Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bos Nggak Ada Ahlak!


__ADS_3

Biru yang masih berada di ruang kerja itu melihat ponselnya bergetar, segera ia mengambil, menerima panggilan itu yang ternyata dari Pia.


Tak terdengar jelas karena suara riuhnya di club.


"Katakan, kamu di mana?" tanya Biru dengan paniknya.


Setelah itu, Pia memutuskan sambungan telepon, semakin menambah kepanikan Biru, tidak lama Biru mendapatkan pesan dari Pia yang mengirim alamat club tersebut.


"Kenapa bisa ada di club!" geram Biru, "bukannya tadi pada belajar!" lanjut Biru seraya mengambil kunci mobil itu di meja kerjanya.


Biru berjalan dengan cepat, ia juga mengirim alamat tersebut pada Ran.


Ran sudah mengerti maksud Biru, segera ia meninggalkan Popy dan Rangga yang sedang menonton televisi.


"Pah, kemana?" tanya Rangga anak Ran.


"Pergi sebentar, jaga mamah kamu di rumah!" jawab Ran.


****


Dengan kecepatan tinggi, dua pria itu mengemudikan mobilnya ke alamat tersebut.


Di sana, terlihat Ifraz sedang ditahan oleh dua pria muda yang mungkin sebaya dengan Ifraz dan pria yang sedang meninju perut Ifraz itu harus tersungkur saat Biru menendang punggungnya.


Baru sekali Biru meninju wajah pria itu sudah datang polisi.


"Kurang ajar lo, siapa lo bisa mukulin anak gue!" geram Biru yang sedang diseret oleh polisi (dilerai).


Dan Ifraz, ia hanya mendengar samar saat Biru mengatakan itu, setelahnya tak sadarkan diri.


Ran segera membawa Ifraz yang babak belur ke rumah sakit. Sedangkan Pia dan Biru dimintai keterangan oleh polisi, Biru menggunakan uang untuk menyelesaikan kasusnya, ia juga meminta tiga berandalan itu di penjara.


"Kamu kenapa tiba-tiba sudah ada di club?" Biru memarahi Pia.


"Maaf, ayah," lirih Pia, gadis itu menunduk dengan terus mengekori Biru, segera Biru bertanya pada Ran di mana rumah sakit itu.


"Ayah, jangan marah, Pia nggak sengaja bikin Ifraz dalam masalah."


"Hhmm, anak gadis tidak boleh keluyuran, beruntung ada Ifraz yang menjaga kamu, tapi sekarang dia babak belur, mau bilang apa ayah sama orang tuanya!"


"Maafkan Pia, ayah. Nanti biar Pia yang bilang sama Tante Maya!"


"Nggak usah, keluarga kita tidak boleh bertemu dengan keluarganya!" ucap Biru.


"Kenapa ayah selalu melarang aku buat ketemu mamahnya Ifraz?" batin Pia, gadis itu mengerucutkan bibirnya.


"Gimana mau pedekate sama calon mama mertua, ketemu aja dilarang!" Pia masih membatin.


Sesampainya di rumah sakit, Biru segera pergi menemui Ifraz.


"Bagaimana?" tanya Biru pada Ran.


"Masih pingsan, tapi dokter sudah mengobatinya," jawab Ran, pria itu menundukkan kepala.


Setelah itu, Biru membuka kamar rawat Ifraz, pria itu menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kenapa bisa babak belur, memangnya kamu tidak diajarkan ilmu bela diri!"


"Bukan nggak diajarkan ayah, tapi dia dikeroyok!" lirih Pia yang sudah berdiri di samping Biru.


Pia menceritakan kalau Ifraz tadi sempat menang melawan berandalan itu sebelum akhirnya datang dua temannya untuk mengeroyok Ifraz.


"Sama saja, kalah juga kan ujung-ujungnya!"


Setelah itu, Biru melihat Ifraz terbatuk, segera Biru dan Pia mendekat.


"Anak muda, kenapa bisa KO!" ucap Biru.


"Ayah, orang lagi sakit juga, masih sempet aja bercanda!" protes Pia, gadis itu merasa khawatir pada Ifraz.


"Om, Pia," lirih Ifraz.


Pria itu segera bangun dan memperhatikan Pia, takut ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Gue nggak papa, justru lo yang bonyok, gue telepon Tante, ya!"


"Jangan, mamah lagi di luar kota, gue pulang ke rumah om Gala aja!" ucap Ifraz seraya menahan tangan Pia yang merogoh tas selempangnya.


Setelah itu, Biru memerintahkan Ran untuk mengantar Ifraz ke rumah Gala.


"Kenapa bukan ayah aja?" tanya Pia.


"Papah punya Ran, untuk apa gunanya dia kalau tidak ayah suruh!" kekeh Biru, pria itu melirik pada Ran yang tanpa ekspresi.


"Mau bagaimana lagi, kalau punya boss nggak ada ahlak ya begini!" batin Ran.


****


Setelah itu, ia kembali berdiri, memegangi kepalanya yang seperti melayang.


"Kok gue di rumah Tante? Perasaan gue masih di club!" ucapnya seraya kembali ke ranjang.


"Nenek sihir itu pasti bakalan marah!" batin Zen.


"Bodo amat lah, lagian gue nggak demen sama Ifraz! Cowok culun, cupu, siapa yang mau!" Zen masih membatin.


"Lebih enak deketin Pia, gadis polos, tajir melintir, minta apa aja gue di kasih, haahahaa, indahnya dunia!" ucap Zenia, gadis itu masih terus meracau tanpa tau sedang diawasi oleh Marisa.


"Sudah puas tertawa?"


Mendengar suara itu Zenia menjadi panik dan gugup, ia segera bangun dan melihat ke arah sumber suara, ternyata Marisa sedang duduk di sofa, bawah lukisan bunga yang berada di dalam kamar itu.


"Tan-tante!"


"Kenapa? Jangan lupa kamu, kamu tinggal di sini tidak gratis, semua ada imbalan, memangnya kamu pikir mencari uang itu mudah!" Setelah mengatakan itu Marisa keluar dan membanting pintu kamar Zenia.


"Ck, kalau bukan demi hidup mewah, gue malas di suruh-suruh sama dia!"


****


Keesokan harinya, Ifraz sekolah diantar oleh Gala sekaligus mengantar anaknya yang masih duduk di bangku SD, usianya berbeda satu tahun dengan Kania.

__ADS_1


"Dadah," seru Sifa pada Ifraz yang baru turun dari mobil.


"Dah, makasih, Om!" kata Ifraz seraya melambaikan tangan.


"Jangan berkelahi lagi!" ucap Gala dan Ifraz menjawab dengan merapikan rambutnya.


Setelah itu, Ifraz mencari temannya, Arya, dia yang akan meminjamkan seragam padanya.


"Makasih, lo emang sahabat terbaik!"


"Nggak salah, bukannya Pia yang terbaik!" jawab Arya.


Ifraz hanya menepuk bahu Arya, setelah itu, Ifraz masuk ke toilet dan mengganti seragamnya.


****


Sementara Kania, gadis itu menyembunyikan kebenaran Ifraz dari Imelda.


"Kebiasaan abang kamu itu," gerutu Imelda yang sedang mengantar Kania sekolah.


"Katanya piket Omah, jadi berangkat pagi," jawab Kania tanpa berani melihat Imelda.


"Piket, sampai nggak sempet sarapan!"


"Biarin aja sih, Omah. Kan abang bisa makan di kantin," lirih Kania.


"Kamu, selalu belain abang kamu," ucap Imelda dengan tetap fokus menyetir.


"Omah, udah jangan ngomel mulu, nanti Ken terlambat sampai ke sekolah," rengek Kania.


Mendengar itu membuat Imelda menancap gas, menambah kecepatan dan hampir menabrak seorang wanita yang sedang menyebrang jalan.


"Aaaaaaaaa!" teriak Imelda dan Kania, sementara wanita itu menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Berjarak lima cm, Imelda mengerem tepat waktu, semua orang menarik nafas lega, mengusap dadanya yang terasa ngilu, beruntung Imelda tidak memiliki riwayat sakit jantung, membuatnya aman, sedangkan Kania, gadis itu terlihat pucat.


"Omaaah!" Kania menangis.


"Maaf sayang, Omah tidak melihat," jawab Imelda seraya mengusap rambut Kania.


Setelah itu, Imelda melongokkan kepala. Memarahi wanita itu yang mundur kembali ke tepi jalan.


"Kalau nyebrang liat-liat, dong!" geram Imelda.


"Maaf, maaf," ucap wanita itu yang membawa kantong plastik dengan isi pakaian.


"Dasar orang kaya, seenaknya aja!" gumam wanita itu dalam hati.


Wanita itu sempat wajah Kania dari luar, membuatnya teringat dengan seseorang.


"Gadis kecil itu, mirip sekali dengan Maya!"


Siapa wanita itu?


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, bintang lima dan jangan lupa favorit juga ya. sampai jumpa di episode selanjutnya.


Terimakasih yang sudah membaca 😇


__ADS_2