
"Dengar, ini kesempatan bagus! Setelah Ifraz melupakanmu, kamu harus datang dengan membawa bayi ini!" perintah Marisa dan Bram yang baru kembali dari membeli makanan itu sangat terkejut dengan apa yang didengar.
Bram berdiri di belakang Marisa, ia menjatuhkan yang ada di tangannya.
"Maksud lu apa, Kak?" tanya Bram yang tak mengerti dengan maksud Marisa.
Marisa melihat kebelakang dan tersenyum pada Bram.
"Dengar, balas dendam lu sebentar lagi dimulai! Babak kedua!" kata Marisa dengan senang dan Bram tak mengerti dengan apa maksud Marisa.
Lalu marisa menjelaskan kalau dia sengaja melakukan ini untuk membayar sakit hatinya.
"Lu gila, kenapa lu lakuin ini?"
"Karena gua perduli sama lu, lu laki-laki baik tapi malah disia-siakan!" kata Marisa dan Bram pun menggelengkan kepala.
"Gua bukan laki-laki baik. Lu tau kan, walau gua sakit tapi gua nggak akan pernah bisa buat melukai mereka! Mereka nggak salah, yang salah lu, kenapa lu nggak ngabarin Maya kalau gua kecelakaan!" kata Bram, selama ini Bram ingin mengatakan itu tetapi tertahan dan sekarang Bram meluapkannya setelah mengetahui apa yang Marisa lakukan dan Bram juga semakin merasa kasihan pada Zenia yang menjadi korban keegoisan Marisa.
"Bram...," lirih Marisa, ia tak percaya kalau Bram akan mengatakan itu.
"Gua waktu itu cuma mikirin lu, lu yang gua khawatirin!" seru Marisa dan Zenia memperhatikan pertengkaran kakak dan adik itu.
Bram pergi meninggalkan Marisa dan Zenia, pria itu ingin segera menghubungi Biru dan Ifraz. Namun, ketika Bram merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel tiba-tiba saja Marisa merebut ponsel itu dan segera melemparnya ke jalanan dan terlindas oleh kendaraan yang melintas
"Dengar, dia sudah menghancurkan lu, lu nggak usah terlalu baik sama mereka!" kata Marisa, setelah mengatakan itu Marisa pergi meninggalkan Bram yang menahan amarahnya.
****
Malam telah berlalu, sekarang pagi menjemput, Pia sudah bersiap untuk membuka tokonya.
Sedangkan Ifraz baru saja membuka mata dan merasa lapar lalu turun dari ranjang dan melangkahkan kaki ke meja makan.
Di sana hanya tersisa Pia karena Biru sudah bekerja.
Pia melihat ke datangan Ifraz, kali ini Pia hanya tersenyum dan Ifraz menatapnya datar.
__ADS_1
Ifraz merasa penasaran dengan Pia yang sudah rapih, wangi dan ceria. Ia bertanya, mau keman lo?"
"Rajin amat, pagi-pagi dah mau kuliah aja!" batin Ifraz.
"Gue mau kerja dulu sebelum kuliah," kata Pia, setelah itu Pia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Ifraz yang menatapnya.
"Kaya kekurangan aja, lo!" sindir Ifraz dan Pia yang mendengarnya itu tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Ifraz.
****
Di rumah sakit, Zenia mencoba melarikan diri, ia ingin pergi jauh dari Marisa.
Tapi, gadis itu merasa jahat, sekarang tak berfikir untuk kembali pada Ifraz setelah apa yang dilakukannya.
Zenia berjalan tanpa alas kaki, gadis itu pergi entah kemana langkah membawanya.
Sekarang, Zenia yang masih menggunakan pakaian rumah sakit itu berdiri di jembatan, gadis itu menatap ke bawah yang ternyata itu adalah jalan tol.
"Gue bodoh, demi uang gue rela lakukan apapun, sekarang gue hamil, gue mau Ifraz bertanggungjawab tapi apa dia akan kembali? Aku kira aku akan bahagia dengan uang yang ku miliki, ternyata tidak!" batin Zenia, lalu gadis itu mulai menaikkan kaki nya bersiap untuk melompat, Zenia benar melompat tapi ia tak terjatuh karena Bram memegangi tangan Zenia.
Bram menampar Zenia dan Zenia terduduk, menangis menyembunyikan wajahnya diantara dua lutut.
"Kenapa om selamatin aku?" isak zenia dan Bram memijit pelipisnya, ia benar-benar mengerti perasaan Zenia yang hancur.
''Bangun! Kita pulang!" ajak Bram dan zenia menggelengkan kepala, ia tak ingin bertemu dengan Marisa lagi dan Bram yang tak tahan itu membopong Zenia dan segera memanggil taksi.
Sesampainya di rumah, Zenia mengeluarkan semua uang pemberian Marisa yang tersisa, ia menceritakan semua yang Marisa perintahkan pada Bram.
Bram menggelengkan kepala dan sangat geram pada Marisa yang telah berbuat sejauh ini.
Sekarang, Bram menyimpan uang itu dan menunggu Marisa kembali dari bekerja, pria itu ingin mengembalikan uang tersebut sesuai dengan permintaan Zenia, gadis itu juga meminta pada Bram untuk dipulangkan ke Indonesia.
Bram mengiyakan karena ia juga harus pulang tidak ingin berada di dekat Marisa yang jahat.
****
__ADS_1
Ifraz sedang berada di perjalanan untuk kuliah, menaiki motor sportnya dan tak sengaja melihat Pia yang sedang panas-panasan di tepi jalan hanya untuk memberi roti pada anak-anak kecil, anak kecil yang terlihat lusuh dan semua membawa karung.
"Pia, Pia... dari dulu lo nggak berubah," batin Ifraz dan setelah itu Ifraz melanjutkan perjalanannya ke kampus.
Pia yang baru saja berbagi rezeki itu merasa senang dan merasa ada kedamaian di hatinya setelah berbagi pada sesama.
Setelah itu, Pia masuk ke mobilnya yang terparkir tidak jauh, kembali ke toko.
Sore pun menjelang, sekarang Pia bersiap untuk kuliah dan menitipkan toko pada anak buahnya.
Para pekerjanya itu bergosip, ada yang mengatakan kalau anak orang kaya itu enak, usaha juga udah disiapkan.
Lalu salah satu pekerja yang sudah diamanti untuk membantu Pia itu memberi teguran agar tidak asal bicara.
"Emang fakta, lah kita mah apa, mau apa-apa susah!" jawabnya, gadis yang berpenampilan seksi itu bekerja seraya ngedumel.
"Iri bilang, bos!" sahut karyawan yang lain lagi.
****
Sekarang, Marisa baru saja masuk ke rumahnya. Di sana sudah langsung di tatap oleh Bram yang sedang duduk di ruang tamu.
Bram berdiri dan melempar uang yang ada di koper kecil itu tepat di kaki Marisa.
"Maksud lu apa?" tanya Marisa, wanita itu menatap datar pada Bram dan Bram menjawab dengan memanggil Zenia, Zenia keluar dari kamar dengan menyeret koper miliknya.
Marisa bertanya pada Zenia, "Mau kemana kamu? Apa kamu akan meninggalkan aku?"
"Ya, Tan. Aku menyerah, aku tida lagi sanggup menjadi boneka tante, aku masih punya perasaan, Tan!" jawab Zenia dengan menangis.
"Dengar, semua udah terjadi, kalaupun kamu kembali sama Ifraz belum tentu dia mau kembali sama kamu! Ayah kamu? Dia tukang judi, pemabuk, kasar, bukan tempatmu kembali! Cuma aku yang bisa kamu andalkan!" ucap Marisa, wanita itu mencoba mencuci otak Zenia lagi dan kali ini Bram yang mendengar itu tak tinggal diam.
"Gua akan bertanggung jawab, dia hamil gara-gara lu yang maksa dia! Gue akan angkat dia jadi adik gua! Gua yang menanggung biaya hidupnya!" kata Bram. Setelah mengatakan itu Bram mengajak Zenia untuk pergi dari rumah Marisa.
Bersambung.
__ADS_1
Yuhuuu, pembaca yang baik, jangan lupa like ya, komen dan gift/votenya. Terimakasih buat yang sudah membaca, salam sayang dari Author^^