Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Sebuah Rasa


__ADS_3

Ada cinta yang tak bisa digapai, tetapi, indahnya saling mendoakan akan tetap terasa.


Benar, cinta tak boleh egois, karena tak harus memiliki itu benar adanya, bila rindu terasa dan menyesakkan dada, cobalah titipkan rindu itu melalui doa, titipkan pada-Nya. Walau semakin terasa rasa itu, hanya bisa memendam.


Dengan penuh harap, doa itu tersampaikan.


****


Hari-hari sudah di lalui, hidup bersama tak membuat Pia dan Ifraz semakin dekat, Pia hanya bisa berbicara dalam hati, menyapa kesayangannya dalam hati.


Sudah sering di abaikan, membuat Pia merasa malu sendiri, sekarang, Pia memutuskan untuk diam dan mencoba membuka hati untuk lain.


Sekarang, hari libur, Pia yang merasa sudah dewasa meminta pada Biru untuk ikut teman-temannya pergi naik gunung.


"Apa?" tanya Biru yang terkejut.


Pia menjawab dengan suara lirih, "Naik gunung, Yah. Mendaki."


Pia menundukkan kepala, merasa kalau Biru tidak akan mengizinkannya.


"Kamu itu tidak pernah mendaki, memangnya mendaki itu mudah? Nanti lelah, sakit, bagaimana?" tanya Biru, pria itu yang sedang duduk di kursi kebesarannya menatap Pia yang terlihat pasrah.


Biru juga tau betul kalau Pia adalah gadis penurut, membuat Biru tak tega pada akhirnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu boleh pergi asalkan Ifraz ikut sama kamu!" kata Biru, kemudian ia menghubungi Ifraz, memintanya untuk masuk ke ruangan Biru.


Ifraz yang sedang bermain gitar di kamarnya itu segera menerima panggilan itu, walau tak menjawab, Ifraz segera keluar dari kamar.


Sekarang, Ifraz mengetuk pintu ruangan Biru dan Biru menjawab mengatakan untuk masuk.


Ifraz yang baru pertama kali masuk ruangan itu langsung melihat kearah foto besar, foto keluarga Biru dan terlihat Ifraz masih kecil, pertanyaan Ifraz adalah, dimana Pia? Mengapa dia tidak ada di dalam foto itu, pikirnya, Pia adalah kembarannya.


Pia memperhatikan Ifraz, begitu juga dengan Biru. Tidak lama kemudian, Biru langsung mengatakan tujuannya pada Ifraz.


Ifraz merasa keberatan saat Biru meminta dirinya untuk menjaga Pia.


"Om, aku nggak pernah naik gunung," jawab Ifraz.


"Sama, gue juga nggak pernah, apa salahnya nyari pengalaman!" jawab Pia tanpa melihat Ifraz, dua anak muda itu berdiri di depan meja Biru.


"Keputusan ayah sudah bulat! Kamu harus ikut, besok kalian berangkat, tugas kamu menjaga adik kamu!" kata Biru, pria itu bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut.


Ifraz menatap Pia yang menundukkan kepala.


"Punya adik semua hobinya merepotkan!" gerutu Ifraz dalam hati.


Setelah itu, Ifraz pun segera keluar dari ruangan, kembali ke kamar. Begitu juga dengan Pia, tak lupa menutup pintu ruangan itu, sekarang Pia berkemas, membawa barang-barang yang di butuhkan dan yang paling banyak ia bawa adalah minuman dan aneka makanan ringan,

__ADS_1


Tidak lama kemudian Ifraz masuk ke kamar Pia, melihat tas besar yang akan di bawanya.


"Astaga, lo mau pindah ke gunung? Barang sebanyak itu emang lo kuat bawanya!" gerutu Ifraz.


Pia tersenyum dan menjelaskan,


"Ini makanan, buat di bawa nanjak, nah ini pakaian, emangnya nanti di sana kita nggak mandi dan ganti baju?"


"Terserah lo, dah!" kata Ifraz, kemudian dia melihat foto yang biasanya terpajang di kaca meja rias dan kali ini ia tak melihat foto dirinya.


Ifraz mendekati meja rias Pia dan mengambil foto yang telah dirobek menjadi dua itu dan secepat kilat Pia merebut foto tersebut.


Ifraz pun menatap Pia, segera mengatakan tujuannya yaitu mengingatkan untuk tidak terlalu banyak membawa barang.


"Bawa yang penting aja, PB jangan lupa di penuhin baterainya!" kata Ifraz, setelah itu keluar dari kamar Pia.


Pia merasa kalau Ifraz sangat perhatian, tapi dingin. Senang diingatkan karena memang Pia lupa membawa yang Ifraz katakan.


Malam telah berlalu, sekarang Ifraz mengendarai mobil Pia ke stasiun yang sudah Pia dan teman-temannya janjikan.


Bersambung.


Maaf reader aku telat up 🙏

__ADS_1


__ADS_2