
Biru menjewer telinga Ifraz dan membawanya ke ruang kerja.
Di sana Biru mengatakan kalau Ifraz tidak boleh melakukan itu.
"Dengar, Pia akan ayah jodohkan! Tapi kamu sudah mencuri ciuman pertamanya!" bentak Biru dan Ifraz hanya menundukkan kepala.
Ifraz menyadari kalau dirinya bersalah dan segera meminta maaf, saat Ifraz meminta maaf, Biru menatap tajam anaknya.
"Kenapa kamu cium Pia? Kalau di kening atau di pipi itu wajar!"
Ifraz tidak menjawab karena memang tidak bisa menjawab.
"Kamu tau, walaupun Pia bukan adik kandung kamu, tetapi tidak seharusnya kamu melakukan itu!" kata Biru dan Ifraz sangat terkejut saat mendengar itu.
Setelah mengatakan itu, Biru keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Ifraz yang masih belum dapat mencerna ucapan Biru dengan baik.
Ifraz mengejar Biru dan ternyata Biru sedang meminta Pia untuk bersiap nanti malam untuk bertemu dengan keluarga pria yang akan dijodohkan.
Mendengar itu, Ifraz merasa tidak rela apalagi setelah mendengar kalau Pia bukanlah adiknya.
Sementara Biru dan Pia sudah pergi dari hadapan Ifraz, mereka masuk ke kamar masing-masing.
Sekarang, Ifraz ingin meminta penjelasan pada Maya. Dengan cepat Ifraz bergegas pulang tanpa permisi pada Biru.
Sesampainya di rumah, Ifraz segera mengetuk pintu kamar Maya dan ternyata Maya baru selesai mandi sore.
Maya yang masih mengenakan piyama dan rambut yang digelung handuk itu membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Maya dan Ifraz meminta izin untuk masuk.
"Boleh Faz masuk?"
Maya pun mempersilahkannya untuk masuk.
Ifraz berdiri di tengah kamar Maya dan langsung menanyakan apa yang ingin di tanyakan.
"Siapa Pia?"
"Pia?" tanya Maya, ia merasa heran dengan Ifraz yang tiba-tiba bertanya soal Pia.
"Iya, apa dia adik aku atau bukan?" tanya Ifraz, ia merasa tidak sabar untuk mendengar jawabannya.
"Kenapa, kamu berfikir kalau dia adik kamu? Wajar saja karena Pia tinggal bersama ayah kamu," jawab Maya dan itu masih bukan jawaban yang ingin Ifraz dengar.
__ADS_1
"Jadi?"
"Pia anak angkat ayah kamu!" jawab Maya dan setelah mendengar itu Ifraz segera keluar dari kamar Maya.
Pria muda itu ingin pergi menemui Pia dan meminta pada Biru untuk membatalkan pertunangan itu.
"Ifraz!" seru Maya dan Ifraz tidak menghiraukan itu. Yang ada di kepalanya saat ini adalah, ia tidak ingin terlambat untuk berjuang.
Ifraz segera mengendarai motornya kembali ke rumah Biru.
Dengan kecepatan tinggi Ifraz hampir menabrak gerobak nasi goreng yang sedang melintas.
"Woy, yang bener napa bawa motor!" seru kang nasi goreng tersebut dan Ifraz hanya menganggukkan kepala dan mengatupkan dua tangan tanda meminta maaf.
Setelah beberapa menit, sekarang Ifraz sudah sampai di rumah Biru, ia memarkirkan motornya sembarang tempat.
Ifraz segera berlari dan mencari Biru di kamarnya.
"Ayah!" teriak Ifraz seraya berjalan menaiki tangga.
Biru yang sedang bersantai di kamar itu segera bangun dan membuka pintu kamarnya, melongokkan kepala melihat Ifraz yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ada apa? Seperti kebakaran jenggot saja!" kata Biru dan Ifraz menjawab, "Bukan cuma jenggot yang kebakar, Yah!"
"Terus?" tanya Biru yang sekarang sudah keluar dari kamar.
"Ayah, Ifraz tidak setuju kalau Pia akan dijodohkan!" ucap Ifraz dengan tegas dan matanya menatap mata Biru.
"Maksud kamu? Sudah keputusan ayah, ayah juga akan menjodohkannya dengan pria pilihan ayah, ayah yakin pria itu akan dapat menjaga Pia!"
"Tidak! Tidak ada yang dapat menjaga Pia lebih baik dari aku!" kata Ifraz dan Biru merasa bingung juga senang dengan apa yang di dengar.
Tetapi Biru ingin mendengar kata cinta dari Ifraz lebih dulu.
"Maksud kamu apa?" tanya Biru seraya menepuk bahu Ifraz yang sedang berdiri di depannya.
"Intinya, Ifraz enggak setuju kalau Pia dijodohkan!" kata Ifraz. setelah mengatakan itu Ifraz pergi dari sana karena tidak ingin berdebat dengan ayahnya.
Biru memperhatikan Ifraz yang berjalan cepat menuruni tangga itu menjawab, "Keputusan sudah dibuat! Tidak bisa dibantah!" kata Biru dan Ifraz terus berjalan tidak mau mendengar apa yang Biru katakan.
"Gue harus gagalin acara pertunangan itu!" gumam Ifraz seraya kembali naik ke motor.
Ifraz mengendarai motornya tetapi tak pergi dari sana, Ifraz memantau dari kejauhan, akan mengikuti Pia dan Biru kemana pergi.
__ADS_1
Di kamar, Pia sedikit sebal karena harus dijodohkan, tetapi Pia tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menerima dan berharap keputusan ayahnya adalah terbaik.
Pia memandang dress barunya yang tergantung di lemari, akan dikenakan malam ini.
"Hah, siapa pria itu, kenapa ayah main jodoh-jodohan segala, umur juga masih muda, apa ini permainan bisnis ayah?" gumamnya.
Setelah itu, Pia segera mandi dan bersiap, sedikit memoleskan make up di wajahnya. Setelah itu Pia keluar dari kamar dan ternyata Biru sudah menunggu, lelaki yang seperti tak termakan usia itu duduk di sofa depan kamarnya.
Biru melihat Pia yang baru saja keluar dari kamar, ia tersenyum melihat putrinya yang sangat cantik.
Biru berdiri dan mengulurkan tangan pada Pia, uluran tangan itu di sambut olehnya dan Biru bertanya, "Mengapa putri ayah tidak menolak untuk dijodohkan?"
Ya, Biasanya anak-anak akan menolak untuk dijodohkan dan Pia hanya menurut saja, Biru ingin tau alasannya.
"Karena Pia percaya sama ayah, ayah akan memberikan yang terbaik untuk Pia!" jawab Pia dengan menatap mata Biru.
Biru tersenyum dan sekarang mereka mulai berjalan dengan bergandengan tangan.
Sekarang, Biru dan Pia sudah duduk di bangku mobil, bersiap untuk pergi ke restoran untuk makan malam bersama, sementara Ifraz, pria muda itu mulai menstater motornya dan mengikuti mobil Biru dengan jarak yang dirasa cukup aman.
Padahal, Biru mengetahui kalau anaknya sedang mengikuti. Biru tertawa dalam hati dan menganggap anaknya itu konyol.
Setelah beberapa menit, sekarang Biru dan Pia sudah sampai di restoran yang dijanjikan, di sana ada Miko yang sudah menunggu.
Pia terkejut saat melihat Miko dan Biru saling bersalaman.
Pia berfikir kalau Miko adalah pria yang akan Biru jodohkan.
Miko pun mempersilahkan Biru dan Pia untuk duduk.
Sementara Ifraz, pria itu baru saja masuk resto dan matanya langsung mengedar mencari keberadaan Pia dan Biru.
Setelah melihat Biru duduk dengan Miko, ia langsung berjalan cepat ke arahnya, Ifraz yang sebagai tamu tak diundang itu segera menarik salah satu kursi itu dan ikut duduk tanpa disuruh.
Ifraz menatap mata semua orang yang sekarang menatapnya.
"Kenapa?" tanya Ifraz dengan polosnya.
"Mengganggu!" kata Miko, pria itu masih menatap Ifraz dan Ifraz hanya membalas senyum kuda.
Bersambung.
Duh, apa Miko ya calonnya Pia?
__ADS_1
Jangan lupa like dan di favoritkan, ya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.