Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Masih Cemburu


__ADS_3

Maya menatap Daniel yang masih duduk di bangku kemudinya.


"Kenapa?" tanya Daniel seraya melihat Maya.


"Kenapa ke sini?" tanya yang sedang ditatapnya.


"kamu kangen kan sama Ifraz! Ayo cepat, turun!" perintah Daniel seraya membuka sabuk pengamannya.


"Mas, kita bisa tanyakan sama Pia, sekarang ayo pulang!" Maya menahan tangan Daniel, Maya sama sekali tak ingin menemui Biru, tidak ingin Imelda semakin berkata buruk padanya.


"Nggak papa, kan ada aku!" kata Daniel dan Maya tetep tidak mau turun dari mobil.


Akhirnya, Daniel yang mengalah, tidak memaksa Maya, takut akan membuat Maya tidak nyaman.


Sekarang Daniel kembali melajukan mobilnya, ia mengajak Maya untuk menonton bioskop. Bukannya nonton tetapi Maya tertidur di sana.


Daniel melihat wajah lelah Maya, merasa tak tega.


"May, sebenarnya kamu bahagia atau tidak? Kenapa meminta aku untuk bertahan sejauh ini?" batinnya.


selesai dengan menonton, sekarang Daniel mengajak Maya untuk pulang.


****


Di Jawa Barat, Pia sedang duduk bersantai dengan teman-temannya, Pia juga mengambil gambar Ifraz yang sedang duduk menyendiri, terpisah dari rombongan.


Pia tersenyum saat mendapatkan gambar Ifraz, saat Pia sedang tersenyum-senyum dengan layar ponselnya tiba-tiba saja seseorang merebut ponselnya, orang itu adalah Ifraz sendiri yang sudah tau betul kalau Pia diam-diam suka mengambil gambarnya.


Pia mengerucutkan bibirnya dan Ifraz menghapus gambar itu.


Selesai menghapus sekarang Ifraz mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.


Semua teman Pia melihat itu dan hanya diam, merasa sebal pada Ifraz yang terlihat angkuh, sombong dan dingin.


Ifraz meninggalkan rombongan itu yang sedang duduk di ruang tengah kembali ke kamarnya.


Ifraz memilih untuk tidur lebih dulu karena besok harus mendaki dan teganya harus prima. Tetapi Ifraz tidak dapat segera tidur karena suara berisik dari rombongan Pia.


Ifraz kembali keluar dan mengingatkan pia untuk segera tidur.

__ADS_1


"Pia, udah malam, tidur!"


Pia pun bangun dari duduknya dan pamit pada teman-temannya untuk tidur lebih dulu.


Silvia membatin kalau Ifraz sebenarnya sangat perhatian dan Silvia semakin mengagumi Ifraz.


****


Keesokan harinya, pagi sebelum jam 6 mereka sudah siap, setelah berkumpul sekarang mereka berangkat dan sesampainya di tujuan mereka, Ifraz menatap gunung itu yang terlihat sangat tinggi.


Ifraz menahan tangan Pia sebelum kembali melanjutkan langkah.


"Lo yakin?" tanya Ifraz dan Pia tersenyum seraya menganggukkan kepala, Pia sudah sangat bersemangat, walau ada rasa takut dihatinya karena ini adalah pertama kali baginya, berbeda dengan teman-teman yang lain, mereka sudah terbiasa naik dan turun gunung.


Perjalanan pun di lanjutkan, Miko tidak lupa mengajak teman-temannya untuk berdoa lebih dulu.


Siapa sangka, pendakian ini membuat Ifraz merasa malas pada Miko yang selalu memberikan perhatian pada Pia, bahkan MIko yang melihat tali sepatu Pia lepas itu segera meminta Pia untuk di atas batu, Pia menurut dan ternyata Miko mengikat tali sepatu itu.


"Terimakasih," kata Pia seraya tersenyum.


Setelah itu Miko mengulurkan tangganya pada Pia dan Pia menyambut tangan itu, Miko membantu Oia untuk bangun, sekarang semuanya kembali mendaki dengan Ifraz berada di paling belakang.


Dan baru di tengah perjalanan Pia merasa sangat lelah dan sekarang meminta untuk istirahat. Semua pun berkumpul dan duduk, minum, ngemil. Miko mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.


Miko memperhatikan Pia yang sedang membuka tutup botol sampai Pia meminumnya Miko masih memperhatikan dan Pia menyadari itu, segera Pia menawarkan air itu pada Miko dan Miko tidak dapat menolak, sayangnya saat Miko menerima air itu segera Ifraz merebutnya dan meminumnya sampai habis. Setelah botolnya kosong Ifraz mengembalikan botol itu pada Miko dan Miko menatap sebal pada Ifraz yang sedang mengelap mulutnya.


Sementara Pia terkekeh dengan kelakuan Ifraz.


"Ternyata masih sama, masih cemburuan!" kata Pia dalam hati, gadis itu menjadi senang karena mengetahui sahabatnya itu tidak benar-benar hilang.


****


Marisa menatap wajah Maya dalam sebuah foto yang ia pegang.


"Lu nggak pantas bahagia!" kata Marisa, ia menenggak minuman haram langsung dari botol.


Marisa tersenyum, seperti merencanakan sesuatu, apa yang Marisa rencanakan?


Sementara itu, di Jakarta, Maya diam-diam mengonsumsi obat, entah obat apa itu tidak ada yang tau. Tetapi Maya tidak bisa kalau tidak mengonsumsi obat itu.

__ADS_1


Maya juga menyembunyikan obat itu supaya Daniel tidak mengetahui nya.


Lalu, Maya yang baru saja menengguk obat itu terkejut saat Kania tiba-tiba masuk.


"Uhuk!" Maya tersedak dan segera mengambil minum yang berada di nakas.


"Mamah kenapa?" tanya Kania seraya berjalan mendekati Maya.


"Mamah nggak papa," jawab Maya. Lalu, Maya bertanya ada Kania mencarinya.


"Mah, nanti Ken mau ke ulang tahun teman, tapi Ken belum punya kadonya," kata Kania dan Maya menganggukkan kepala.


"Baiklah, sekarang kita cari!" kata Maya, sebelum itu Maya segera menyimpan obat itu di tas tangan miliknya yang berada di lemari.


"Ayo!" ajak Maya dan Kania pun menggandeng tangan ibunya.


Maya memesan taksi dan segera ke mall terdekat. Di sana, Maya dengan sabar menemani Kania memilih hadiah untuk temannya dan pilihan Kania jatuh di tas gendong yang di sukai oleh sahabatnya itu.


Setelah mendapatkan apa yang di cari, sekarang Maya sekalian mengajak Kania untuk makan sore, di sana Maya dan Kania segera mencari tempat duduk setelahnya memesan makanan dan tanpa sengaja Maya yang sedang memperhatikan sekeliling itu melihat Biru yang ternyata sedang menatapnya, Maya menjadi gugup karena ditatap seperti itu olehnya.


Biru yang sedang bertemu dengan klien itu tersenyum pada Maya dan Maya membalas senyum itu lalu kembali fokus pada Kania.


"Astaga, kenapa dia ada di sini!" batin Maya yang menundukkan kepala menatap layar ponsel Kania yang sedang menunjukkan konten lucu.


Sementara Biru, pria itu masih terus memperhatikan Maya, sampai pertemuannya dengan klien itu selesai Biru memilih untuk tetap tinggal.


Biru memperhatikan Maya yang semakin kurus, berfikir kalau Maya sangat merindukan Ifraz.


Biru pun mengirim pesan untuk Maya, mengatakan kalau Ifraz baik-baik saja dan sekarang sedang mendaki bersama teman-temannya.


Maya merasakan ponselnya bergetar, segera mengambilnya di tas dan membuka pesan itu.


"Terimakasih sudah memberitahu dan menjaga Ifraz," balas Maya, setelah itu tanpa melihat ke arah Biru, Maya kembali menyimpan ponselnya.


Makanan yang di pesan pun sudah datang, Maya segera bersiap untuk menyantap dan sebelum itu ia melihat kearah Biru tadi duduk, tetapi pria itu sudah tidak ada di tempatnya.


"Sudah pergi," batin Maya, ia tersenyum pada dirinya sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


Pembaca yang baik, jangan lupa klik likenya, ya. Difavoritkan juga, gift/vote berarti sekali buat aku❣️


__ADS_2