Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Malam ini Ifraz tidak pulang, ia menemani Zenia tidur sampai pagi dan Ifraz merasa malam ini adalah malam bahagianya, Ifraz juga mengatakan kalau ia akan bertanggungjawab untuk menikahi Zenia.


Zenia senang mendengar itu, andai esok masih ada hari lagi dengan Ifraz, ia ingin selalu ada untuknya. Sekarang, Zenia tertidur dalam dekapan Ifraz.


****


Maya mengirim pesan pada semua teman dekat Ifraz dan semua menjawab pesan Maya kalau Ifraz tidak ada di sana.


"Kamu kemana, Faz? Kenapa nggak pulang?" tanyanya pada diri sendiri.


Maya berdiri di tepi jendela ruang tamu, menatap keluar.


Setelah itu, Maya harus bersiap untuk menyiapkan sarapan. Ia menepiskan rasa khawatirnya pada Ifraz, berfikir positif kalau anaknya baik-baik saja.


Tidak lama kemudian, Maya yang sedang berdiri di dapur itu mendengar suara langkah kaki dan Maya segera melihat, Maya merasa lega karena anaknya pulang dengan utuh dan terlihat baik-baik saja.


Ifraz yang baru saja sampai di kamar, ia mengirim pesan pada Zenia, mengatakan kalau dirinya sudah sampai dengan selamat, tetapi pesan itu tidak terkirim, Ifraz berfikir kalau ponsel Zenia lowbat.


Ifraz segera meletakkan ponselnya di nakas, ia memilih untuk mandi. Selama mandi itu Ifraz masih selalu terbayang dengan Zenia yang tanpa busana.


"Aarrrrrgh!" geram Ifraz yang sedang berada di bawah shower, ia sama sekali tidak dapat melupakan Zenia.


Selesai mandi, Ifraz segera berpakaian dan sekarang menjatuhkan dirinya di ranjang, Ifraz kembali mengambil ponselnya dan melihat pesannya tadi masih belum terkirim.


"Apa dia kelelahan? Sampai lupa mengisi daya baterainya?" gumam Ifraz seraya menatap layar ponsel itu, sambil menunggu, Ifraz memainkan game onlinenya.


Tanpa Ifraz tau, kalau Zenia sudah membuang nomor ponselnya dan sekarang Zenia sedang bersama Marisa, Bram dan perawat Bram.


Zenia menatap sedih pada rumah yang banyak kenangan manis itu.


"Jangan banyak drama!" kata Marisa, ia dengan mengatakan itu setelah mempermainkan perasaan anak-anak.


Zenia pun segera masuk ke mobil sedangkan Bram tidak banyak bertanya lagi, mereka akan pergi dari Indonesia untuk menghilangkan jejak sekaligus untuk pengobatan Bram di sana.


Bram yang biasanya sangat cuek itu dapat melihat kesedihan Zenia, gadis ceria, cerewet dan sekarang mendadak jadi pendiam.


"Kak, Kak. Lo nggak berperasaan banget sih, anak lagi jatuh cinta malah lo pisahin!" kata Bram dalam hati.


Ya, Bram sama sekali tidak mengerti ini adalah rencana Marisa dan perjanjiannya dengan Zenia.


****

__ADS_1


Ifraz mulai resah, ia mencoba menghubungi Zenia dan nomor itu tidak aktif.


"Iya udah, nanti sekalian ke kampus gue samperin dia!" kata Ifraz dalam hati, setelah itu Ifraz mendengar suara kamarnya di ketuk, Kania yang mengetuknya, memanggilnya untuk sarapan.


Ifraz segera membuka pintu itu dan mengusap pucuk kepala Kania, tersenyum hangat pada adiknya.


Sekarang semua sudah berada di meja makan, semua makan tanpa ada bersuara, tidak seperti biasanya yang penuh kehangatan.


Selesai dengan sarapan, Daniel meminta pada Ifraz untuk mengantarkan adiknya sekolah tetapi Ifraz seolah tak mendengar Daniel, tepatnya Ifraz masih mengabaikannya.


"Pah, kalau papah nggak bisa antar biar Ken naik ojek aja," kata Kania dengan polosnya, gadis kecil itu menatap Daniel dan Daniel mengusap pucuk rambut Kania.


"Papah bisa antar kamu, sayang!"


Kania tersenyum dan Daniel pun tersenyum, menutupi rasa kecewanya diacuhkan oleh anak sendiri.


Sebenarnya, Daniel juga hanya ingin mengetes anaknya, sudah kembali atau belum dan ternyata masih sama saja, merajuk padanya.


Maya menarik nafas dalam dan sekarang mengantarkan Kania dan Daniel sampai ke depan.


Maya mencium punggung tangan suaminya dan Kania mencium punggung tangan Maya.


Maya tersenyum dan melambaikan tangan dadah pada anak dan suaminya itu. Setelah itu, Maya segera menemui Ifraz.


Maya mengetuk pintu dan membukanya, lamar itu tidak terkunci, terlihat Ifraz sedang bermain game dan Maya pun menarik nafas.


"Nak," lirih Maya dan Ifraz tidak menjawab.


Maya mendekat dan ikut duduk di ranjang. Ia mengusap kaki anaknya yang selonjoran.


"Kenapa, Mah?" tanya Ifraz dan pandangannya tetap ke game miliknya.


"Mamah minta kamu mengurangi main game, lebih baik kamu belajar berbisnis sama papah kamu!" kata Maya mencoba mengingatkan.


"Bukan mamah melarang, tapi ya nggak gini juga, pagi-pagi kamu udah main game," kata Maya dan Ifraz masih diam.


Lalu, Ifraz bertanya, "Belajar bisnis sama papah yang mana?" tanya Ifraz seraya tetap fokus pada ponselnya.


"Dengan papah Daniel, tapi mamah juga nggak melarang kamu kalau kamu mau dekat dengan papah Biru," kata Maya dan Ifraz menertawakan Maya.


"Aneh! Kalau begini akhirnya kenapa dulu mamah sibuk memisahkan aku sama Om?" tanya Ifraz, ia masih tidak mau mengakui Biru sebagai ayahnya.

__ADS_1


Setelah itu, Ifraz turun dari ranjang dan membukakan pintu untuk Maya.


"Mah, tolong keluar! Ifraz butuh waktu!" kata Ifraz dan Maya bangun dari duduknya.


"Ifraz, tidak seharusnya kamu seperti ini, kamu terluka dan mamah juga terluka, jangan berfikir kalau kamu terluka sendiri!" kata Maya dan setelah mengatakan itu, Maya keluar dari kamar Ifraz, terdengar kalau Ifraz menjawab, "Itu sudah keputusan mu!"


"Astaga!" Maya mengusap dadanya. Ia menggelengkan kepala dan setelah itu, ia mengirim pesan pada Biru, mengatakan kalau belum berhasil membujuk Ifraz.


Biru yang sudah sampai di kantor itu menyenderkan kepalanya di kursi, menatap langit-langit ruangan itu.


"Serba salah!" kata Biru yang kemudian mengusap wajahnya.


Biru membalas pesan Maya, mengatakan kalau Marisa membawa keluarganya pergi, kemungkinan setelah ini Ifraz akan semakin terluka.


Benar saja, Ifraz yang akan ke kampus itu harus melihat keadaan Zenia yang semalam terlihat kesakitan saat bermain bersamanya.


Tetapi, rumah itu kosong, bahkan rumah itu bertuliskan dijual, Ifraz mengira kalau Zenia sedang ngeprank dirinya.


Ifraz memanggil satpam dan satpam itu mengatakan kalau majikannya sudah pergi dari pergi.


"Pergi? Pergi kemana?" Ifraz masih berfikir positif, ia mengira kalau Zenia sedang pergi ke rumah Bram.


Sekarang, Ifraz mencarinya ke sana dan tidak menemukan siapapun.


Ifraz tak percaya dengan apa yang terjadi siang ini.


Setelah tak mendapatkan jawaban sekarang Ifraz kembali mencoba menghubungi semua orang, Marisa dan Zenia, semua tidak aktif.


Hanya nomor Bram yang aktif tetapi Bram tidak mengetahui kalau Ifraz menghubunginya, ponselnya ada di tangan Marisa dan disilent olehnya.


****


Ifraz masih tak mengerti, ia terus mencoba mengirim pesan pada Zenia tetapi sudah berhari-hari tidak ada balasan.


Sekarang, Ifraz menjadi frustasi.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan ratenya nya, kalau masih ada vote gratis yuk di vote 🤗


Terimakasih sudah membaca☺

__ADS_1


__ADS_2