Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Cinta Lama


__ADS_3

"Nggak ada jawaban!" kata Maya seraya menatap ponselnya.


"Duh gimana ini?" kata Murni, "atau jangan-jangan macet?" lanjutnya.


Lalu datang Biru yang Menggendong Pia/ Dinara. "Ada apa?" tanya Biru.


"Bram nggak bisa dihubungi!" lirih Maya.


Biru mendengar itu menjadi geram. Takut Bram akan mempermainkan Maya.


Setelah itu Biru mencoba menghubungi dan hasilnya tetap sama yaitu tanpa jawaban.


"Ya udah biar aku susul Bram!" kata Biru seraya memberikan Pia pada Murni.


"Titip dulu, Mah!"


Biru pun segera keluar dari rumah Maya, pria itu mengendarai motornya ke apartemen Bram. Pria itu ingin memberi pelajaran pada Bram yang telah mempermalukan Maya.


Sesampainya di sana. Biru tidak melihat keberadaan Bram


"Ck. Di mana dia?" gumamnya seraya mengusap sudut bibirnya.


****


Sementara Maya, dirinya semakin khawatir dengan Bram yang belum juga datang. Selain khawatir tentunya Maya juga merasa malu pada para tamu undangan.


"Ini pernikahanku yang ke dua, semoga Bram segera datang atau aku akan merasa malu!" kata Maya dalam hati. Wanita dengan kebaya putih itu menggigit ujung kuku telunjuknya.


Berjalan mondar-mandir di kamar.


"May!" lirih Daniel seraya mengetuk pintu.


Maya melihat ke arahnya.


"Gimana? Nggak ada tanda-tanda calon kamu datang!" kata pria tampan berbadan atletis itu.


"Entah!" jawab Maya yang sedang kebingungan.


Disusul oleh penghulu yang sudah satu setengah jam menunggu.


"Maaf, Mbak. Saya juga ada acara di tempat lain!"


"Tunggu sebentar lagi, Pak! Teman saya sedang menyusul!" kata Maya.


"May, aku mau kita bicara berdua saja!" kata Danil.


"Bicara apa?" tanya Maya mempersilahkan Daniel untuk masuk.


Daniel masuk dan menutup pintu.


"Kalau calon kamu tidak datang, aku mau menjadi pengantin prianya," ucap Danil dan Maya hanya memandang datar.

__ADS_1


Sementara Biru yang sedang dalam perjalan kembali pulang itu melihat kemacetan dan berfikir kalau Bram terjebak macet.


Maya terlihat bingung, ia menjawab pada Daniel kalau pernikahan bukanlah permainan.


"Aku rela menjadi tumbal kamu, May. Untuk menutupi rasa malu kamu saat ini, aku berharap suatu saat nanti akan tumbuh cinta itu lagi dari hati kamu!" kata Daniel dan Maya kembali di desak oleh orang-orang untuk segera keluar.


"Tapi, Dan. Aku lebih baik membatalkan pernikahan ini dari pada harus menumbalkan orang lain untuk menutupi rasa maluku!" kata Maya.


"Aku yakin dia pasti datang, aku adalah cahaya di hidupnya. Dia nggak akan mengingkari janjinya, aku yakin itu!" kata Maya .


Tidak lama kemudian pintu kamar Maya kembali di ketuk dan kali ini Gala yang mengetuk pintu itu.


Gala membuka pintu yang tak terkunci.


Gala yang menguping pembicaraan Daniel dan Maya itu sangat setuju dengan usul Daniel.


Dimana Bram?"


Sesampainya Biru di rumah Maya, pria itu mematung melihat Maya telah melangsungkan pernikahan dengan selain Bram.


"A-apa?" tanya Biru pada dirinya sendiri.


Pria itu merasa menyesal telah menyusul Bram, Biru berfikir seharusnya dia bisa menggantikan Bram apabila dirinya tidak pergi.


Sekarang, terdengar suara 'SAH' dari semua orang.


Menetes air mata Biru melepaskan Maya untuk orang lain.


Sekarang, Biru mengendarai motornya tanpa arah tujuan dan Biru hampir menabrak seseorang yang tak lain adalah Hafizah. Biru meminta maaf dan segera pergi. Pria itu pergi ke kafe di siang hari. Meminum minuman haram di sana.


Dengan memendam rasa cintanya untuk Maya, sekarang pria yang sudah mabuk itu menundukkan kepala, membayangkan masa-masa indahnya bersama dengan Maya.


Merasa sesak, BIru membanting gelas yang berada di tangannya.


"Aaaaaaaa!" teriak Biru, lelaki itu menangis sesenggukkan.


"Harusnya aku yang ada di sana, menggantikan Bram!" gerutu Biru.


Sampai malam, Biru tidak juga kembali ke rumah, pria itu masih menangis dalam kesendiriannya dan Murni memahami itu, wanita itu merasa kalau anaknya sedang patah hati dan memilih untuk menyendiri.


Sementara Maya, Wanita itu tidak percaya akan kembali dan dipersatukan dengan cinta lama dalam ikatan pernikahan.


Sekarang, Maya dan Ifraz sedang diboyong ke rumah Daniel.


"Maya," lirih Ibu Daniel yang sedang duduk di sofa ruang tengah bersama dengan suami.


"Sudah lama tante tidak lihat kamu setelah kamu menikah dulu, anak kecil ini, anak kamu?" tanya Imelda seraya bangun dari duduknya.


"Mulai sekarang Mamah akan lihat Maya setiap hari dan anak kecil ini menjadi anak aku!" kata Daniel membuat Imelda harus berfikir dengan apa yang diucapkan oleh anaknya.


"Maksud kamu?" tanya Imelda menatap tajam anaknya.

__ADS_1


"Aku baru saja menikah dengan Maya!" jawab Daniel seraya membawa Maya ke pelukannya.


"Apa? Maksud kamu apa Daniel? Kamu menikah dengan wanita yang dulu pergi meninggalkan kamu demi lelaki kaya itu?" tanya Imelda dengan sedikit mengeluarkan ototnya.


"Mah, Daniel masih mencintai Maya sampai sekarang dan akan selalu mencintai Maya!"


"Tidak bisa di percaya! Dasar anak bodoh!" geram Imelda seraya pergi meninggalkan Daniel, Maya dan Ifraz.


Sementara Sukma, Ayah Daniel, ia memerintahkan Daniel untuk membawa Maya masuk ke kamarnya.


"Sudah malam, kalian istirahatlah!" Setelah mengatakan itu, Daniel membawa Maya ke kamarnya.


Memang, Daniel bukanlah sekaya Biru, tetapi Daniel masih mencintainya walau Maya sudah menyakitinya.


Di kamar, Maya melihat foto dirinya waktu remaja, masih dengan putih-abu Maya berswafoto dengan Ayana, Dilan, Daniel dan lain-lain.


"Wajar aja mamah kamu benci sama aku, aku udah nyakitin kamu, Dan!" kata Maya.


"Enggak, mamah aku baik kok, kamu tenang aja, lama-lama pasti bisa nerima kamu!" kata Daniel.


Sementara Ifraz, pria kecil itu merasa asing di rumah baru tersebut. Tidak mau lepas dari gendongan Maya.


"May, bagusnya dia manggil aku apa?" tanya Daniel yang masih belum akrab dengan anak tirinya.


"Senyamannya kamu aja!" kata Maya.


"Tapi aku mau panggilan lain, biar nggak sama ke papah atau Daddynya."


"Bisa panggil kamu Abi, Ayah, atau Rama!" kata Maya.


"Memangnya Ifraz memanggil Biru siapa?" tanya Daniel merasa penasaran.


"Jangan bahas yang lain bisa?" tanya Maya.


"Ah, iya... maaf, May." kata Maya.


"Kamu istirahat dulu, aku keluar ambil minum untuk kalian!" kata Daniel.


****


Di rumah sakit, Marisa sedang menangisi Bram yang masih terbaring koma.


"Bram, bangun Bram!" kata Marisa, ia menangis di samping kirinya Bram.


Sekarang, wanita itu demi biaya Bram harus menjatuhkan harga dirinya, Marisa pulang ke rumah Brandon, meminta Brandon untuk membiayai pengobatan Bram.


"Kalian, giliran susah saja meminta tolong!" kata Brandon tanpa iba.


"Dad. Sudah matikah rasa sayang Daddy pada kami?" protes Marisa.


"Sudah, kalian jangan ribut di sini, kasian Bram!" kata Siska mencoba mencari muka dengan menengahi perkelahian ayah dan anak itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2