Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Lagi-lagi Mengancam


__ADS_3

Sesampainya di kantor, Biru menyuruh Andy untuk menemui Maya di rumahnya.


"Temui Maya, bilang padanya dia tidak akan melihat Ifraz selain di rumahnya!"


Setelah mengatakan itu, Biru yang menentang tas kerjanya segera berjalan dengan tegap dan gagah, pria itu masuk ke kantor dan semua orang memberi hormat pada Biru tetapi lelaki itu tetap memandang lurus.


"May, kita enggak akan pisah, aku nggak mau kehilangan jabatan dan kamu, intinya aku nggak mau kehilangan semua!" batin Biru yang sekarang masuk lift diikuti oleh Ran yang berada di belakangnya.


****


Di sebuah desa, Murni menemui orang tua Ran, sebenarnya wanita itu sudah dari semalam berada di desa itu, desa yang terletak di Jawa Timur.


"Kamu tau Sam, anak saya telah gagal sebagai pemimpin! Aku salah dulu tidak menuruti ucapan suamiku yang mengatakan kalau Albiru harus kamu didik dengan keras," kata Murni, sekarang ke duanya sedang duduk ditemani cemilan dan teh hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.


Sedangkan Sam hanya mendengarkan. Lalu, Murni langsung mengutarakan niatnya. "Sam. saya mau kamu didik cucu saya supaya dia menjadi pria hebat! Seperti kamu menyiapkan Ran untuk menjadi pengabdi Wijaya group setelah kamu!"


"Saya akan melakukan itu sesuai dengan perintah Nyonya, saya yakin Nyonya sudah memikirkan semua matang-matang," jawab Sam. Pria itu masih terlihat kaku, seperti ia masih menjadi sekretaris Wijaya dulu.


"Kapan bayi itu akan datang, Nyonya?"


tanya Sam yang sama sekali tidak berani menatap wajah majikannya.


"Nanti! Sebentar lagi!" jawab Murni.


Wanita itu mengusap dadanya, tidak yakin kalau Maya akan mau berpisah untuk sementara dengan anaknya.


"Maafin mamah, May. Mamah melakukan ini demi penerus perusahaan mamah!" batin Murni.


****


Andy baru saja sampai di rumah Maya, sekarang sedang mengetuk pintu pagar dan terlihat Gala yang keluar dari rumah.


"Andy, ngapain?" tanya Gala seraya berjalan mendekat lalu membukakan pagar.


"Ada yang harus saya sampaikan pada Nyonya," jawab Andy, pria itu mengikuti Gala dari belakang.


"Ya udah, duduk dulu, biar saya panggilkan!" kata Gala dan Andy pun menurut, pria itu duduk di bangku teras.

__ADS_1


Tidak lama, sekarang Andy harus berdiri lagi, pria itu menundukkan kepala dan menyampaikan pesan Biru untuk Maya.


"Maaf, Nyonya. Saya datang kemari untuk menyampaikan pesan dari Tuan. Nyonya tidak akan dapat melihat Ifraz atau mendengar suaranya selain di rumah itu."


"Jadi dia mengancam? Dengar aku tidak takut dengan ancamannya!" jawab Maya. Wanita itu kembali masuk meninggalkan Andy yang menarik nafas dalam.


Setelah itu, Andy pun memutuskan untuk kembali ke rumah majikannya. "Ya Tuhan, ini semua gara-gara ular betina itu! Hancur rumah tangga Tuan dan Nyonya yang harmonis, eh kok aku menyalahkan ular itu kan nggak semua salahnya, ini juga salah Tuan!" batin Andy seraya melajukan mobilnya dengan perlahan.


****


Beberapa jam telah berlalu, sekarang Hafizah sudah berada di kamar hotel.


Wanita itu mengirim gambar dirinya yang sedang berada di kota.


"Mas. Aku sangat merindukanmu, aku juga mengkhawatirkan kamu!" tulis Hafizah untuk sebuah gambar yang ia kirim pada Biru membuat Biru yang sedang mempelajari berkasnya itu melihat ke ponsel yang bergetar.


Biru, mengambilnya dan melihat foto Hafizah yang terlihat imut, wanita itu sedang duduk di sofa dengan tangan yang menyangga dagunya.


Lalu, Biru memperhatikan layar belakang foto itu, seperti tidak di villanya, Biru pun bertanya, "Kamu dimana sayang? Seperti tidak di villa?"


Setelah itu, Hafizah kembali mengirim foto dan kali ini wanita itu mengirim foto seksinya yang sedang berendam air busa di bethup.


"Astaga, wanita ini pintar sekali menggoda ku!" gumam Biru, setelah itu Biru menanyakan alamat hotel tersebut dengan senang hati Hafizah mengirim alamat itu.


"Yes!" Hafizah merasa senang karena sekarang Biru sudah terpancing olehnya.


Setelah beberapa menit, Hafizah yang sudah kedinginan itu bangun dari berendamnya dan membilas tubuhnya menggunakan air mengalir dari shower.


Setelah itu menggunakan handuk piyama, menggulung rambut panjangnya menggunakan handuk. Duduk manis seraya menonton televisi dan meminum jus buahnya.


Kemudian, Hafizah melihat ponselnya berkedip, ternyata ia mendapat pesan dari Biru yang mengatakan kalau dirinya sudah sampai di hotel.


Hafizah pun bangun dari duduknya dan bersiap untuk membukakan pintu.


Setelah melihat suaminya sudah berada di depan pintu, Hafizah pun segera membuka pintu untuk suaminya.


Biru tersenyum melihat Hafizah yang menggoda, belum sempat menutup pintu Biru sudah segera menerkam istrinya saat itu juga, ia ******* bibir tipis Hafizah sedangkan tangan Hafizah menutup pintu itu.

__ADS_1


Sekarang keduanya melakukan itu di siang hari.


****


Sementara Maya, wanita itu sedang mengolesi Salep untuk Bram.


"Lain kali jangan sok jagoan!" gerutu Maya seraya sedikit menekan luka Bram yang berada di lengan. Luka itu di hasilkan dari anak buah Biru yang menghantamnya menggunakan tongkat baseball.


"Laki lu, cari gara-gara mulu!" jawab Bram, "Aaaaa! Pelan-pelan!" ringis Bram saat merasakan jari Maya yang menekan lukanya itu dan Maya tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Aku siapin air hangat buat ngompres!" kata Maya seraya bangun dari duduknya dan meninggalkan Bram yang berada di ruang tamu.


Maya mengisi air di panci dan mulai menyalakan kompor untuk memasak air itu, kemudian Maya terkejut karena tiba-tiba saja tubuh kekar memeluknya dari belakang.


Maya melihat kearahnya dengan mendongakkan kepala, sekilas Maya mengira kalau itu adalah Biru dan ternyata pria berbadan kekar tersebut adalah Bram.


"Jangan begini, Bram. Lepas!" perintah Maya seraya meronta.


"Terimakasih!" bisik Bram dan setelah itu Bram melepaskan pelukannya memilih untuk duduk di kursi meja makan menunggu Maya menyiapkan air hangatnya.


"Bram, aku ada acara sama temen-temen, sepertinya aku nggak bisa nemenin kamu ngompres, kamu kerjain sendiri ya!" kata Maya yang kemudian meninggalkan Bram di dapur, tetapi langkahnya terhenti karena Bram harus menarik lengan Maya.


Maya pun menjadi sedikit panik, takut kalau Bram akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, mengingat Bram adalah pria bayaran, membuat Maya berfikir negatif tentangnya.


"Jangan takut, gua enggak akan melakukan itu tanpa persetujuan dari lu!"


"Melakukan apa, ngaco kamu!" jawab Maya seraya melepaskan tangan Bram dari tangannya.


Bram pun tak tega lagi untuk menggoda Maya yang sudah ketakutan, dengan terkekeh Bram melepaskan Maya membuat Maya terjatuh karena terkejut tiba-tiba saja Bram melepaskan tangannya.


"Lu bisa bangun sendiri!" kata Bram, pria itu menahan tawanya dan Maya merasa sedikit kesal.


Bersambung.


Terimakasih sudah membaca.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya. Bintang lima juga deh 🙈 duh duh ini Author banyak banget maunya 🤭.

__ADS_1


__ADS_2