
Gadis kecil itu menuruti ucapan Daniel dan segera masuk ke kamarnya.
Setelah itu, Daniel segera bangun dan memeluk Maya, meminta Maya untuk menangis di bahunya.
Maya menangis di sana, sesenggukkan sampai nafasnya terasa berat.
Daniel mengusap punggung Maya dan kali ini Daniel meminta pada Maya untuk tidak menahan semua.
Mendengar itu membuat Maya melepaskan pelukan suaminya, memukuli dada suaminya yang iba pada dirinya.
"Kembalikan anakku!" kata Maya dengan suara yang berat, serak karena terus menangis.
"Iya, kamu harus sabar, kita juga nggak bisa maksa, dia masih marah sama kita, nggak akan dengar omongan kita."
Mendengar jawaban Daniel, Maya semakin menangis, memikirkan nasib anaknya apabila terus tinggal bersama dengan Marisa. Maya takut kalau Marisa akan mencuci otak anaknya lebih parah lagi.
"Aku tidak mau tau! Bolehkan untuk kali ini aku egois?" tanya Maya dan di situ lah Daniel merasa kalau selama ini hanya Maya yang selalu menurut dan memang benar kalau selama ini Maya hanya 'iya, iya, iya' saja pada Daniel dan Imelda.
Maya meninggalkan Daniel yang terdiam. wanita berusia kepala tiga itu masuk ke kamar dan kali ini Maya mengunci kamarnya.
Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Hatinya terasa amat sakit setelah bertahun-tahun berjuang dan berkorban dan ini akhirnya yang ia dapat.
Lalu, Maya teringat dengan ucapan Biru, "Berteriaklah kalau ingin berteriak!"
Maya yang sesenggukkan itu mulai berteriak, tetapi, tetap saja, teriakannya itu tak menimbulkan suara, teriakan yang di tahan semakin menambah kesesakan di dadanya.
Sementara Daniel, Pria itu berdiri di balik pintu, menyenderkan punggungnya dan mengusap wajahnya.
****
Di rumah Biru, lelaki itu mengerti kesedihan Maya, sekarang sedanga menatap langit kamarnya, malam ini semua orang bersedih.
Begitu juga dengan Ifraz, pria itu dengan wajah datar dan tanpa senyum sedang menatap bulan.
"Kalian jahat, kalau kalian menderita itu belum sebanding dengan kekecewaan ku ini, belasan tahn kalian bohongi, kalian pikir hati ku ini terbuat dari apa!" batin Ifraz, ia sangat membenci semua orang yang diaggapnya telah berbohong.
__ADS_1
Pria yang sedang berdiri di balkon itu mengerjapkan matanya saat merasa ada pelukan hangat dari belakang dan Zenia lah yang memeluk Ifraz.
"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Ifraz pada Zenia dan Zenia menjawab kalau dirinya tidak dapat tidur.
"Jangan begadang, biarkan otak kita istirahat sebelum semester!" kata Ifraz dan Zenia menganggukkan kepala.
"Sayang, seharusnya kamu yang istirahat, aku tidak memiliki beban, sedangkan kamu, sudah berhari-hari kurang istirahat!" jawab Zenia dan Ifraz pun melepaskan pelukan, sekarang keduanya masuk ke dalam dan Ifraz mengantar Zenia ke kamarnya, setelah itu Ifraz mengecup kening Zen.
"Selamat malam, sayang!" kata Ifraz dan Zenia pun tersenyum manis.
Setelah Zenia masuk ke kamarnya, sekarang Ifraz pergi dari sana, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di depat di depan kamar Zenia.
****
Di rumah Sukma, pria itu sedang meminta pengertian dari Imelda.
"Mah, tolonglah, mengalah sedikit saja, kali ini, kasihan Maya, kondisinya sangat memprihatinkan. mamah sendiri tidak ingin Daniel terluka, apa mamah tidak memikirkan Maya, bagaimana hatinya?"
Imelda yang sudah berada di ranjang itu tak menghiraukan ucapan Daniel.
Setelah mengatakan itu, Sukma mematikan lampu dan bersiap untuk tidur, merasa percuma berbicara dengan batu.
****
Hari sudah menjadi pagi, sekarang Maya sudah berdiri di depan sekolah Ifraz. Ia menitipkan makanan kesukaan Ifraz yaitu nasi goreng buatan Maya pada Zenia.
Zenia melihat tidak tega pada Maya, ia yang baru saja turun dari mobil meminta pada Ifraz untuk ke kelas lebih dulu. Setelah itu Zenia pergi menemui Maya.
"Tante, apakah tante tidak lelah? Lebih baik tante istirahat, nanti kalau kami sudah selesai, kami akan mengembalikan Ifraz padamu, tolong jangan menyedihkan seperti ini!" ucap Zenia seraya bersedap dada.
"Tante tidak akan lelah demi anak, tolong berikan ini pada Ifraz, siapa tau ia merindukan masakan mamahnya!" jawab Maya seraya mengulurkan tempat makan itu pada Zenia.
Zenia menerima itu dan segera meninggalkan Maya tanpa mengatakan apapun.
Setelah itu Maya pun segera pergi dan ternyata saat Maya berbalik badan di sana sudah ada Biru berdiri di belakangnya, Maya sangat terkejut dan meminta pada Biru untuk berhenti menemuinya.
__ADS_1
"Maaf, sebaiknya kita jangan bertemu lagi, jangan jadikan masalah Ifraz membuat kita saling bertemu, ini bisa menjadi fitnah!" kata Maya dan setelah mengatakan itu Maya pergi meninggalkan Biru tanpa melihatnya ke belakang, sekarang, Biru yang menatap kepergian Maya itu memilih untuk kembali ke mobilnya dan saat Biru sudah masuk dan mengendarai mobilnya itu Maya menolehkan kepalanya, ia menatap kepergian Biru dan air matanya menetes.
daniel yang masih mengikuti Maya itu melihat kesetiaan istrinya yang sempat diragukan oleh Imelda.
Ya, Daniel menjadi sering mengikuti Maya karena Biru melaporkan kejadian waktu Maya akan bunuh diri di rel kereta. Biru meminta pada Daniel untuk lebih memperhatikan Maya, takut Maya akan mengulangi kebodohannya.
"Maafkan aku, May!" kata Daniel, pria itu merasa sakit di hatinya saat melihat Maya terluka dan ini adalah pertama kalinya bagi Daniel melihat Maya menangis.
****
Zenia membolak-balikan kotak makan yang ada di tangannya, gadis itu berdiri di depan tong sampah berniat untuk membuang kotak makan itu.
"Memangnya anak kecil!" kaa Zenia seraya menjatuhkan tempat makan itu dan sebelum tempat makan itu jatuh sudah ada Pia yang menangkapnya.
"Nggak amanah banget sih lo jadi orang!" kata Pia seraya menatap Zenia.
Setelah itu Pia pergi meninggalkan Zenia dan berfikir untuk memberikan itu pada Ifraz tetapi Pia yang bertemu dengan Ifraz saat akan masuk kelas diacuhkan oleh Ifraz, pria itu tak menatap keberadaan Pia sama sekali, meninggalkan Pia yang menunjukkan tepak makan padanya.
Pada akhirnya, Pia yang memakan makanan itu dan memuji masakan Maya kalau itu cukup enak.
Sudah berhari-hari dan sekarang semester sudah tiba.
(Kita skip aja ya, langsung keintinya biar nggak kepanjangan)
Di akhir semester ini Piadapat mengalahkan Ifraz, nilainya lebih tinggi dari pria kesayangannya, semua mengucapkan selamat kecuali Ifraz dan Zenia yang semakin menjauh dari semuanya.
****
Sekarang, Ifraz kedatangan tamu tak diundang, tamu itu adalah Imelda.
Imelda meminta maaf pada Ifraz.
"Dengarkan omah, walaupun Omah bukan omah kandungmu, tapi omah menyayangimu seperti Omah menyayangi Kania. Itu semua karena mamah kamu adalah wanita yang penurut, tak mementingkan kebahagiannya sendiri. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini sampai mamah kamu terbaring sakit!" ucap Imelda, sekarang wanita itu berdiri dari duduknya dan Ifraz masih diam saja, ia membiarkan Imelda pergi tanpa jawaban atau sepatah kata darinya.
Bersambung.
__ADS_1
Yuk, kakak yang baik hati, jangan lupa like setelah membaca, ya. Sampai jumpa di episode selanjutnya.