
Di sekolah menengah atas, jam istirahat, Pia yang sedang duduk bersama dengan Ifraz itu memilih untuk bangun dari duduk ketika Zenia datang. Zen adalah teman Pia yang tergila-gila pada Ifraz.
"Pi, kemana?" tanya Ifraz seraya meraih lengan Pia.
"Perpus!" jawab Pia seraya melepaskan tangan Ifraz, setelah itu Ifraz merasakan rangkulan di bahunya dan mencium aroma parfum yang selalu berhasil memikatnya.
"Zen!"
"Udah lama?" tanya Zenia, gadis berlesung pipi itu tersenyum pada Ifraz yang sekarang menjadi kekasihnya.
Sementara Pia, gadis itu meremas jari-jarinya, merasa jengkel kenapa Ifraz menerima cinta Zenia, si gadis yang terkenal selalu bergonta-ganti pasangan.
"Sebel, sendirinya kalau liat gue deket sama cowok aja, selalu ngelarang!" gerutu Pia, gadis itu sekarang sudah sampai di perpus dan semenjak Ifraz kencan dengan temannya itu, Pia seolah menghindar dari mereka, merasa tidak kuat apabila harus melihat Ifraz bermesraan dengan gadis lain.
Bukannya membaca buku, tetapi Pia tertidur di perpus dan semua yang ada di sana sengaja tidak membangunkan Pia, sampai bel berbunyi gadis itu tidak mendengar.
"Astaga, di mana anak itu?" gumam Ifraz yang sedang mencari-cari keberadaan Pia.
"Apa dia masih di perpus?" Ifraz masih membatin. Setelah itu Ifraz kembali fokus pada pelajarannya, pria itu terkekeh, membayangkan Pia akan dihukum oleh guru galak yang sedang mengajar.
Sementara Pia, gadis yang duduk di sudut perpus itu menutup kepalanya menggunakan buku yang tidak terlalu tebal.
Dalam tidurnya, ia bermimpi seram.
Pia bermimpi kalau semua murid di sekolah itu menjadi zombie, hanya dirinya dan Ifraz lah yang selamat dari virus zombie tersebut.
Pia yang hampir digigit oleh zombie itu di selamatkan oleh Ifraz, setelah itu Pia memeluk Ifraz dengan sangat erat, lalu, keduanya berlari, mencari tempat aman dan baru saja Pia dan Ifraz membuka pintu sudah terlihat sosok pria gendut dengan kumis tebal sedang menatapnya tajam. Pria itu adalah guru yang terkenal galak, tegas dan tidak bisa dibantah sama sekali.
"Aaaaaaa!" teriak Pia, gadis itu merasa kalau guru killer itu lebih seram dari Zombie.
Pia segera membuka mata, terlihat perpus sangat sepi.
"Astaga, gue telat!" ucap Pia seraya segera bangun dari duduknya.
Gadis itu berlari ke kelas dan benar saja, di sana ada guru dengan ciri-ciri tersebut.
"Yang sembunyi di luar, cepat masuk!" teriak guru itu yang mengetahui keberadaan Pia.
Pia memasang wajah polos dan tak berdosa. "Maaf, saya telat, Pak. Saya diare, jadi agak lama di toilet," lirih Pia seraya membawa anak rambutnya ke belakang telinga.
"Berdiri kamu di lapangan sampai jam sekolah selesai!" kata guru matematika seraya menatap Pia.
Sementara teman-teman yang lain menahan tawa saat melihat wajah memelas Pia.
Ifraz menggelengkan kepala, "Pia... Pia!" kekehnya dalam hati.
****
Maya yang sedang dalam perjalanan Jakarta-Malang itu mengirim pesan pada anak-anak, mengatakan kalau dirinya menemani Daniel dan tidak akan pulang.
Dan setelah jam pelajaran selesai, Ifraz segera membuka ponselnya.
__ADS_1
Ia membaca pesan dari Maya, betapa senangnya, ia merasa bebas malam ini, begitu juga dengan Ken, ia ingin menginap di rumah di temannya.
Tanpa mereka tau, kalau sebenarnya Imelda sudah menunggu di rumah, Maya menitipkan anak-anak pada omahnya.
Singkat cerita, jam pelajaran telah selesai, sekarang Ifraz melemparkan tas Pia dan Pia menangkapnya.
"Ayo pulang!" ajak Ifraz.
"Gue balik sendiri aja!" jawab Pia, agaknya gadis itu merajuk pada Ifraz yang tidak mencarinya.
"Pi!" teriak Ifraz saat melihat Pia berlari meninggalkan dirinya, terlebih Pia hampir tertabrak oleh motor murid lain.
"Eh, Pia. Bareng yuk!" ajak Bima, pria yang hampir menabrak Pia.
Pia pun segera membonceng motor Bima.
"Sial, gue ajak bareng nggak mau, giliran sama cowok jelek itu mau!" gerutu Ifraz, pria itu menatap kepergian Pia dan Bima, lalu datang Zenia.
"Ifraz, lo gue cariin juga!" kata Zen seraya menepuk bahu Ifraz.
"Ifraz, lo jadi kan antar gue balik?"
"Sorry, gue ada urusan!" kata Ifraz, pria itu meninggalkan Zen sendirian di lapangan.
"Loh... loh, kok gue ditinggal!" geram Zen.
Tanpa Zenia tau, Ifraz sebenarnya mengejar Bima, tetapi Ifraz kehilangan jejak.
"Abang, lama banget sih!" gerutu Ken seraya masuk ke mobil.
"Ya kan abang nggak ngecling, belum lagi macet dikit tadi!"
****
"Bima, gue sampai di sini aja, ya!" pinta Pia seraya menepuk bahu Bima.
"Emang rumah lo di mana? Biar gue antar!"
"Nggak usah, gue sampai sini aja!"
Pia yang tidak bisa dipaksa itu akhirnya turun di halte, ia menunggu taksi dan tidak menunggu lama taksi itu datang.
Selama perjalanan, Pia yang merajuk itu memutuskan untuk menjauh dari Ifraz.
"Ok, gue nggak mau temenan lagi sama lo!" batin Pia.
Sementara itu, Ifraz dan Ken sedang merencanakan sesuatu selama Maya dan Daniel sedang berada di luar kota.
"Abang, nanti anterin Ken ke rumah Lucy, ya. Ken mau nginap di sana, mau belajar kelompok!"
"Nggak bisa, nanti abang diomelin sama mamah."
__ADS_1
Mendengar jawaban Ifraz membuat bibir Ken mengerucut.
Sesampainya di rumah, Ifraz yang sudah merasa senang itu harus menerima kenyataan pahit karena Imelda sudah menyambut kedatangan mereka.
"Cucu-cucu omah sudah pulang, cepat cuci tangan dan kaki kalian terus makan!" perintah Imelda seraya mengulurkan tangan dan kedua cucunya itu mencium punggung tangan Imelda.
"Kalau ada omah, batal hangout ini!" gerutu Ifraz dalam hati, pria itu terlihat lesu, menyeret tasnya, membawanya masuk ke kamar.
Sementara Pia, gadis itu merasa bingung, harus meminjam buku pelajaran pada siapa, karena sedang menjauhi semua teman dekatnya. Sekarang, Pia menjatuhkan dirinya di ranjang, merasa lelah, melupakan rasa laparnya, sekarang kembali tertidur.
Pia tertidur sampai Biru kembali, Biru melihat putrinya masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Pia, bangun Pia! Makan malam dulu!"
Pia mengerjapkan mata, melihat Biru yang masih lengkap dengan jas.
"Ayah," lirih Pia.
"Bangun, mandi! Terus kita makan!"
"Coba Pia punya Ibu, pasti Pia nggak kesepian," rengek Pia seraya bangun, ia berjalan ke kamar mandi.
Biru mengendurkan dasinya, menggelengkan kepala.
"Anak itu!" gumamnya.
"Ayah juga merindukan sosok wanita yang dapat mengurus ayah, tetapi hati ini tidak dapat menerima siapapun!" batin Biru.
Pria itu kembali ke kamar, pergi mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Selesai dengan itu, Biru turun dan pergi ke meja makan, di sana sudah duduk Pia dengan rambut yang masih digulung handuk.
Belum sempat Biru duduk, Pia sudah mengajak pria itu bercerita.
Pia menceritakan semua hari ini pada Biru.
"Lagian kamu, kenapa segala tidur di sekolah?"
"Ayah, bukannya belain anaknya," gerutu Pia.
"Kalau salah ya salah, masa salah harus dibela!"
"Pia nggak mau tau, ayah harus menelepon Ifraz, suruh dia kemari, bawa mapel yang Pia tertinggal," rengek Pia.
"Kenapa ayah? Kamu saja hubungi dia!"
"Ayah!" ucap Pia dengan tatapan andalannya, membuat Biru akhirnya mengiyakan.
Selesai makan malam, Biru mengambil ponselnya, menghubungi Ifraz, berharap Maya yang akan menerima panggilan itu.
Bagi Biru, mendengar suaranya saja sudah cukup.
__ADS_1
Bersambung.