
Imelda menatap Biru.
"Jadi maksud kamu, saya biang masalahnya?" tanya Imelda.
Biru menarik nafas, merasa kalau Daniel yang harus memberi pengertian pada Imelda.
Benar saja, Daniel mulai membuka suaranya.
"Bukan begitu, Mah. Tapi gini loh, kita harus sama-sama membujuk Ifraz dan meminta maaf, benar yang Biru katakan, Mah. Kita sudah terlalu memaksakan kehendak kita sama Maya."
"Daniel, kamu tau kenapa Mamah melakukan ini, Mamah hanya nggak mau Maya melukai kamu lagi dengan terus bertemu mantan suaminya!" jawab Imelda dan kali ini berbicara dengan suara keras.
Merasa tidak tahan, Biru berdiri dari duduknya dan di susul oleh Imelda, wanita tua itu berdiri, menatap Biru dan seperti masih menyimpan dendam.
"Mah, itu sudah masalalu, tolong lupakan semua, dulu Maya menikah dengan Biru mungkin sudah jodohnya, sudah jalan hidupnya, sudah takdirnya!" ucap Daniel yang ikut berdiri, sementara Sukma, pria berkacamata itu juga ikut berdiri, mengusap lengan istrinya.
"Saya permisi!" kata Biru, setelah itu keluar dari rumah Imelda.
"Tidak bisa diharapkan!" kata Biru dalam hati.
Sekarang, pria itu memilih pulang ke rumah.
Dan setelah hari itu, Ifraz menetap di rumah Marisa sedangkan Maya terus berusaha, ia juga selalu menunggu Ifraz di depan pagar sekolah.
Tetapi, Maya selalu di acuhkan oleh anaknya.
Satu minggu telah berlalu, sekarang, Maya memilih untuk pulang.
Wanita itu semakin kurus dan kehilangan selera makannya.
Merasa tidak tau harus berbuat apa membuat Maya memilih untuk mengepel rumahnya, mengepel seluruh ruangan tanpa berbicara bahkan Maya tidak menghiraukan bibi yang melarang itu.
Kania hanya memperhatikan ibunya yang terlihat depresi, setelah mengepel sekarang Maya memilih masak makan malam, Maya memasak banyak makanan sampai meja makan itu penuh.
"Mah...," lirih kania seraya menggoyangkan lengan Maya tetapi Maya tidak menghiraukannya, Maya mengusap dahinya yang berkeringat.
Selesai memasak Maya mencuci semua perabotan itu sampai jari telunjuknya tanpa sengaja terkena pisau yang berada di wastafel..
"Auu!" pekik Maya dan ia segera mencuci jarinya dengan air mengalir, setelah itu Maya membalut lukanya menggunakan plaster.
__ADS_1
Sekarang Maya duduk di rajang, menatap ke jendela dengan tatapan kosong, merasa hampa karena anaknya lebih memilih hidup bersama dengan Marisa dan Zenia.
Sekarang, Ifraz dan Zenia sedang berada di rumah Bram, dua anak muda itu mendorong semangat pria malang tersebut.
"Tidak, untuk apa paman bisa berjalan!" jawab Bram dan Ifraz menjawab, "Untuk diri sendiri, Dad!"
Mendengar itu Bram meminta dua anak muda itu pergi tetapi mereka menolak, Ifraz sudah bertekad akan membuat Bram bersemangat.
"Dad, waktu itu aku masih kecil, aku tidak mengerti apa-apa, tetapi aku tetap ingin menjadi semangatmu, Dad!"
Bram tak mau menatap wajah Ifraz, ia akan selalu teringat dengan Maya apabila melihat wajah anaknya.
"Dad, apakah Daddy juga membenciku?" tanya Ifraz.
"Tidak, kamu hanya anak kecil dan aku masih menyayangimu seperti dulu! Tapi berhentilah memanggil aku Daddy! Aku bukan Daddymu!" ucap Bram dan pria itu mulai menggerakkan kursi rodanya ingin masuk ke kamar.
Bram menghentikan itu saat Ifraz mengulurkan tangan.
"Anggaplah aku tetap seperti bayi itu, bayi yang Daddy sayangi!"
Bram memalingkan wajahnya dan mengusap matanya yang basah.
Perlahan, Zenia juga memiliki rasa untuk pria yang dianggapnya cupu.
"Ayo, ini semua bukan untuk siapapun, tapi untuk Daddy sendiri!" ucap Ifraz dan Bram menatap tangan itu, tak membalas uluran tangan Ifraz tetapi mulai mengangkat kakinya turun menapaki tanah yang sudah lama tak ia pijak.
Bram menarik nafas, di hatinya kini ada kemauan untuk bangun dan bangkit, membenarkan ucapan Ifraz kalau ini semua adalah untuk dirinya.
Tetapi, sepertinya Bram terlalu lama duduk tentunya itu membuat Bram kesusahan untuk belajar bangun.
Zenia tidak tega melihat Bram dam Zenia menyarankan untuk terapi, Ifraz membenarkan dan sekarang semua orang bersemangat.
Marisa yang memperhatikan tiga manusia itu dari pintu ruang tengah itu merasa terharu, ia senang karena akhirnya Bram memiliki semangat hidup lagi, tentunya tak mudah bagi Ifraz dan Zenia membujuk Bram untuk bangun, selama satu minggu itu Ifraz benar-benar menjaga Bram, walau Bram berbicara kasar agar anak kecil itu berhenti tetapi Ifraz tak juga berhenti.
Sekarang adalah buah kesabaran Ifraz dan Zenia.
****
Di rumah Pia, gadis lugu nan kalem itu sedang belajar, tetapi kali ini otaknya selalu memikirkan Ifraz yang mendadak berubah sikap padanya.
__ADS_1
Pia menangis merasakan perubahan itu, ia menangis dengan menjatuhkan kepala ke buku belajar dan air matanya membasahi buku itu.
Biru yang baru saja pulang bekerja melihat Pia yang semakin hari semakin tak bersemangat.
sekarang Biru mengira kalau Pia belajar sampai tertidur padahal Pia sedang menangis.
"Ifraz, salah apa gue sama lo, kenapa lo ngejauhin gue tanpa sebab?" lirih Pia dalam hati.
"Gue terima kalau lo mau jauh dari gue, mungkin sampai sini aja persahabatan kita, tapi gue mau tau alasannya, tolong katakan, aku menderita!" Gadis itu masih menangis dan sekarang Pia merasakan kalau ada tangan kekar yang merengkuhnya lalu tubuhnya melayang.
Ya, Biru berniat memindahkan Pia ke ranjang. Tetapi, ketika Biru ingin meletakkan Pia di ranjang justru Pia semakin erat memeluknya.
"Kenapa? Anak Ayah kenapa?" tanya Biru dan Pia pun segera melepaskan pelukan itu, ia menelusupkan wajahnya di bantal.
Biru menarik nafas dalam dan sekarang Biru bertanya, "Apakah semua ini karena Ifraz?"
Pia semakin menangis saat mendengar nama Ifraz.
"Pia, dengarkan Ayah, kamu adalah pelipur lara kami, kita memang tidak bisa berbuat licik, tapi ayah yakin kalau Ifraz akan kembali pada kita!" kata Biru dan Pia menggelengkan kepala. Gadis itu tidak yakin dengan itu.
"Percaya sama ayah!" kata Biru, pria itu mengusap rambut anaknya. setelah itu, Biru bangun dari duduknya, ia meninggalkan Pia yang sedang menangis, berfikir kalau Pia membutuhkan waktu untuk sendiri.
****
Sementara itu, Daniel melihat makanan yang sangat banyak di meja makan.
"Astaga, siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Sekarang, Maya yang ikut duduk di meja makan itu mulai mengambilkan makanan untuk Daniel dan Kania. Semua makan tanpa suara. Ya, rumah akan terasa sepi apabila jantung hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Daniel hanya bisa membatin dan merasa gagal karena tidak berhasil membawa Ifraz kembali pulang.
Selesai makan, Maya langsung bangun dan mengambil piring makan Daniel dan Kania, padahal mereka semua belum selesai tetapi mereka hanya diam saja, tidak ada yang berani protes.
Maya meletakkan piring yang dibawanya itu ke wastafel, meletakkan dengan sedikit kasar dan membuat benda pecah belah itu saling benturan.
maya menangis kesal, berdiri di wastafel dan Daniel pun meminta pada Kania untuk masuk ke kamarnya.
Bersambung.
__ADS_1