Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Isi Kepalaku Hanya Kamu


__ADS_3

Pia menyapa Miko dan Miko hanya membalas senyum, setelah itu Miko kembali mengacuhkan Pia.


Padahal, dalam hati Miko, ia tidak ingin terjadi, tetapi lelaki itu sadar kalau semakin beruang semakin sakit untuk dirinya.



Visual Miko.


Pia pun tersenyum getir dan sekarang mencari Silvi, tetapi Silvi juga menghindari Pia.


"Kenapa sama mereka? Apa aku berbuat salah?" tanya Pia pada dirinya sendiri, gadis yang kali ini rambutnya dibiarkan terurai itu merasa bingung dengan perubahan sikap dua temannya.


"Aku lebih baik kalian bilang dan jujur apa yang salah sama aku, dari pada kalian harus menjauh tanpa aku tau sebabnya!" Pia masih berbicara dalam hati.


Bahkan selama jam pelajaran pun Silvi yang ada satu kelas dengannya itu memilih untuk sama sekali tak melihat ke arah Pia yang sedari tadi memperhatikan.


Pia kecewa pada dua temannya yang menjauh tanpa sebab itu, setelah selesai dengan kuliah, Pia langsung pulang dan tanpa menyapa Silvi, sedangkan di parkiran Pia melihat Miko di sana, Pia juga tidak menghiraukan Miko.


Pia segera masuk ke mobil dengan perasaan yang tak menentu saat dua temannya berubah sikap padanya tanpa tau kesalahannya, Pia mengingat-ingat apa kesalahannya dan ternyata Pia tidak menemukan kesalahan pada dirinya karena Pia sudah apa adanya pada mereka.


Pia segera menancap gas dan kali ini langsung pulang. Ingin beristirahat dari bekerjanya di toko.


Sesampainya di rumah, ternyata Biru sudah berangkat untuk urusan bisnis dan Pia mendapatkan pesan dari Biru yang mengatakan untuk tidak bertengkar dengan Ifraz.


Begitu juga Ifraz, ia mendapatkan pesan dari Biru yang menitipkan Pia padanya, Biru meminta Ifraz untuk menjaganya.


Sekarang, Ifraz yang berada di kantor itu sedang pusing karena harus mengerti urusan pekerjaan di usianya yang masih muda.


Beruntung ada Ran yang selalu membimbingnya.


Sementara itu, Biru sebenarnya bukan pergi urusan bisnis, pria itu sedang berlibur untuk melepaskan penat dan memanjakan pikirannya, Biru berlibur ke villanya yang ada di Sukabumi tanpa sepengetahuan Pia.


"Maafkan ayah, Pia, Ifraz. Ayah mau kalian semakin dekat! Saling menjaga satu sama lain," kata Biru yang sedang dalam perjalanan.


****


Sepulang bekerja, Ifraz merasa lelah dan sekarang memilih untuk mandi.


Selesai dengan itu, Ifraz pergi ke meja makan dan ternyata Pia tidak ada di sana, Ifraz mengecek ke kamar Pia dan ternyata Pia masih tertidur.

__ADS_1


"Astaga, kebo banget sih nih cewek! Gimana nanti jadi istri orang, suami pulang kerja dia malah tidur!" gerutu Ifraz yang berdiri di pintu.


Dengan sengaja Ifraz mengambil air dan meletakkannya di dekat bibir Pia, membuat seolah air itu adalah liur Pia.


Pia mengusap bibirnya yang basah dengan mata yang masih terpejam, menyadari dirinya ngiler, Pia pun segera membuka mata dan merasa jijik pada dirinya sendiri.


"Iuuuuk, gue ngiler!" kata Pia dan mendengar itu Ifraz pun terkekeh terlebih lagi melihat ekspresi wajah Pia yang mengerutkan dahinya.


"Hahaaa, cewek bisa kebo banget lo tidur!" kata Ifraz yang sedang duduk di kursi belajar Pia.


Pia melihat ke arahnya dan betapa malunya Pia saat melihat Ifraz ada di kamarnya, pasalnya, Pia sedang mengenakan kaos tanpa lengan celana yang super ketat.


"Keluar!" teriak Pia pada Ifraz dan Ifraz kembali menyiratkan air di wajah Pia membuat Pia ingin mengejar Ifraz.


Benar saja, Pia loncat dari ranjang dan mulai mengejar Ifraz yang berlari.


Tetapi Pia harus jatuh saat kakinya tersandung selimut yang terbawa turun.


"Aduh!" pekik Pia dan Ifraz mendengar itu segera kembali ke kamar dan melihat Pia yang masih di lantai.


Ifraz membantu Pia untuk berdiri dan Ifraz segera menggulung tubuh Pia menggunakan selimut yang ada.


Pia merasa kalau Ifraz adalah lelaki yang baik, setelah itu Ifraz kembali ke kamar dan di sana ia kembali teringat dengan Zenia yang pernah tanpa busana di depan matanya.


Pria yang berpakaian santai itu menjatuhkan dirinya di ranjang.


Mencoba menghapus ingatan kotornya tentang Zenia, belum lagi Ifraz masih merasakan kenyalnya bibir Pia saat ia mencium paksa gadis itu.


Ifraz merasa kalau lama-lama ia bisa menjadi gila, bertepatan dengan itu, Ifraz merasakan ponselnya bergetar dan ternyata itu pesan dari temannya yang mengirim sebuah link biru untuk Ifraz.


"Astaga!" teriak Ifraz yang semakin pusing.


"Gila, nggak tepat banget lo kirimin link ginian di saat gue lagi kaya gini!" gerutu Ifraz pada ponselnya dan Ifraz semakin tersiksa dengan hasratnya sendiri.


Ifraz antara iya tau tidak untuk membuka link itu.


"Buat ngobatin mah nggak papa kali ya?" tanya Ifraz dalam hati dan baru saja Ifraz akan membuka link itu pintu kamar sudah di gedor oleh Pia yang mengajaknya untuk makan malam.


"Astaga, nggak ada lembut-lembutnya tuh cewek. Gedor pintu aja udah kaya nagih utang!" gerutu Ifraz yang sedang tiduran di ranjang. Menatap pintu yang terus di gedor oleh Pia.

__ADS_1


Sekarang, Ifraz membuka pintu dan ternyata Pia sudah rapih dengan piyamanya.


"Apa?" ketus Ifraz seraya menatap Pia, tepatnya bibir Pia.


"Makan!" kata Pia, setelah mengatakan itu Pia segera meninggalkan Ifraz yang dianggapnya sangat aneh saat menatap dirinya.


"Kenapa sih, semua orang aneh hari ini!" gerutu Pia dalam hati.


Sekarang, Pia dan Ifraz makan tanpa bicara, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.


Selesai makan, Pia memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah.


Gadis itu yang baru saja bangun dari tidurnya merasa akan kuat begadang malam ini.


Ternyata, ada Ifraz yang memperhatikan Pia dari lantai atas.


"Pia, kenapa akhir-akhir ini lo selalu ada otak gue?" tanya Ifraz pada diri sendiri.


"Lo mau dijodohin, tapi kenapa gue sakit?" Ifraz masih bertanya pada diri sendiri, tentunya di dalam hati.


Ifraz menarik nafas dalam dan sekarang memilih untuk kembali ke kamar, melihat ponselnya dan kembali teringat dengan link yang temannya itu kirim.


Ifraz meraih ponsel itu yang berada di ranjang, Ifraz menatap link itu dan takut akan menjadi kecanduan Ifraz memilih untuk menghapus itu.


Setelah menghapus, Ifraz merasa lega dan sekarang mencoba untuk memejamkan mata.


Sementara Pia, gadis itu bukannya menonton televisi, tetapi televisi yang menontonnya tidur di sofa.


****


Di rumah Daniel, malam ini ia tidur sendirian karena Kania meminta untuk ditemani Maya di kamarnya.


Entah kenapa Kania menjadi manja, apa karena sekarang di rumah itu hanya ada Kania?


Kania merasa kesepian yang tadinya selalu ada Ifraz teman bertengkar dan teman bergurau, sekarang temannya itu sedang berada di rumah ayahnya.


Maya tidak ingin egois lagi, karena Maya juga tau betul perasaan Biru terhadap Ifraz, Maya ingin membayar keserakahannya di masa lalu.


Bersambung.

__ADS_1


Semoga kebahagiaan cepat datang untuk keluarga Maya, terimakasih sudah membaca 🙏.


Jangan lupa like komen dan difavoritkan, ya.


__ADS_2