
Pembaca yang baik, jangan Lupa like, Komen dan klik Favorit ya 🥰.
****
Setelah makan malam, Ifraz kembali ke kamar dan ternyata ponselnya yang berada di meja belajar itu berdering, segera Ifraz menerima panggilan itu yang ternyata dari Biru.
"Halo, Om?"
".........."
"Tapi, Ifraz nggak janji Om, ada Omah di rumah," lirih Ifraz.
".........."
"Tapi, kalau ketahuan Ifraz bisa di omelin, Om!" Ifraz masih berbicara dengan suara lirih, takut didengar oleh Imelda.
".........."
"Ok, Ifraz coba," jawab Ifraz yang entah mengapa menurut saja pada perintah Biru.
Sekarang, Ifraz menyusun bantal di ranjang, membuat seolah seperti ada anak yang sedang tertidur, setelah itu Ifraz keluar melalui jendela.
"Duh, kalau Omah tau bisa mampus gue!" gumam Ifraz dalam hati.
Visual Ifraz
Sementara, Ken. Ia ingin bertanya pada Ifraz soal pelajaran, gadis kecil itu masuk ke kamar Ifraz, menyentuh yang ia kira Ifraz.
"Habis makan kok tidur!" ucap Ken, tetapi, Ken merasa ada yang aneh saat menyentuh itu.
Ken membuka dan ternyata itu bantal.
"Astaga! Abang!"
Lalu, Ken segera menutup bantal itu lagi saat dirinya mendengar suara Imelda memanggilnya.
Ken segera keluar dan berpapasan dengan Imelda di depan pintu.
"Ikut Omah, mau ambil baju di butik," ucap Imelda seraya menatap Ken.
"Ken," lirih Imelda sekali lagi, memanggil cucunya yang terlihat bengong.
"Ah, iya Omah, ayo." Ken menarik lengan Imelda supaya cepat pergi dari kamar Ifraz.
"Tapi, abang kamu!"
"Udah tidur, Omah. Mungkin dia lelah," jawab Ken, ia segera mengambil ponsel, berfikir akan lama apabila menemani Imelda mengambil baju.
Imelda segera mengendarai mobilnya.
Ifraz yang sedang berdiri di tepi jalan itu, segera membalikkan badan, berharap Imelda tidak melihatnya.
__ADS_1
Ifraz menarik nafas dalam, setelah itu ia segera menyetop taksi.
Ifraz mengatakan alamat tujuannya, sesampainya di sana, Ifraz sudah ditunggu oleh Biru, pria itu duduk santai di sofa ruang tamu.
"Halo anak muda, makin tampan aja lo!" kata Biru. Pria itu berdiri dan merangkul Ifraz.
"Halo om, tampan dong, masa nggak!" jawab Ifraz seraya menepuk punggung Biru dan Biru melakukan hal yang sama.
"May, anak kita, sangat mirip aku dan kamu," batin Biru, "perpaduan yang pas!" lanjut Biru, pria itu terus tersenyum melihat anaknya.
"Masuk sana, dia masih ngambek!" ucap Biru dan Ifraz mencari keberadaan Pia.
"Pia!" seru Ifraz dan Pia yang sedang belajar di kamar itu segera membalikkan badan menjadi membelakangi pintu kamar.
"Gue ngambek sama lo!" ucap Pia dalam hati dengan bibir yang mengerucut dan sebenarnya, kekesalan Pia adalah bukan hanya itu, ia merasa cemburu tetapi tidak bisa mengatakannya.
Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. "Pia, di panggilin kok diem aja!" protes Ifraz yang masih berdiri di pintu.
Setelah berlari, Ifraz merasa lelah, ia segera menjatuhkan dirinya di ranjang tanpa rasa malu atau risih, berbeda dengan Pia, dia gadis yang baik, manja, pasti ada rasa risih kalau berduaan di kamar seperti itu walau pintu tetap terbuka.
"Keluar!" perintah Pia dengan dinginnya.
"Ya ampun, Pia. Udah dong jangan ngambek lagi, ini gue udah bawa bukunya," jawab Ifraz seraya mengeluarkan buku dari tas kecil yang ia bawa.
"Bukan masalah itu, tapi ini kamar cewek, emangnya lo nggak risih apa?" gerutu Pia, gadis itu tak mau menatap Ifraz.
"Kenapa? Kan kita sahabatan dari kecil," jawab Ifraz seraya kembali menjatuhkan dirinya di ranjang empuk Pia.
"Gitu, jangan ngambek lagi!" ucap Ifraz.
Sekarang, keduanya duduk di karpet, di ruang keluarga dan Biru dapat melihat kebersamaan mereka dari lantai atas, sesekali Biru membayangkan Maya sedang menemani mereka belajar.
"Astaga, apa yang aku pikirkan! Sudah ku bilang, cukup dekat dengan anakku saja, aku sudah bahagia!" ucap Biru dalam hati.
Pria itu masuk ke ruang kerjanya, di sana, di ruangan itu yang tak siapapun masuk ke dalam selain Ran, Biru menatap foto keluarganya yang masih menempel di dinding ruangan tersebut.
Foto keluarga, dari acara ijab kabul saat dirinya menikah dan foto Biru bersama Maya yang sedang membopong Ifraz bayi.
"Hah!" Biru mendesah, berfikir entah sampai kapan dirinya akan terus seperti itu.
****
Di sebuah club malam, Zenia sedang menunggu Ifraz.
"Ya ampun, kemana sih dia! Katanya mau ikut tapi sampai jam segini dia belum datang juga!" gerutu Zen dalam hati.
Sekarang, Zenia ikut berkumpul dengan teman-temannya yang sedang berjoged mengikuti alunan musik yang DJ mainkan.
Zenia juga meminum minuman yang dapat memabukkan.
Setelah merasa pusing, gadis itu memilih duduk di sofa, menyandarkan kepalanya.
Sementara itu, Ifraz yang masih bersama dengan Pia merasa khawatir karena ia telah membuat janji dengan Zen.
__ADS_1
"Faz, lo kenapa? Kok kaya risau gitu?" tanya Pia mendapati Ifraz tak fokus dalam belajarnya.
"Gue kepikiran sama Zen, gue pergi dulu ya!"
"Nggak bisa, lo nggak boleh pergi!"
"Pia, gue udah nemenin lo dari tadi, sekarang gue mau jemput Zen! Udah malam Pia!"
"Gue ikut!" kata Pia yang kemudian berdiri dan merapikan rambut, ia segera berlari untuk mengambil jaketnya di kamar.
Ifraz hanya menggelengkan kepala.
Setelah itu, Pia memberikan kunci mobil pada ifraz.
"Bawa ini!" kata Pia.
Ifraz tidak menjawab, hanya menerima saja dan segera keluar dari rumah mewah Pia dan Pia mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di club tempat mereka membuat janji, Ifraz dan Pia sudah tidak menemukan Zen.
"Faz, kita pulang aja yuk!" rengek Pia saat mendapatkan tatapan usil dari para pria yang berada di club.
"Lagian ngeyel, dibilang jangan ikut malah ikut!"
"Gue nggak denger!" kata Pia, gadis itu memeluk erat lengan Ifraz.
Sementara itu, gadis yang Ifraz cari sudah kembali ke rumahnya.
Seorang wanita melemparkan Zen ke ranjang.
"Merepotkan, saya suruh kamu untuk menjebak anak itu, bukan kamu yang teler!" gerutunya.
Setelah itu, wanita tersebut keluar dari kamar Zen. "Kalau dia nggak berguna, kenapa saya harus menyimpannya!" ucap wanita itu yang tak lain adalah Marisa.
****
"Hay, cantik. Temani gue malam ini dong!" goda seorang pria pada Pia dan Ifraz merasakan pegangan Pia yang mengendur membuat Ifraz melihat ke belakang dan ternyata Pia sedang ditahan oleh seorang pria hidung belang.
Ifraz segera mendekat, meraih tangan Pia. "Ayo kita pulang!" ucap Ifraz dengan nada tinggi supaya dapat di dengar.
Tetapi tangan Ifraz disingkirkan oleh pria itu membuat Ifraz menjadi geram.
"Lepas!"
"Siapa lo? Bagi-bagi lah, jangan pelit sama barang bagus!"
BUGH!
Ifraz meninju wajah pria itu.
Bersambung...
Terimakasih bagi yang masih setia membaca 🚴🚴
__ADS_1