
Assalamu'alaikum, hadir lagi kak. Yuk jangan lupa tetap dukung karya ini, dengan like, love dan vote gratisnya, ya.
Selamat membaca...
****
Setelah beberapa hari di rumah sakit, sekarang, Pia sudah diperbolehkan untuk pulang.
Sekarang, semua sudah sampai di rumah Ifraz dan Pia dengan Maya yang menggendong cucunya.
Ifraz menuntun Pia untuk berjalan.
"Hati-hati, sayang!"
"Iya, makasih, kamu udah jadi suami siaga, sayang!"
"Harus, untuk istriku," jawab Ifraz seraya menatap mata Pia. Keduanya pun saling melemparkan senyum.
Maya bahagia melihat cinta diantara anak dan menantunya, Maya juga mendoakan untuk kelanggengan keduanya tanpa adanya orang ketiga.
Sekarang, semua orang sudah berada di kamar Pia dan Pia menanyakan banyak hal pada Maya tentang bagaimana caranya mengurus bayi.
"Nanti akan Mamah ajari, ya," kata Maya seraya meletakkan cucu nya di ranjang khusus bayi.
"Pertama, jangan terlalu kita sering kita gendong, nanti jadi kebiasaan, untuk memandikan nanti biar mamah yang memandikan, mamah sangat menyukai anak kecil, dulu anak mamah dua-duanya nggak pakai jasa babysitter, mamah urus sendiri semua."
"Mamah keren," puji Pia yang sekarang sudah duduk di tepi ranjangnya, memperhatikan wajah anaknya yang tertidur lelap di ranjang bayi yang terletak di sisi ranjang Pia.
"Anak mamah, kenapa lebih mirip ke papahnya," lirih Pia dan Ifraz yang mendengar itu tersenyum.
Ifraz sangat gemas dengan bayinya, ingin menggendong tetapi masih sangat takut dan sekarang memilih untuk membelai wajah bayinya.
"Ghali, anak papah yang tampan," kata Ifraz dan Ghali tersenyum saat ayahnya memanggil namanya.
Melihat senyum cucu yang sangat dinanti itu adalah kebahagiaan bagi semua orang dan kebahagiaan itu di lihat oleh Biru yang baru saja tiba dan pria malang itu masih berdiri di pintu kamar Pia.
Sampai Pia menyadari kedatangannya dan memanggil ayahnya.
"Ayah, kenapa berdiri di sana, lihatlah cucu ayah," kata Pia dengan suara lirih karena tidak ingin membangunkan anaknya yang sedang tertidur.
Biru pun segera mendekat dan Maya memberikan ruang untuk Biru.
Biru pun ikut bergabung dan sekarang meminta untuk menggendong cucunya.
Maya mengangkat Ghali dan memberikan bayi itu pada kakeknya, tanpa Maya dan semua orang tau kalau kebahagiaan itu di perhatikan oleh Daniel yang baru saja datang, ia bersama dengan Kania, Daniel baru saja menjemput putrinya pulang sekolah dan sekarang mengantarkan Kania ke ibunya.
__ADS_1
Kania menatap Daniel yang sedang memperhatikan kebahagiaan itu, sekarang, Daniel merasa kalau seharusnya dirinya tidak datang.
Daniel menggandeng lengan Kania kembali keluar dari rumah kakaknya.
"Pah, kenapa?" tanya Kania yang sekarang sudah duduk di bangku samping kemudi.
"Kita beli eskrim," ajak Daniel dan Kania hanya menganggukkan kepala.
Sesampainya di restoran cepat saji, di sana keduanya bertemu dengan Imelda yang sedang nongkrong bersama dengan teman-temannya.
Sekarang Imelda memilih untuk bergabung dengan anak dan cucunya.
"Kalian berdua saja?" tanya Imelda seraya menarik salah satu kursi.
"Iya, omah." Kania menjawab sedangkan Daniel hanya diam saja.
"Mana istri kamu?" tanya Imelda seraya menatap Daniel yang terdiam.
"Sedang mengurus cucu kami," jawab Daniel singkat, Daniel pun bertanya untuk apa Imelda di berada di resto, Daniel ingin mengalihkan pembicaraan.
Tetapi, Imelda tetap dengan pikirannya tentang Maya.
"Pasti di sana ada-"
"Mah, kalau mau bahas ini nanti, ya. Kami mau makan es krim dulu, keburu mencair," kata Daniel seolah mengingatkan Imelda kalau di sana ada Kania.
Sekarang Imelda bangun dari duduknya dan meninggalkan anak beserta cucunya itu pulang.
Daniel menatap Kania dengan sendu lalu mengusap pucuk kepalanya.
"Papah, ada masalah?" tanya Kania seraya menatap mata Daniel.
"Enggak, sayang!"
"Tapi, papah terlihat sedih?"
"Papah enggak sedih, papah bahagia karena ada kamu, sayang!" kata Daniel seraya mencubit pipi Kania.
Setelah itu, Daniel mengajak Kania untuk pulang. "Hati-hati, jangan lupa kunci pintu!" kata Daniel pada Pia yang baru turun dari mobil.
"Iya, Papah juga hati-hati!" balas Kania seraya tersenyum, melambaikan tangan.
Setelah itu, Daniel kembali ke rumah Ifraz, sesampainya di sana, ia harus melihat Maya dan Biru yang sedang berdebat.
"Pokoknya aku yang menginap di sini," kata Maya seraya menatap Biru yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Kamu punya suami, harus mengurus suamimu!" jawab Biru, sementara Pia dan Ifraz hanya memperhatikan perdebatan itu.
"Kamu itu laki-laki, mana ngerti ngurus bayi!" jawab Maya yang tak mau mengalah.
"Pokoknya aku yang menginap di sini, aku akan meminta izin pada Mas Daniel!" lanjut Maya seraya berbalik badan, ia berniat mengambil ponselnya di ruang tengah dan ternyata sudah ada Daniel yang berdiri di depan kamar Pia.
"Mas, sejak kapan kamu di sini?" tanya Maya, ia merasa tak enak hati karena di rumah itu sedang ada Biru.
"Aku... baru aja," jawab Daniel, pria itu berjalan ke arah Maya dan merengkuh pinggangnya, seolah hatinya baik-baik saja, padahal Daniel amat cemburu pada Biru.
Berfikir, kenapa Maya tak pernah berdebat dengan dirinya.
Daniel pun berjabat tangan dengan Biru, bergantian dengan Ifraz dan Pia mencium punggung tangan Daniel.
Daniel menyapa cucunya yang berada di gendongan Pia.
"Hai, cucu Opah, gimana kabar kamu, Nak?"
Ifraz yang ingin mencairkan suasana itu menjawab dengan suara yang dibuat-buat seperti bayi.
"Aku selalu baik, Opah."
"Alhamdulillah," ucap Daniel seraya mencium pipi cucu nya.
Setelah itu Daniel mengajak Maya untuk berbicara berdua saja, Maya dan Daniel pun keluar dari kamar.
"Ada apa?"
"Mamah minta kita untuk makan malam bersama," kata Daniel dan Maya pun menganggukkan kepala.
"Aku pamit dulu sama semua," kata Maya, Maya dan Daniel pun kembali ke kamar.
"Ifraz, Pia. Mamah nginap di sini lain waktu saja, ya. Mamah minta maaf belum bisa menemani cucu kesayangan Mamah," lirih Maya, setelah itu Maya mencium pipi cucunya dengan gemas.
Sementara Biru yang melihat itu merasa kalau Maya akan memakan cucunya. Ingin melarang Maya untuk tidak mencium seperti itu tetapi di tahan.
Biru memilih hanya diam saja, merasa tidak enak pada Daniel.
Setelah kepergian Maya dan Daniel, sekarang Biru mengusap pipi bayinya yang sedikit memerah karena di cium oleh mantan istrinya.
"Kasian cucu, kakek," kata Biru yang kemudian mengecup lembut pipi bayinya dan saat itu juga Biru baru menyadari kalau ia baru saja mencium bekas ciuman Maya. Biru terkekeh dengan kekonyolannya sendiri yang menganggap baru saja berciuman tanpa menyentuh.
"Astaga, apa yang ku pikirkan!" kata Biru.
Dan tidak lama kemudian, ada seorang babysitter yang datang. Babysitter itu adalah pilihan Ran.
__ADS_1
Bersambung.