kau ada rasa terhadapnya, sedangkan kau bersama denganku karena insiden, jika tidak ada insiden itu mungkin saat ini aku masih jalan di tempat dalam meluluhkan hatimu untuk ku sayang, entah kenapa jika menyangkut perasaan aku tak percaya diri" jawab Taksa sedih.


"Percayalah aku tidak apa-apa," ucap Qiana menenangkan hati sang suami, dalam hatinya ia berkata "aku koma karena jiwa ku berada di dunia lain hubby dan belum saatnya kau tau rahasia ku itu".


Qiana sadar jika selama mereka menjalin hubungan tak sekalipun ia mengatakan cintanya pada sang suami, sedangkan sang suami setiap saat selalu menyatakan cinta padanya, Qiana mengelus wajah tampan sang suami , "Hubby aku mencintaimu"


Taksa yang mendapatkan kata cinta dari sang istri untuk pertama kalinya langsung meleleh "Sayang apa saat ini aku sedang bermimpi" tanya Taksa yang tak percaya.


"Tidak..... kau tidak bermimpi hubby dengarkan baik-baik aku Qiana Clarisa Lavina mencintai Taksa Tyaga Danendra WU" ucap Qiana lantang.


"Mulin kau dengar kan nyonya Taksa WU ku benar-benar mencintai ku" dengan senyum 1000 Watt.


"Anda benar tuan" jawab mulin yang menjadi saksi kerompantisan pasangan itu.


Taksa langsung mengangkat tubuh sambil berlari keluar Vila meninggalkan si nyamuk mulin yang terbengong melihat tingkah tuannya yang tak mudah ditebak, ia sangat bahagia percintaan tuannya yang mulus semulus jalan tol.

__ADS_1


"Hubby kau membawa ku kemana sambil berlari menggendong ku seperti ini, turunkan aku punya kaki untuk berjalan, jika orang melihat tingkah mu saat ini, orang-orang akan mengira terjadi apa-apa kepada ku" ucap Qiana sambil mendongakkan kepalanya.


"Tenanglah hon, aku saat ini bahagia" tak terasa mereka sudah sampai di gerbang Mainson WU.


"Hey buka pintunya..." teriak Taksa kepada penjaga. penjaga yang kala itu sedang makan siang langsung tersedak.


"astaga tuan kenapa??" scurity A , lari terbirit-birit


"Kayaknya urgent nih, nona muda sampai digendong berlari oleh tuan muda ucap scurity B, menyusul temannya, langsung membuka gerbang tinggi dari dalam.


Sedangkan orang yang membuat masalah dengan santainya melewati kedua orang itu tanpa rasa bersalah, ia tak melihat ekspresi khawatir dari kedua orang itu dengan keadaan nyonya muda mereka, sedangkan Qiana saat ini kepalanya sembunyi di dada suami tercintanya.


sesampai di dalam Mainson...


"Kakek... kakek.... kakek..." teriak Taksa.


sedangkan yang di panggil lagi nyantai nonton film Korea sambil menikmati kacang tanah kesayangan nya itu mendengar panggilan sang cucu yang sepertinya urgent "Uhuk....uhuk...uhuk..." si kakek tanpa sadar menelan satu buah kacang berserta kulitnya yang berukuran besar.


Taksa yang menemukan si kakek pucat, bola matanya sampai putih, langsung menurunkan sang istri "Kek ... kek... kakek kenapa .... sayang coba kau lihat keadaan kakek sapa tau saat ini kakek mengalami sekaratul maut ..." Taksa panik ia tak mengira datangnya ke tempat ini ingin membagi kebahagiaan karena cintanya terbalaskan oleh sang istri, malah mendapatkan musibah..


Di saat sang istri memeriksa keadaan kakek Taksa merogoh saku celananya sambil mondar mandir tak tau harus berbuat apa ia sangat khawatir dengan kondisi kakeknya.


Setelah menelpon dokter Dion, Taksa langsung menelpon ayahnya..." ayah kakek yah... kakek mau meninggal" tanpa menunggu jawaban dari sebrang telon Taksa mematikan telponnya sepihak.


"Kek kakek tadi tidak apa-apa, bahkan kakek tadi pagi sarapan di vila, kenapa kakek tadi gak bilang sama Taksa jika keinginan terakhir kakek yaitu sarapan pagi dengan kami, maafin Taksa kek jika selama hidup ini Taksa selalu nyusahi kakek" Taksa menangis melihat kakek yang memegang tenggorokan nya.


Paman Desmon yang berada di ruangan itu juga langsung mengumpulkan pekerja dan menelpon asisten mulin agar kembali ke Mainson sebab saat ini Mainson sedang berduka.


*


*


*


Qiana yang kurang konsentrasi memeriksa sang kakek akibat suaminya panik berlebihan.

__ADS_1


"Sayang bisakah kau berhenti seperti setrikaan, aku jadi tak konsen meriksa kakek, kau baru pegangin kakek biar aku bisa leluasa mengecek nadinya." ucap Qiana memandang suaminya tajam.


Dengan sigap Taksa duduk di sebelah kakeknya ia memegang tubuh kakeknya, Qiana langsung memeriksa nadi sang kekek "kakek Qiana minta izin menepuk punggung kakek" Qiana meminta persetujuan dari kakeknya. Karena mendapat anggukan kepala dari si kakek , Qiana menepuk punggung kakek sedikit menggunakan tekanan "BUK ", cukup sekali pukulan sebuah kacang utuh dengan kulit nya langsung keluar dari mulut si kakek.


"Ahhh akhirnya keluar" ucap kakek lega.


sedangkan Taksa yang melihat ke adaan si kakek yang sembuh hanya dengan sekali pukulan sang istri langsung melototkan matanya," kek kenapa kau makan kacang dengan kulitnya "


Sedangkan si kakek yang sudah geram dengan cucunya, ia mengambil tongkat dan "Buk" tongkat mendarat di kepala Taksa.


"Aw... pak tua kenapa kau memukulku" Taksa mengusap kepala nya yang pening akibat ulah tongkat si kakek.


"Buk" lagi lagi tongkat itu melayang di kepala Taksa..


"Awww"


"Kau tak sadar jika teriakan mu itu mengagetkan ku sehingga aku tertelan satu buah kacang utuh cucu laknat ...Buk" sekali lagi tongkat itu melayang di kepala Taksa.


"Aw ... sayang aku di aniaya" Taksa pindah duduk di sebelah sang istri, lalu menaruh kepalanya di pangkuan Qiana.


dengan sigap Qiana membelai kepala Taksa yang kena pukulan dari si kakek.


"Sayang ku Qiana ... siap-siap lah besok kau ambil surat cerai, setelah itu kau nikah lagi dengan laki-laki waras yang pantas untuk mu" ucap si kekek memprovokasi cucu laknat itu. dan hanya di tanggapi dengan senyuman saja oleh Qiana.


"Jika kakek berani memisahkan kami, maka siap-siap lah kakek gak punya keturunan, aku akan gantung diri, maafin aku kek, aku cuma ingin membagi kebahgiaan atas ungkap cinta pertama kali dari istriku" Taksa menampilkan ekspresi wajah yang super polos.


"Cih .." kakek membatin "semenjak hadir Qiana kau banyak berubah Taksa, kau mulai hangat sekarang, mungkin gunung es Himalaya akan menjadi danau Himalaya," kakek Sanga bahagia melihat cucunya dilimpahi kebahagian.


Qiana yang mendengar kata hati kakek WU, tersenyum, sambil salah satu tangannya mengelus tangan keriput si kakek.


mereka semua menikmati sore dengan bersantai sebelum kegaduhan dari luar dengan bunyi ambulan memekikkan telinga semua penghuni mainson itu.


"Taksa dimana jasad kakek" teriak dokter Dion masuk tergesa-gesa, ia di bantu mulin dan para dokter mendorong brankar rumah sakit masuk ke mainson dengan air mata yang berlinang.


Taksa memukul dahinya "Plak.. astaga aku lupa" gumam Taksa.

__ADS_1


"Kakek gak jadi mati, malaikat mautnya cuti bulanan Dion" ucap Taksa santai, suasana Mainson tegang kembali.


^^^~To be continued^^^


__ADS_2