
...^HAPPY READING^...
Taksa meninggalkan Ruangan makan tergesa-gesa menuju kamarnya saat ini.
"Lama sekali jalannya lift ini, sudah berapa lama tidak diservis, pasti paman Desmond lupa mengeceknya, semakin tua semakin pikun saja" Gerutu Taksa,
Untung lift itu tidak mempunyai mulut jika mempunyai mulut pasti langsung ngomel "aku hanyalah mesin tuan, jika langsung naek kelantai 7 pasti anda akan mabok perjalan"
Setelah kotak persegi 4 itu sampai dilantai kamar Taksa ia langsung lari ke pintu kamar.
"BRAK!...." Taksa membuka pintu kamarnya dengan kasar. membuat 3 orang maid yang ditugaskan untuk membersihkan kamarnya oleh paman Desmond kaget, bahkan ada yang jatuh terduduk.
"STOP!.... angkat tangan kalian, kalian berdirilah di pojok jangan menyentuh apapun"
Taksa masuk ke kamar, mencari seprai di yang semalam ia lipat lalu langsung mengamankan di tangannya,
Ia membawa seprai lipat itu kebawah tempat mereka makan tadi,
"Aku harus membungkusnya bagus-bagus, sebab ia adalah kenang-kenangan dari malam pertama ku," kata hati Taksa.
"Kalian bersih kan tempat ini lagi" tanpa peduli wajah para pembantunya yang pucat seperti habis di tangkap polisi.
*
*
*
Sedangkan di lantai satu Qiana masih di tepuk punggung oleh sang kakek.
"Sayang maafkan cucu kakek, kakek salut padamu, sebab hanya berkaitan dengan mu saja ia menjadi manusia normal,"
"Kenapa kakek bilang seperti itu"
"Suamimu itu seperti patung es, tak mudah akrab dengan orang lain, dan dingin, bicara sama keluarga nya saja ia hanya berkata sepenting nya saja"
__ADS_1
"Sifatnya dulu ceria, dulu suamimu adalah korban penculikan baby sitter nya sendiri, membuat nya memiliki kepribadian yang tak tersentuh, bahkan ia menciptakan jarah yang amat jauh dengan orang-orang terdekatnya, semenjak bertemu denganmu kakek melihat pancaran kebahagiaan di wajahnya"
"Maafin kakek, menyebabkan kalian menikah tidak layak seperti ini, jujur kakek kecewa dengan diri kakek ini, sebab wanita yang mencelakai Taksa adalah wanita yang kakek kenalkan untuk Taksa"
"Sebab kakek khawatir dengan kondisi Taksa yang tidak tertarik dengan seorang wanita, ayah dan ibunya saat ini berada diluar negeri untuk kesembuhan ibu Taksa" sedih si kakek
"Kakek , apakah saya harus memanggil anda seperti itu, aku menerima Taksa apa adanya, kakek jangan pernah merasa bersalah, kita tidak tau apa yang terjadi kepada diri kita hari esok, perbekalan namaku Qiana Clarisa Lavina, aku hanya wanita yang beruntung di cintai cucu anda, aku tak punya latar belakang yang bisa dibanggakan sebab aku adalah seorang yatim piatu, dan statusku seorang janda ini serasa tak pantas bersanding dengan cucumu yang sempurna"
"Aku sudah tau tentang mu dari berandal itu sayang, semua anggota keluarga ku tak ada yang mempermasalahkan kau berasal dari mana dan status jandamu itu tak membuat kami memandang rendah, selama putra kami mencintai seorang wanita maka wanita itulah yang terbaik untuk nya" kakek WU merasa kasian dengan gadis didepannya.
"Terimakasih sudah menerima ku"
"Ada salam dari kedua orang tua Taksa, besok mereka akan pulang dari Australia untuk melihat menantunya yang cantik, setelah ibu Taksa sembuh kita akan memberikan pernikahan yang termegah untuk kalian"
"Tidak usah kek, kami merencanakan untuk sementara ini pernikahan kami akan dirahasiakan,"
"Apa si berandalan itu yang memaksamu untuk menyembunyikan pernikahan kalian??"
"Bukan kek, aku yang menginginkan merahasiakan pernikahan kami, untuk alasannya maaf aku tidak bisa memberi tahu" Qiana menunduk.
Sebenarnya Qiana adalah sosok yang tak suka disentuh oleh sembarang orang, untuk kakek WU ini ia menerima perlakuan kakek tua itu, yang tulus kepadanya, dari segi pikiran si kakek yang ingin kebahagiaan anaknya, dan cicit tidak ada niat jahat sama sekali.
"Kakek aku akan menelpon anak buah ku dahulu, aku tinggal kakek disini tidak apa-apa?"
"Pergilah sayang"
Qiana melangkah sedikit tertatih-tatih ke kursi santai kolam renang di lantai dasar, sebab ia butuh sendiri, sebab Qiana ingin tau kondisi tahanannya saat ini,
"Aw... dasar si Jery sialan, ************ ku sakit sekali, jika kakiku ber gesek satu sama lain, maka perih, awas kau jal*Ng Jenita, akan ku buat kakimu berjalan lebih susah dariku"
"Mana lagi si Jery yang besarnya tak sesuai nama nya, yang selalu membuat ku berubah tak seperti aku biasanya, aku ingin tenggelam dalam kolam ini saat ini juga" Qiana merogoh ponselnya ia menelpon para kepercayaan yang saat ini menangkap dua ekor semut yang menyinggung tau mereka.
*
*
__ADS_1
*
Sedangkan di ruang santai saat ini Taksa mencari Qiana, tetapi yang ia lihat hanya kakeknya saja.
"Kakek dimana istriku"
"Kenapa kau lama sekali"
"Tadi aku mengambil lambang cinta semalam, aku tidak ingin orang lain melihat bekas darah perawan istriku, dan aku tak akan mencucinya, maka dari itu aku turun tadi mencari bungkus yang amat bagus, dan aku simpan uang kenang-kenangan"
"Bukannya istri mu janda, kenapa ada darah perawan"
"Adalah hanya istri ku seorang yang memiliki gelar janda masih suci, sebab mantan suaminya tidak menyentuh nya"
"Wah kau sangat beruntung anak berandal, rupanya kau sangat menikmati pertarungan semalam sehingga istrimu jalan seperti itu, dan lehernya seperti macan tutul, kenapa tidak kau tutupi"
"Aku sengaja kakek biar semua orang tau jika istriku ada pemiliknya, kau jangan keras-keras istriku tidak tau dengan bekas ****** itu, sebab sedari tadi aku tak memberi kaca, jika ia tau bisa marah besar singa betinaku itu"
"Licik juga kau, berapa ronde pertarungan kalian" kepo si kakek
"Aku tak menghitungnya, saat si Jery mau maka aku langsung tancap gas, tak butuh menghitung ronde, selama si Jery terpuaskan aku mah ngikut saja
". ucap santai Taksa.
"Dasar, kau perlu membawa istrimu obat pereda nyeri, kau mau istrimu itu jalan ngangkang seperti itu"
"Aku sudah mengoleskan salep disana tadi, mungkin si Jery terlalu menjadi brandal semalem sampai terowongan Kasablanka istriku cidera,"
"Pasti bulan depan aku akan mendengar kabar gembira nih" sindir si kakek.
"Pak ada kabar gembira, aku akan menundanya untuk satu tahun saja, aku ingin pacaran dulu dengan istriku, nanti jika istri ku melahirkan aku memiliki saingan dan aku tidak rela itu untuk saat ini"
"Dasar anak sama ayah posesif" sungut si kakek
^^^~To be continued^^^
__ADS_1