
Maya mulai menitikkan air mata dan segera menghapusnya.
"Ifraz, bahagia mamah adalah keluarga mamah, kalian bahagia mamah bahagia juga!" kata Maya dan Ifraz tak mendengarkan ucapan Maya. Ifraz berjalan ke kamar dan mengambil salah satu komik kesukaan miliknya. Setelah itu keluar dari kamar dan meninggalkan Maya yang masih merindukannya.
"Ifraz, bisakah kita makan malam bersama? Mamah sangat rindu, ingin memiliki waktu bersama kamu!"
Ifraz menghentikan langkah kakinya dan menjawab iya tanpa melihat ke arah Maya, Ifraz akan mengirimkan alamat resto yang ia pilih nanti.
"Tapi, Ifraz mau Mamah datang sendiri!" kata Ifraz dan Maya pun mengiyakan dengan semangat.
Maya tersenyum dan berfikir kalau Ifraz sudah mulai memaafkannya.
Maya segera mengirim pesan pada Daniel yang mengatakan kalau dirinya akan pergi bersama dengan Ifraz.
Daniel yang dapat merasakan kebahagiaan Maya itu tak melarang dan turut bahagia.
Siapa sangka kalau Ifraz merencanakan sesuatu untuk Maya, nah, rencana apa yang Ifraz buat?
Biru yang sedang berada di ruangannya itu mendapat pesan dari Ifraz yang mengirim alamat resto dan meminta iru untuk datang jangan sampai telat.
Setelah hari sudah sore, sekarang Ifraz yang baru keluar dari kelas itu meminta izin pada Biru untuk tidak datang ke kantor dan Biru pun mengiyakan.
Sekarang Ifraz memilih untuk pulang dan di perjalanan ia melihat Miko dan Pia, seketika Ifraz merasa tidak suka dan segera meraih bahu Miko yang sedang berhenti di lampu merah.
Miko dan Pia melihat ke arahnya.
"Turun, balik bareng gue!" kata Ifraz dan Pia hampir menurut tetapi tertahan oleh Miko.
"Pi, katanya mau ke toko?" tanya Miko dan Pia menganggukkan kepala.
"Biar gue yang antar, gue abangnya!" kata Ifraz yang masih menahan bahu Miko tetapi Miko keberatan dan mengatakan kalau dirinya adalah kekasih Pia.
"Gue pacarnya, mau apa lo?"
Tidak lama kemudian lampu berganti hijau dan Miko mulai melajukan motornya, Ifraz pun tak tinggal diam, pria itu mengejar motor Miko dan sekarang semua sudah sampai di toko.
Ifraz merasa menyesal telah mengikuti Oia dan Miko yang dianggapnya menebar kebucinan di toko.
Ifraz yang membaca komik itu menggerutu, "Bucin!"
__ADS_1
Setelah itu Ifraz melihat jam di layar ponselnya, setelah itu segera memasukkan komik yang ada di tangannya itu ke tas dan bangun dari duduknya.
Ifraz menatap sebal pada Miko yang lagi-lagi merapikan anak rambut Pia ke belakang telinga.
"Lebay!" kata Ifraz tepat di samping telinga Miko. Ifraz yang sekarang sudah berada di atas motornya itu masih terus memperhatikan Miko dan Pia yang sama-sama menatap Ifraz.
Setelah kepergian Ifraz, Pia menarik nafas lega dan meminta pada Miko untuk berhenti bersikap romantis.
"Udah pergi, nggak usah lagi pura-pura!" kata Pia dan Miko hanya mendengus sebal.
"Gue balik, ya!" kata Miko seolah meminta persetujuan dari Pia dan Pia sama sekali tidak melarang.
"Hati-hati, sampai jumpa besok!"
Miko menjawab dengan mengacungkan jempolnya.
****
Ifraz sudah sampai lebih dulu di restoran, ia memesan makanan untuk ayah dan ibunya dan tidak lama kemudian Maya datang, ia yang selalu tampil cantik itu menarik kursi yang ada di depan Ifraz.
"Sudah lama?" tanya Maya dan Ifraz menggelengkan kepala.
Maya menjadi salah tingkah saat melihat Biru dan hatinya bertanya-tanya mengapa ada Biru juga bersamanya.
Semua orang diam dan Ifraz melihat wajah Maya dan Biru secara bergantian.
"Kenapa diam? Apakah tidak ada yang ingin kalian katakan?" tanya Ifraz dan Maya menatap Ifraz bergantian menatap Biru.
Kemudian makanan yang dipesan sudah datang, sekarang Biru mengajak untuk makan lebih dulu dan ternyata kebersamaan mereka dilihat oleh Imelda yang sedang berada di restoran tersebut.
Imelda memotret kebersamaan mereka lalu mengirim gambar itu pada Daniel.
"Sudah Mamah bilang dan kamu tidak percaya!" tulis Imelda dan ternyata pesan itu tidak juga cepat terkirim karena ponsel Daniel mati.
Di meja seberang, Ifraz yang baru selesai makan itu pamit untuk ke toilet. Maya mengambil kesempatan untuk bertanya, mempertanyakan kenapa Biru bisa ada di restoran dan Biru mengatakan kalau Ifraz yang mengundangnya.
"Aku takut akan menjadi fitnah kalau kita terlihat bersama seperti ini!" kata Maya dan Biru juga tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Maya.
"Dengar, Maya. Mungkin Ifraz ingin tahu yang sebenarnya. Lebih baik Ifraz tau dari kita orang tuanya dari pada harus tau dari orang lain!" kata Biru dan Maya hanya mendengarkan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Ifraz sudah kembali duduk dan sekarang Maya bersama Biru sama-sama kompak, "Apa yang ingin kamu dengar?"
Setelah mengatakan itu, Maya dan Biru saling menatap, lalu Biru memberikan Maya kesempatan pertama untuk bicara.
"Kamu duluan!" kata Biru dan Maya mempersilahkan pria itu lebih dulu bicara.
"Kamu laki-laki harus duluan, sebagai kepala rumah tangga!" kata Maya dan Biru mempertanyakan rumah tangga siapa.
"Rumah tangga kamu, Ifraz dan Pia!" jawab Maya dan Ifraz hanya memperhatikan perdebatan antara Maya dan Biru.
"Ehem!" Ifraz mengeluarkan suaranya, menyadarkan Maya dan Biru kalau ada Ifraz di depannya.
"Kenapa kalian menyembunyikan kebenaran ini dari aku?" tanya Ifraz dan kali ini Biru menatap Maya.
Maya menjadi gugup dan tersadar kalau ini adalah salahnya yang tak memiliki pendirian.
"Mamah minta maaf, ini adalah salah Mamah yang melarang papah kamu berhenti menemui kamu! Mamah melakukan itu karena demi Daniel, Mamah tidak ingin lagi melukai hatinya," jawab Maya yang tertunduk.
Sekarang Ifraz bertanya pada Biru, mengapa ia menipunya.
"Ayah tidak menipu, Ayah melakukan itu demi bisa dekat dengan kamu, ayah hanya bisa bertemu dengan kamu secara diam-diam dan sembunyi, ayah juga tidak mengingkari janji, karena Ayah tidak memberitahu yang sebenarnya!" jawab Biru, lelaki itu menatap Ifraz dan Ifraz juga menatapnya.
"Kalian hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan aku!" kata Ifraz dan sekarang bangun dari duduknya, ia tak tahan lagi dan ingin mengamuk, Ifraz yang ingin bertanya mengapa mereka bercerai pun diurungkan.
Sekarang Maya dan Biru masih duduk di tempatnya, Biru meminta Maya untuk tegar dan kuat.
Maya menganggukkan kepala, sekarang Maya pamit pada Biru, Biru menawarkan tumpangan dan Maya menolaknya secara halus. Maya segera bangun dan tanpa sengaja kakinya tersandung oleh kaki Biru.
Dengan Sigap Biru menangkap Maya, Maya merasa berdebar berada di dekat Biru seperti itu.
Bersambung.
Oia, aku mau numpang promo nih, novel sebelah siapa tau kalian suka.
Nah ini dia novelnya.
Kalau berkenan silahkan mampir ya kak, terimakasih semuanya 🤗. Sampai jumpa di next episode
__ADS_1