
Mendengar itu Biru menjadi sangat kesal tetapi Biru memilih untuk mengejar Maya.
Biru yang baru keluar dari kamar Bram itu memarahi Andy dan Alex yang tak menahan Maya. Sekarang Biru keluar dari apartemen diikuti anak buahnya, mereka mengejar Maya yang sekarang sudah membonceng motor Gala dan meninggalkan area parkir.
Biru menarik nafas dalam, rahangnya mengerat sampai bunyi bergemelutuk. Saat ini yang Biru pikirkan adalah bagaimana cara membuat Maya kembali.
Lalu, Biru memerintahkan Andy untuk segera pulang ke rumah.
Selama perjalanan Biru hanya diam, memejamkan mata merasa lelah menghadapi kenyataan kalau dirinya tidak bisa lagi mengatur hidup sesuai dengan keinginannya.
Sementara Bram, pria itu menertawakan Biru, masih terlihat jelas bayangan wajah Biru saat menahan amarahnya.
"Hahahahaa! Biru... Biru! Gua harus bisa bikin lu menderita, emangnya enak dipukuli seperti ini! Lu lukain fisik gua, gua lukain hati lu!" ucapnya seraya mengusap dadanya, setelah itu Bram terbatuk dan dadanya terasa sesak.
"Hah! Sialan. Memangnya dia doang yang punya banyak duit, gua juga punya banyak kalau gua mau!" gerutu Bram seraya mengusap dadanya.
****
Sesampainya di rumah, Maya langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Wanita itu masih teringat jelas dan berfikir 'bisa-bisanya Bram mencium tangannya, lebih parah langsung melakukan itu di depan Biru'.
Sekarang Maya duduk di tepi ranjang, memikirkan Ifraz dan sekarang Maya melakukan vidio call.
"Sus, tolong jaga anak saya, saya akan secepatnya datang untuk menjemput!" kata Maya pada suster yang menjaga Ifraz.
Belum sempat Maya melihat wajah anaknya, ponsel suster sudah di rebut oleh seseorang, orang itu adalah Biru.
Terdengar dan Maya dapat melihat langit-langit kamarnya karena Biru menggenggam ponsel itu menghadap atas.
"Siapa suruh kamu melakukan vidio call!" bentak Biru, lalu panggilan itu terputus karena ponsel Nia sudah hancur dibanting Biru.
"Aaaakh!" geram Maya seraya melempar ponselnya ke ranjang, dua tangannya mengusap wajahnya kasar.
"Harus bagaimana aku? Enggak nyangka kalau dia bisa sekejam ini!" gumam Maya, wanita itu menggigit ujung jari telunjuk kanannya.
****
Keesokan harinya, di villa.
Bambang bertanya pada Hafizah, "Siapa anak itu?" tanyanya seraya melihat gadis yang sedang sarapan sendirian di meja makan, gadis yang mengenakan seragam sekolah SMA.
__ADS_1
"Oh, dia yang bakal menyelamatkan Afi," jawab Afi yang sedang duduk bersantai di ruang tengah dengan tangan yang membolak-balikan majalah.
"Maksud kamu?" tanya Bambang seraya ikut duduk di sofa, pria itu menatap anaknya penuh pertanyaan.
"Iya, anak itu hamil dan lelakinya tidak mau bertanggungjawab, jadi Afi akan mengambil bayinya, Afi yang akan bertanggungjawab atas bayinya!" jawab Hafizah tanpa melihat ayahnya.
"Ya Tuhan, akal dari mana lagi Afi? Perasaan, Ayah tidak pernah mengajari kamu untuk menjadi licik seperti ini!" kata Bambang seraya mengusap dadanya.
Hafizah pun menutup majalah itu, menatap Bambang yang sedang meringis karena sangat kecewa dengan anaknya.
"Semenjak Afi tidak mau kehilangannya, Ayah harus tau. Kalau Afi sudah sangat mencintai Mas Biru!" jawabnya, setelah itu Hafizah bangun dari duduknya tidak ingin lagi berdebat dengan Bambang.
Hafizah memilih untuk ke taman samping rumahnya, menghirup udara segar di pagi hari.
"Kalau Mas Biru selalu sibuk sama Mbak Maya, pasti lama-lama dia lupain aku, aku nggak bisa diam aja seperti ini!" gumamnya dalam hati.
Lalu, Hafizah berniat untuk menyusul Biru ke Jakarta. Ingin melihat keadaan suaminya yang tak dapat dihubungi.
Hafizah masuk ke villa dan mengambil tas di kamarnya, setelah itu Hafizah memesan taksi.
"Ayah, Afi titip anak itu dulu ya, nanti kalau sudah selesai urusan, Afi bakalan cepat kembali!" kata Hafizah, setelah mengatakan itu Hafizah benar-benar pergi meninggalkan villa tidak lupa mengenakan masker dan topi untuk penyamarannya.
"Maafkan aku, Mas. Kali ini aku tidak menurut!" gumam Hafizah seraya masuk taksi yang baru datang.
****
Lalu, Maya mendengar seorang ibu berpakaian agamis, ibu paruh baya itu adalah tetangga depan rumahnya, ia bertanya, "Maya, kok kamu sekarang kelihatan sendirian, kemana suami kamu?"
"Ada kok, emang kalau kemana-mana suami harus kita bawa?"
"Oh begitu, anak kamu mana? Udah kaya anak gadis aja, kemana-mana sendirian, terus lelaki yang semalam itu siapa, May?" tanyanya dan Maya tidak menghiraukan ibu tersebut yang berdiri tepat di sebelah kanannya, wanita paruh baya itu sedang memilih gorengan.
Mendengar wanita itu bertanya soal Bram membuat Maya memilih untuk diam.
Setelah itu, Maya membayar belanjaannya dan segera pergi dari kerumunan ibu-ibu.
"Dasar, kepo. Sepertinya semua orang kepo!" batin Maya. Teringat dengan Bram membuat Maya kembali merasakan benda tipis nan kenyal yang semalam mengecupnya.
Maya mengusap bekas yang semalam Bram cium. "Astaga, kenapa masih berasa di tangan aku!" gumamnya seraya mengusap punggung tangannya dan setelah Maya pergi semua ibu-ibu itu menggosipkan rumah tangga Maya.
****
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," seru Maya yang baru saja masuk ke rumah dan ternyata sudah ada Bram yang membawa sarapan untuk mereka semua.
"Kamu kenapa repot-repot bawa ini segala. Aku udah punya sarapan sendiri!" kata Maya seraya menunjukkan tentengannya.
"Apa itu?" tanya Bram seraya mengambil bungkusan tersebut dari tangan Maya dengan kaki yang masih sedikit pincang.
"Sakit, ya?" lirih Maya dan Bram pun melihat kearahnya.
"Sakit lah masa enggak!" Setelah itu Bram kembali duduk.
"Udah tau sakit kenapa keluyuran, bukan di rumah aja sana!" gerutu Maya, wanita itu tidak ikut duduk bersama dengan Bram lalu keluar Gala yang membawa minuman hangat untuk dirinya dan Bram.
Lalu, Bram membalas ucapan Maya,
"Kalau sendirian di apartemen enggak ada yang mengurus, gua sendirian! Sedangkan ini ulah suami lu!"
Setelah itu, Bram langsung menyeruput teh hangat buatan Gala.
"Seger banget," ucap Bram, pria itu sebenarnya merasakan sakit.
"Bukannya dirawat aja lu, bang. Kalau lukanya tambah parah gimana?" tanya Gala seraya menuang lontong sayur yang Maya beli ke dalam mangkok.
"Enggak usah, gua takut pas malam-malam Biru nyuruh orang buat sabotase kematian gua!" jawab Bram seraya menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Terserah lu aja, bang. Asal jangan lupa minum obat, biar nggak sampai demam!" Gala mengingatkan.
****
Sementara Biru, hari ini masih dapat belum memejamkan matanya tetapi pria itu tetap berpenampilan rapih bersiap untuk bekerja.
Duduk seorang diri di kursi meja makan.
Selesai dengan sarapannya Biru mengumpulkan semua pekerjanya di ruang tengah.
"Jangan sampai ada yang melakukan apapun yang tidak saya suka! Jangan menerima panggilan dari Maya, jangan biarkan Maya mendekati anak saya kecuali dia pulang!" perintah Biru dengan suara tegasnya. Setelah mengatakan itu sekarang Biru meminta Andy untuk mengantarnya ke kantor.
"Gue mau wanita itu kembali ke rumah ini apapun caranya, gue yakin kalau Maya tidak akan sanggup meninggalkan Ifraz lama-lama. Kalian akan menanggung akibatnya jika tidak mendengarkan!" batin Biru, pria itu sekarang sudah duduk di bangku belakang melihat jam tangannya.
Bersambung.
Biasa ya, jangan lupa klik like setelah membaca, aku nggak bosen buat ingatkan biar kalian enggak lupa ðŸ¤.
__ADS_1
Untuk dukung karya ini bisa dengan like, komen dan gift/votenya.
Jadi kalian yang sayang aku jangan lupa dukung ya biar aku makin semangat 🔥🔥