Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Meratapi Nasib


__ADS_3

Di taman, Gala melihat keramaian. Berfikir untuk membawa Maya, lalu Gala menelepon Bram yang sedang mencuci motor di halaman rumah Gala.


"Halo," jawab Bram, pria itu mengapit ponselnya menggunakan bahu ke telinga, sementara tangannya menyemprotkan selang.


"........ "


"Ok!" jawab Bram yang kemudian memutuskan sambungan telepon.


Setelah itu Bram dengan cepat membilas busa yang berada di motornya.


Selesai dengan itu, ia segera menggulung selang dan menyimpannya kembali ke belakang.


"May!" teriak Bram memanggil Maya dan Maya yang sedang berada di kamar itu segera keluar.


"Ada apa?"


"Gala manggil lu, suruh ke taman katanya!"


"Aku di rumah aja, kalau kamu mau ke taman ya sana, titip salam bilang sama Gala untuk pulang sebelum maghrib!"


"Kalau lu enggak mau ke sana ya udah, gue di rumah aja," jawab Bram, pria itu memilih duduk di sofa panjang depan televisi memainkan ponselnya.


Sedangkan Maya merasa risih karena di rumah hanya ada mereka berdua, membuat Maya mengiyakan ajakan Bram.


"Ya udah," jawab Maya seraya menggerakkan rodanya keluar dari kamar, melihat itu membuat Bram bangun dari duduk dan segera mendorong kursi roda Maya keluar dari rumah.


"Jangan lupa kunci pintunya!" Maya mengingatkan dan Bram tidak lupa mengunci pintu rumah itu.


Mereka berjalan tanpa bicara, sesampainya di taman, Maya melihat keramaian dan senang saat melihat Gala sedang bermain bersama dengan Ifraz.


Terlihat Gala membelikan balon untuk keponakannya. Segera Bram mendorong kursi roda itu menghampiri Gala dan Ifraz.


"Gue pergi dulu bentar!" kata Bram pada Gala dan Gala mengiyakan, ternyata Bram membeli eskrim untuk semua orang tetapi Maya menolak pemberian Bram.


Dan Maya walau berada di tengah keramaian tetapi hatinya merasa sepi, memikirkan Biru yang berada jauh di sana.


''Lagi ngapain kamu, Mas?'' gumam Maya dalam hati.


****


Sementara Biru baru saja sampai di rumah, pria itu mencari ponsel Maya yang berada di laci nakas.


Pria itu duduk di sofa, membuka ponsel Maya yang kata sandinya masih belum berubah sampai sekarang yaitu tanggal pernikahan Maya dan Biru.

__ADS_1


Pria itu menghapus pesan yang tadi siang ia kirim, tidak ingin Maya mengetahui kebodohannya itu.


Sekarang Biru membuka galeri ponsel Maya, di sana Biru melihat banyak foto dirinya dari yang paling tampan sampai yang paling jelek pun ada.


Biru terkekeh melihat itu, setelah itu Biru menemukan foto di mana Maya baru saja melahirkan, masih dengan pakaian rumah sakit dan ada Ifraz di sisi kirinya.


Biru mengusap air matanya, teringat masa itu, di mana dirinya sangat mencintai Maya dan tidak menyangka kalau sekarang Biru dapat membagi cinta itu.


Pria itu bangun dari duduknya, tidak ingin cengeng dan segera mengantongi ponsel Maya, berniat untuk mengantar ponsel itu pada pemiliknya.


****


Di rumah Hafizah, wanita itu sedang memperhatikan foto usg yang baru saja ia dapat, menunjukkan foto jabang bayi itu pada Bambang.


''Ayah, lihat! Ini calon cucu, ayah.''


Bambang pun melihat ke arah selembar kertas yang Hafizah tunjukkan itu.


''Yang mana?'' tanya Bambang, pria itu tidak dapat melihat dengan jelas.


''Ini, ayah. Memang dia masih kecil kan belum ada dua bulan,'' jawab Hafizah seraya jari lentiknya menunjukkan gambar calon anaknya.


Hafizah tersenyum melihat itu dan sekarang wanita itu merasa rindu pada ayah dari bayinya.


''A-'' belum sempat memprotes, Bambang sudah memotong ucapan Hafizah.


''Biarkan Biru bersama dengan istri pertamanya dulu, bukankah tadi siang dia sudah dari sini!'' kata Bambang mengingatkan putrinya.


Sedangkan Hafizah mengerucutkan bibirnya, bersedekap dada.


****


Baru saja Biru turun dari mobilnya, pria itu membuka gerbang rumah sederhana itu lalu mengetuk pintu utama.


''Maya!''' seru Biru dan tidak lama kemudian Bram membukakan pintu.


Melihat pria itu membuat Biru merasa tidak suka.


''Lo siapa sih, kenapa betah banget di sini?'' geram Biru, pria itu menerobos Bram yang belum sempat menjawab pertanyaan Biru.


Biru langsung mengetuk pintu kamar Maya tetapi Maya tidak mau membuka pintunya.


Maya merasa kesal dengan Biru yang sudah merobek surat cerai itu.

__ADS_1


Melihat Biru yang terus mengetuk pintu itu membuat Gala merasa terganggu. ''Berisik tau enggak! Mungkin Mbak Maya udah tidur, lelah. Biarkan dia istirahat!


Setelah itu Biru mencoba untuk bergabung dengan Gala dan Bram yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Merasa terabaikan membuat Biru memilih untuk keluar mencari udara segar.


Tidak lupa Biru meninggalkan ponsel Maya di sofa.


****


Sementara itu, Murni sedang merasa tidak sehat, wanita itu sakit memikirkan anak dan menantunya.


''Nyonya, silahkan obatnya diminum!'' kata asistennya yang sudah berdiri di samping ranjang Murni.


Murni bangun dari tidurnya dan segera meminum obat itu.


''Tolong rahasiakan ini dari anak-anak!'' perintah Murni dan asisten Murni menganggukkan kepala.


''Bagaimana, apakah Maya menerima suster itu?'' tanya Murni, setelah itu Murni meminum obatnya.


''Awalnya menolak, tapi saya meyakinkan Gala dan tidak ada alasan untuk menolak.''


''Bagus!'' jawab Murni, setelah itu Murni memerintahkan asistennya untuk keluar dari kamar.


****


Setelah berkeliling kota, sekarang Biru menepikan mobilnya di tepi pantai. Duduk di atas bagian depan mobilnya, pria itu menolak untuk merasakan dinginnya angin pantai di malam hari.


Menatap dengan pandangan lurus ke depan. ''Dalam sekejap seluruh hidup gue udah berubah, aaaarrrggh!'' Biru mengacak rambutnya.



Visual Maya versi aku.



Visual Biru versi aku.



Visual Hafizah Versi aku.


Mohon maaf kalau semua Visualnya tidak sesuai imajinasi readers, bisa bayangkan sesuai imajinasi kalian 🙏


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2