
Maya menggenggam ponselnya, ia menatap nomor ponsel Murni, berfikir untuk menghubunginya dan benar saja Maya menghubungi mertuanya itu, tetapi Murni tidak menerima panggilan itu.
Wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu hanya menatap ponselnya dan sekarang Ran sudah berada di depannya.
"Ada apa?" tanya Murni seraya menautkan jari-jemarinya, menyenderkan punggungnya ke kursi.
"Maaf, Nyonya. Saya sedikit lancang, tetapi dari yang saya dengar Tuan Biru sudah bermain tangan dan sekarang Nona Maya di usir dari rumahnya. Apa tidak sebaiknya kita menghentikan semua ini?"
"Kamu berfikir apa? Saya mau mereka mencari jalan keluar sendiri dan biarkan mereka saling menyadari arti diri masing-masing di hati mereka!" ucap Murni, wanita itu bangun dari duduknya dan Ran yang menundukkan kepala hanya mendengarkan.
"Tapi aku tidak tega melihat Nona!" batin Ran. Setelah itu Ran segera kembali ke kantor sebelum Biru mencari keberadaannya.
Di kamar, Murni memperhatikan foto pernikahan Maya dan Biru.
"Dengan kalian bercerai, kalian melukaiku, dengan kalian bertahan kalian yang akan terluka, maka aku akan menerima apapun keputusan kalian nanti!" ucapnya.
****
Sementara itu, Maya berfikir untuk mencari solusi sendiri.
"Walau seperti apapun tetaplah Mas Biru anaknya, tidak mungkin Mamah memihak ku sepenuhnya," gumam Maya yang sedang duduk di tepi ranjang, menatap jendela kamarnya.
"Bahkan semua uang yang ku bawa dari rumah itu tidak cukup untuk melarikan diri ke luar negri, memangnya di sana nanti aku tidak membutuhkan makan dan minum apalagi aku membawa bayi, aku harus bekerja keras. Sekarang yang utama adalah perceraian agar di manapun aku berada lelaki itu tidak menggangguku lagi!"
Maya menarik nafas dalam memikirkan Ifraz dan tanpa terasa ternyata hari sudah malam.
"Mbak!" seru Gala dari balik pintu,
"mau makan apa? Gala mau keluar hari ini juga belum ke toko!" lanjutnya.
"Ya udah kamu pergi aja, nanti mbak beli sendiri makannya!" jawab Maya masih dengan posisi yang sama, setelah itu Maya bangun dan menutup jendela kamarnya.
"Ya udah, Gala pergi dulu," kata Gala, tidak lama kemudian terdengar suara motor Gala dan perlahan suara motor itu semakin menjauh.
Maya keluar dari kamar mencari sesuatu di dapur tetapi tidak menemukan apapun.
"Ya maklum lah, namanya juga anak bujang pasti dapurnya kosong," kata Maya, wanita itu melihat jam di layar ponselnya ternyata sudah pukul tujuh malam.
Maya mengikat rambut pendeknya dan mengambil uang di kamarnya, Maya berniat untuk membeli nasi goreng ditempat langganannya.
Baru saja Maya mengunci pintu dan ternyata sudah ada seorang pria yang berdiri di belakangnya membuat Maya sangat terkejut saat membalikkan badan.
__ADS_1
"Astaga, kamu Bram! Bikin aku kaget aja!" kata Maya seraya menyenderkan lengannya ke pintu saking terkejutnya, ia mengira kalau yang datang adalah Biru.
"Kenapa? Tumben lu di sini?" tanya Bram, pria itu memasukkan dua tangannya ke saku celana, menatap Maya yang terlihat sangat cantik walau tanpa make up tebal.
"Nggak usah dijelasin juga pasti kamu tau!" jawab Maya, "kamu mau ngapain? Gala nggak ada di rumah, baru aja pergi!" lanjutnya.
"Kalau adiknya nggak ada biar gua cari kakaknya aja," kata Bram, pria itu tersenyum, menggoda Maya yang menatapnya datar.
"Aku pergi dulu, kalau kita berdua seperti ini takut jadi fitnah," kata Maya yang kemudian melangkahkan kakinya.
"Gua antar Mau, masa klien gua pergi sendiri, lu udah bayar mahal buat gua!" kata Bram seraya menarik lengan Maya memaksanya untuk naik ke motor.
"Aku mau beli nasi goreng, dekat, ngapain naik motor?" jawab Maya yang masih berdiri di samping motor Bram.
"Gua tau tempat nasi goreng yang enak, ayo naik, cepat! Malam sedikit nanti ngantri banget!"
"Yakin? Kalau nggak enak? Kamu harus ganti rugi!"
"Nggak bakalan nyesel!" jawab Bram dan benar saja Bram membawa Maya makan malam bersama di tempat langganan Bram.
"Bang, nasi goreng petai satu!" kata Bram dan Maya pun menimpali, "Aku juga mau nasi goreng petai!"
"Iya, tunggu ya, silahkan duduk dulu!"
Setelah itu Maya dan Bram pun duduk bersebelahan.
"Lu doyan petai? Kirain cewek secantik lu nggak doyan makanan bau gitu,"
"Itu favorit aku," jawab Maya, wanita itu sedikit malu karena mengatakan kalau petai adalah makanan favoritnya.
Setelah itu, seraya menunggu, Maya mengirim pesan pada Nia menanyakan keadaan Ifraz.
"Jadi Ifraz lu tinggal di sana?" tanya Bram seraya menatap Maya.
"Iya, aku ibu yang jahat, ya?" tanya Maya seraya melihat ke arah Bram yang duduk menghadap ke arahnya.
"Enggak, jangan berfikir seperti itu, semua ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya!" kata Bram seraya menganggukkan kepala.
Setelah berbincang, tidak lama kemudian pesanannya sudah datang.
Bram memesan teh manis hangat dua untuk minumnya.
__ADS_1
Maya makan tanpa suara, karena sebenarnya Maya juga merasa risih jalan berdua bersama dengan Bram.
"Bram, nanti setelah ini kamu langsung pulang ya," kata Maya tanpa melihat ke arah pria tampan yang berada di sampingnya.
"Kenapa? Lu grogi deket sama cowok tampan kek gua?" tanya Bram, pria itu sepertinya senang sekali menggoda Maya.
"Dih, bukan gitu!" kata Maya seraya memukul pelan lengan Bram dan Maya menjadi salah tingkah sendiri.
****
Sementara Biru, pria itu masih berada di kantor karena tidak ingin cepat pulang.
Sekarang Biru mendapat kiriman foto dari orangnya yang selalu diminta untuk mengawasi Maya.
Orang suruhannya itu mengiri foto Maya dan Bram yang sedang makan malam bersama bahkan berboncengan motor.
"Siapkan anak buah untuk memberi pelajaran pria itu!" perintah Biru pada anak buah yang dicarikan oleh Ran.
Benar saja, orang suruhannya itu membawa lebih dari sepuluh orang berbadan tegap dan sangar.
****
"Makasih, Bram. Maaf aku enggak nawarin kamu masuk dulu!" kata Maya yang masih berdiri di depan pagar.
"Nggak apa-apa! Gua ngerti kok!" jawabnya.
"Lu masuk dulu sana, kalau ada apa-apa atau perlu apa-apa lu hubungi gua!" perintahnya dan Maya pun menjawab dengan tersenyum, "Iya."
Setelah itu Maya masuk tidak lupa mengunci pagar dan pintu rumahnya yang sederhana.
Bram pun mulai melajukan motornya, entah mengapa malam ini Bram sangat bahagia.
"Kenapa ya, apa gua ada rasa sama bini orang? Berarti gua udah khianati janji diri sendiri yang mengatakan kalau gua nggak akan jatuh cinta!" gumam pria itu dalam hati.
Lalu, Bram melihat kalau jalan pulang itu ditutup oleh sekelompok orang yang tak di kenalnya, terlihat dari pakaiannya seperti preman.
Dapatkah Bram melawan semua preman itu?
Bersambung
Jangan lupa klik like dan komentarnya 😙
__ADS_1