Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu, sekarang Ifraz yang masih tinggal bersama Biru itu terlihat lebih bahagia dan setelah melihat penderitaan Maya, sekarang Ifraz tak berhenti memikirkannya.


Ifraz merasa kasihan pada mamahnya, tetapi Ifraz tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menyemangati Maya.


Ifraz juga memikirkan Daniel yang selama ini telah baik padanya dan Maya. Membuat Ifraz merasa kasihan juga padanya.


"Hubungan kalian rumit, untuk bahagia kalian saja tidak bisa!" batin Ifraz.


Ifraz menenggak kopi hitamnya, malam ini Ifraz tidak dapat tidur dan ia memilih untuk berkeliling rumah Biru.


Ifraz yang sedang berkeliling itu melihat pintu ruang kerja Biru, di sana Biru sedang menatap foto keluarganya, Ifraz dapat melihat itu dari celah pintu yang tak tertutup rapat.


"Mereka saling merindukan?" tanya Ifraz pada diri sendiri.


Tetapi, Ifraz memilih untuk tidak ikut campur, Ifraz yakin kalau para orang tua itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


Ifraz memilih untuk kembali ke kamarnya dan mencoba untuk tidur.


****


Sementara itu, Zenia sedang merasa sedih saat mengetahui kalau Bram diam-diam menemui seorang wanita.


Zenia takut Bram akan menerima perjodohan ini dan mulai pergi meninggalkannya, tidak menjaganya lagi.


Zenia duduk menunggu kepulangan Bram, benar saja, hari sudah malam tetapi Zenia masih duduk menonton televisi.


Zenia melihat ke arah Bram berdiri dan Zenia segera menangis membuat Bram merasa bingung.


Bram mendekati Zenia dan sekarang sudah duduk bersama Zenia di sofa panjang.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Bram dan Zenia menjawab kalau dirinya memikirkan Bram.


''Kenapa memikirkan aku?" tanya Bram dan Zenia menjawab tidak tau.


Zenia memilih untuk bangun dan pergi meninggalkan Bram yang menatapnya. Tetapi sebelum bena-benar masuk kemar ia menanyakan menanyakan pada Bram, "Bagaimana pertemuan kalian? Apakah om cocok sama dia?" tanya Zenia dan Bram tak mengerti maksud Zenia, bahkan Zenia sendiri pun tak mengerti mengapa dirinya bisa bertanya hal itu.


"Hah, lupakan!" kata Zenia, stelah itu Zenia masuk ke kamar dan menutup rapat pintunya.


Bram yang kebingungan itu memilih untuk menyusul Zenia ke kamarnya yang teryata tidak di kunci.


"Zen, kamu kenapa? Katakan sama om!" kata Bram yang berdiri di pintu dan Zenia yang sudah berada di bawah selimut itu hanya melirik kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Bram mendekat dan membuka selimut itu sehingga terlihat Zenia yang memejamkan mata dengan air mata yang mengalir.


Bram mengusap rambut Zenia dan menanyakan apa yang terjadi, awalnya Zenia menolak untuk mengatakan karena malu kalau harus mengatakan apa yang dipikirkannya.


Tetapi Bram berhasil memaksa Zenia dan sekarang Zenia kembali memeluk Bram.


"Katakan!" kata Bram seraya membalas pelukan itu.


"Aku takut kehilangan om!" lirih Zenia dengan suara bergetar.


"Om tidak kemana-mana, kenapa harus takut!" jawab Bram seraya melepaskan pelukan itu, menatap Zenia yang sembab, merangkum wajah imut Zenia yang imut.


"Om, bukannya om dijodohin sama opa?" tanya Zenia yang mendengar kabar itu dari Marisa.


"Iya, tapi om nggak cocok sama dia, om cocoknya sama seseorang yang baru om kenal tapi dia bisa membuat om sayang sama dia," jawab Bram yang membuat Zenia semakin penasaran.


"Om, apakah nanti akan meninggalkan Zen setelah menikah nanti?" taya Zenia dan sekarang Bram merangkum wajah Zenia .


"Tidak, Om tidak akan meninggalkan kamu!" kata Bram dan dalam hatinya berbicara kau gadis yang Bram sukai adalah Zenia.


Bram meminta pada Zenia untuk tidak berfikiran yang macam-macam.


Sekarang Bram meminta pada Zenia untuk tidur dan Zenia pun menurut.


Bram pun keluar dari kamar Zenia dan sekarag memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri.


Keesokan paginya, Bram bangun karena mencium aroma kopi yang dibuatkan oleh Zenia, sekarang Bram menyusul Zenia yang sedang berdiri di meja makan. Zenia juga sudah menyiapkan sarapan untuknya dan Bram.


Bram pun duduk dan sekarang Zenia ikut duduk, keduanya duduk saling berhadapan. Bram berfikir untuk membujuk Zenia agar mau mengatakan semunya pada Ifraz.


Zenia menolak dan meminta pada Bram untuk tetap menyembunyikan rahasia itu.


"Tapi anak itu butuh ayah, Zen!" kata Bram mencoba mengingatkan.


"Kalau sudah ada om kenapa harus ada ayahnya, apa om tidak mau menepati janji yang katanya om akan bertanggung jawab untu menjaga kami?"


"Astaga, bukan seperti itu, Zen. Semakin hari semakin besar kehamilan kamu, kamu harus menikah, kamu masih muda jangan sampai masa depan kalian hancur!" ucap Bram dan Zenia terdiam mendengar itu.


"Om akan bilang semua sama Ifraz, dia harus bertanggung jawab!" kata Bram dan Zenia menatap Bram yang juga menatapnya.


Zenia merasa kalau dirinya sudah salah mengira perhatian Bram selama ini.

__ADS_1


"Arti kebaikan om selama ini apa?" tanya Zenia dengan datarnya, ia merasa kalau Bram juga sama saja setelah menyentuh hatinya sekarang akan pergi meninggalkannya.


Bram diam, tida mengerti apa maksud dari Zenia.


Zenia kembali mengeluarkan unek-uneknya pada Bram.


"Aku salah mengira, aku kira om tulus sama Zen dan juga anak Zen, tapi Om sepertinya sudah keberatan untuk merawat Zen dan anak Zen. Apakah Zen harus pergi, Om?" tanya Zenia menatap Bram dan sekarang Zenia bangun dari duduknya, gadis menyedihkan itu berlari ke kamar dan Bram pun menyusulnya, kali ini kamar itu terkunci karena Zenia tidak ingin melihat Bram lebih dulu.


Bram berdiri di balik pintu terus memanggil Zenia.


"Zen, bukan itu maksud om!" kata Bram seraya terus mengetuk pintu kamar Zenia.


"Om seperti ini karena memikirkan kamu, Zen! Buka pintunya!"


Zenia menutup telinganya mengunakan dua tangan, gadis itu menggelengkan kepala tak menerima niat baik Bram.


Sementara itu, di rumah Biru, pagi ini Ifraz siap menjadi sopir Pia yang siap akan mengantarkan Pia kuliah dan bolak-balik toko.


Tetapi, niat baik Ifraz itu ditolak oleh Pia. Pia memilih untuk diantar oleh Miko.


Pia memutuskan akan membuat Ifraz yang mengejarnya.


"Sorry, gue dijemput sama Miko!" jawab Pia yang masih duduk santai diruang tengah, menunggu Miko datang menjemputnya.


"Lo jadian sama dia?" tanya Ifraz yang berdiri didepan Pia dan Pia yang sedang memainkan ponsel itu melirik pada Ifraz.


"Kenapa?" tanya Pia, setelah bertanya sekarang Pia kembali fokus pada ponselnya.


"Cowok jelek kaya dia, kaya nggak ad yang lain aja!" jawab Ifraz seraya merebut ponsel Pia, Ifraz merasa sebal saat dirinya bicara tetapi diabaikan.


Ifraz melihat dengan siapa Pia chating dan ternyata dengan Karena yang sekarang kuliah di luar negeri.


"Kenapa nggak lo terima aja? Kata lo baik!" Ifraz membaca pesan itu dan langsung mengerti kalau Pia dan Karena sedang menggosipkan Miko.


"Kaya nggak ada cowok lain aja!" ketus Ifraz seraya mengembalikan ponsel itu.


Tidak lama kemudian datang Miko dan Pia pun langsung berdiri dari duduknya, berjalan melewati Ifraz yang menatapnya.


Melihat itu, Ifraz tidak tinggal diam, ia meraih lengan Pia.


Apa yang akan Ifraz lakukan sama Pia?

__ADS_1


Yuk temukan jawabannya di episode selanjutnya, jangan lupa klik like, komen, love, gift/votenya, ya. Terimakasih yang masih setia membaca cerita ini.


__ADS_2