
Maya keluar dari kamar dan Biru masih mengikutinya, mulutnya tak berhenti diam seolah orang benar yang sedang menceramahi.
"Ingat, May. Kamu punya bayi!"
"Aku nggak pernah lupa!" jawab Maya yang sekarang sudah masuk ke mobil dan sekarang Maya tidak mau lagi mengendarai mobil sendiri, wanita itu masih trauma.
"Jalan!" perintah Maya pada Andy dan Biru berkacak pinggang menatap kepergian istrinya.
Maya pergi tanpa menghiraukan Biru, seperti Biru tak menghiraukan permintaannya.
"Maafin mamah, nak!" gumam Maya.
****
Sementara Biru, ia duduk di kamar memperhatikan bayinya yang sudah semakin besar.
"Lihat Ifraz, mamah kamu pergi bersenang-senang tanpa kita!" ucap Biru, setelah itu Biru mengusap wajahnya menggunakan tangan kanannya.
"Kenapa semakin susah diatur kamu, May!" gumam Biru dalam hati, pria itu menunggu istrinya pulang dengan perasaan yang tak menentu, selalu berfikir kalau Maya akan bertemu dengan Bram.
Padahal, Maya dan dua temannya sedang berada di restoran, mereka memesan aneka makanan dan seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, Maya yang sedang menyendokkan makanan merasakan kalau seseorang yang tak diundang ikut bergabung duduk tepat di kursi sebelahnya.
Maya melihat ke sebelahnya dan ternyata itu adalah Bram. Sementara Dilan, gadis itu tersedak saat melihat Bram dan segera Bram memberikan air minum untuknya.
"Terimakasih," kata Dilan setelah meminum habis airnya.
"Bram, kamu ngapain di sini?" tanya Maya.
"Cari lu, eh cari makan ding!" jawab pria itu seraya tersenyum.
"Aku nanya serius!" kata Maya, wanita itu sedikit grogi saat Bram menatapnya.
Sementara Ayana menawarkan Bram untuk bergabung lalu tangan Dilan yang berada di bawah meja itu mencubit paha Ayana membuat Ayana menjerit.
"Aaaaa! Apaan sih!" gerutu Ayana dan teriakannya itu mengundang perhatian dari pengunjung lainnya.
Dilan menjawab dengan senyum.
"Maaf, gua nggak bisa gabung. Gua pergi ke sini buat ketemu klien," jawab Bram berbohong dan tidak lama kemudian seorang wanita cantik dan seksi menghampirinya. Wanita itu adalah Marisa yang membuat janji dengan Bram.
"Maaf ya cantik! Bramnya gua pinjam dulu!" kata Marisa seraya menarik lengan Bram supaya mencari meja sendiri.
"Dasar lelaki, di mana-mana sama, suka celap-celup!" gerutu Maya dan saat itu juga Maya menahan tangan Bram.
Maya bangun dari duduknya dan berbisik didekat telinga Bram.
__ADS_1
"Kamu udah aku bayar, jadi aku klien kamu sekarang, aku yakin Mas Biru akan mencaritahu tentang kamu jadi tolong berhenti sebentar untuk itu."
"Tenang aja, dia kakak gua!" bisik Bram dan Maya pun tak membalas lagi wanita itu kembali duduk sedangkan dua teman Maya menatap heran padanya.
"Kenapa?" tanya Maya dan dua temannya itu menggelengkan kepala, tersenyum kuda.
"Yuk makan lagi, habis ini aku mau ajak kalian belanja," kata Dilan, wanita itu ingin menghabiskan uang pemberian Ran.
"Lagi banyak duit nih!" kata Ayana dan Dilan menjawab dengan menaik turunkan alisnya.
****
Sementara Bram terus memperhatikan Maya, sesekali tersenyum saat melihat keseruan Maya dan dua temannya.
"Bram," lirih Marisa, wanita itu meraih lengan Bram untuk segera memilih menu yang diinginkan.
"Apa?" jawab Bram, pria itu melihat kearah Marisa. Setelah memilih menu, sekarang Bram kembali melihat ke arah Maya tetapi wanita itu sudah tidak ada di kursinya, Bram mencari-cari keberadaan Maya.
"Loh, kemana dia?" batin Bram, ia hanya melihat Ayana dan Dilan saja.
"Lu cari perempuan itu? Dia ke toilet kayanya," kata Marisa, wanita itu menatap Bram dengan sedikit curiga.
"Kenapa? Lu udah bisa jatuh cinta sekarang?"
"Apaan sih!" jawab Bram.
****
"Kamu bohongin aku, May!" geram Biru.
Pria itu sekarang duduk di sofa ruang tamu, menunggu istrinya pulang dengan gusar.
Sesekali pria itu melihat jam di dinding dan ternyata hari sudah malam.
"Enak banget kamu, Maya. Anak dan suami di rumah sementara kamu pergi pacaran!"
Lalu Biru merasakan ponsel yang digenggamnya itu bergetar. Biru melihat ke layar ponsel, terlihat Hafizah menghubunginya dan Biru mengabaikan itu karena sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.
****
"Kok nggak diangkat, ya?" gumam Hafizah seraya menatap layar ponselnya.
"Nak, sudahlah, lebih baik kamu berfikir kenapa kamu disimpan di sini, itu menandakan kalau Biru tidak mencintai kamu dengan tulus," kata Bambang yang berada di sofa, pria itu semakin kurus karena memikirkan anaknya.
"Ayah ini gimana, namanya juga istri simpanan ya pastilah hubungannya disembunyikan," jawab Hafizah, ia merasa kesal karena Bambang terus menceramahi membuat Hafizah memilih untuk pergi ke kamar.
__ADS_1
Ia mengirim pesan pada Biru yang mengatakan kalau dirinya sangat merindukan.
Tetapi Biru sama sekali tidak membuka pesan itu, Biru sedang menyambut Maya yang baru saja pulang.
"Pintar kamu ya, lihat jam berapa ini?"
"Jam sepuluh!" jawab Maya seraya melepas sandal haknya. Wanita itu menenteng beberapa belanjaan dan meletakkan itu di sofa, lalu Maya memakai sandal rumahnya.
"Apa kamu tidak memikirkan anak dan suami yang berada di rumah?" kata Biru yang sedang sok benar.
"Jangan membawa nama anak dan suami, orang aku cuma mencari hiburan aja, kok kamu udah kaya orang diselingkuhin!" jawab Maya seraya berjalan ke kamarnya.
"Ini apa, May?" tanya Biru seraya menunjukkan foto itu, Biru menahan lengan Maya sebelum masuk ke kamarnya.
Maya mengibaskan tangan Biru dari lengannya.
"Aku nggak sengaja ketemu sama dia, kenapa? Kamu cemburu?"
Biru tak menjawab lagi, tetapi pria itu membawa Maya ke kamarnya yang berada di lantai atas dengan cara dipanggul.
"Lepas! Aku mau turun!" teriak Maya yang terus meronta dan Biru tidak menghiraukannya.
Biru melemparkan Maya ke ranjang sampai dress yang Maya kenakan itu sedikit tersingkap, Biru tidak lupa mengunci mengunci pintu dan mengambil kuncinya.
"Jangan pernah lupa kalau tempat kita di sini, May!" teriak Biru, lelaki itu sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa cemburunya.
Maya bangun dan berdiri menatap Biru, hatinya mengatakan kalau dirinya tidak boleh cengeng.
"Kamu sendiri pernah melupakan kalau ini adalah tempatmu!"
Plak! Biru menampar Maya membuat Maya terdiam, air mata yang sedari tadi sudah ditahannya sekarang lolos begitu saja.
"Kamu menampar aku?" lirih Maya dengan tangan kiri mengusap pipinya.
Setelah itu Maya berjalan melewati Biru yang menatap tangannya. Pria itu tak menyangka kalau dirinya dapat menampar Maya.
Maya berusaha membuka pintu itu yang terkunci dengan terus menggerakkan gagang pintu.
"Buka!" teriak Maya, wanita itu sesenggukan.
Biru tak menghiraukannya, pria itu terduduk, begitu juga dengan Maya yang memilih untuk duduk di bawah pintu, menyenderkan kepalanya di sana.
Biru dan Maya tanpa berbicara, mereka diam sampai pagi menjemput.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa klik like dan lovenya ya, terimakasih sudah membaca.