
"Sepertinya lebih baik aku tidak melihatmu! Semakin menambah semangatku untuk makan semua makanan ini! Hari ini aku mau makan petai, emmmmm. Sudah lama sekali aku tidak memakan makanan ini!" gumam Maya dalam hati, wanita itu duduk seorang diri di meja makan untuk menyantap sarapannya.
Selalu terngiang di telinganya yang mengatakan kalau Biru melarang Maya untuk makan jengkol atau petai, tapi, mulai sekarang Maya akan melakukan semua yang dibenci suaminya.
Di hati Maya ada benci dan cinta menjadi satu untuk suaminya, wanita itu membanting garpu dan sendok di meja makan, merasa kesal pada dirinya sendirinya.
"Rumah tangga macam apa ini, ini jauh dari mimpiku yang membina mahligai rumah tangga penuh cinta!" batin Maya, wanita berkulit putih itu mengusap wajahnya.
****
Di rumah Hafizah, Biru dijemput oleh Ran. Ya, sekarang Biru yang selalu merasa lelah karena harus membagi waktu antara Maya dan Hafizah itu meminta Ran untuk setia mengantarnya kemana pun ia pergi.
"Apa jadwal ku hari ini?" tanya Biru yang sudah duduk tampan di bangku belakang.
Ran menjawab kalau jadwal Biru hari ini sangat padat, salah satunya menemui klien yang ingin membangun kerjasama dengan perusahaannya.
"Baik, terimakasih sudah mengatur waktuku!" kata Biru seraya merogoh saku celananya.
"Sudah menjadi tugasku, Tuan!" jawab Ran seraya terus fokus mengemudi.
****
Maya tidak merasa bosan dan lelah, ia selalu bersemangat untuk segera pulih dan baru saja perempuan itu membuka perban yang ada di kepalanya, terlihat sedikit botak karena waktu itu rambut Maya harus dipotong.
"Nggak papa, Maya. Nanti numbuh lagi kok!" ucapnya pada diri sendiri.
Duduk, makan dan minum itu lah yang Maya lakukan seharian ini, membuat wanita cantik itu merasa bosan. Sampai malam tiba tidak ada tanda-tanda kalau Biru akan pulang ke rumahnya.
Sekarang, Maya sedang berusaha untuk berpindah ke ranjang.
Ya, perlahan Maya sudah bisa merasakan lagi kakinya.
Maya mencoba untuk memejamkan mata, memeluk bayinya.
"Bagai burung dalam sangkar!" gumam dalam hati dan di saat Maya sudah tertidur Maya merasakan pelukan hangat dari belakang.
"Maaf, Maya. Hari ini aku sangat sibuk!" lirih biru di telinga Maya membuat Maya merasa geli saat nafas Biru menyapu area sensitifnya.
Setelah itu, Biru membalikkan badan Maya, mengecup bibirnya.
Namun, Biru mendapati aroma tak sedap dari mulut Maya.
__ADS_1
Biru melepaskan itu lalu bangun dari duduknya. Pria itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci mulutnya lalu menggosok gigi. Biru menggerutu dan mengatakan kalau Maya bukanlah penurut seperti Hafizah.
Selesai dengan itu, Biru keluar dari kamar mandi dan langsung bertanya pada Maya.
"Makan apa kamu, hah?" Biru berkacak pinggang, menatap Maya yang sudah dengan posisi duduknya.
"Kenapa? Itu makanan kesukaan aku. Semenjak menikah dengan kamu, aku merindukan mereka!" jawab Maya santai.
Biru geram mendengar jawaban Maya, mengepalkan tangannya, merasa sangat kecewa di saat dirinya ingin mencium istrinya justru Biru mencium bau tidak sedap dari nafas Maya, bahkan Biru sangat membenci bau itu.
Biru keluar dari kamar, membanting pintu itu saat menutupnya membuat Ifraz terkejut dan menangis.
Biru memijit pelipisnya, merasa belum puas memarahi Maya, terlebih lagi Biru tidak ingin dibantah.
Biru kembali masuk, melihat Maya sedang menenangkan bayinya.
"Dengar! Aku tidak mau dibantah!" kata Biru seraya menunjuk wajah Maya.
"Kenapa? Apa di dunia ini hanya kamu yang dapat melakukan semua hal yang kamu sukai?"
"Kamu tau Maya, akhir-akhir ini kamu menyebalkan! Lihat Hafizah. Dia sangat menurut dengan ku! Apapun yang aku katakan dia akan menerima!"
Mendengar itu, Maya semakin membenci dan bersemangat melakukan semua yang Biru tidak suka agar Biru segera menceraikannya.
Mendengar itu, Biru melangkah dengan cepat, mencengkram mulut Maya, menatapnya tajam tanpa menghiraukan bayinya yang menangis.
"Jangan pernah macam-macam!" ucapnya, setelah itu Biru keluar dan kembali membanting pintu itu.
Sedangkan Maya memberikan empeng untuk Ifraz. "Maafin mamah ya sayang!" lirih Maya pada Ifraz, wanita itu membelai lembut bayinya.
"Hiks... hiks... hiks!" Maya terisak, merasakan kalau Biru sudah kembali seperti dulu, seperti di awal mereka menikah tanpa cinta.
"Aku harus kuat, aku enggak boleh lemah!" gumam Maya seraya menghapus air matanya.
****
Sementara Biru, ia kembali ke rumah istri mudanya, membuat Hafizah sedikit bingung karena seharusnya malam ini Biru berada di rumah Maya.
"Apa mereka bertengkar lagi? Kalau iya? Sepertinya aku tidak perlu melakukan apapun, suamiku akan pulang dengan sendirinya!" batin Hafizah.
Wanita itu menutup pintunya kembali dan tiba-tiba Hafizah mendapat serangan dari Biru, pria itu mengecup bibir Hafizah dengan tangan yang bergerilya.
__ADS_1
Hafizah mengerti kalau suaminya menginginkan itu, tetapi tidak mungkin bagi Hafizah secepat ini melakukan itu.
Hafizah memutar otaknya, berpura-pura merasakan sakit di perutnya.
"Aakh!" pekik Hafizah seraya sedikit mendorong dada bidang Biru.
"Kenapa?" tanya Biru seraya merangkum wajah Hafizah.
"Perutku sedikit sakit," lirih Hafizah seraya wajah yang dibuat memelas.
"Apa perlu kita ke dokter?" tanya Biru seraya mengusap perut istrinya.
"Enggak usah, kan obat dari dokter kandungan masih ada kemarin, ayo ke kamar," ajak Hafizah seraya menarik lengan Biru.
Di kamar, Hafizah melayani Biru, membuat pria itu merasa puas dengan caranya. "Terimakasih!" bisik Biru yang sekarang sudah memeluk Hafizah dan Hafizah semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf, usia kehamilan ku masih sangat muda, masih sangat sensitif," kata Hafizah seraya jari lentiknya bermain di dada bidang suaminya.
"Tidak apa, oia kapan jadwal cek kandungan?" tanya Biru seraya mengusap rambut halus Hafizah.
"Nanti, masih lama. Kalau kamu sibuk aku enggak apa-apa sama ayah aja!"
"Kamu pengertian," puji Biru membuat Hafizah merasa senang.
Setelah itu, Biru meraih ponselnya yang berada di nakas. Pria mengirim berjuta-juta uang untuk Hafizah.
Sementara Maya, wanita itu mengetuk pintu kamar Susi.
Susi segera membuka pintu.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Susi dengan wajah bantalnya.
"Ikut aku ke kamar!" ajak Maya dan Susi pun mendorong kursi roda Maya ke kamarnya.
Susi menutup pintu agar dua pengawal yang berjaga tidak dapat menguping pembicaraan keduanya.
Maya memerintahkan dengan suara lirih, meminta Susi untuk mengambil semua perhiasannya yang berada di kamar atas.
"Semuanya ada di brangkas aku, ingat brangkas aku yang kecil dan kata sandinya adalah hari lahir Ifraz! Besok kamu serahkan itu untuk Gala!"
Ya, Maya tidak ingin setelah bercerai dari Biru dirinya tidak membawa apapun, setidaknya dirinya harus memiliki modal.
__ADS_1
Bersambung.